Hasil Kinerja Manajerial dengan Penerapan Total Quality Management

Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan, banyak perusahaan mengalami masalah dalam mengembangkan TQM (Total Quality Management). Dari beberapa masalah yang diidentifikasi bahwa perubahan budaya organisasi adalah sebagai penghalang utama penerapan TQM, antara lain lemahnya hubungan kerja sama pada tingkat fungsional (Plowman 1990). Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Pradiansyah (1998), yang mengemukakan keberhasilan penerapan TQM akan sangat tergantung pada budaya organisasi yang menimbulkan komitmen dari orang-orang dalam suatu organisasi. Untuk itu dapat diduga, bahwa penerapan TQM akan mengalami masalah apabila tidak didukung oleh komitmen dari semua anggota organisasi untuk berubah. Dengan demikian kepemimpinan yang ditunjukkan dalam komitmen pimpinan puncak yang didukung oleh semua anggota organisasi secara berkelanjutan, maka akan memberikan dukungan terhadap perubahan penerapan TQM kearah yang lebih baik. Komitmen adalah sebagai perjanjian atau keterikatan untuk melakukan sesuatu yang terbaik dalam organisasi atau kelompok tertentu (Aranya & Ferris 1984:1).

Keberhasilan kepemimpinan akan ditunjukkan adanya interaksi antara pimpinan puncak, manajer divisi dan karyawan. Interaksi ditunjukkan kerja sama satu sama lain dalam menangani masalah organisasi. Para manajer divisi berperan penting mengkomunikasikan aktivitas organisasi yang akan dilaksanakan sesama manajer, demikian juga yang harus diteruskan kepada bawahan. Komunikasi yang terjadi diantara para manajer maupun kepada bawahan, sangat dipengaruhi oleh persepsi masing-masing manajer tersebut tentang informasi mengenai TQM yang diterima dari atasannya dan dari sesama manajer divisi.

Tan & Hunter (2002) mengemukkan persepsi ditinjau dari kognisi pemakai melalui pengenalan dan keahlian dalam sistem informasi memiliki hubungan dengan persepsi manajer, serta akan berdapak terhadap kinerja. Demikian halnya semakin baik persepsi manajer melalui pengenalan dan keahlian total quality management akan berpengaruh terhadap kinerja manajer tersebut. Dengan demikian kepemimpinan yang ditunjukkan melalui komitmen pimpinan puncak dan persepsi manajer divisi mengenai TQM perlu disinerjikan dalam penelitian. Keberhasilan penerapatan TQM akan berdampak pada penurunan biaya akibat turunnya kerusakan atau kegagalan produk dan kemampuan menghindari pemborosan biaya yang tidak bernilai bagi pelanggan. Penurunan biaya secara berkelanjutan, akan mendorong kinerja manajerial semakin baik.

TEORI ORGANISASI

Keberhasilan perusahaan ditunjukkan kemampuannya memberikan keuntungan kepada pemegang saham, manajemen dan semua pihak yang berkepentingan dengan perusahaan, melalui pengorganisasian yang baik. Organisasi merupakan suatu unit sosial yang dikoordinasikan secara sengaja, terdiri dari dua orang atau lebih yang berfungsi pada suatu basis yang relatif bersinambung untuk mencapai tujuan atau serangkaian tujuan bersama (Robbins 2003). Tanggung jawab TQM dalam organisasi tergantung pada banyak pihak (Choi & Behling 1997). Hal ini pimpinan puncak tidak bekerja sendiri tetapi harus bekerja sama dengan manajer di bawahannya.

Komitmen sangat dibutuhkan untuk membangun hubungan antar pekerja dan antara pekerja dengan atasannya untuk menciptakan iklim kerja yang kondusif dan memberikan tanggung jawab yang jelas (Gaspersz 2002). Demikian juga Choi & Benhing (1997), mengemukakan walaupun setiap aspek pengembangan TQM tergantung persepsi manajer divisi yang mengerjakan perubahan, namun apabila mendapat dorongan yang lebih baik dari komitmen pimpinan puncak, maka sasaran terhadap keunggulan daya saing dan kinerja manajemen akan lebih baik. Dengan demikian berhasil tidaknya penerapan pilar dasar TQM sangat tergantung komitmen pimpinana puncak dan persepsi manajer divisi mengenai TQM.

