Metode Qira'ati | Sejarah Singkat

Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu Seputar Informasi Terkini. Pada kesempatan yang berbahagia ini kami akan berbagi posting singkat tentang Metode Qiraati.

Metode Qira'ati | Sejarah Singkat


Metode qiro'ati merupakan salah satu dari beberapa metode praktis untuk memudahkan seseorang dalam mempelajari baca tulis Al Qur'an bukan hanya secara cepat, tapi juga tepat. Metode ini diprakarsai oleh Ustadz Dachlan Zarkasyi Hafidlohulloh atas hidayah yang diberikan Alloh SWT semata. Metode ini berkembang pesat di Jawa Tengah yang merupakan tempat awal munculnya metode ini. Sampai saat ini, metode qiraati telah merebak hingga diseluruh tanah air disamping adanya metode-metode pembelajaran Al Qur'an yang lain.

Ustadz Dachlan Zarkasyi senantiasa menganggap semua anak adam memiliki potensi. Dengan kata lain, tidak ada istilah anak yang bodoh, pemahaman ini harus dihapuskan dari fikiran seorang pendidik. Namun, pola pengajaran dan tingkat kualitas pendidik yang harus dipertanyakan. Untuk itu Beliau juga memberikan resep sekaligus pedoman bagi para pendidik TPQ/TKQ agar seorang ustadz dan ustadzah senantiasa istiqomah dalam mengajarkan pembelajarannya dengan baik.

Sejarah Singkat Penemuan Metode Qiraati

Permulaan Penemuan

Selain sebagai pedagang keliling dan tukang pijat, sebelum menemukan Metode Qiraati ini, Ustadz Dachlan Zarkasyi adalah seorang Guru mengaji dan seorang yang suka mengamati keadaan kelas-kelas mengaji di manapun beliau berkunjung.

Sebagaimana biasa sebagai seorang guru mengaji, beliau menggunakan Metode yang biasa dikenali dengan Turutan atau biasa juga disebut metode Baghdadiyah.

Hasil dari pengalaman dan pengamatan beliau, anak-anak murid yang beliau ajar ternyata sebahagian besar mereka hanya mampu menghafal huruf bukan mengerti huruf. Dan jika dapat membacapun ternyata bacaannya tidak tartil seperti apa yang dikehendaki dalam bacaan Al Quran yang baik. Dan biasanya waktu bagi murid-murid untuk menguasai bacaan tartil diperlukan waktu yang lama. Terutama hal ini terjadi pada putra putri beliau setelah mengaji di musholla.

Berdasarkan pengalaman inilah beliau mencuba untuk mencari alternatif lain dengan cara membeli buku-buku kaedah baca al Quran dengan maksud agar dapat mencapai hasil yang lebih memuaskan. Namun setelah mengamati semua kaedah yang ada, ternyata beliau masih belum menemukan kepuasan. Beliau tidak yakin dengan kesuksesan kaedah-kaedah tersebut kerana berbagai sebab. Seperti menggunakan contoh-contoh perkataan yang bukan dari bahasa Arab atau dari al Quran bahkan ada yang berbunyi bahasa Indonesia atau bahasa Jawa.

Sejak itulah beliau mecoba memperkenalkan huruf terus dengan barisnya sekali dengan bacaan yang lancar dan cepat. Dalam waktu yang sama, anak-anak diperkenalkan dengan huruf-huruf yang tiada berbaris. Hanya bedanya dengan sistem yang lama, kaedah Qiraati tidak mewajibkan anak murid mengeja huruf ketika akan membaca sesebuah perkataan.

Ternyata setelah uji coba berulang-kali, beliau mendapatkan tehnik susunan seperti yang ada sekarang ini. Oleh karena itu, susunan yang ada sekarang adalah hasil dari uji coba yang tidak perlu diragukan lagi.

Awal Penyusunan Metode Qiraati.

Dengan dorongan keinginan hati untuk mengajarkan al-Qur’an dengan baik dan benar, serta dengan keberanian yang didukung oleh inayah dan hidayah Allah SWT., KH. Dachlan Salim Zarkasyi mulai mencoba menyusun dan menulis sendiri metode yang dikehendakinya itu. Yakni metode yang berhasil dalam mengajar membaca al-Qur’an yang sekaligus mudah dan disukai oleh anak-anak.

