.

Pengertian dan Jenis-jenis Mu’jizat

Mu’jizat secara bahasa berasal dari kata a’jaza - yu’jizu - isim fa’ilnya mu’jiz yang mempunyai arti melemahkan, sesuatu yang menjadikan lemah. Dari segi bahasa ini berarti mu’jizat adalah sesuatu yang bisa menjadikan orang lain lemah atau kalah. Sedangkan menurut istilah ialah :

أمر خارق العادة يعجز البشر عن ان يأتوا بمثله

Perkara yang menyalahi keadaan yang biasa berlaku, yang manusia tak sanggup mendatangkan yang sepertinya.

Dengan pengertian ini, bahwa mu’jizat adalah merupakan sesutu yang luar bisa yang tak dapat dilakukan oleh manusia biasa. Berarti seseorang yang diberi oleh Allah mu’jizat adalah seseorang yang luar biasa. Allah menurunkan mu’jizat ini hanya kepada para nabi dan rasul sebagai penguat kedudukan mereka di hadapan umatnya. Selain nabi dan rasul tidak akan mendapatkan mu’jizat.

Mu’jizat bisa dibedakan dalam empat macam :

  1. Mu’jizat Kauniyah, yaitu mu’jizat yang bersifat peristiwa alam.
  2. Mu’jizat Syakhsiyah, yaitu mu’jizat yang timbul dari tubuh rasul itu sendiri.
  3. Mu;jizat salbiyah, yaitu mu’jizat yang membuat sesuatu tidak berdaya samasekali.
  4. Mu’jizat aqliyah, yaitu mu’jizat yang rasional atau masuk akal.

Adapun manusia biasa yang mempunyai kemampuan yang luar biasa tidak sebagaimana mestinya manusia, maka kemampuan itu disebut dengan ma’unah, artinya pertolongan dari Allah SWT kepada seseorang. Sedangkan apabila yang mempunyai kemampuan itu orang yang dekat dengan Allah atau para ulama, maka kemampuan itu disebut dengan karamah artinya kemulyaan dari Allah SWT kepada seseorang. Akan tetapi berbeda lagi bila yan mempunyai kemampuan itu adalah orang kafir, maka kemampuan itudeisebut dengan istidraj artinya pengulu-ulu dari Allah.

Jadi Mu”jizat, karamah, ma’unah, dan istidraj sama-sama sesuatu yang luar biasa, meskipun tingkatan dari keluarbiasaannya tidaklah sama, mu’jizat tentunya lebih tinggi dan tidak mungkin dapat dikalahkan oleh yang lain. Adapun perbedaan masing-masing adalah : Mu’jizat dimiliki oleh para nabi dan rasul, karamah dimiliki oleh para ulama dan auliya’, ma’unah dimiliki oleh kebanyakan orang Islam, dan istidraj dimiliki oleh orang-orang kafir.

Allah mengutus para rasul selalu melengkapinya dengan mu’jizat yang berbeda-beda. Nabi Musa dengan tongkatnya bisa membelah laut merah, sehingga airnya tersisih, dan Nabi Mua beserta umatnya dapat meleatinya bagaikan jalan yang lapang, kemudian air itu menutup kembali ketika Fir’aun beserta tentaranya melewati air yang terbelah itu. Nabi Musa dengan tongkatnya pula dapat memancarkan air dari batu, ketika umat nabi Musa kehausan. Bahkan tongkat Nabi Musa dapat berubah menajadi ular raksasa dan menelan seluruh ulara buatan tukang sihir Fir’aun.

Selain tongkat, masih banyak lagi mu’jizat yang dimiliki oleh Nabi Musa. Sedangkan nabi-nabi yang lain, seperti nabi Sholeh mempunyai seekor onta yang lahir dari batu. Nabi Ibrahim dapat selamat ketika dibakar oleh raja Namrudz, ia tidak terluka, bahkan api itupun terasa dingin. Nabi Isa dapat menyembuhkan orang buta,penyakit kusta, blang dan sebagainya, bahkan nabi Isa dapat menghidupkan orang yang sudah mati. Nabi Sulaiman dapat memamahamibahaa binatang, dan menaklukkan semua yag ada di alamini, baik biatang, jin, bahkan angin pun tunduk kepada Nabi Sulaiman. Begitu juga nabi-nabi yang lain semuanya mempunyai mu’jizat yang sesuai dengan keadaan zaman itu.

Mu’jizat Nabi Muhammad yang paling utama adalah AlQur’an. Nilai kemu’jizatan Al Qur’an ini melebihi mu’jizat nabi yang lain. Kalau mu’jizat-mu’jizat yang lain hanya dapat dirasakan pada saat itu, kemudian hilang, tetapi Al Qur’an bisa dirasakan terus menerus, seteah nabi Muhammad wafat, bahkan sampai sekarang. Para ahli bahasa, ahli ilmu pengetahuan, ahli ekonomi, ahli hukum dan sebgainya, benar-benar mengkui keunggulan Al Qur’an. Mereka dengan kemampuannya masing-masing tidak mampu mengungguli Al Qur’an, bahkan mereka mengembangkan keahliannya itu dari Al Qur’an.

Sebagaimana Allah memberikan mu’jizat kepada nabi, Allah juga memberikan karomah kepada para hambanya yang dicintai, yaitu para wali dan para ulama. Karomah ini dapat meningkatkan kepercayaan para pengikutnya, sehingga mereka bisa menerima da’wahnya. Seperti para wali songo dalam berda’wah di tanah Jawa, mereka mempunyai kesaktian-kesaktian. Sunan Kudus dapat membangun menara hanya dari batu bata merah yang ditumpuk tanpa semen, tetapi sampai sekarang masih kokoh. Sunan Kalijogo mendirikan sebuah tiang masjid, dari potongan-potongan kayu yang diikat dan bisa berdiri kokoh bahkan sampai sekarang. Para wali yang bukan orang Jawa asli, tetapi dapat menciptakan gending-gending Jawa, melebihi para sastrawan Jawa. Ini semua dipergunakan para wali untuk meyakinkan ajaran yang dibawanya di tengah-tengah masyarakat Jawa.

Bukan hanya para wali songo dan para wali yang lain semasa itu. Para ulama sampai sekarang pun kadang terdengar mempunyai kelebihan dibanding denganakebanyakan manusia. Apakah itu karena ketinggian ilmu yang mereka pelajari, atau memang semata-mata diturunkan dari Allah. Sebagai contoh, Kadang ada yang mampu mengetahui sesuatu yang belum terjadi, ada yang mempunyai kekebalan tubuh, kemampuan mengobati orang sakit, dan sebagainya. Semua itu anugrah dari Allah untuk meyakinkan umatnya utamanya dalam beda’wah dan mengajak kepada kebaikan.

Akan tetapi kadang juga ada orang-oang kafir, bahkan mereka yang menentang kebenaran tetapi mempunyai kemampuan yang melebihi orang biasa. Kadang mereka mampu menyakiti orang lain dengan dengan ilmu santetnya. Para penyihir bisa merubah tali menjadi ular ketika menghadapi nabi Musa. Dan sampai sekarang masih banyak terjadi. Semua ini semata-mata pengulu-ulu dari Tuhan yang disebut dengani stidraj, sehingga meningkatkan kemunkaran mereka dan akan menambah sangat siksaannya di neraka