Masa Kemunduran Pendidikan Islam

Selamat berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu Seputar Informasi Terkini. Pada kesempatan yang berbahagia ini kami akan berbagi posting singkat tentang Kemunduran Pendidikan Islam.

Masa Kemunduran Pendidikan Islam


Sejak awal perkembangannya, dalam pemikiran Islam terlihat dua pola yang saling berlomba mengembangkan diri, dan mempunyai pengaruh besar dalam pengembangan pola pendidikan umat Islam. Dari pola pemikiran yang bersifat tradisional, yang mendasarkan diri kepada wahyu, yang kemudian berkembang menjadi pola pola pemikiran sufistik dan mengembangkan pola pendidikan sufi. Sedangkan dari pola pemikiran yang rasional, yang mementingkan akal pikiran, menimbulkan pola pendidikan empiris rasional. Pola pendidikan bentuk kedua ini sangat memperhatikan pendidikan intelektual dan penguasaan material.

Pada masa jayanya pendidikan Islam, kedua pola pendidikan tersebut menghiasi dunia Islam, sebagai dua pola yang berpadu dan saling melengkapi. Setelah pola pemikiran rasional diambil alih pengembangannya oleh dunia barat (Eropa) dan dunia Islampun meninggalkan pola pemikiran tersebut, maka dalam dunia Islam tinggal pola pemikiran sufistik, yang sifatnya memang sangat memperhatikan kehidupan batin, sehingga mengabaikan pengembangan dunia material. pola pendidikan yang dikembangkannya pun tidak lagi menghasilkan perkembangan budaya Islam yang bersifat material. Dari aspek inilah dikatakan pendidikan dan kebudayaan Islam mengalami kemunduran, atau setidak-tidaknya dapat dikatakan pendidikan Islam mengalami kemandegan.

Setelah abad 14 M dunia Islam sedikit demi sedikit tenggelam dalam kebekuan dan keterbelakangan, terutama akibat datangnya penjajah barat yang selain berpolitik devide et impera, juga berpolitik pendidikan yang melemahkan semangat Islam murni, sampai munculnya ulama pembaharuan Islam seperti Jamaluddin Al-Afghany, Muhammad Abduh dan murid-muridnya pada abad 19 di Mesir yang mengajak umat seluruh dunia untuk bangkit dan mengkaji kembali ajaran Islam yang murni dan dinamis, disusul para pembaharu Islam di wilayah negara Turki dengan gerakan nasionalisme di bawah kepeloporan ilmuwan dan politikus yang tergabung dalam gerakan Turki muda yang terkenal diantaranya adalah Mustafa Kemal Attaturk.

Selanjutnya diungkapkan oleh M.M Sharif, bahwa pikiran Islam menurun setelah abad ke 13 M dan terus melemah sampai abad ke 18 M. di antara sebab-sebab melemahnya pikiran Islam tersebut, antara lain dilukiskannya sebagai berikut:
  1. Telah berkelebihan berfilsafat Islam (yang bersifat sufistis) yang telah dimasukka oleh Al-Ghazali dalam alam Islam di timur, dan berkelebihan pula Ibn Rusyd dalam memasukkan filsafatnya (yang bersifat rasionalistis) ke dunia Islam di barat. Al-Ghazali dengan filsafat Islamnya menuju ke arah bidang rohaniah hingga menghilang ia ke dalam mega alam tasawuf, sedangkan Ibn Rusyd dengan filasafatnya menuju ka alam yang bertentangan dengan Al-Ghazali. Maka Ibn Rusyd dengan filsafatnya ke jurang materialisme. Al-Ghazali mendapatkan sukses di timur, hingga pendapat-pendapatnya menjadi aliran-aliran pemikiran yang terpenting bagi alam timur, sedangkan Ibn Rusyd mendapatkan sukses di barat hingga pikiran-pikirannya menjadi pimpinan yang penting bagi alam pikiran barat.
  2. Umat Islam, terutama para pemerintahnya (Khalifah, Sultan, Amir-Amir) melalaikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dan tidak memberi kesempatan untuk berkembang. Kalau pada mulanya pejabat pemerintahan sangat memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, maka pada masa menurun dan melemahnya kehidupan umat Islam ini, para ahli ilmu pengetahuan umumnya terlibat dalam urusan-urusan pemerintahan, sehingga melupakan perkembangan ilmu pengetahuan.
  3. Terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar, sehingga menimbulkan kehancuran-kehancuran yang mengakibatkan berhentinya kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di dunia Islam. Sementara itu obor pikiran Islam berpindah tangan ke tangan kaum masehi, yang mereka ini telah mengikuti jejak kaum muslimin yang menggunakan hasil buah pikiran yang mereka capai dari pikiran Islam itu. Dengan semakin ditinggalkannya pendidikan intelektual, maka semakin statis perkembangan kebudayaan Islam, karena daya intelektual para generasi penerus tidak mampu mengadakan kreasi-kreasi budaya baru, bahkan telah mengakibatkan ketidak mampuan mengatasi persoalan-persoalan baru yang dihadapi sebagai akibat perubahan dan perkembangan zaman. Ketidak mampuan intelektual tersebut, merealisasi dalam pernyataan “bahwa pintu ijtihad telah tertutup”. Maka akibatnya terjadilah kebuntuan intelektual secara total.

