.

Metode Pembelajaran Kooperatif (Belajar Bersama)

Metode pembelajaran kooperatif merupakan suatu metode yang mensyaratkan mahasiswa untuk belajar bersama dalam suatu kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas-tugas kelas maupun rumah mingguan yang telah di skenariokan secara sistematis diawal perkuliahan. Dosen berperan sebagai director, motivator, facilitator, dan evaluator.

Johnson dan Johnson, (1987) membandingkan proses pembelajaran kooperatif yang disebut dengan pembelajaran berkelompok dengan metode pembelajaran secara individualistik. Proses pembelajaran kooperatif dibentuk berdasarkan tugas terstruktur yang menjadi tanggungjawab kelompok-kelompok di kelas. Johnson dan Johnson mensyaratkan ada empat komponen yang terdapat pada proses pembelajaran kooperatif. Pertama saling ketergantungan yang positif diantara mahasiswa yang berperan aktif (pintar) maupun yang kurang aktif (kurang pintar). Elemen ini dapat dicapai melalui tujuan, tugas, hadiah, hukuman dan atau saling ketergantungan pada peran satu mahasiswa dengan peran mahasiswa lainnya (Slavin, 1995). Mahasiswa dikelompokkan dalam tiga sampai lima orang mahasiswa (Bohlmeyer dan Burke, 1987), yang diketuai oleh seorang instruktur yang dipilih berdasar kepercayaan.

Komponen kedua merupakan interaksi langsung sesama teman kelompok dalam menyelesaikan tugas kelas dan tugas rumah. Penilaian diberikan bukan hanya berdasarkan pada keberhasilan menyelesaikan tugas namun juga pada interaksi yang terjadi selama proses penyelesaian tugas kelompok. Mahasiswa didorong untuk berani mengemukakan pendapat dan mampu berargumen terhadap sanggahan teman kelompoknya.

Komponen ketiga mewajibkan masing-masing anggota kelompok harus dapat mempertanggung-jawabkan hasil jawaban kelompok mereka. Jadi pada komponen ini masing-masing mahasiswa akan diuji secara acak terhadap jawaban kelompoknya. Anggota kelompok yang lain terutama ketuanya harus bertanggungjawab atas kemampuan anggota kelompoknya. Untuk itu ketua kelompok harus memiliki report sheet atas partisipasi anggota kelompoknya dalam penyelesaian tugas terstruktur.

Komponen keempat menyebutkan pada metode pembelajaran kooperatif harus mendorong kemampuan interpersonal masing-masing anggota kelompok dan kemampuan kelompok untuk berkompetisi dengan kelompok lain. Mahasiswa diharapkan agar mau mengevaluasi kemampuan mereka dalam menyelesaikan tugas selain juga mampu mengevaluasi kemampuan teman sekelompoknya.

Meskipun metode pembelajaran secara indi-vidualistik penting dalam mencapai kemandirian, namun diyakini untuk membuktikan kemampuan diri diperlukan diskusi kelompok. Mahasiswa tidak hanya diberi kesadaran untuk doing tapi ketika mereka berdiskusi proses thinking dan reasoning muncul. Dalam proses mengerjakan tugas-tugas terstruktur mereka bukan hanya berusaha menyelesaikan masalah diketahui hitung-hitungan, namun mereka juga berusaha mencari jawaban dari mengapa demikian serta apa implikasi masalah tersebut ketika terjadi kontroversi dengan teman kelompoknya.

Bligh, (1972) menyebutkan pengembangan persepsi dan kemampuan interpersonal serta pengakuan diri sebagai variabel indikator dari konstruk pembelajaran kooperatif. Bligh lebih menekankan peranan tenaga edukatif untuk menjadi fasilitator dan motivator yang memiliki kemampuan untuk mendesain proses pembelajaran yang lebih berorientasi pada peningkatan kemampuan mahasiswa.

Penelititan Bligh lebih mengakui bahwa sumber pengetahuan bukan hanya satu-satunya diperoleh dari dosen. Dosen hanya menang pengalaman dan sebagai nara sumber, bila telah ada komitmen diawal kuliah untuk menetapkan satuan acara pengajaran, silabi dan garis-garis besar program pengajaran serta tugas terstruktur. Jadi di ruang kelas pada saat kuliah menjadi ajang untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan (to share the knowledge and experiences) antara dosen dengan mahasiswa serta antara mahasiswa dengan mahasiswa.

Frierson, (1986), mengamati proses pembelajaran kooperatif pada nilai akhir mahasiswa jurusan keperawatan. Beliau menentukan bahwa mahasiswa dengan warna kulit hitam sebagai kategori excluded. Hasil penelitian menyebutkan bahwa proses pembelajaran kooperatif merupakan faktor utama yang signifikan menjelaskan peningkatan nilai akhir mahasiswa. Hasil penelitian di atas juga didukung dengan temuan Treisman, (1985) bahwa teknik pembelajaran kooperatif merupakan variabel penjelas nilai mahasiswa. Bedanya bahwa pada penelitian Treisman menambahkan variabel pencapaian (achievement) baik pada pencapaian aktual maupun pada pencapaian yang dipersepsikan.