.

Kelebihan Dan Kelemahan Pemerintahan Abbasiyah

Pemerintahan Abbasiyah mencapai keemasan pada periode pengaruh Persia pertama. Pada periode ini secara politis para khalifah benar-benar kuat, sehingga kemakmuran masyarakat berhasil dica­pai. Periode ini juga ditandai dengan berkembangnya ilmu pengeta­huan dan filsafat.

Dinasti Abbasiyah yang dibangun oleh Abul Abbas, mencapai ke­jayaannya sesudah pemerintahan Abul Abbas berakhir. Dimulai dari Al Mahdi, Al Hadi, Harun Al Rasyid, Al Ma’mun, Al Mu’tashim, Al Watsiq, dan Al Mutawakkil. Sesudah pemerintahan para khalifah tersebut, pemerintahan Abbasiyah mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.

Kelebihan Pemerintahan Abbasiyah

Pemerintahan Abbasiyah memiliki beberapa kelebihan di antaranya:

a. Memberi kesempatan kepada bangsa-bangsa non Arab (Mawali) untuk terlibat dalam pemerintahan dan bidang-bidang lainnya. Hal ini mendorong terjadinya pembauran bangsa Arab dengan non Arab. Sekaligus membuka peluang berkembangnya ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan bangsa-bangsa non Arab, misalnya bangsa Persia banyak berjasa di bidang pemerintahan, ilmu, filsafat, dan sastra; bangsa India berjasa dalam bidang kedokteran, matematika, dan astronomi; dan bangsa Yunani dalam bidang ilmu dan filsafat.

b. Lebih banyak menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Karena itu pada masa kekhalifa­han Abbasiyah banyak ditandai dengan kemajuan-kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, di antaranya:

  1. Berkembangnya Ilmu Tafsir, baik tafsir yang berdasar penafsir­an Nabi dan para sahabat nabi (tafsir bil ma’tsur), dan tafsir yang dipengaruhi oleh pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan (tafsir birra’yi)
  2. Berkembangnya madzhab-madzhab di bidang fiqih, dengan tokoh-tokoh Imam Abu Hanifah (700 - 767 M), Imam Malik (713 - 795 M), Imam Syafi’i (767 - 820 M), dan Imam Ahmad bin Hanbal (780 - 855 M). Sebenarnya banyak pula madzhab-madzhab yang lain, tetapi madzhab-madzhab selain 4 madzhab tersebut akhirnya tidak mampu berkembang
  3. Berkembangnya pemikiran-pemikiran filsafat
  4. Berkembangnya penulisan-penulisan hadits. Penulisan hadits yang dirintis pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khali­fah Amawiyah, pada masa kekhalifahan Abbasiyah kian berkembang karena tersedianya fasilitas dan transportasi yang memadai yang memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja
  5. Berkembangnya gerakan penterjemahan, sehingga umat Islam mendapat pasukan ilmu-ilmu baru semacam astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, dan sejarah. Ilmu-ilmu ini oleh umat islam diterima, diseleksi untuk disesuaikan dengan lingkungan Islam, dan dikem­bangkan menurut pemahaman orang-orang Islam. Maka dalam Islam muncul tokoh-tokoh ilmu pengetahuan:
  • Al Fazari dan Al Fargani di bidang astronomi
  • Al Razi dan Ibnu Sina di bidang kedokteran
  • Abu Ali Al Hasan bin Al Haytami (Al Hazen) di bidang optik
  • Jabir bin Hayyan di bidang kimia
  • Al Khawarizmi di bidang matematika (istilah aljabar berasal dari tokoh ini)
  • Al Mas’udi di bidang sejarah
  • Al Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusydi di bidang filsafat

Kelemahan Pemerintahan Abbasiyah

  1. Para Khalifah Abbasiyah tidak cukup kuat dalam menguasai seluruh wilayah kekuasaan Islam. Karena itu mereka merasa cukup dengan tanda ketundukan para gubernur berupa pengiriman upeti. Namun apabila para gubernur memberontak pun, para Khalifah Abbasiyah seringkali membiarkannya. Akibatnya banyak daerah yang melepaskan diri, terutama daerah yang jauh dari Baghdad.
  2. Dibentuknya tentara profesional yang menyebabkan khalifah sangat tergantung pada mereka. Pembentukan ini membutuhkan biaya sangat besar. Selain itu mereka dibentuk dari bangsa tertentu, misalnya dari bangsa Turki. Hal ini menyebabkan munculnya fanatisme kesukuan. Dan pada perkembangan selanjutnya mereka mampu mengendalikan khalifah.
  3. Adanya persaingan antar bangsa dalam tubuh pemerintahan Abba­siyah. Hal ini terjadi karena pemerintahan Abbasiyah menjalin dengan bangsa-bangsa non Arab semacam bangsa Persia dan Turki, sementara orang Arab sendiri terabaikan, karena orang Arab cenderung menduduki dinasti Amawiyah.
  4. Kemerosotan ekonomi yang terjadi terutama setelah pemerintahan Al Mutawakkil. Kemerosotan ini terjadi karena menyempitnya wila­yah kekuasaan, banyaknya pejabat yang korup. Sikap hidup khalifah dan kalangan istana cenderung boros dan bermewah-mewahan, datangnya musim paceklik dan mewabahnya berbagai macam penaykit.