.

Memilih Pendekatan Suatu Proses Terwujudnya Keberhasilan Penelitian

Secara singkat pendekatan penelitian dapat dibedakan atas beberapa jenis, tergantung dari sudut pandangnya, walaupun antara jenis yang satu dengan jenis yang lain terkadang sering bahkan over lapping.

Mengenai jenis-jenis pendekatan dalam penelitian Prof. Dr. Suharsimi Arikunto dalam bukunya ‘Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik’, menyebutkan bahwasannya jenis-jenis pendekatan adalah sebagai berikut:

1. Jenis pendekatan menurut teknik sampling {Dalam Kamus Ilmiah Populer sampling diartikan ‘Metode dimana kita menganggap watak dari beberapa anggota kelompok sebagai indikasi tentang watak seluruh anggotanya’ (M. Dahlan al-Barry; 2001. hal; 691)}nya:

  • Pendekatan populasi.
  • Pendekatan sampel.
  • Pendekatan kasus.

2. Jenis pendekatan menurut timbulnya variabel [Variabel adalah kondisi-kondisi atau karakteristik-karakteristik yang oleh penguji coba (pengeksperimen) dimanipulasikan (perbuatan curang untuk kemakmuran diri sendiri / penyelewengan / penipuan pemalsuan / pemakaian / perabaan / penjamahan) dikontrol atau diobservasi (pengamatan / riset). Lihat Metodologi Penelitian Pendidikan (Sanapiah Faisal; 1982). Hal: 82 dan Kamus Ilmiah Populer, hal: 436. Sutrisno Hadi mengartikan variabel merupakan gejala-gejala yang menunjukkan variasi, baik dalam jenisnya, maupun dalam tingkatnya (Metodologi Research: 224 )]:

  • Pendekatan eksperimen.
  • Pendekatan non-eksperimen.

3. Jenis pendekatan menurut pola-pola atau sifat penelitian non-eksperimen.

  • Sehubungan dengan pendekatan jenis ini, maka dibedakan atas:
  • Penelitian kasus atau yang sering disebut dengan case-studies.
  • Penelitian kausal komparatif.

Penelitian korelasi [Korelasi adalah hubungan antara dua variabel atau lebih yang berpasangan, hubungan antara dua perangkat data atau lebih. Sanapiah Faisal (Metodologi Penelitian Pendidikan; 198). Hal: 293. Sutrisno Hadi (Metodologi Research: 271).].

  • Penelitian historis.
  • Penelitian filosofis.

Tiga penelitian yang pertama, dinamakan juga penelitian deskriptif [Bersifat menggambarkan atau menguraikan suatu hal menurut apa adanya. Ibid. hal; 105].

4. Jenis pendekatan menurut model pengembangan atau model pertumbuhan:

  • One-shot model, yaitu model pendekatan yang menggunakan satu kali pengumpulan data pada suatu saat.
  • Longitudinal model, yaitu mempelajari berbagai tingkat pertumbuhan dengan cara mengikuti perkembangan bagi individu-individu yang sama.
  • Cross-sectional model, yaitu gabungan antara model a dan b, untuk memperoleh data yang lebih lengkap yang dilakukan dengan cepat, sekaligus dapat menggambarkan perkembangan individu selama dalam masa pertumbuhan karena mengalami subyek dari berbagai tingkat umur.

5. Jenis pendekatan menurut desain atau rancangan penelitian atau sifat penelitian eksperimen:

Walaupun ada beberapa jenis desain atau rancangan penelitian, namun secara garis besar ada tiga rancangan dasar, yaitu:

  • Rancangan rambang lugas.
  • Rancangan ulangan.
  • Rancangan faktorial.

Sedangkan rancangan-rancangan yang lain merupakan perluasan atau kombinasi dari ketiga rancangan pokok tersebut.

Campbell dan Stanley membagi jenis-jenis desain ini berdasarkan atas baik buruknya eksperimen, atau sempurna tidaknya eksperimen. Secara garis besar mereka mengelompokkan atas:

  • Pre Experimental Design (eksperimen yang belum baik).
  • True Experimental Design (eksperimen yang dianggap sudah baik).

a. Pre Experimental Design sering kali dipandang sebagai eksperimen yang tidak sebenarnya. Oleh karena itu, sering juga disebut dengan istilah ‘quasi experiment’ atau eksperimen pura-pura. Disebut demikian karena eksperimen jenis ini belum memenuhi persyaratan seperti cara eksperimen yang dapat dikatakan ilmiah mengikuti peraturan-peraturan tertentu.

b. True Experimental Design, yaitu jenis-jenis eksperimen yang dianggap sudah baik karena sudah memenuhi persyaratan. Yang dimaksud dengan persyaratan dalam eksperimen adalah adanya kelompok lain yang tidak dikenal dalam eksperimen tetapi ikut mendapatkan pengamatan. Dengan adanya kelompok lain yang disebut juga dengan kelompok pembanding atau kelompok kontrol ini akibat yang diperoleh dari perlakuan dapat diketahui secara pasti karena dibandingkan dengan yang tidak mendapat perlakuan.

Sejak kira-kira sepuluh tahun yang lalu, muncul sebuah pendekatan penelitian yang langsung menjadi terkenal. Pendekatan tersebut dikenal dengan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian itu muncul karena adanya kesadaran pelaku kegiatan yang merasa tidak puas dengan hasil kerjanya. Dengan didasari atas kesadaran sendiri, dengan cara melakukan percobaan yang dilakukan berulang-ulang, prosesnya diamati dengan sungguh-sungguh sampai mendapatkan proses yang dirasakan memberikan hasil yang lebih baik dari semula.

Ketika model penelitian tindakan ini mulai diperkenalkan, banyak ilmuwan yang tidak setuju, dan beranggapan bahwa penelitian tindakan ini kurang ilmiah, karena dilakukan dengan coba-coba. Namun setelah diketahui hasilnya bermanfaat, dan memang dilakukan secara sistematis dan menggunakan langkah-langkah yang benar, maka semaraklah perkembangannya.

Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat atau kelompok sasaran, dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan. Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota kelompok sasaran.

Penelitian tindakan ini dapat dimasukkan dalam kelompok penelitian eksperimen dengan ciri yang khusus. Jika dalam penelitian eksperimen ini si peneliti sekedar ingin mengetahui akibat dari perlakuan, tindakan atau sesuatu yang dilakukan dalam penelitian tindakan, si peneliti mencermati betul-betul selama proses dan akibat tindakan, sehingga diperoleh informasi yang mantap tentang dampak perlakuan yang dibuat. Dengan kalimat sederhana dapat dikatakan bahwa penelitian tindakan adalah penelitian eksperimen berulang dan berkelanjutan. [Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Sebuah Pendekatan Praktik. Jakarta; Rireka Cipta (2006), hal. 82-95].