.

Ilmu Fiqih Pada Masa Kejayaan Islam

Fiqih sebagai cabang ilmu pengetahuan dalam Islam mencapai kemajuan pada masa pemerintahan Al Makmun. Ketika itu aktivitas para fuqaha’ (para ahli fiqih) dalam mentelaah dan mengeluarkan fatwa-fatwa hukum mencapai kemajuan yang pesat. Upaya pengembangan pemikiran dalam bidang hukum ini sangat diperlukan untuk menjawab perkembangan dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat muslim yang sudah pasti menimbulkan masalah-masalah baru yang belum pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya. Agar persoalan-persoalan baru tersebut mendapatkan aturan hukum menurut Islam, maka perlu pengembangan pemikiran dibidang hukum.

Dalam upaya pengembangan hukum fiqih, terjadi perbedaan-perbedaan dikalangan para fuqaha’ baik dari aspek sistem, metode, pendekatan dan prinsip-prinsipnya. Disamping perbedaan lingkungan banyak memberi pengaruh terhadap hasil ijtihad mereka. Karena itu, lahirlah keberagaman madzhab dalam fiqih, seperti: madzhab Hasan Al Bishri, Al Awza’i, Abu Hanifah, Sufyan As Tsauri, Malik bin Anas, Al Laits, As Syafi’i, Sufyan bin Uyainah, Ishaq, Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Daud bin Khalaf, dan Ibnu Jarir At Thabari. Dari ke-13 ulama pembangun madzhab fiqih sunni ini, yang populer dan sampai sekarang banyak pengikutnya ada 4 orang, yaitu:

1. Imam Abu Hanifah (80 - 150 H / 699 - 767 M)
Nama lengkapnya ialah Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit Al Kufi. Lahir di Kota Kufah, dan di kota itu pula ia belajar dan menyusun madzhabnya, yakni Madzhab Hanafi. Ia dikenal sebagai maha guru yang mengabdikan seluruh hidupnya dalam studi hukum Islam. Buku karangannya yang termasyhur adalah “Al Fiqhul Akbar”.

2. Imam Malik (93 - 179 H / 12 - 198 M)
Nama lengkapnya ialah Malik bin Anas bin Malik Al Madani. Lahir di Kota Madinah dan di kota itu pula ia belajar, membangun madzhabnya, yakni madzhab Maliki. Di samping seorang faqih yang pernah memangku jabatan sebagai mufti, ia juga dikenal sebagai ahli hadits. Buku karangannya yang terkenal adalah “Al Muwattha’”.

3. Imam As Syafi’i (150 - 204 H / 767 - 820 M)
Nama lengkapnya ialah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin Saib bin Abi Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthallib bin Abdi Manaf. Lahir di Ghuzzah (daerah Palestina) dan wafat di Qurafah (Mesir). Beliau tergolong orang genius yang kaya ilmu pengetahuan dan ahli fiqih yang produktif. Di antara buku karangannya adalah “Ar Risalah” yang mengupas tentang Ilmu Ushul Fiqih dan “Al Umm” yang memuat hasil ijtihad beliau dibidang hukum Islam, Al Musnad, Ikhtilaful Hadits dan masih banyak lagi. Disamping dikenal sebagai pendiri madzhab Syafi’i, beliau juga mendapat gelar “Bapak Ilmu Ushul Fiqih” dan “Nashirus Sunnah” (Pembela Sunnah Rasul). Fatwa-fatwa Imam As Syafi’i dirangkum dalam dua qaul, yaitu “Qaul Qadim” (fatwa-fatwa beliau ketika bermukim di Baghdad dan “Qaul Jadid” (fatwa-fatwa beliau ketika bermukim di Mesir).

4. Imam Hanbali (164 - 241 H / 780 - 855 M)
Nama lengkapnya ialah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal. Lahir di Baghdad, lalu pindah mengembara ke beberapa kota, seperti Syria, Hijaz dan Yaman, lalu kembali lagi ke Baghdad. Di samping populer sebagai pembangun madzhab Hanbali, beliau dikenal sebagai ahli hadits dan ilmu kalam. Buku kumpulan haditsnya diberi judul “Musnad Imam Ahmad”.

Keempat imam inilah yang dikenal sebagai pembangun madzhab empat (Al Madzhab Al Arba’ah) yang sampai sekarang pengaruhnya sangat dominan di seluruh negara/wilayah Islam. Ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah:

  1. Keempat madzhab itu tercatat manhaj berpikirnya dan hasil-hasil ijtihadnya.
  2. Keempat madzhab itu sudah berabad-abad diterima dan diamalkan oleh umat Islam.
  3. Keempat madzhab itu tahan uji dan fleksibel dalam menghadapi tantangan zaman.
  4. Keempat madzhab itu diyakini bahwa aqwal-aqwalnya bersumber pada Al Quran dan As Sunnah.