Supaya anak-anak mudah membaca dan betul-betul mengerti serta faham, maka beliau mencoba menulis pelajaran dengan bacaan “bunyi” huruf hijaiyyah yang sudah berharakat “fathah”. Dalam pelajaran ini anak tidak boleh mengeja, misalnya alif fathah A, BA fathah BA, tetapi langsung membaca bunyi huruf yang sudah berharakat fathah tadi seperti: A-BA-TA dan seterusnya.

Agar anak bisa membaca dengan baik dan benar, maka sejak awal sekali anak sudah diharuskan membacanya dengan lancar, cepat dan tepat, tanpa ada salah dalam membaca. Dengan demikian secara tidak langsung anak harus mengerti dan faham setiap huruf Hijaiyyah.

Demikianlah, dengan penuh kesabaran dan ketelitian, sehuruf demi sehuruf beliau mencoba untuk diajarkan kepada anak didiknya walaupun nampaknya lambat, tetapi anak-anak faham dengan baik.

Agar anak terlatih dan dapat membaca benar, maka setiap contoh bacaannya diambilkan dari kalimat-kalimat al-Qur’an juga kalimat-kalimat bahasa Arab.

Setelah anak-anak lancar menbaca huruf-huruf Hijaiyyah yang berharakat fathah, kemudian dicoba dengan huruf-huruf yang berharakat kasrah dan dhommah. Demikian pula dengan huruf yang berharakat fathah tanwin, kasrah tanwin dan dhummah tanwin.

Pelajaran Bacaan Mad (bacaan panjang)

Sebagai seorang pedagang, KH. Haji Dachlan Salim Zarkasyi kerap mengunjungi banyak bandar dan pekan. Pada kesempatan ini beliau manfaatkan masa untuk mengamati kelas-kelas mengaji yang digunakan oleh guru-guru mengaji setempat, yakni di surau-surau, mushalla-mushalla atau masjid-masjid.

Hasil dari pengamatan beliau tentang bacaan santri-santri yang belajar di musalla atau masjid-masjid itu amat memperihatinkan. Mengingat mereka ternyata tidak memperhatikan bacaan panjang pendek. Hal ini biasanya disebabkan oleh kurangnya kewaspadaan guru terhadap bacaan santri terutama dalam bacaan mad asli (mad thabi’i).

Oleh karenanya, sekembalinya dari perjalanan, beliau melihat pentingnya pelajaran mad asli atau mad thabi’i. Maka disusunlah pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan mad asli dan contoh-contoh perkataannya diambilkan dari al Quran atau dari bahasa Arab. Kemudian diuji cobakan kepada anak-anak, manakala perkataan yang sukar akan diganti dengan perkataan yang lain yang lebih mudah difahami oleh anak-anak. Dan perkataan-perkataan tersebut ditashihkan kepada orang yang pakar al Quran dan bahasa Arab agar setiap perkataan mempunyai makna yang sesuai.

Akhirnya tersusunlah pelajaran bacaan mad, yang diawali dengan pelajaran fathah diikuti alif, kasrah diikuti ya’ dan dhummah diikuti wawu.

Huruf Sukun

Hampir bersamaan dengan awal penyusunan buku Qiraati pada tahun 1963 itu, KH. Dachlan Salim Zarkasyi bersama dengan sahabatnya ustadz Abdul Wahid membentuk jamaah Mal-Jum (malam jum’at), yakni jamaah tadarus al-Qur’an untuk orang-orang dewasa.

Suatu ketika saat tadarus al-Qur’an pada jemaah Maljum, beliau mendengar beberapa orang membaca huruf “Lam Sukun” salah. Ada yang membacanya dipanjangkan (ditahan lama lam sukunnya), ada pula yang membaca menggantung atau ‘tawallud’ atau melantun sehingga terdengar bunyi pepet’ (dalam bahasa Jawa), seperti Al-le, Allll…….

