.

Ilmu Tasawuf Pada Masa Keemasan Islam

Pada zaman Nabi Muhammad saw dan para sahabat sudah ditemukan praktik-praktik tasawuf sebagai perwujudan ikhbat Al qalb (khudlu’ dan khusyu’nya hati) untuk mencapai derajat ihsan. Namun istilah tasawuf baru muncul pada masa tabi’in. Pada masa ini terdapat beberapa kelompok yang menamakan diri “tawwabin, ubbad, zuhad” dan sebagainya. Sebagian besar dari mereka ialah murid Imam Hasan Basri. Merekalah yang kelak menjadi embrio lahirnya para sufi.
Dengan demikian diketahui bahwa tasawuf merupakan ilmu yang tumbuh dan berkembang pada masa Abbasiyah. Inti ajarannya adalah tekun beribadah dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, meninggalkan kesenangan dan perhiasan hidup duniawi.

Dalam perkembangan ilmu tasawuf telah melahirkan beberapa ulama besar, di antaranya ialah:
1. Junaid Al Baghdadi (w. 298 H) yang dianggap sebagai penghulu ulama akhirat. Dia tergolong ulama sufi yang sangat teguh menjalankan syariah dan istiqamah memberikan pelajaran tasawuf kepada murid-muridnya tanpa meninggalkan pekerjaan tetapnya sebagai pedagang. Di antara murid-muridnya yang terkenal ialah: Abu Bakar Al Atthar, Abu Muhammad Al Jurairi, Abu Bakar Al Athawy dan lain-lain. Fatwa-fatwa Imam Junaid tentang tasawuf dibukukan “Majmu’ah Rasil Al Junaid” oleh Dr. Ali Hasan Abdul Qadir.

2. Abu Kasim Abul Karim bin Hawazin Al Qusyairi yang populer dipanggil Al Qusyairi (w. 465 H). Di samping ahli tasawuf, dia juga dikenal sebagai ahli fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadits dan penyair. Bukunya yang terkenal tentang tasawuf adalah Risalah Qusyairiyah. Buku ini telah diberi syarah oleh Syaikhul Islam Zakaria Al Anshari dengan judul “Ihsanud Dilalah fi Syarah Risalah”.

3. Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al Ghazali (w. 1111 M) yang populer dengan panggilan “Al Ghazali”. Di samping ahli tasawuf, dia dikenal menguasai berbagai cabang ilmu, seperti ilmu kalam, fiqih, filsafat dan lain-lain. Dalam bidang fiqih dia mengikuti madzhab Imam As Syafi’i dan dalam bidang ilmu kalam (theologi) mengikuti aliran Asy’ariyah. Dia mendapat gelar “Hujjatul Islam” dan banyak menulis buku dalam berbagai disiplin ilmu. Di antara bukunya yang terkenal adalah “Ihya’ Ulumuddin”. Dalam buku ini dia berusaha mengawinkan ajaran tasawuf dengan ajaran hidup bermasyarkat dengan tetap mendahulukan syariat. Lantaran bukunya ini, dia dikenal sebagai salah seorang tokoh tasawuf sunni, yaitu tasawuf yang mempunyai karakter dinamis karena selalu mendahulukan syariat. Karya-karya Al Ghazali lainnya adalah “Al Basit, Al Wajiz, Al Munqidz min Adl Dlalal, Bidayatul Hidayah, Maqashidul Falasifah, Tahafutul Falasifah dan lain-lain.

Di samping ketiga ulama tersebut, masih banyak tokoh-tokoh tasawuf yang pengaruhnya sangat kuat dalam hazanah kebudayaan dan peradaban Islam, seperti: Rabi’ah Al Adaiyah (sufi masyhur dalam faham mahabbah), Zunnun Al Misri (bapak faham ma’rifah), Abu Yazid Al Bustami (peletak dasar faham fana dan baqa), Husain bin Mansur Al Hallaj (peletak dasar faham hulul) dan Muhyiddin Ibn Al Arabi (peletak dasar faham wihdatul wujud).