.

Ilmu Geografi Pada Masa Kejayaan Islam

Bagi kaum muslimin, mempelajari geografi (ilmu bumi) merupakan hal yang penting. Karena dengan ilmu bumi dapat diketahui di mana letak Makkah yang menyangkut masalah haji dan menentukan letak Ka’bah yang berhubungan dengan masalah kiblat. Karena menguasai ilmu bumi, maka pada abad 1 H / 7 M - 3 H / 9 M para pedagang muslim telah mencapai negeri Cina baik melalui darat maupun laut. Mereka telah menguasai Zanzibar bahkan telah sampai ke ujung pantai yang paling selatan dari Afrika Selatan, telah memasuki Rusia di utara dan perjalanan ke arah Barat hanya dihambat oleh laut atlantik (laut kegelapan).
Pada mulanya ilmu bumi ditulis secara bebas, berbentuk buku petunjuk jalan tempat-tempat utama. Di antara tokohnya ialah:

  1. Ibn Khurdadz bih (w. + 300/912), keturunan persia yang menjabat direktur pos dan intel di Al Jibal (Medina). Dia menulis buku Al Masalak wal Mamalik yang berisi sejarah topografi. Buku ini dipergunakan sebagai bahan referensi (rujukan) utama oleh para penulis ilmu bumi pada masa berikutnya, seperti Ibn Al Faqih, Ibn Hawqal, Al Maqdisi dan lain-lain.
  2. Ibn Wadlih Al Yaqubi, seorang pengikut Syi’ah yang berkiprah di Armenia dan Khurasan. Ia menulis buku berjudul kitab Al Buldan yang memberikan catatan-catatan baru dalam penekanan-penekanan topografi dan ekonomi secara terinci.
  3. Qudamah, seorang petugas pajak penghasilan pada kantor pusat di Baghdad. Dia menyelesaikan bukunya yang berjudul Al Kharj. Buku ini membicarakan tentang pembagian wilayah negara atas propinsi-propinsi, organisasi pelayanan pos dan perpajakan daerah.
  4. Ibn Al Faqih Al Hamadzahi menyelesaikan penulisan bukunya yang diberi judul Kitab Al Buldan, sebuah buku ilmu bumi yang konprehensif yang sering dikutip oleh Al Maqdisi dan Yaqut.

Pada tahap berikutnya, penulisan ilmu bumi dilakukan secara sistematik. Di antaranya pelopornya ialah:

  1. Al Ishthakhiri yang menulis kitab Masalik Al Mamalik yang dilengkapi dengan peta berwarna masing-masing negeri.
  2. Al Maqdisi atau Al Muqaddasi, seorang musafir yang pernah mengunjungi seluruh wilayah yang dikuasai oleh Khalifah Muslim, kecuali Andalusia, Sijistan dan India. Setelah melakukan perlawatan selama dua puluh tahun, ia menulis buku Ahsan At Taqasin fi Ma’rifat Al Aqalim (Khalsifikasi Terbaik tentang Pengetahuan Wilayah) yang memuat hal-hal yang lebih penting dan keterangan-keterangan yang segar. Di samping ahli ilmu bumi Al Maqdisi juga dikenal sebagai seorang sejarawan.
  3. Al Hasan bin Ahmad Al Hamdani, seorang ahli ilmu bumi dan arkeologi. Ada dua buah buku besarnya yaitu Al Iklil dan Shifatu Jazirah Al Arab yang merupakan sumbangan paling berharga tentang sejarah Arab sebelum dan sesudah Islam.
  4. Yaqut ibn Abdullah Al Hawawi seorang ahli ilmu bumi yang hidup pada akhir kebesaran dinasti Abbasiyah. Dia menulis buku berbentuk kamus berjudul Mu’jam Al Buldan. Buku ini sangat terkenal dan sering dikutip dalam Mu’jam Al Udaba.
  5. Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad Al Idrisi, seorang ahli ilmu bumi keturunan Arab-Spanyol (Hispano-Arab). Ia menulis buku berjudul Nuzhat Al Musytaq fi Iftiraq Al Afaq (Kreasi dari Penjelajah Negeri) dan Kitab Rujar (Buku Roger). Al Idrisi memuat peta dan lapisan-lapisan atmosfir yang dilukisnya pada sebuah lempengan perak berbentuk cakram.
  6. Abu Ubaidillah Muslim Al Balansi, seorang ahli ilmu bumi asal Velesia yang dikenal sebagai pencetus teori ‘arin (World Copula). ‘Arin adalah titik pusat bumi yang terletak di equator di titik tengah antara timur dan barat. Dalam teori ini dijelaskan bahwa bumi itu bundar.