.

PEMIKIRAN EKONOMI AL-GHAZALI

Mayoritas pembahasan al-Ghazali mengenai berbagai permasalahan ekonomi terdapat dalam kitab Ihya ’Ulum al-Din[1]. Beberapa tema ekonomi yang dapat diangkat dari pemikiran al-Ghazali ini antara lain mencakup pertukaran sukareka dan evolusi pasar, aktivitas produksi, barte dan evolusi uang, serta peran negara dan keuangan publik.

1. Pertukaran Sukarela dan Evolusi Pasar

Mungkin cukup mengejutkan jika al-Ghazali menyajikan penjabaran yang rinci tentang peranan dan signifikansi aktivitas perdagangan yang yang dilakukan dengan sukarela, serta proses timbulnya pasar yang harganya bergerak sesuai kekuatan permintaan dan penawaran untuk menentukan harga dan laba. Maklum, ia dikenal sebagi ahli tasawwuf.

Bagi al-Ghazali, pasar merupakan bagian dari ”hukum alam” segala sesuatu. Secara rinci, ia juga menerangkan bagaimana evolusi terciptanmya pasar. Al-Ghazali menyatakan[2].

dapat saja petani hidup dimana alat-alat pertanian tidak tersedia, sebaliknya pandai besi dan tukang kayu hidup dimana lahan pertanian tidak ada. Namun secara alami, mereka akan saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Dapat pula terjadi tukang kayu membutuhkan makan, tetapi petani tidak membutuhkan alat-alat tersebur atau sebaliknya. Keadaan ini menimbulkan masalah. Oleh karena itu, secara alami pula orang akan terdorong untuk menyediakan tempat penyimpanan alat-alat di satu pihak dan tempat penyimpanan hasil sesuai dengan kebutuhan masing-masing sehingga terbentuklah pasar. Petani, tukang kayu dan pande besi yng tidak dapat langsung melakukan barter juga terdorong pergi ke pasar ini. Bila di pasar juga tidak ditemukan orang yang melakukan barter, ia akan menjual kepada pedagang dengan harga yang relativ murah untuk kemudian disimpan sebagai persediaan. Pedagang kemudian menjualnya dengan suatu tingkat keuntungan. Hal ini berlaku untuk semua jenis barang”.

Imam Ghazali juga secara eksplisit menjelaskan perdagangan regional. Kata Ghazali:

Selanjutnya praktek-praktek ini terjadi di berbagai kota dan negara. Orang-orang melakukan perjalanan ke berbagai tempat untuk mendapatkan alat-alat makanan dan membawanya ke tempat lain. Urusan ekonomi orang akhirnya diorganisasikan ke kota-kota dimana tidak seluruh makanan dibutuhkan. Keadaan inilah yang pada giliran menimbulkan kebutuhan alat tarnsportasi. Terciptalah kelas pedagang regional dalam masyarakat. Motifnya tentu saja mancari keuntungan. Para pedagang ini bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan orang lain dan mendapat keuntungan dan makan oleh karena oleh orang lain juga”.

Al-Ghazali juga memperkenal teori permintaan dan penawaran; jika petani tidak mendapatka pembeli, ia akan menjualnya pada harga yang lebih murah, dan harga dapat diturunkan dengan menambah jumlah barang di pasar. Ghazali juga memperkenalkan elastisitas permintaan, ia mengidentifikasi permintaan produk makanan adalah inelastis, karena makanan adalah kebutuhan pokok. Oleh karena dalam perdagangan makanan motif mencari keuntungan tinggi dari perdagangan, selayaknya dicari barang-barang yang bukan merupakan kebutuhan pokok[3].

Dalam pandangannya, pasar harus berjalan dengan bebas dan bersih dari segala bentuk penipuan. Perilaku para pelaku pasar harus mencerminkan kebajikan, yakni memberikan suatu tambahan di samping keuntungan material bagi orang lain dalam bertransaksi. Tambahan ini bukan merupakan kewajiban, tetapi hanya merupakan kebajikan. Ia kemudian menjabarkan beberapa panduan menyangkut pengalaman kebajikan ini di pasar, seperti bersikap lunak ketika berhubungan dengan orang miskin dan fleksibel dalam transaksi utang, bahkan membebaskan utang orang-orang miskin tertentu.

2. Aktivitas Produksi

Al-Ghazali menganggap kerja sebagi bagian dari ibadah seseorang. Bahkan secara khusus, ia memandang bahwa produksi barang-barang kebutuhan dasar sebagai kewajiban sosial (Fardu al-Kifayah). Dalam hal ini, pada prinsipnya, negara harus bertanggung jawab dalam menjamin kebutuhan masyarakat terhadap barang-barang kebutuhan pokok.

Klasifikasi aktivitas produksi yang diberikan al-Ghazali hampir mirip dengan klasifikasi yang terdapat dalam pembahasan kontemporer, yakni primer (agrikultur), sekunder (manufaktur), dan tersier (jasa)[4]. Secara garis besar, ia membagi aktivitas produksi ke dalam tiga kelompok berikut:

a) Industri dasar, yakni industri-industri yang menjaga kelangsungan hidup manusia. Kelompok ini terdiri dari empat jenis aktivitas, yakni agrikultur untuk makanan, tekstil untuk pakaian, konstruksi untuk perumahan, dan aktivitas negara, termasuk penyediaan insfratruktur, khususnya untuk memfasilitaasi produksi kebutuhan barang-barang pokok dan untuk meningkatkan kerja sama dan koordinasi antar pihak-pihak yang terlibat dalam produksi.

b) Aktivitas penyokong, yakni aktivitas yang bersifat tambahan bagi industri dasar, seperti industri baja, eksplorasi dan pengembangan tambang serta sumber daya hutan.

c) Aktivitas komplementer yang berkaitan dengan industri dasar, seperti penggilingan dan pembakaran produk-produk agikultur.

Ia mengatakan bahwa kelompok pertama adalah kelompok yang paling penting dan peranan pemerintah sebagai kekuatan mediasi dalam kelompok inin cukup krusial.

Al-Ghazali juga mengakui adanya tahapan produksi yang beragam sebelum produk itu dikonsumsi. Tahapan dan keterkaitan produksi yang beragam mensyaratkan adanya pembagian kerja, koordinasi dan kerja sama. Ia menguraikan argumennya dengan menggunakan contoh jarum:

bahkan jarum yang kecil itu menjadi berguna hanya setelah melewati tangan-tangan pembuat jarum sebanyak 25 kali, setiap kali melalui proses yang berbeda.”


[1] Arif Hutoro, Ekonomi Islam: Pengantar Analisis Kesejarahan dan Metodologi, (Malang: BPFE UNIBRAW, 2007), hlm. 76

[2] Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, (Beirut: Dar al-Nadwah,t.t.), juz III hlm. 227

[3] Adiwarman A. Karim, Sejarah Pemikiran, Op.Cit, hlm. 326

[4] Muhammad Imaduddin, Artikel; Kontribusi Para Ilmuan Muslim Terhadap Perkembangan Ilmu Ekonomi, Desember. 2006

to be continue… cz da telalu panjang….