Komitmen Pimpinan Puncak

Komitmen adalah sebagai perjanjian atau keterikatan untuk melakukan sesuatu yang terbaik dalam organisasi atau kelompok tertentu (Aranya & Ferris 1984; Swandi & Nur Indriantoro 1999). Bila dikaitan dengan pendapat Choi & Behling (1997) mengenai komitmen pimpinan puncak, bahwa tanggung jawab TQM dalam organisasi tergantung pada banyak pihak. Hal ini pimpinan puncak tidak bekerja sendiri tetapi harus bekerja sama dengan orang lain atau bawahannya. Kerja sama harus ditunjukkan melalui keterlibatan pimpinan puncak dalam melaksanakan tugas pokoknya, dengan mengarahkan, mempengaruhi, mendorong bawahannya kearah berbagai tujuan dalam organisasi termasuk program pengendalian kualitas.

Persepsi Manajer Divisi Mengenai Total Quality Management

Kebenaran aktivitas yang dilakukan seorang manajer sangat tergantung kepada persepsi orang tersebut mengenai suatu realitas. Jadi aktivitas apa yang dilakukan oleh seseorang sangat tergantung kepada persepsi orang tersebut mengenai suatu realitas. Hal ini sependapat dengan Sekuler & Blake (1985) yang mengemukakan bahwa persepsi menentukan aktivitas.

Persepsi seseorang (subjek) sangat dipengaruhi oleh pengetahuan sebelumnya yang besumber dari pengalaman masa lalu serta perhatian yang terbentuk berdasarkan motif atau dorongan, kepentingan atau minat, dan pengharapan (Sekuler & Blake 1985; Matlin 1998; dan Robbins & Timothy 2007). Dengan demikian persepsi tersebut diawali dengan menggunakan pengetahuan sebelumnya. Bila dikaitkan dengan TQM, maka persepsi manajer divisi mengenai TQM didasari penggunaan pengetahuan sebelumnya mengenai TQM.

Penerapan pilar dasar Total Quality Management

Manajemen mutu atau Total Quality Management adalah meningkatkan perbaikan secara terus-menerus pada setiap level operasi atau proses untuk memuaskan konsumen dgn menggunakan sumber daya yang tersedia (Gaspersz2003).

Kinerja Manajerial

Penilaian kinerja adalah penilaian secara periodik keefektifan operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan personelnya, berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya (Siegel et al. 1989). Tujuan utama penilaian kinerja adalah untuk memotivasi personel dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam memahami standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh organisasi.

Menurut Wentzel (2002), penilian kinerja manajer dapat diukur dengan instrumen self-rating yang dikembangkan oleh Mahoney dan kawan-kawanya pada tahun 1960-an. Hasilkinerja manajerial tidak cukup hanya melihat kinerja manajerial berdasarkan data-data dan informasi yang lalu, akan tetapi diperlukan bagaimana pelaksanaan proses manajerial dalam menjalankan aktivitas-aktivitas manajemen, karena komitmen pimpinan puncak dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen akan ber-interaksi kepada perilaku pengambilan keputusan etis atau tak etis yang harus dilaksanakan semua personel perusahaan. Dengan demikian, dalam penelitian ini penilaian kinerja manajer dilihat berdasarkan aktivitas manajerial pada fungsi fungsi manajemen yang diukur berdasarkan: perencanaan, penyelidikan atau investigasi, mengkoordinir, mengevaluasi, mengawasi, susunan kepegawaian, negosiasi, dan representasi.

Hubungan Komitmen Pimpinan Puncak, Persepsi Manajer Divisi dan Penerapan Pilar Dasar Total Quality Management

Kesadaran mutu dalam organisasi tergantung pada banyak intangibles, terutama sikap manajemen puncak terhadap mutu. Jadi komitmen pimpinan puncak yang semakin baik maka TQM dapat diterapkan semakin baik dan komitmen yang tinggi dari pimpinan puncak akan diikuti oleh banyak intangibles seperti persepsi manajer divisi (Choi & Behling 1997).

Komitmen yang tinggi akan nyata dalam kesuksesan penerapan TQM apabila kompetensi sumber daya manusia yang sesuai dapat merealisasikannya. Berhasil tidaknya penerapan TQM sangat ditentukan dorongan komitmen pimpinan puncak untuk bersinerji dengan persepsi manajer divisi (Rudi Suardi 2001; dan Handoko & Tjiptono 1997).