Melihat keadaan yang demikian, timbul pemikiran bahwa bacaan “lam Sukun” perlu dan penting untuk diajarkan kepada anak-anak. Kemudian beliau mencoba menulis dan menyusun pelajaran Lam Sukun ini ternyata tidaklah mudah, yakni Lam Sukun yang dibaca jelas dan tegas.

Namun dengan penuh kesabaran dan ketelitian, akhirnya tersusunlah juga pelajaran “Lam Sukun dibaca Jelas dan Tegas”, yang kemudian sekaligus dirangkaikan dengan pelajaran bacaan al-Qomariyyah.

Pelajaran bacaan al-Qomariyyah diberikan dengan tujuan untuk melatih anak membaca sambil melihat huruf-huruf yang akan dibaca di sebelahnya (di sampingnya).

Setelah berhasil dengan Lam Sukun, beliau mencoba dengan huruf-huruf yang lain. Secara kebetulan beliau mencoba dengan huruf “sin sukun”, ternyata tanpa kesulitan anak-anak langsung dapat membaca dengan mudah. Maka ditulislah contoh-contoh bacaan yang ada huruf Sin Sukunnya.

Di tengah-tengah pengenalan huruf-huruf sukun ini, beliau menyusun pelajaran bacaan “Harfu Liin” (bacaan fathah yang diikuti Ya atau Wawu sukun). Hal ini sangat penting untuk diajarkan dengan kesungguhan, karena banyak orang yang membaca al-Qur’an bersuara AO dan AE bukan bersuara AU dan AI, dan agar anak dapat membedakan bacaan harfu Liin dengan bacaan Mad.

Selanjutnya percobaan dengan huruf-huruf sukun ini dilanjutkan. Secara kebelutan pula beliau mencoba huruf “RO sukun”, ternyata dengan sangat mudah anak-anak dapat membaca dengan lancar. Begitu pula dengan mencoba huruf “MIM sukun” ternyata murid tidak menemui kesukaran juga. Sekalipun ada maksud untuk mencoba huruf sukun yang lain, ternyata dengan empat huruf sukun ini anak sudah dapat membaca sendiri huruf-huruf sukun yang lainnya. Sehingga pelajaran huruf-huruf sukun yang beliau tulis hanya “Empat Serangkai Huruf Sukun” saja, yakni Lam Sukun, Sin Sukun, Ro Sukun, dan Mim sukun. Sehingga huruf-huruf sukun yang lain tidak perlu diajarkan, karena setelah mempelajari dan mengerti keempat huruf sukun tadi, secara otomatis anak-anak telah dapat membaca huruf-huruf sukun yang lain.

Malam Rahasia

Sebagaimana manusia umumnya, suatu ketika daya kreativiti KH. Dachlan Salim Zarkasyi terhenti tidak ada inspirasi manakala tidak mengetahui apa lagi yang harus diperbuat selanjutnya.

Perasaan ini beliau rasakan pada saat ada keinginan untuk mencari dan menyusun pelajaran yang diberikan kepada anak didik selanjutnya. Sepertinya akal dan pikiran buntu tidak dapat menemukan jawabannya. Namun, jika Allah menghendaki semuanya akan menjadi mudah.

Untuk menenangkan pikiran dan hati yang risau beliau mendengarkan, dan mengamati anak-anak yang sedang belajar mengaji di salah satu masjid di kota Semarang. Satu persatu anak-anak itu beliau perhatikan dengan mendengarkan bacaan mereka. Namun sampai pada anak yang terakhir, tidak ada satupun bacaannya yang benar, yakni bacaan tartil menurut kaidah Ilmu Tajwid. Hasil pengamatan ini beliau sampaikan kepada guru ngaji anak-anak tadi,
“Mengapa tidak ada satu pun dari anak-anak tadi yang membaca al-Qur’an dengan tartil?”
Namun jawabannya sungguh mengejutkan beliau,
“saya tidak sanggup kalau mengajar anak-anak supaya bisa membaca dengan tartil. Biarlah cukup anak-anak bisa membaca al-Qur’an dulu. Nanti kalau sudah khatam, barulah diajarkan ilmu Tajwid, tentu mereka akan mampu membaca al-Qur’an dengan tartil dengan sendirinya.”
Mendengar jawaban dari guru al-Qur’an seperti itu, jalan fikiran beliau tidak dapat menerimanya. Apakah mengajar bacaan tartil itu sukar? Jika sukar, kesukarannya dimana? Jika jawaban seorang guru ngaji seperti itu, lalu bagaimana dengan guru-guru ngaji yang bukan ahli al-Qur’an?

