.

Ilmu Seni Pada Masa Kejayaan Islam

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki rasa keindahan. Dia ingin mengekspresikannya dengan berbagai macam perwujudan; gerak, bunyi, rupa, dan lain-lain. Hasil ekspresi rasa keindahan inilah yang lazim disebut seni. Kadar rasa keindahan dan kemampuan mengekspresikannya tidak selalu sama pada semua orang. Demikian pula kadar rasa kepuasan, keharuan atau perasaan tertentu lainnya yang muncul ketika berhasil mengekspresikan keindahan itu atau ketika menyaksikan hasil ekspresi orang lain.

Pada hakikatnya, seni tidak pernah berdiri sendiri. Artinya, ia tidak selalu bebas dari perasaan-perasaan senang, cinta, kagum, takut, sedih, dan lain-lain. Yang dominan peranannya adalah agama, filsafat hidup, dan sikap-sikap kejiwaan yang permanen dalam diri manusia. Di samping itu media ekspresinya selalu berkaitan dengan berbagai jenis kegiatan, seperti: membuat bangunan, melukiskan peristiwa, membuat ceritera, berbusana, bersuara, dan lain-lain. Hal ini akan mempengaruhi tujuan ekspresi seni yang tidak semata-mata menampilkan keindahan, tetapi selalu diiringi tujuan-tujuan lain, seperti: dakwah, pendidikan, kebanggaan, pemujaan, komersial, dan lain-lain. Efeknya pun tidak terbatas pada rasa kepuasan atau keharuan, melainkan berbagai efek lain akan muncul, baik yang positif maupun yang negatif, baik disengaja atau tidak.

Itulah sebabnya agama Islam yang berfungsi sebagai petunjuk, pembimbing, pengatur, dan penilai segala macam aktivitas manusia, tidak apriori memberikan nilai baik atau buruk kepada seni. Artinya, menurut hukum Islam, aktivitas seni pada dasarnya adalah mubah. Namun hukum mubah ini akan berubah menjadi haram, makruh, sunnah atau wajib, sangat tergantung pada aspek-aspek lain yang mengiringinya. Aspek-aspek itu adalah: niat (motivasi atau latar belakang ekspresinya), efek (manfaat atau madlarat yang ditimbulkannya) dan ditaati atau dilanggarnya ketentuan-ketentuan agama dalam aktivitas seni.
Bagi umat Islam, karya seni selalu diabdikan untuk memancarkan idea dan citra Islami dalam realitas kehidupan. Karena itu wujud apresiasi seni dalam sejarah kebudayaan Islam tumbuh dan berkembang secara bertahap selaras dengan perkembangan masyarakat. Perkembangan ini telah melahirkan berbagai bentuk karya seni, di antaranya adalah:

  1. Seni bahasa (puisi dan prosa) dengan tokoh-tokohnya antara lain: Abu Nuwas, Abu Athahiyah, Da’ba Al Khuza’i, Ibnu Rumi (penyair), Abdullah bin Muqaffa’, Addul Hamid Al Katib, Al Jahidz dan Ibnu Kutaibah (prosa). Karya sastra yang terkenal pada masa ini antara lain: Kalilah wa Daminah (karya Abdullah bin Muqaffa’), Antarah (karya Yusuf bin Ismail), Alfu Lailah wa Lailah dan Alfu Samar (karya Al Jahsyiari). Para sastrawan muslim telah membawa perubahan besar dalam karya sastra Arab, baik isi, uslub (susunan bahasa), tema maupun sasarannya.
  2. Seni musik dengan tokoh-tokohnya antara lain: Khalil bin Ahmad (pengarang buku tentang not dan irama), Ishak bin Ibrahim (musisi yang diberi gelar Imamul Mughanniyin), Abu Al Hasan Ali bin Nafi’ (ahli musik asal Andalusia yang mendapat julukan Ziryab), Abul Qasim Abbas bin Firnas (musikus yang pertama memperkenalkan pembuatan terbang). Kemajuan dibidang ini dilengkapi dengan sekolah-sekolah musik yang didirikan di berbagai kota, seperti sekolah musik yang didirikan oleh Safi Ad Din Mukmin dan pabrik peralatan musik, seperti pabrik alat musik di Kota Sevilla yang memproduksi mizbar (kecapi klasik), ‘ud qadim (kecapi lama), ‘ud kamil (kecapi lengkap), shahrud (kecapi lengkung), murabba’ (semacam gitar), qitara (gitar), rabab, kamanja’ (semacam rebab), dan ghisyak (semacam rebab).
  3. Seni rupa, terutama seni ukir dan lukis. Seni ukir banyak dituangkan di masjid, dimana mihrab dan mimbar diukir dengan ayat-ayat Al Quran dan Hadits dengan khat indah (kaligrafi). Dari masjid kemudian menyebar ke gedung dan istana. Pada Qubah Empat yang dibangun khalifah Al Mansur di atas empat buah pintu gerbang masuk Kota Baghdad terdapat ukiran emas, demikain juga qubah di Basrah, Hurasan, Syria, dan lain-lain. Keistimewaan seni lukis Islam terletak pada keindahan garis, kehalusan bentuk dan kecemerlangan warna. Yang erat hubungannya dengan seni lukis adalah seni ukir. Buku pertama tentang seni ukir Islam dikarang oleh Abdul Karim bin Mansur yang populer dengan panggilan Firdausi.
  4. Seni bangunan (arsitektur) yang tumbuh dan berkembang sejak awal pertumbuhan Islam. Pada mulanya seni bangun Islam sangat sederhana, kemudian berkembang setelah kaum muslimin mendapat pengalaman teknik dari tenaga ahli dari bangsa-bangsa non Arab yang masuk Islam. Meskipun demikian, seni arsitektur Islam menunjukkan ciri khas dan gaya tersendiri yang terekspresikan dalam bentuk pilar, lengkung kubah, muqarnashat (hiasan lebah bergantung) yang menonjol bersusun di depan masjid dan di menara tempat adzan dikumandangkan ataupun puncak pilar. Perkembangan kota-kota yang dibangun umat Islam, mendorong pembangunan berbagai masjid, gedung, istana, taman, dan lain-lain. Karya-karya besar dalam bidang arsitektur ini dapat dilihat pada bangunan Masjidil Haram (di Makkah), Masjid Nabawi (di Madinah), Masjid Al Azhar (di Mesir), Masjid Al Umawy di Damaskus, Istana Al Hambra (di Spanyol), Taj Mahal (di Agra, India), dan lain-lain