.

Ilmu Sejarah Pada Masa Kejayaan Islam

Sejarah berasal dari kata Arab syajarah yang berarti pohon. Mengapa diambil kata yang bermakna pohon ini, barangkali karena sejarah mengandung konotasi genealogi, yaitu pohon keluarga yang menunjuk asal usul suatu marga. Kini kata sejarah memiliki arti khusus yaitu “masa lampau umat manusia”. Dari arti khusus ini, sejarah didefinisikan sebagai catatan yang berhubungan dengan kejadian-kejadian masa silam yang diabadikan dalam laporan tertulis dan dalam ruang lingkup yang luas. Dan sebagai cabang ilmu pengetahuan, sejarah mengungkap peristiwa-peristiwa masa lampau, baik sosial, politik, ekonomi, maupun agama dan budaya dari suatu bangsa, negara atau dunia.

Bagi umat Islam mengetahui sejarah bukan sekedar sebagai cabang ilmu pengetahuan atau untuk lebih mengenal dirinya sendiri, tetapi juga untuk dapat memahami maksud Al Quran dan Al Hadits, sekaligus menilai kedudukan sebuah hadits. Untuk dapat menafsirkan dan memahami maksud ayat, diperlukan ilmu Asbabun Nuzul dan untuk dapat memahami Al Hadits diperlukan Ilmu Asbabul Wurud. Sedangkan untuk menilai kedudukan hadits, diperlukan Ilmu Tarikh Ar Ruwat (sejarah para perawi).

Peninggalan buku-buku sejarah muslim yang dijadikan sebagai rujukan oleh para penulis sejarah sampai sekarang sebagian besar berasal dari tulisan para ahli sejarah pada masa kemajuan umat Islam. Pada tahap awal, penulisan sejarah terbatas pada sirah (riwayat hidup) Nabi yang bahannya diambil dari hadits. Orang pertama yang menulis riwayat hidup Nabi Muhammad saw ialah Ibnu Ishaq. Dia menulis buku Sirah Rasulullah yang banyak dijadikan bahan referensi oleh para penulis sejarah pada masa-masa berkutnya, seperti Ibnu Hisyam.

Setelah sirah Nabi, langkah berikutnya adalah menulis sejarah perluasan wilayah kekuasaan pemerintahan muslim yang termuat dalam kitab-kitab yang berjudul Maghazi. Di antara penulis Maghazi yang terkenal ialah:

  1. Ibnu Abdil Hakam, seorang sejarawan muslim yang menulis buku berjudul “Futuh Mishr wa Akhbaruha”. Buku ini merupakan dokumen paling lengkap tentang pembebasan Mesir, Afrika Utara dan Spanyol.
  2. Ahmad bin Yahya Al Baladzuri, seorang penulis sejarah yang banyak berjasa dalam mengintegrasikan ceritera-ceritera pembebasan kota-kota dan negeri-negeri dalam satu kesatuan yang konprehensip. Ia yang menulis buku “Futuh Al Buldan” dan “Ansab Al Asyraf”.

Model penulis sejarah yang dilakukan oleh Al Baladzuri mengakhiri era gaya penulisan yang terpisah-pisah, sehingga muncul gaya penulisan sejarah formal. Di antara penulis sejarah formal ialah:

  1. Muhammad bin Muslim Ad Dinawari yang lebih dikenal dengan Ibnu Qutaibah. Sejarawan terkenal dari Baghdad ini menulis buku pedoman sejarah berjudul “Kitab Al Ma’arif”.
  2. Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At Tabari yang dikenal dengan panggilan “At Tabari”. Di samping ahli sejarah, ia dikenal sebagai ahli tafsir dan ahli fiqih. Buku sejarahnya berjudul “Tarikh Ar Rusul wa Al Muluk” sangat dikagumi dan menjadi refrensi bagi para penulis sejarah pada masa-masa sesudahnya, seperti Miskawaih, Ibnu Atsir, Adz Dzahabi dan lain-lain. Buku ini disusun secsara kronologis yang dimulai sejak penciptaan dunia sampai peristiwa tahun 302 H / 915 M.
  3. Abu Al Hasan bin Ali Al Mas’udi yang populer dengan sebutan “Al Mas’udi”. Dia adalah orang pertama yang menggunakan metode topik dalam menulis sejarah. Bukunya yang terkenal adalah “Muruj Adz Dzhab wa Ma’adin Al Jawhar” (ladang emas dan tambang batu permata).
  4. Ibnu Khallikan, seorang penulis sejarah pada masa akhir periode dinasti Abbasiyah dan pernah menjadi qadli di Syria. Ia membuat sketsa riwayat orang-orang terkenal di Damaskus dengan judul “At Tarikh Al Kabir”.
  5. Abdurrahman ibnu Khaldun, seorang sejarawan sekaligus politikus dan diplomat. Bukunya yang terkenal adalah “Kitab Al Ibar wa Diwan Al Mubtada’ wal Khabar fi Ayyam Al Arab wal Ajam wal Barbar”. Kata pendahuluan untuk buku ini tersusun dalam tiga jilid buku dnegan judul “Muqaddimah”.