Kenyataannya memang demikian, mana mungkin dapat menghasilkan bacaan tartil jika tidak belajar ilmu Tajwid.

Perasaan dan fikiran beliau menjadi resah dan susah di atas jawaban, bahawa, “mengajar bacaan tartil itu sukar” sehingga terbawa-bawa dalam tidur beliau pada malam harinya.

Suatu ketika antara sedar dan tak sedar, beliau mendapatkan ilham dari Allah, seakan terpampang di hadapan beliau kunci pelajaran bacaan-bacaan tartil yang mesti diajarkan. Yakni dimulai dari “NUN SUKUN” yang dibaca “DENGUNG” (yang dalam ilmu tajwid dinamakan bacaan ikhfa’). Malam ini disebut oleh KH. Dachlan Salim Zarkasyi sebagi MALAM YANG LUAR BIASA.

Keesokan harinya beliau mulai menulis dan menyusun pelajaran NUN SUKUN yang tadi malam beliau temukan. Kemudian pada petang harinya beliau ujicobakan kepada anak-anak, ternyata anak-anak murid dengan mudah mampu mempelajarinya dan membacanya dengan baik dan benar sesuai dengan apayang beliau kehendaki.

Setelah sukses dengan nun sukun, beliau mencuba dengan tanwin, yang suaranya sama dengan nun sukun. Selanjutnya disusunlah pelajaran bacaan GHUNNAH yang diawali dengan NUN BERSYADDAH dengan kiasan bahawa bacaannya sama dengan dengungnya NUN SUKUN bertemu dengan NUN. Demikian pula dengan pelajaran MIM BERSYADDAH dengan kiasan bacaan dengungnya sama dengan NUN BERSYADDAH.

Akhir Penyusunan buku Metode Qiraati

Sebagaimana biasanya dalam menyusun pelajaran baru mesti ada penyebab yang menjadi puncak pelajaran tersebut disusun. Demikianlah pelajaran seterusnya sehingga selesainya metode tersebut.

Di antaranya adalah bacaan huruf-huruf bersyiddah selain huruf nun dan mim yang bersyiddah.

Suatu ketika dalam majlis tadarus al Quran yang beliau menyimak banyak orang yang membacanya salah, terutama dalam membaca “Lam bersyiddah” yiaitu membacanya dengan menahan suara huruf lamnya. Melihat keadaan demikian, maka disusunlah pelajaran huruf-huruf bersyiddah yang mesti dibaca tegas dan terang serta cepat, yang kemudian dirangkaikan dengan pelajaran “AL Syamsiyyah”.

Adanya pelajaran Mim sukun bertemu mim yang dibaca dengaung dilatarbelakangi oleh banyaknya orang yang belum dapat membedakan antara bacaan mim sukun bertemu mim dengan bacaan mim sukun bertemu dengan selain mim dan ba’.

Adapun pelajaran nun sukun/tanwin bertemu lam dan ro dilatarbelakangi oleh banyaknya orang yang membaca dengan menahan bacaan lamnya. Kemudian pelajaran dilanjutkan dengan pelajaran bacaan Nun sukun/tanwin bertemu dengan wawu dan ya, yang dibaca idgham dengan dengung.

Sedangkan pelajaran waqaf di akhir ayat dilatarbelakangi oleh banyaknya orang yang salah dalam menghentikan bacaannya, yaitu seolah-olah setiap waqaf dibaca panjang padahal tidak semuanya begitu.

Pelajaran membaca lafazh Allah dilatarbelakngi oleh bacaan yang salah, yakni lam kasrah dibaca dengan tebal seolah seperti lam berbaris atas atau dhummah.

Begitu juga dengan pelajaran Iqlab, qalqalah dan izhar halqi yang kesemuanya dilatar belakangi oleh banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh para pembaca.

