.

PERANAN NEGARA DAN KEUANGAN PUBLIK (PEMIKIRAN EKONOMI AL-GHAZALI)

Meskipun al-Ghazali menghindari kegiatan-kegiatan politik, namun pemikirannya tentang kaitan politik dan ekonomi tampak mirip dengan pemahaman ekonomi modern. Negara dan agama adalah pilar-pilar kehidupan bermasyarakat yang tidak bisa dipisahkan, dimana agama berfungsi sebagai fondasinya sementara negara memainkan peran sebagai pelopor dan pelindung. Sehingga jika salah satu pilar tersebut lemah, maka masyarakat pun akan rusak.

Gambaran al-Ghazali mengenai peranan khusus yang dimainkan oleh negara dan penguasa dituliskan dalam sebuah buku tersendiri yang berjudul Nasihat al-Mulk. Di dalam kitab ini, ia merekomendasikan untuk para rajasepuluh prinsip-prinsip keadilan dan perlakuan yang adil terhadap warga negara. Setiap prinsip tersebut tidak hanya dibahas dari sudut pandang Islam, tetapi juga didukung dengan ilustrasi dari Taurat dan Injil, dan juga dari sejarah Romawi, Yunani dan bahkan Cina. Di antara prinsip tersebut, al-Ghazali memperingatkan penguasa untuk tidak menyalah gunakan kekuasaan, sombong, tersbuai oleh sanjungan, serta bersikap waspada terhadap ulama-ulama palsu .

Al-Ghazali memberikan penjelasan yang rinci mengenai peran dan fungsi keuangan publik. Ia memperhatikan kedua sisi anggaran, baik sisi pendapatan maupun sisi pengeluaran. Ia menyarankan agar dalm memanfaatkan pendapatan negara, negara harus bersifat fleksibel yang berlandskan kesejahteraan. Ia juga mengusulkan bahwa jika pengeluaran publik bisa memberikan kebaikan sosial yang lebih banyak, penguasa dapat memumgut pajak baru.

Al-Ghazali merupakan seorang di antara sedikit ilmuwan pada masanya yang membahas utang publik sebai sumber pendapatan negara lainnya.

Ia mengatakan:
Seseorang tidak boleh menafikan bolehnya penguasa untuk meminjam dari rakyat bila kebutuhan negara menuntutnya. Namun demikian, pertanyaannya adalah: jika penguasa tidak mengantisipasi pendapatan dalam Baitul Mal yang dapat melebihi apa yang dibutuhkan bagi tentara dan pejabat publik lainnya, maka atas dasar apa dana-dana itu dapat dipinjam?

Penggambaran fungsional dari pengeluaran publik yang direkomendasikan al-Ghazali bersifat agak luas dan longgar, yakni penegakan keadilan sosio-ekonomi, keamanan dan stabilitas negara, serta pengembangan suatu masyarakat yang makmur. Selain dari apa yang telah diutarakan mengenai bagaimana menciptakan kondisi-kondisi tersebut, dapat dikatakan walaupun memilih pembagian sukarela sebagai suatu cara untuk meningkatkan keadilan sosio-ekonomi, al-Ghazali membolehkan intervensi negara pilihan bila perlu, untuk mengeliminasi kemiskinan dan kesukaran yang meluas.

Mengenai perkembangan masyarakat secara umum, al-Ghazali menunjukkan perlunya membangun insfratruktur sosio ekonomi. Ia berkata bahwa:
”sumber daya publik seharusnya dibelanjakan untuk pembuaatan jembatan-jembatan, bangunan-bangunan keagamaan (masjid), pondokan, jalan-jalan dan aktivitas lainnya yang senada yang manfaatnya dapat dirasakan oleh rakyat secara umumnya”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa al-Ghazali mengakui ”konsumsi bersama” dan aspek spill-over dari barang-barang publik. Di lain tempat, ia menyatakan bahwa pengeluara publik dapat diadakan untuk fungsi-fungsi seperti pendidikan, hukun dan adsministrasi publik, pertahanan dan pelayanan kesehatan.

Di samping itu, al-Ghazali menekankan kejujuran dan efisiensi dalam urusandi sektor publik. Ia memandang perbendaharaan publik sebagai amanat yang dipegang oleh penguasa, yang tidak boleh bersikap boros.

to be continue………