.

Dinasti Turki Utsmani dan Sekularisasi Turki 1

Latar Belakang

Peradaban Islam dengan pengaruh Arab dan Persia menjadi warisan yang mendalam bagi masyarakat Turki sebagai peninggalan Dinasti Usmani. Islam di masa kekhalifahan Turki Utsmani diterapkan sebagai agama yang mengatur hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Khalik, dan juga suatu sistem sosial yang melandasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Perkembangan selanjutnya memperlihatkan pengaruh yang kuat kedua peradaban tersebut (Arab-Persia) ke dalam kebudayaan bangsa Turki. Kondisi ini sering kali menimbulkan kekeliruan pada masyarakat awam yang sering menganggap bahwa bangsa Turki sama dengan bangsa Arab.

Negara Turki modern adalah negara yang terletak di dua benua. Dengan luas wilayah sekitar 814.578 KM2, 97% (790.200 KM2) wilayahnya terletak di benua Asia dan sisanya sekitar 3% (24.378 KM2) terletak di benua Eropa. Posisi geografi yang strategis itu menjadikan Turki sebagai jembatan antara Timur dan Barat. Bangsa Turki diperkirakan berasal dari suku-suku Iran di Asia Tengah. Secara historis, bangsa Turki mewarisi peradaban Romawi di Anatolia, peradaban Islam Arab dan Persia sebagai warisan dari Imperium Usmani serta pengaruh negara-negara Barat Modern. Bahkan, Dinasti Turki Utsmani dianggap sebagai satu-satunya sandungan bagi bangsa Eropa dalam melancarkan ekspansi ke dunia Timur.

Menurut Harun Nasution, secara politis, periodesasi peradaban Islam terbagi menjadi 3 periode. Pertama, periode klasik (650 M – 1250 M) yang merupakan era perintisan dan kemajuan yang terdiri atas fase ekspansi, integrasi, dan puncak kemajuan (650 M – 1000 M) serta fase dis-integrasi (1000 M – 1250 M). Dunia Islam pada masa ini mengalami kemajuan yang luar biasa. Ilmu pengetahuan berkembang dalam berbagai bidang, baik agama, politik, kesusastraan, filsafat, seni, arsitektur, termasuk dalam bidang kebudayaan. Masa ini sering disebut dengan abad mu’jizat Arab. Sedangkan di fase kedua dari periode klasik, merupakan fase disintegrasi, dimana keutuhan umat Islam dalam lapangan politik mulai pecah dan kekuasaan khalifah menurun sehingga Baghdad dapat dirampas dan dihancurkan oleh Hulaghu Khan pada tanggal 10 Februari 1258 M. Meskipun demikian, di Mesir pada saat yang hampir bersamaan juga berdiri dinasti Mamluk (1250 M -1517 M), serta dinasti Turki Utsmani di Turki (1281-1924 M) yang disinyalir merupakan kerajaan Islam terbesar dan paling lama.

Kedua, periode pertengahan dapat pula di bagi menjadi dua fase, yaitu fase kemunduran (1250 M – 1500 M) dan fase tiga kerajaan besar (1500 M – 1800 M) yakni Kerajaan Utsmani di Turki, Kerajaan Syafawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India. Masa ini berhasil mencapai kemajuan (1500 – 1700 M) dan kemunduran (1700 – 1800 M). Abad pertengahan ini di Eropa sering disebut dengan masa kemunduran Islam. Negara-negara Arab pada abad pertengahan mengalami kemajuan yang sangat pesat pada sekitar abad ke-17, namun pada ahirnya sedikit demi sedikit mengalami kemerosotan di bidang kebudayaan dan kekuasaan.

Tahap ketiga adalah periode modern. Periode ini dimulai pada 1800 - sekarang. Dalam sejarah peradaban manusia, abad ke-18 menempati posisi tersendiri. Ia dipandang sebagai awal dari satu peradaban yang kemudian dikenal dengan masa modern, di bawah dominasi budaya Barat, masa ini ditandai dengan adanya kemajuan pesat dalam bidang sains dan teknologi yang dipandang mampu mengubah hal-hal yang fundamental dalam kehidupan manusia.

Dari preodesasi tersebut di atas, maka Dinasti Turki Utsmani telah mengalami perjalanan dua periode, yakni periode pertengahan dan periode modern. Wilayahnya pun sangat luas yang meliputi: Balkan, Turki, Timur Tengah Arab, Mesir dan Afrika Utara. Sedangkan pengaruhnya sampai ke Asia Tengah, Asia Kecil, Eropa Timur, Laut Merah (Timur Tengah Arab) dan Sahara (Afrika Utara).

Eksistensi dinasti Turki Utsmani yang mempengaruhi tiga benua, sangat penting bagi peradaban Islam selanjutnya. Hal ini didasarkan pada realita sejarah bahwa selama berabad-abad kekuasaannya, Dinasti Turki Utsmani telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan peradaban, baik di negara-negara Arab, Asia, Afrika maupun Eropa.

Mengingat posisi dan kedudukan Dinasti Turki Utsmani dalam percaturan sejarah peradaban Islam sekaligus sebagai pemegang kunci kekhalifahan terakhir di Dunia Islam yang mendasari penulisan ini.