.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERWUJUDAN PENGELOLAAN KELAS

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perwujudan management atau pengelolaan kelas adalah sebagai berikut:[1]

  1. Kurikulum.

Setiap tingkat dan jenis sekolah diperlukan kurikulum yang mampu memenuhi kebutuhan masarakat yang semakin komplek dalam perkembangannya. Kurikulum yang digunakan di sekolah sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas kelas dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang berdaya guna bagi pembentukan pribadi siswa. Suatu kelas akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat apabila kurikulum yang dipergunakan di sekolah dirancangkan sesuai dengan dinamika masyarakat.

  1. Sarana dan pra sarana.

Perencanaan dalam membangun sebuah gedung untuk sebuah sekolah berkenaan dengan jumlah dan luas setiap ruangan, letak dan dekorasinya yang harus disesuaikan dengan kurikulum yang digunakan. Akan tetapi karena kurikulum selalu dapat berubah sedang ruangan atau gedung bersifat permanen, maka diperlukan kreativitas dalam mengatur pendayagunaan ruang atau gedung yang tersedia berdasarkan kurikulum yang dipergunakan demi terciptanya suasana belajar mengajar seperti yang telah diinginkan.

  1. Guru.

Progam kelas tidak akan berarti bilamana tidak diwujudkan menjadi kegiatan. Untuk itu peran guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan di antara murid-murid suatu kelas.

Setiap guru harus memehami fungsinya karena sangat besar pengaruhnya terhadap cara bertindak dan berbuat dalam menunaikan pekerjaan sehari-hari di kelas atau sekolah dan di masyarakat. Pengetahuan dan pemahaman tentang kompetensi guru akan mendasari pola kegiatannya dalam menunaikan profesi sebagai guru dan jaminan mutu pendidikan. Adapun kompetensi yang di maksud adalah:

  • Penguasaan bahan.
  • Mengelola progam belajar mengajar.
  • Mengelola kelas.
  • Penggunaan media atau sumber.
  • Mampu mengelola dan mempergunakan interaksi belajar mengajar untuk perkembangan fisik dan psikis yang sehat bagi anak-anak.
  • Memiliki kemampuan melakukan penilaian prestasi belajar siswa secara obyektif dan mempergunakan hasilnya untuk kepentingan proses pendidikan anak-anak.
  • Memahami fungsi dan progam layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah.
  1. Murid.

Murid merupakan potensi kelas yang harus di manfaatkan guru dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif.

Murid sebagai unsur kelas memiliki perasaan kebersamaan yang sangat penting artinya bagi terciptanya situasi kelas yang dinamis dan menyenangkan. Setiap murid harus memiliki perasaan diterima terhadap kelasnya agar mampu ikut serta dalam kegiatan kelas. Perasaan diterima itu akan menentukan sikap bertanggung jawab terhadap kelas yang secara langsung berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangannya masing-masing.

  1. Dinamika kelas.

Kelas adalah kelompok sosial yang harus dipergunakan oleh setiap wali atau guru kelas untuk kepentingan murid dalam proses kependidikannya. Dinamika kelas pada dasarnya berarti kondisi kelas yang diliputi dorongan untuk aktif secara terarah yanng dikembangkan melalui kreativitas dan inisiatif murid sebagai suatu kelompok. Kreativitas dan inisiatif yang baik perwujudannya tidak sekedar terbatas di dalam kelas sendiri, tetapi mungkin pula dilaksanakan bersama-sama kelas yang lain atau oleh seluruh sekolah.

Dinamika kelas sangat dipengaruhi oleh cara wali atau guru kelas menerapkan adsministrasi pendidikan dan kepemimpinan pendidikan serta dalam mempergunakan pendekatan pengelolaan kelas.