Demikianlah semua pelajaran yang telah berjaya beliau susun. kemudian dari tulisan-tulisan dikumpulkan dan dijilid, ternyata terkumpul menjadi sepuluh jilid atau sepuluh buku. Kemudian buku-buku tersebut dicetak dengan sablon dan dibahagikan kepada anak-anaknya mengikut tahapan pencapaiannya.

Adapun amaliah yang harus dilakukan oleh semua pendidik, diantaranya ;

1. Niat ikhlas dan bersabar
Seorang pendidik harus senantiasa memiliki keikhlasan hati dan sepenuh hati dalam mengajarkan Al Qur'an karena ini sudah merupakan tanggung jawab seorang muslim agar mendapatkan great yang baik dihadapan Alloh semata. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW ;
''Sebaik-baik manusia diantara kamu adalah yang mau belajar Al Qur'an dan mau mengajarkannya''.
Seorang pendidik harus menghilangkan niatan-niatan yang menginginkan keduniawian. Karena Alloh sendiri yang akan memberikan balasan bagi hambanya yang mau berjuang dijalan Nya. Niatan yang salah meskipun hanya kecil akan menjadi penghambat bagi seseorang dalam berdakwah.

Sekiranya usaha tersebut di rasa sudah maksimal maka yang terakhir dilakukan adalah bersabar. Bersabar dalam arti tidak berputus asa dengan hasil yang ada. Namun selalu melakukan evaluasi dan peningkatan mutu selanjutnya.

2. Rajin melaksanakan sholat tahajjud
Di samping sholat fardlu dengan tertib maka seorang pendidik hendaknya rajin melaksanakan sholat tahajjud. Sikap senantiasa bermunahajat kepada Khaliqnya harus ada pada setiap diri pendidik. Semua persoalan dikembalikan kepada Khaliqnya. Tak bosan-bosan untuk selalu mendoakan para santrinya dan kemudahan-kemudahan untuk menjalankan aktifitas kesehariannya.
Seorang guru tidak hanya memberikan pendidikan jasmani semata, namun memiliki ghiroh untuk ; Mengajar, Mendidik, Membimbing dan Mendoakan [4 M]. Suri tauladan yang baik harus senantiasa ditampilkan di hadapan para anak didiknya.

3. Rajin tadarus
Tadarus atau baca Al Qur'an hendaknya di lakukan setiap hari dan setiap saat. Banyak waktu yang dapat digunakan oleh para pendidik untuk selalu tadarus dimanapun berada. Di sekolah tadarus dapat dilakukan dengan kepala sekolah, dengan koordinator cabang, wilayah maupun pusat. Hal ini dapat membantu guru untuk lebih lancar, fasih dan mantap dalam memahami metode Qiro'ati.

