Beberapa Peperangan Yang Terjadi Pada Masa Nabi Muhammad SAW

Dengan terbentuknya masyarakat Madinah , perkembangan agama Islam semakin pesat. Perkembangan Islam yang pesat itu membuat kafir Quraisy dan musuh-musuh Islam lainnya menjadi risau. Kerisauan mendorong kafir Makkah mengambil bentuk baru permusuhan mereka dengan Nabi Muhammad saw, yaitu “perang”. Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan itu, turunlah wahyu yang mengizinkan umat Islam untuk berperang dengan dua alasan, yaitu:

  1. Untuk mempertahankan diri dan mempertahankan hak milik   (hifdhun nafsi wal maal).
  2. Untuk menjaga keselamatan dalam berdakwah dan mempertahankannya dari orang-orang yang menghalang-halanginya.

Dalam sejarah Islam banyak terjadi peperangan sebagai upaya kaum muslimin mempertahankan diri dari serangan musuh. Di antara peperangan itu ada yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad yang disebut “Ghazwah” dan ada yang tidak diikuti oleh Nabi Muhammad yang disebut “Sariyah”. Beberapa perang besar yang terjadi pada masa Nabi antara lain :

1. Perang Badar : Perang ini terjadi pada  17 Ramadlan 2 H di Lembah Badar. Dalam Al Quran, perang ini disebut “Yaumul Furqan” artinya hari pemisah antara dua kelompok. Dalam perang ini pasukan Islam yang berjumlah 300 personil berhasil memperoleh kemenangan dari kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang. Kemenangan dalam Perang Badar ini menjadikan kedudukan Islam semakin kokoh dan kuat di Madinah dan sekitarnya. Sementara orang Yahudi, terutama Bani Qainuqa’ merasa kecewa dan menunjukkan sikap tidak bersahabat kepada umat Islam. Mereka ingin menikam umat Islam dari belakang, sehingga Nabi menyerang mereka dan akhirnya mereka memilih keluar dari Madinah menuju daerah  Adhri’at dekat Syiria.

2. Perang Uhud: Kafir Makkah yang merasa terpukul karena kekalahan mereka dalam Perang Badar, bertekad membalas dendam. Pada tahun 3 H mereka berangkat menuju Madinah dengan kekuatan 3000 personil berkendaraan unta dan 200 pasukan kuda dipimpin Khalid bin Walid. Banyak kabilah yang bergabung dengan pasukan Quraisy, di antaranya: Bani Tihamah, Kinanah, Harits, Haun, dan Musthaliq. Untuk menghadapi mereka, Nabi Muhammad bersama para sahabat sepakat keluar dari Kota Madinah dan bertahan di Bukit Uhud. Dengan kekuatan 1000 personil pasukan, pada mulanya umat Islam memperoleh kemenangan. Hanya lantaran ketidakdisiplinan sebagian pasukan pemanah yang menjaga bukit, pasukan Islam terdesak dan menderita kekalahan. Dalam Perang Uhud ada 70 pasukan Islam yang gugur sebagai syuhada’ dan di antara mereka adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Nabi. Kekalahan umat Islam di Uhud menjadikan orang Yahudi, terutama Bani Nadzir mencoba melakukan pembunuhan terhadap diri Nabi. Akibatnya mereka diganjar diusir dari Madinah dan menetap di Khaibar.

3. Perang Khandaq: Karena sanksi pengusiran itu, Yahudi Bani Nadzir bersekutu dengan kafir Quraisy, Bani Fazara, Asyjak, Sulaim, Murrah, As’ad, Sa’ad, dan Ghatfan untuk menyerang Madinah. Pada bulan Syawal 5 H, mereka berangkat menuju Madinah. Untuk menghadapi mereka, umat Islam sepakat untuk bertahan dalam Kota Madinah dan atas usul Salman Al Farisi, Nabi Muhammad memerintahkan para sahabat untuk menggali parit pertahanan. Itulah sebabnya perang ini disebut “Perang Khandaq” (perang parit) atau “Perang Ahzab” (perang sekutu). Terhadang oleh parit, pasukan sekutu memilih bertahan di luar kota dengan mendirikan kemah-kemah. Setelah satu bulan Kota Madinah dikepung, terjadi badai topan yang memporak porandakan perkemahan mereka. Akhirnya mereka membubarkan diri setelah terjadi perdebatan sengit antara masing-masing pemimpin kabilah. Sementara itu, Yahudi Bani Quraidhah dipimpin Ka’ab bin As’ad berkhianat akan menghantam umat islam dari belakang. Dengan tegas, Nabi Muhammad menjatuhkan hukuman berat, berupa hukuman mati.

4. Perang Khaibar: Kegagalan pasukan sekutu dalam Perang Khandaq menjadikan orang-orang Yahudi penasaran dan kembali berkhianat dengan membentuk persekutuan baru. Prilaku pengkhianatan Yahudi ini menjadi petunjuk bahwa mereka amat membahayakan keamanan Madinah. Untuk menjaga stabilitas, keamanan, dan integritas wilayah Madinah, pada tahun 7 H, Nabi Muhammad menyerang kelompok-kelompok Yahudi di Wadil Qura, Fadak, Taima’, dan Khaibar. Di antara kelima kelompok itu yang paling kuat pertahanannya adalah Khaibar yang dihuni oleh Bani Nadzir. Meskipun demikian, semangat juang umat Islam tidak pernah luntur dan akhirnya Yahudi Khaibar menyerah dengan kesediaan membayar separo hasil tanaman mereka kepada kaum muslimin. Ini merupakan upaya prefentif agar dapat memantau aktifitas Yahudi yang mencoba berkhianat.

