.

Sebab-Sebab Kehancuran Dinasti Abbasiyah

Salah satu cara untuk mencermati sebab-sebab hancurnya kekhalifahan (Dinasti) Abbasiyah haruslah diteliti dari sikap dan kebijakan para khalifahnya. Bahwa mayoritas Khalifah Abbasiyah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadi dan melalaikan tugas serta kewajiban mereka terhadap negara. Mereka menjalani kehidupan dengan bermegah-megahan dan bermewah-mewahan. Sekalipun terkadang mereka berusaha mengatasi kondisi politik dalam negeri yang kritis, namun mereka lebih memusatkan perhatian dan waktunya dengan minuman keras, wanita, dan musik. Bahkan mereka kehilangan semangat perjuangan menegakkan kekuasaannya tatkala datang serangan dari pihak asing dengan menumpahkan darah rakyat.

Supremasi bangsa Turki pada periode akhir Abbasiyah juga turut menyebabkan jatuhnya kekhalifahan Abbasiyah. Bermula dengan wafatnya Khalifah Mutawakkil pengaruh kekuatan Turki berkembang semakin kuat, bahkan khalifah pengganti Mutawakkil tidak mampu menekannya dan ini berakibat kelompok Arab dan Persia menaruh kecemburuan atas ketinggian posisi mereka. Sikap anti Turki ini pada akhirnya melatarbelakangi timbulnya gerakan penglepasan diri sejumlah dinasti yang membawa akibat fatal terhadap keutuhan Imperium Abbasiyah.

Sikap para khalifah yang mengakibatkan urusan kemiliteran turut mendukung kemunduran kekhalifahan ini karena kelangsungan dan stabilitas suatu imperium sangat bergantung pada kekuatan militernya. Disebabkan tidak adanya program ekspansi pada periode ini, maka para khalifah kurang menaruh perhatian terhadap urusan kemiliteran ini. Hal ini mengakibatkan menurunnya semangat kemiliteran pasukan muslim, sehingga ketika negara diserbu oleh pihak asing, mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengusirnya.

Hubungan antara wilayah-wilayah propinsi dengan pemerintahan pusat di Baghdad semakin menrenggang. Dalam beberapa kasus, para gubernur berusaha melepaskan diri dari ikatan pemerintahan pusat dan menyatakan kemerdekaan wilayah masing-masing. Kondisi seperti ini mengganggu stabilitas Imperium Abbasiyah dan mempersulit posisi pemerintahan pusat.

Permusuhan antarsuku juga merupakan salah satu sebab utama kemunduran kekuasaan Abbasiyah. Permusuhan antara kelompok Arab dengan non Arab, dan antara kelompok muslim dengan non muslim semakin menegang pada masa ini. Kelompok Persia yang lebih diuntungkan dalam pemerintahan Abbasiyah memandang remeh terhadap kelompok Arab, sedang kelompok Arab juga memandang remeh kelompok Persi dan kelompok lainnya. Sementara itu pihak khalifah tidak mampu menyatukan mereka dalam suatu ikatan persatuan. Akibatnya, umat Islam terpecah menjadi sekte-sekte, sehingga lambat laun namun pasti, Imperium Abbasiyah memasuki masa disintegrasi.

Faktor ekonomi juga turut mendukung kemunduran kekuasaan Abbasiyah. Bahwa pendapatan utama negara adalah dari sektor pajak. Negara menetapkan beban pajak yang tinggi untuk kepentingan kalangan atasan istana. Timbulnya sejumlah kerusuhan dan pemberontakan yang mengganggu perekonomian rakyat, semakin sempitnya wilayah kekuasaan negara dan lahirnya gerakan penglepasan wilayah propinsi serta timbulnya dinasti-dinasti yang merdeka, semua ini merupakan penyebab kemerosotan ekonomi negara. Dalam kondisi yang demikian ini justru sikap dan pola hidup khalifah dan kalangan istana cenderung boros dan bermegah-megahan, sementara itu kejahatan korupsi telah berkembang di kalangan pejabat negara. Masa paceklik dan wabah penyakit melanda sejumlah wilayah propinsi. Kondisi yang demikian ini sangat menyulitkan negara.

Selain sebab-sebab internal yang telah disebutkan di atas, mestinya dilengkapi dengan sebuah sebab eksternal yaitu penyerbuan Hulagu Khan yang menghancurleburkan Kota Baghdad. Ia membunuh khalifah terakhir Abbasiyah, dan membantai keluarga istana. Inilah pertama kali dalam sejarah Islam dimana umat Islam hidup tanpa seorang khalifah.