6. Lingkungan sekitar.

Adapun keberhasilan suatu proses belajar mengajar sedikit banyak juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Sebab bilamana dalam proses belajar mengajar tempat atau lingkungan yang digunakan tempat yang kumuh misalnya secara tidak langsung bagaimana keberhasilan dalam proses belajar mengajar bisa tercapai. Oleh karena itu, dalam pemilihan tempat untuk proses belajar mengajar harus benar-benar sesuai dengan lingkungan disekitarnya demi tercapainya keberhasilan dalam proses belajar mengajar.

Sehubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perwujudan pengelolaan kelas disini juga akan disebutkan tentang mengapa pengelolaan kelas tidak mudah teretera atau tidak mudah dijalankan:

1. Berdimensi banyak.

Di kelas guru dituntut untuk melaksanakan berbagai tugas yanng meliputi tugas-tugas akademik dan tugas penunjangnya, yakni tugas-tugas adsministratif.

Tugas edukatif: menyusun persiapan mengajar lengkap dengan alat serta sumber, menyampaikan pelajaran dan mengevaluasi.

Tugas administratif: meliputi pekerjaan mengabsen, mencatat data siswa, menyusun jadwal, mencatat hasil-hasil pengajaran dan masih banyak lagi.

2. Serentak.

Berbagai hal dapat terjadi pada waktu yang sama di kelas yang satupun tidak dapat ditunda. Misalnya selama dilaksanakan diskusi, guru tidak hanya mendengarkan dan membantu mengarahkan pikiran siswa, tetapi juga harus memantau siswa-siswa yang kurang efektif melibatkan diri dalam kegiatan, dan mencari strategi agar diskusi dapat berjalan dengan baik.

3. Segera.

Proses pengajaran yang terjadi di kelas dapat dikatakan cukup cepat, dengan waktu yang dijadwalakan tersebut guru harus bisa membaginya sedemikian hingga cukup efektif menghasilkan sesuatu yang dikuasai oleh siswa.

4. Iklim kelas yang tidak bisa diramalkan terlebih dahulu.

Iklim yang terjadi di kelas bukan semata-mata merupakan hasil upaya guru. Banyak faktor telah mempengaruhi terjadinya iklim kelas, dan beberapa diantaranya datang dengan tiba-tiba.

5. Sejarah.

Peristiwa yang terjadi di kelas akan mempunyai dampak yang dirasakan dalam waktu yang jauh sesudahnya. Seperti yang dikemukakan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Emmer, Everston dan Anderson (1980), peristiwa yang terjadi pada waktu awal-awal sekolah akan banyak berpengaruh pada pengelolaan kelas pada tingkat-tingkat berikutnya. Dari pengamatan yang dilakukan terhadap kelas-kelas yang begitu mudah dikelola tetapi sebaliknya ada yang sangat sulit.ternyata bahwa kelas yang mudah dikelola merupakan kelanjutan dari kelas yang pada waktu di kelas awal ditangani dengan baik LINGKUNGAN BELAJAR YANG KONDUSIF

Untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, seluruh komponen-komponen tersebut diatas perlu dilengkapi. Disamping itu, di dalam buku Quantum Teaching juga disebutkan bahwa memahami kaitan antara pandangan sekeliling dan otak itu penting untuk mengorkestrakan lingkungan belajar yang kondusif.

Sebuah gambar lebih berarti daripada seribu kata. Gambar atau alat peraga lainnya dapat merangsang modalitas visual, dan juga dapat menyalakan jalur saraf (pandangan sekeliling dan kaitan mata otak), yang kemudian akan mengeluarkan beribu-ribu asosiasi dalam kesadaran. Kaitan ini menyediakan konteks yang kaya untuk pembelajaran yang baru.

Otak berbicara kepada diri sendiri melalui citra-citra asosiatif. Komunikasi di dalam otak dicirikan dengan bahasa metaforis-simbolis, sehingga otak bisa terdapat beberapa pikiran sekaligus.

 


[1] Arikunto Suharsimi, Pengelolaan Kelas dan Siswa, 1988, Jakarta; Rajawali Pers.