Dalam hal ini, Fazlur Rahman dalam bukunya menjelaskan tentang gejala-gejala kemunduran atau kemacetan intelektual Islam sebagai berikut:
  • Penutupan pintu ijtihad (yakni pemikiran yang orisinil dan bebas) selama abad ke 4 H/10 M dan 5 H/11 M telah membawa kepada kemacetan umum dalam ilmu hukum dan ilmu intelektual, khususnya yang pertama. Ilmu-ilmu inteletual, yakni teologi dan pemikiran keagamaan, sangat mengalami kemunduran dan menjadi miskin karena pengecilan mereka yang disengaja dari intelektualisme sekuler dan karena kemunduran yang disebut terakhir ini, khususnya filsafat, dan juga pengucilannya dari bentuk-bentuk pemikiran keagamaan seperti yang dibawa oleh sufisme.
  • Kehancuran total yang dialami oleh kota Baghdad dan Granada sebagai pusat-pusat pendidikan dan kebudayaan Islam, menandai runtuhnya sendi-sendi pendidikan dan kebudayaan Islam. Musnahnya lembaga-lembaga pendidikan di bagian timur dan barat dunia Islam tersebut, menyebabkan pula kemunduran pendidikan diseluruh dunia Islam, terutama dalam bidang intelektual dan material, tapi tidak demikian halnya dalam bidang kehidupan batin atau spiritual.
  • Kehancuran dan kemunduran-kemunduran yang dialami oleh umat Islam, terutama dalam bidang kehidupan intelektual dan material ini, dan beralihnya secara drastis pusat-pusat kebudayaan dari dunia Islam ke Eropa, menimbulkan rasa lemah dan putus asa dikalangan kaum muslimin. Ini telah menyebabkan mereka mencari pegangan dan sandaran hidup yang bisa mengarahkan kehidupan mereka.
  • Kehidupan sufi berkembang dengan pesat. Madrasah-madrasah yang ada dan berkembang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan sufi. Madrasah-madrasah yang berkembang menjadi zawiyah-zawiyah untuk mengadakan riyadloh, merintis jalan untuk kembali dan menyatu dengan Tuhan, di bawah bimbingan dan otoritas dari guru-guru sufi. Berkembanglah berbagai sistem riyadhah dan jalan atau cara-cara tertentu yang dikembangkan untuk menuntun para murid yang di kenal selanjutnya dengan istilah tariqat.

Kedaan yang demikian, sebagaimana dilukiskan oleh Fazlur Rahman:

Dimadraah-madrasah yang bergabung pada khalaqah-khalaqah dan zawiyah-zawiyah sufi, karya-karya sufi dimasukkan dalam kurikulum yang formal, khususnya di India dimana sejak abad ke 8 H / 14 M karya-karya Al-Suhrawardi (pendiri ordo Suhrawardiyah), Ibn Al-Arabi dan kemudian karya-karya jami’ diajarkan. Tetapi disebagian besar pusat-pusat sufi, terutama di turki, kurikulum akademis terdiri dari hampir seluruhnya berisi tentang sufi. Di Turki waktu itu terdapat beberapa tempat khusus, yang disebut Methnevikhana, dimana masnawinya Rumi merupakan satu-satunya buku yang diajarkan. Lebih jauh lagi, asi dari karya-karya tersebut yang sebagian besar dikuasai patheisme, bertentangan secara tajam dengan ajaran lembag-lembaga pendidikan ortodoks. Karena itu timbullah suatu dualisme spiritual yang tajam dan berlarut-larut antara madrasah dan khalaqah.

Cir khas dari fenomena ini adalah melimpahnya pernyataan-pernyataan sufi yang taubat setelah menemukan jalan yang benar, lalu membakar buku-buku madrasah mereka atau melemparkannya kedalam sumur.

Kemunduran dan kemerosotan mutu pendidikan dan pengajaran pada masa ini, nampak jelas dalam sangat sedikitnya materi kurikulum dan mata pelajaran pada umumnya madrasah-madrasah yang ada. Dengan telah menyempitnya bidang-bidang ilmu pengetahuan umum, dengan tiadanya perhatian kepada ilmu-ilmu kealaman, maka kurikulum pada umumnya madrasah-madrasah terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan, ditambah dengan sedikit gramatika dan bahasa sebagai alat yang diperlukan. Ilmu-ilmu kegamaan yang murni tinggal terdiri dari: Tafsir Al-Qur’an, Hadits, Fiqih (termasuk Ushul Fiqih dan prinsip-prinsip hukum) dan Ilmu Klam atau Teologi Islam. Bahkan di madrasah-madrasah tertentu ilmu kalampun dicurigai, dan dimadrasah yang diurus oleh kaum sufi yang memang tersebar luas di negara-negara Islam pada masa itu ditambah dengan pendidikan sufi.

Mata pelajarannya sangat sederhana, yang ternyata dari jumlah total buku-buku yang harus dipelajari pada suatu tingkatan (bahkan tingkat tertinggi sekalipun) sangat sedikit. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan studipun terlalu singkat. Akibat selanjutnya adalah kekurang mendalamnya materi pelajaran yang mereka terima, sehingga kemerosotan dan kemunduran ilmu pengetahuan para pelajarnyapun bisa dibayangkan. Hal tersebut disebabkan karena sistem pangajaran pada masa itu sangat berorientasi pada buku pelajaran, dan bukan pada pelajaran itu sendiri. Oleh karena itu yang sering terjadi pelajaran hanya memberikan komentar-komentar atau saran-saran terhadap buku-buku pelajaran yang dijadikan pegangan oleh guru.

Daftar Pustaka:
  • Arifin Muhammad. Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta; Bumi Aksara, 1994.
  • Ma’ruf Misbah, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang : CV. Wicaksana, 1994.
  • Zuhairi, dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta; Bumi Aksara,1997.
  • Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 2008.
Itulah tadi update singkat tentang Masa Kemunduran Pendidikan Islam. Terimakasih atas kunjungannya n jangan bosan-bosan ataupun jenuh untuk berkunjung kembali di blog Kumpulan Ilmu Seputar Informasi Terkini, semoga ada guna dan manfaatnya.