.

Proses Masuknya Islam di RRC (Cina)

Menurut Dr. J.C. Van Leur, sejak awal abad ke-4 Masehi, koloni orang Arab sudah berada di Kanton. Pernyataan ini menunjukkan bahwa hubungan perdagangan Arab - Cina telah lama terjalin sebelum Nabi Muhammad lahir.

Melalui Arablah, Syria dan kota-kota pelabuhan di Laut Tengah menerima hasil-hasil bumi negeri-negeri Timur.

Perdagangan Arab - Cina kian berkembang pada abad ke-6 melalui jalur Ceylon (Srilanka). Dan pada abad ke-7 perdagangan segitiga antara Cina - Arab - Persia makin berkembang, dengan menjadikan Kota Siraf di Teluk Persia sebagai pasar bursa bagi para pedagang Cina.

Islam masuk ke Cina pada saat Nabi Muhammad mulai melakukan dakwah secara terang-terangan. Ketika para sahabat Nabi hijrah ke Ethiopia, salah seorang sahabat Nabi yang bernama Sa’ad bin Lubaid Al Habsyi justru pergi ke Cina. Pada masa antara tahun 9 H dan 14 H (semasa pemerintahan dinasti Tang yang berkuasa pada tahun 618 - 905 M) Sa’ad dan temannya yang bernama Yusuf menyebarkan agama Islam di Cina. Sa’ad di Chuan Chow dan Chang Chow, sedangkan Yusuf di Kwang Chow (Kanton). Hal ini dibuktikan dengan kehadiran Kwang Tah Se (masjid dengan menara cemerlang) di Kanton dan Chee Lin Se (masjid dengan tanduk satu).

Dari data sejarah itu dapat diketahui bahwa agama Islam berkembang di negeri Cina lebih dahulu dibanding dengan di negeri lain yang berada di luar Arabia. Sebab-sebab masuknya Islam di Cina bukan melalui peperangan dan pertumpahan darah, tetapi melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang Arab. Mereka selain berdagang juga mengadakan hubungan yang akrab dengan penduduk setempat sambil berdakwah kepada mereka.

Perkembangan Islam di RRC

Hubungan diplomatik antara pemerintahan Islam dengan Cina terjadi pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Peristiwa yang menyebabkan terjadinya hubungan diplomatik yaitu ketika tentara muslim berperang menghadapi Yazdagird (Kaisar Persia), Kaisar Yong Hui berusaha membantu Yazdagird. Terhadap hal ini, Khalifah Utsman mengirimkan nota keras yang dibawa oleh suatu delegasi yang dipimpin oleh mantan panglima Sa’ad bin Abi Waqash. Sejak saat itu hubungan antara Cina dengan pemerintahan Islam terjalin dengan baik. Hubungan ini terus berjalan pada masa dinasti Amawiyah (Umayyah) dan dinasti Abbasiyah.

Dari perjalanan sejarah yang panjang, akhirnya tak dapat dipungkiri bahwa orang Islam di Cina adalah bagian dari bangsa Cina. Mereka tidak lagi dianggap sebagai orang Arab, Barbar atau orang asing, namun dikenal sebagai “Hui-hui atau Hui”. Pemerintah republik setelah tahun 1912 secara resmi mengidentifikasi kaum muslimin di Cina sebagai salah satu dari “lima penduduk terbesar” di Cina, yang terlihat dalam bendera nasional yang terdiri atas lima garis horizontal dengan warna merah untuk Han (orang Cina asli), kuning untuk Manchu, biru untuk Mongol, putih untuk turunan muslim dan hitam untuk Tibet.

Sejak keberhasilan Mao Ze Dong mengembangkan partai Kung Chang Tang yang berhaluan Komunis, pada tahun 1949 berdirilah RRC. Seluruh Cina kemudian menjadi wilayah kekuasaan Komunis.

Pada awal peristiwa tersebut, umat Islam menderita tekanan berat. Berbagai siksaan termasuk pembakaran Al Quran dan kontak dengan babi dialami oleh umat Islam Cina. Namun mereka tetap teguh mempertahankan keimanannya. Mereka terus berupaya mempertahankan diri, sekaligus berusaha memajukan diri melalui pendirian sekolah, perbaikan metode pendidikan, dan mengiatkan penulisan buku-buku keislaman.