.

Ilmu Kedokteran Pada Masa Kejayaan Islam

Cabang ilmu pengetahuan yang pertama sekali dikaji oleh sarjana-sarjana yang berdiam di Baghdad adalah ilmu kedokteran. Ada tiga alasan duniawi yang mendorong para sarjana menaruh minat untuk mengkaji ilmu kedokteran, yaitu:

  1. Menyebarnya penyakit, khususnya, penyakit mata di kalangan rakyat. Ini adalah akibat iklimnya yang panas dan debu gurun pasir yang berterbangan.
  2. Perhatian yang besar dari Khalifah (pemerintah) terhadap kesehatan rakyat. Harun Ar Rasyid membangun bamaristan (rumah sakit) berjumlah tiga puluh lima buah yang tersebar di seluruh negeri. Di Kairo, Ibn Tholun membangun rumah sakit yang pertama pada tahun 259 H / 872 M.
  3. Profesi kedokteran mendapat kehormatan dan bayaran tinggi. Untuk memperoleh ijin praktik, setiap dokter terlebih dahulu diharuskan mengikuti seleksi yang diselenggarakan oleh negara. Bagi dokter yang lulus seleksi, memperoleh pengakuan resmi dari negara dan akan mendapat kepercayaan dari masyarakat sehingga mereka memperoleh gaji yang tinggi. Pada masa Al Muqtadir ada sekitar 860 orang dokter yang membuka praktik di Baghdad.

Di antara sarjana kedokteran yang terkenal pada masa kemajuan Islam adalah:

  1. Yuhana bin Masawaih, seorang dokter spesialis ahli bedah. Ia menulis buku Al Asyr Maqalat fil Ain, buku tertua tentang opthalmologi.
  2. Ali Ibn Sahl Rabban At Thabari yang berasal dari Thabaristan dan menjabat sebagai dokter pribadi Al Mutawakkil. Pada tahun 236 / 850 dia menulis buku Firdaus Al Hikmah yang merupakan sebuah compendium ilmu kedokteran.
  3. Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar Razi, seorang dokter sekaligus filosof terkenal. Ia menulis beberapa buku tentang kedokteran, seperti: Kitabut Thibb Al Manshuri yang ditulis untuk menghormati Manshur bin Ishaq As Samani, Al Judari wal Hasbah yang membahas pengobatan penyakit cacar dan Al Hawi yang dimaksud sebagai ensiklopedia kedokteran.
  4. Ali Ibnu Al Abbas, seorang dokter pribadi Abdud Daulah Fanna Khusraw dari dinasti Buwaih. Ia menulis buku Kamil As Shina’ah At Thibbiyah yang memuat tatacara diet.
  5. Abu Al Qasim Khalaf bin Abbas Az Zahrawi (di Barat dikenal dengan Abulcasis), dokter istana Al Hakam II dari dinasti Umayyah di Andalusia (Spanyol). Ia menulis buku At Tashrif li man ‘ajaza ‘an At Ta’lif (bantuan untuk orang yang tidak mampu memperoleh perawatan intensif). Buku ini diterjemahkan kedalam bahasa Latin dan pernah diterbitkan di Venecia, Bazel, dan Oxford.
  6. Abu Marwan bin Abdul Malik bin Abil Ala yang lebih dikenal dengan Ibnu Zuhr (Latin = Avenzoar). Dia seorang dokter istana Abdul Mukmin dari dinasti Muwahhidin di Andalusia. Ia menulis buku At Taisir fi Al Mudawah wat Tadbir (filsafat terapi dan diet).