Aplikasi Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan

Aplikasi Teori-Teori Belajar Dalam Pendidikan

Untuk mencapai Akuntabilitas dalam pendidikan yang profesional memang cukup memerlukan usaha yang tidak begitu mudah. Kebanyakan yang diajarkan di sekolah adalah tingkah laku yang komplek, bukan hanya simpel respons. Tingkah laku yang komplek ini dapat diajarkan melalui proses shaping atau succesive approximation, beberapa tingkah laku yang mendekati respons terminal. Proses ini dimulai dengan penetapan tujuan, kemudian diadakan analisis tugas, langkah-langkah kegiatan murid dan reinforcement terhadap respon yang diinginkan.

Suatu bentuk belajar yang tidak dapat dinamakan dengan classical conditioning maupun operant conditioning. Dalam modelling, seseorang yang beljar mengikuti kelanjutan orang lain sebagai model. Tingkah laku manusia lebih banyak dipelajari melalui modelling atau imitasi dari pada melalui pengajaran langsung.

Prosedur-prosedur pengendalian atau perbaikan tingkah laku

1. Memperkuat tingah laku bersaing

Dalam usaha mengubah tingkah yang tidak diinginkan diadakan penguatan tingkah laku yang diinginkan misalnya dengan kegiatan kerjasama, membaca dan bekerja disatu meja untuk mengatasi kelakuan-kelakuan menentang, melamun dan hilir-mudik

2. Extincsi

Dilakukan dengan membuang atau meniadakan peristiwa penguat tingkah laku. Extincsi dapat dipakai bersama metode lain seperti modelling dan sosial reinforcemenr. Extincsi berlangsung terutama jika reinforcement adalah perhatian. Apabila murid memperhatikan kesana-kemari, maka perubahan Extincsi guru-murid akan menghentikan tingkah laku murid tersebut.

3. Satiasi

Adalah suatu prosedur menyuruh seseorang melakukan perbuatan berulang-ulang sehingga ia menjadi leah dan jerah. Contoh : seorang guru yang memergoki muridnya menyuruh anak merokok sampai habis satu pak sehingga murid itu bosan

4. Perubahan Lingkungan

Beberapa tingkah laku dapat dikendalikan oleh perubahan kondisi stimuli yang mempengaruhi tingkah laku itu. Jika murid terganggu oleh suara gaduh diluar kelas ketukan jendela dapat menghentikan gangguan itu.

5. Hukuman

Untuk memperbaiki tingkah laku hukuman hendaknya diterapkan di kelas dengan bijaksana. Hukuman dapat mengatasi tingkah laku yang tidak diinginkan dalam waktu singkat, untuk itu perlu disertai dengan reinforcement. Hukuman menunjukkan apa yang tidak boleh dilakukan murid, sedangkan reword menunjukkan apa yang mesti dilakukan oleh murid.

Berikut ini adalah langkah-langkah bagi guru dalam mengadakan analisis dan modivikasi perilaku:

  1. Rumusan tingkah laku yang diubah secara operasional
  2. Amatilah frekuensi tingkah laku yang perlu diubah
  3. Ciptakan situasi belajar atau treatment sehingga terjadi tingka laku yang diinginkan
  4. Indikasilah reinforcement yang potensial
  5. Perkuatlah tingkah laku yang diinginkan

Pengajaran terprogram menerapkan prinsip-prinsip “operant conditioning” bagi belajar manusia di sekolah. Pengajaran ini berlangsung seperti halnya paket pengajaran diri sendiri yang menyajikan suatu topik yang disusun secara cermat untuk dipelajari dan dikerjakan oleh murid. Tiap-tiap pekerjaan murid diberi “feed back”.

Program pegajaran terprogram telah diterapkan dalam program pengajaran individual. Program pengajaran individual telah dikembangkan pada penerapan beberapa lembaga pendidikan, seperti :

  • Program for learning in accordanc with need (PLAN), pada westinghouse corporation.
  • Individually guide education (IGE), pada pusat penelitian dan pengembangan belajar kognitif Universitas Pittsbugh.

Komponen pengajaran penting menurut pandangan behavioral adalah kebutuhan akan:

  • Perumusan tugas atau tujuan belajar secara behavioral
  • Membagi “task” menjadi “subtasks
  • Menentukan hubungan dan aturan logis “subtasks
  • Menetapkan bahan dan prosedur mengajarkan tiap-tiap “subtasks
  • Memberi “feedback” pada setiap penyelesaian “subtasks” atau tujuan-tujuan terminal.

Pendekatan belajar berikut ini sebuah outline strategi belajar tuntas menurut Bloom (1971):

  1. Pelajaran terbagi ats unit-unit kecil untuk satu atau dua minggu pelajaran
  2. Bagi masing-masing unit, tujuan intruksional dirumuskan dengan jelas
  3. Learning tasks dalam masing-masing unit diajarkan dengan pengajaran kelompok reguler

Modal belajar mengajar menunjukkan bahwa perbedaan individual akan mempengaruhi keputusan metodologi guru. Prinsip “operant condotioning” dan analisis tugas terlaksana dengan berhasil pada berbagai macam murid dari berbagai situasi belajar. Untuk mengadakan analisis tugas, guru harus mengetahui tujuan instruksional.