Pengaruh Komitmen Pimpinana Puncak terhadap Kinerja Manajerial.

Pimpinan puncak harus menempatkan sumber daya yang memadai guna menjamin keberhasilan dan kelanjutan penerapan perbaikan (kaizen). Masaaki Imai (1999), mengungkapkan dalam setiap kesempatan, manajemen puncak harus menyampaikan pesannya tentang komitmen yang diyakini dan harus menempatkan sumber daya yang memadai guna menjamin keberhasilan dan kelanjutan penerapan perbaikan (kaizen).

Dengan demikian keberhasilan perusahaan mencapai tujuan, maka komitmen pimpinan puncak yang meningkat harus diikuti kompetensi sumberdaya manusia yang memadai untuk mendorong implementasi sistem COQ pada perusahan secara berkelanjutan, yang berdampak pada peningkatan kepuasan konsumen. Kepuasan konsumen yang meningkat maka akan meningkatkan kinerja manajerial yang semakin baik.

Hasil penelitian Flynn et al. (1995) menunjukkan bahwa TQM yang didukung oleh pimpinan puncak dapat menciptakan kondisi dan infrastruktur, dan berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap peningkatan kinerja mutu serta berhubungan erat dengan keunggulan bersaing. Keunggulan daya saing semakin baik, akan mendorong kinerja manajer semakin baik.

Pengaruh Persesi Manajer Divisi terhadap Kinerja Manajerial

Manajer merupakan orang-orang yang mencapai tujuan melalui orang lain (Robbins& Timothy 2007). Untuk menjalankan tujuan organisasi, manajer divisi selalu berinteraksi dengan karyawan baik secara individu dan kelompok karyawan yang dilibatkan menjalankan aktivitasnya sesuai TQM. Berhasil tidaknya penerapan TQM tergantung sumber daya manusia yang difokuskan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.

Berdasarkan beberapa ahli manajemen mutu berpendapat bahwa setiap aspek pengembangan TQM tergantung persepsi manajer divisi yang mengerjakan perubahan melalui karyawan.

Apabila terdapat kesesuaian tujuan terhadap TQM dan karyawan mampu mengambil inisiatif dalam menyelesaikan masalah-masalah sehari-hari, maka kesuaian persepsi manajer divisi mengenai TQM mempengaruhi kinerja mutu (Goetsch & Davis 1994; Lowery et al. 2000; dan Creech 1996). Kinerja mutu semakin baik senantiasa kinerja manajerial akan semakin baik.

Pengaruh Penerpan Pilar Dasar TQM terhadap Kinerja Manajerial

Roth & Morse (1983) mengemukakan perhatian khusus pada mutu didasarkan oleh kenyataan bahwa mutu yang meningkat pada akhirnya akan meningkatkan laba perusahaan, karena peningkatan mutu akan diiringi oleh biaya yang terus menurun dan naiknya pangsa pasar. Penurunan biaya tidak semata-mata hanya pengurangan biaya produksi, namun juga pengurangan aktivitas-aktivitas berlebih, tanpa mengorbankan mutu produk yang dihasilkan.

Peningkatan mutu ini diyakini sebagai cara yang sangat efektif dilakukan seorang manajer untuk meningkatkan pangsa pasar, dan perusahaanyang memiliki keunggulan biaya serta pangsa pasar yang luas, maka manajer akan menuai prestasi yang tinggi.

Hasil studi Kenangsari (2002) pada PT Perkebunan Nusantara VIII menunjukkan, bahwa biaya kualitas berpengaruh positif terhadap tingkat produktivitas. Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan sebelumnya yang menyebutkan, peningkatan produktivitas akan meningkatkan kinerja perusahaan dan kinerja manajerial (Shea & Gobeli 1995; dan Kim & Larry 1998; Roth & Morse 1983).

Dari beberapa penelitian di Indonesia belum banyak melakukan penelitian mengenai penerapan TQM sebaga alat untuk mengeliminasi pemborosan setiap aktivitas di perusahaan. Bahkan boleh dikatakan bahwa praktik TQM secara umum belum diterapkan secara luas pada perusahaan-perusahaan di Indonesia, sedangkan di beberapa negara maju sistem manajemen mutu ini sudah diterapkan secara luas.