5. Fathu Makkah: Pada tahun 6 H antara kafir Quraisy dan umat Islam sepakat menandatangani perjanjian Hudaibiyah. Salah satu isinya adalah “Di antara kedua belah pihak tidak saling berperang selama 10 tahun”. Akan tetapi perjanjian gencatan senjata ini dikhianati oleh kafir Quraisy ketika mereka membantu Bani Bakar yang terlibat perang dengan Bani Khuza’ah yang menjadi sekutu Madinah. Lantaran pengkhianatan ini, Rasulullah mengerahkan 10.000 personil pasukan untuk menghukum mereka. Di dekat Kota Makkah, pasukan Islam mendirikan perkemahan yang memberi kesan kekuatan yang tidak akan tertandingi oleh kafir Quraisy. Pada 20 Ramadlan 8 H pasukan Islam dengan mudah berhasil memasuki Kota Makkah tanpa perlawanan yang berarti. Dengan mengumandangkan takbir dan ayat :  patung-patung berhala di sekitar Ka’bah dihancurkan. Sesudah itu, mereka melakukan thawaf, kemudian Nabi Muhammad saw berkhutbah yang isinya: “Menjanjikan ampunan Allah kepada mereka yang masuk Islam”. Peristiwa ini disebut Futhu Makkah artinya terbukanya Kota Makkah. Sejak itu banyak pembesar Quraisy masuk Islam yang kemudian menjadi tokoh-tokoh pembela Islam yang disegani. Dengan demikian berakhirlah perseteruan antara Makkah dan Madinah.

6. Perang Hunain: Sesudah Fathu Makkah sebagian besar penduduk Jazirah Arab sudah masuk Islam, kecuali beberapa kelompok seperti suku Hawazin dan Tsaqif di Wadi Hunain dan Thaif. Mereka bersikeras menentang dakwah Islamiyah dan menuntut balas atas penghancuran patung-patung berhala mereka di Ka’bah. Dibawah komando Malik bin Auf, pada tahun 8 H mereka bergerak menghadang pasukan Islam di lorong Bukit Tihamah. Serangan mendadak ini berhasil memukul mundur pasukan Islam, kecuali Nabi Muhammad saw dan Abbas dengan sekelompok kecil pasukan. Kemudian beliau menyeru pasukan yang mengundurkan diri untuk tetap bertahan dan kembali berperang dengan semangat jihad yang tinggi. Seruan ini membakar semangat pasukan Islam, sehingga dalam waktu singkat medan perang bisa dikuasai. Apalagi Ali bin Abi Thalib berhasil menjatuhkan unta pembawa panji pasukan musuh, sehingga mereka panik dan melarikan diri ke tanah datar Authas, Nakhlah dan Malik bin Auf melarikan diri ke Kota Thaif. Karena itu pasukan Islam mengepung Kota Thaif yang dikenal memiliki benteng pertahanan yang kokoh dan penduduknya ahli memanah. Taktik yang dipergunakan pasukan Islam untuk melawan mereka adalah menggunakan al-manjaniq (alat untuk melempar batu dengan cepat) dan senjata ad-dabbabah (tameng pelindung diri dari panah musuh). Meskipun demikian Thaif tetap sulit ditaklukkan, sehingga Nabi Muhammad berinisiatif untuk memperluas pengepungan Kota Thaif dan memblokir penduduknya. Beliau berangkat ke Ji’ranah tempat pengumpulan rampasan perang dari Hawazin. Saat itulah delegasi Hawazin mendatangi Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam. Tak lama kemudian Malik bin Auf menghadap beliau dan menyatakan masuk Islam yang diikuti seluruh penduduk Thaif.

7. Perang Tabuk: Perang Tabuk merupakan seri kedua perang antara pasukan Islam dengan Romawi setelah Perang Mu’tah. Dinamakan Tabuk karena perang ini terjadi di Kota Tabuk, sebelah utara Jazirah Arab. Dengan bantuan dari Bani Lakhim dan Ghassan, pada tahun 9 H pasukan Romawi dengan kekuatan sangat besar menyerbu tapal batas Jazirah Arab. Untuk menghadapi mereka Nabi Muhammad mengerahkan pasukan khusus yang dikenal dengan “Jaisyul usrah” (lasykar saat kesulitan). Dengan semangat berani mati, mereka melakukan penyerangan dan berhasil memporak porandakan pertahanan pasukan Romawi yang kemudian kembali ke negaranya. Pasukan Islam tetap bertahan di Tabuk dengan mendirikan perkemahan dengan tujuan mengintai perkembangan tentara musuh. Kesempatan ini dipergunakan untuk mengajak penduduk di sekitar tapal batas Jazirah Arab dan Syria, terutama untuk masuk Islam. Kemudian Nabi mengirim pasukan ke Daumatil Jandal dipimpin Khalid bin Walid dan memperoleh kemenangan. Sejak itu selesailah Perang Tabuk.