.

QUALITY ASSURANCE PENDIDIKAN

1. Abstrak
Prof. Dr. R. Margono Slamet menilai "Dunia pendidikan tinggi kita acap melakukan pembohongan terhadap peserta didik, sehingga kualitas lulusan tidak memenuhi standar yang diharapkan," kata Prof Dr R. Margono Slamet, ketua Koordinator Forum Heds Dirjen Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, dalam Seminar dan Lokakarya Quality Anssurance (QA) di Aula FKIP Unila, Selsa (30-5).
Dalam lokarkarya yang merupakan bagian dari Seminar dan Rapat Tahunan BSK PTN Wilayah Barat, Margono menambahkan, “Kita membuat kebijakan dan program pendidikan yang berorientasi pada peningkatan mutu, tapi proses yang dilakukan dan dijalankan pihak perguruan tinggi tak berorientasi pada peningkatan mutu lulusan.”
Mantan Rektor Unila ini, menilai masih banyak kekurangan dalam pengelolaan perguruan tinggi di Indonesia. Dalam hal meningkatkan jaminan mutu (quality assurance), misalnya, perguruan tinggi kita belum melakukan evaluasi diri atas upaya-upaya peningkatan mutu.
“Dalam menjaga mutu itu, perguruan tinggi kita seharunya mengawali dengan internal quality assurance. Nyatanya, proses yang berlangsung tidak seperti itu, sehingga syarat untuk bisa meningkatkan mutu itu tak tercapai,” kata dia.
Margono mencontohkan, perguruan tinggi acap memberikan janji-janji kepada peserta didik. Misalnya, peserta didik akan lulus setelah empat tahun. Nyatanya, banyak peserta didik yang lulus setelah 6—8 tahun. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya drop out dari kampus. “Ini merupakan pembohongan kepada peserta didik, sehingga peserta didik akhirnya melakukan apa saja agar lulus. Orientasi mereka hanya untuk lulus, tapi begitu masuk ke pasar kerja, ternyata tak terserap oleh masyarakat,” kata dia.
Akibatnya, banyak lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang tidak bisa masuk kerja alias pengangguran. Kondisi ini membuktikan, lulusan dari perguruan tinggi kita tidak bermutu.
Menurut mantan Rektor Unila ini, internal quality assurance merupakan system penjaminan mutu pendidikan yang diberikan dan dilakukan perguruan tinggi. Untuk itu perguruan tinggi harus memiliki komitmen .
“Pengelola perguruan tinggi harus punya integritas, jujur, terbuka, memiliki visi yang jelas, governance, sumber daya manusia berkualitas intelektual, moral dan spritualitas, sarana dan prasarana, keuangan, system informasi, keberlanjutan,” kata dia.
Dengan begitu, perguruan tinggi akan bisa meningkatkan jaminan mutu jika bisa mengaplikasikan hal tersebut. Namun, perguruan tinggi kita belum banyak yang bisa mengaplikasikannya. Dalam soal sumber daya manusia, misalnya, dunia pendidikan kita dikelola oleh sumber daya manusia yang cuma mengutamakan kualitas pendidikan. Penyebabnya, orientasi kita dalam pendidikan hanya untuk meningkatkan kualitas kecerdasan, tapi mengabaikan aspek-aspek lain menyangkut moralitas dan spritualitas. “Bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi,” kata dia.