Pesan-pesan KH. Dachlan Salim Zarkasyi

a.    Nawaitu Dan Visi Misi Qiraati
  • Qiraati bukan hasil fikiran manusia, Qiraati bukan karangan saya, Qiraati adalah inayah dan hidayah minallah
Saya duduk, saya kelihatan tulisan. Jadi kalau ditanya, “mengapa pelajaran ikhfa di jilid 4, sedangkan idhar di jilid 6,?” jawabannya, “Tidak tahu, saya tidak ikut ngarang.”
  • Saya tidak jual buku, saya ingin anak-anak nanti ngajinya benar. Kalau saya jual buku, buat apa repot repot membentuk Kooordinator, titipkan saja ke toko-toko buku, selesai.
  • Saya tidak pingin yang pakai Qiraati banyak. Saya pingin anak yang ngaji pakai Qiraati, ngajinya benar.
  • Qiraati tidak disebar-sebarkan, saya tidak pernah menyebarkan Qiraati. Qiraati menyebar minallah
b.    Metodologi
  • Kegagalan mengajar tempo dulu sebabnya ialah, terlalu toleransi pada anak-anak. Pelajaran belum bisa dan anaknya minta tambah, ditambah. Satu halaman, dua halaman belum masalah, setelah halaman 15 pelajaran tidak bisa diteruskan dan disuruh kembali ke halaman pertama, tidak mau. Akhirnya, karena merasa tidak berhasil, ngajinya pindah.
  • Insya Allah setelah TK al-Quran berdiri, dua tahun sudah hataman. Di sini (Semarang) santri 90, setelah 2 tahun, khatam 20 santri ( + 20 %).
  • Tidak ada murid yang bodoh. Kalau ada yang bodoh, paling dalam 100 ada 1 atau 2 murid saja.
Kalau ada guru yang mengatakan, “Murid saya bodoh-bodoh.”
“Apa bukan gurunya,” tanya beliau.
Dan kalau ada anak yang bodoh seperti itu, maka cara yang tepat ialah gurunya sowan ke rumah orang tuanya agar orang tuanya sabar.
  • Qiraati tidak ke mana-mana tetapi ada di mana-mana. Semua yang lulus tashih boleh mengajarkan Qiraati (yang belum lulus tashih walaupun teman atau saudara tidak boleh mengajar Qiraati).
c.    Ujian Santri, Khataman, Dan Imtihan
  • Khatam Qiraati jilid 6 adalah khatam Tingkat Persiapan, insya Allah sudah bisa baca al Quran dengan tartil (belum khatam).
  • Kalau dulu santri ngaji sampai با لناس dikhatami, sekarang di TK al Quran sampai dengan با لناس baca al Qurannya diulangi الم lagi, belum dikhatami sampai gharib dan ilmu tajwid khatam.
  • Khatam TK al Quran, khatam al Qurannya bisa 2 kali, 3 kali, atau sampai 5 kali.
  • Khataman ini adalah khataman untuk pendidikan, dan ini lebih cocok (karena model tadarus ini lebih efektif dibandingkan dengan model tallqi).
  • Saya diundang khataman di Kudus, bacaan gharibnya bagus tapi baca al Qurannya tidak tartil.
Baca ان طهرا gharibnya benar, tapi an tha “salah” tidak dengung. Saya sampaikan kepada Kepala TK al Qurannya bahwa, “anak-anak belum boleh dikhatami, masih jilid 3.”
  • Khataman jangan diganti dengan wisuda
Khataman tidak harus meriah (mewah), pernah di sini (Semarang), khataman cukup dengan mengeluarkan minuman teh dan kantong plastik, sedangkan isinya dari (sumbangan) wali murid.
Kalau akan mengadakan khataman, wali murid yang dikahtami diajak rapat, mau khataman di gedung atau di sini (TPQ), terserah wali murid.
d.    Kritik dan saran KH. Dahlan Salim Zarkasyi
  • Saya tidak pernah dengar guru al Quran mengatakan, “al hamdulillah saya telah dijadikan Allah sebagai guru al Quran, padahal, خيركم من تعلم القرأن و علمه
Berapa nilai pahala خيركم ?
Yang sering saya dengarkan guru mengeluhkan santrinya dan pengurusnya, (orang bersyukur tidak suka mengeluh).
  • Guru al Quran harus sering tadarus al Quran.
  • Guru al Quran harus ikhlas.
Saya kira tidak ada guru al Quran yang ingin cari sesuatu (nafkah dalam mengajar al Quran).
Kalau ada orang memberi sesuatu pada kita, maka cepat-cepat doakan semoga rizkinya barokah.
  • Guru al Quran supaya hati-hati dalam mengajarkan al Quran.
e.    Pesan-Pesan Lain
  • Guru ngaji harus sabar dan ikhlas
  • Guru ngaji harus sering tahajjud
  • Guru ngaji harus sering tadarus al Quran
  • Qiraati tidak boleh dinyok-nyoke (ditawar-tawarkan).
Qiraati hanya diberikan kepada yang mau, jangan diberikan kepada yang tidak mau. Waktu itu Bunyamin bertanya maksudnya.
“Mereka yang mau adalah yang mau mengikuti aturan main yang telah saya tetapkan. Mereka yang tidak mau adalah mereka yang tidak mengikuti aturan mainnya, sak karepe dewe, walaupun mereka telah memakai Qiraati cukup lama,” jawab Ayah. 
sumber: qiraati.wordpress.com | qiraati.org

Itulah tadi ulasan singkat tentang Sejarah Singkat Motode Qiraati. Terimakasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu Seputar Informasi Terkini, semoga ada guna dan manfaatnya.