Sejarah Masuknya dan Perkembangan Islam di Negara-negara ASEAN

Berikut ini kami akan mencoba menguak dan mengorek meskipun hanya secuil karena tidak semuanya beberapa sejarah mengenai masuknya dan perkembangan islam di negara-negara ASEAN, mulai dari Singapura, Thailand, Filipina, Malaysia dan Brunai Darussalam.

Perkembangan Islam di Singapura

Singapura asalnya termasuk negara bagian Malaysia, kemudian pada 9 Agustus 1965 berdiri sendiri menjadi sebuah republik. Penduduknya sangat beragam yang terdiri atas Cina (80 %), Melayu, Yahudi, Pakistan, Arab, Bengali, dan peranakan Eropa. Dan agama yang dianut juga beragam, yaitu: Budha, Tao, Islam, Hindu, dan Kristen. Jumlah penduduk yang beragama Islam sekitar 20 % dari keseluruhan penduduknya.
Kerukunan hidup antar umat beragama di Singapura sangat baik. Mereka dapat hidup berdampingan dan saling hormat-menghormati. Pemerintah juga memberi bantuan yang seimbang dengan jumlah pemeluknya kepada masing-masing agama, baik bantuan dari pembangunan sarana-sarana ibadah, maupun bantuan lainnya.
Perkembangan Islam di Singapura sangat baik. Hal ini disebabkan adanya beberapa lembaga Islam dan perguruan-perguruan Islam yang giat melakukan dakwah, di antaranya:

  1. Majelis Ulama Islam Singapura (MUIS) yang berada di bawah Kementerian Sosial yang menangani pengembangan agama Islam di Singapura.
  2. Mahkamah Syariah Singapura yang bertugas mengurusi dan memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan Islam, antara lain tentang zakat, wakaf, nikah, perceraian, harta warisan, dan lain-lain.
  3. Moslem Convert Association yaitu lembaga dakwah untuk orang muallaf.
  4. Organisasi MENDAKI yang bergerak di bidang peningkatan status sosial ekonomi masyarakat muslim Singapura yang lemah dan kurang terdidik.
  5. Persatuan Pelajar-Pelajar Agama Dewasa yang menyelenggarakan pendidikan di luar sekolah seperti kursus dakwah dan kursus-kursus keterampilan.

Perkembangan Islam di Thailand

Thailand atau Muangthai merupakan suatu negara kerajaan konstitusional dengan beribu kota di Bangkok. Mayoritas penduduknya beragama Budha. Sedangkan umat Islam merupakan minoritas, yang mendiami wilayah bagian selatan, yaitu: Pattani, Yala, Marathiwat, dan Satu. Kebetulan empat daerah ini kaya akan bahan-bahan tambang.
Sebagai minoritas, umat Islam di Thailand sering diperlakukan dengan keras. Meski demikian, umat Islam Pattani yang pada umumnya keturunan Melayu, tetap mempertahankan keyakinannya. Di bidang pendidikan, mereka hanya diberi kesempatan mengenyam pendidikan sampai ke tingkat SLTA. Selebihnya, bila ingin melanjutkan pendidikan hanya boleh ke perguruan agama di luar negeri dengan biaya sendiri.
Karena diperlakukan dengan keras terus-meneru, pada tahun 1962 muncul gerakan nasional Pattani yang kemudian menjadi “National Islamic Revolutionary Party of Shouther Siam”. Mereka berupaya memisahkan diri dari pemerintah Thailand. Tetapi pemerintah Thailand selalu menghalanginya karena daerah-daerah yang dihuni umat Islam sangatlah strategis dan subur.
Untuk mempertahankan diri dari memajukan diri, umat Islam di Thailand mendirikan organisasi Persatuan Islam yang bergerak dalam bidang dakwah dan pendidikan. Organiasi ini memiliki sebuah majalah yang bernama “Al Jihad”. Di antara hasil kegiatan organisasi ini adalah berdirinya madrasah “Anshorus Sunnah” di Pak Payong, sebelah selatan Bangkok. Selain itu didirikan pula lembaga-lembaga pendidikan semacam pesantren dan madrasah dari tingkat Ibtida’iyah sampai Aliyah. Dalam hal ini yang berkaitan dengan kegiatan umat Islam, mereka mempunyai 26 Majelis Ulama Islam. Majelis ini bertugas untuk mengurus segala seguatu tentang umat Islam Pattani yaitu soal kelangsungan hidup bangsa Melayu.

Perkembangan Islam di Filipina

Filipina merupakan negara bekas jajahan Spanyol dan Amerika Serikat. Mayoritas penduduknya beragama Katholik, sedangkan umat Islam yang kebanyakan menempati Filipina Selatan merupakan minoritas.
Sebenarnya agama Islam masuk ke Filipina lebih awal daripada agama Katholik. Sejak tahun 1360 Islam sudah masuk ke Filipina melalui Indonesia dan Malaysia. Sejak itu Islam menyebar di Filipina Selatan, Filipina Tengah, dan Filipina Utara.
Pada tahun 1565 Spanyol menjajah Filipina dan orang Islam diperangi untuk dimusnahkan. Upaya keras bangsa Spanyol ini berhasil, namun untuk wilayah Mindanao Spanyol tidak mampu mengalahkan orang Islam. Orang-orang Spanyol menyebut orang-orang Islam di Filipina dengan sebutan Moro. Sebutan ini berasal dari istilah Moor yaitu sebutan orang-orang Islam di Spanyol oleh orang-orang Katholik.
Pada tahun 1891 Filipina dijajah Amerika Serikat. Ternyata Amerika Serikat bersikap sama seperti Spanyol terhadap umat Islam.
Setelah Filipina merdeka, upaya menekan atau bahkan melenyapkan orang Islam dari Filipina terus dilakukan. Tujuannya adalah menjadikan Filipina dihuni oleh penganut Katholik sepenuhnya. Di Filipina ada pasukan Ilaga yang dibentuk oleh orang-orang Katholik yang bertujuan meneror, membunuh, merusak tempat-tempat ibadah orang Islam.
Di bidang pendidikan, umat Islam dihambat untuk mendapat pendidikan yang layak, akibatnya umat Islam mengalami keterbelakangan.
Menghadapi tekanan tersebut, dibentuklah organisasi MILF (Moro Islamic Liberation Front) yang dipimpin oleh Hasyim Slamet dan MNLF (Moro Nation Liberation Front) yang dipimpin Dr. Nur Missuari.
Dengan berdirinya kedua organisasi tersebut dan organisasi lainnya seperti Jamiyatud Dakwah Al Islamiyah, keberadaan umat Islam Moro semakin kuat. Dan suatu perkembangan yang sangat menggembirakan pada akhirnya pemerintah Filipina dibawah pimpinan Presiden Fidel Ramos bersedia memberi otonomi kepada Filipina Selatan (Kepulauan Mindanao) sebagai daerah yang mayoritas dihuni orang-orang Islam (Moro). Ini menunjukkan bahwa umat Islam Filipina adalah warga negara Filipina yang harus dihargai harkat dan martabatnya.

Perkembangan Islam di Malaysia

Malaysia merupakan negara yang multi etnis, terdiri atas orang Melayu, Cina, India, dan Pakistan. Mayoritas penduduknya beragama Islam, dan bahkan Islam merupakan agama resmi negara. Namun agama-agama lain dapat diamalkan dengan aman di Malaysia.
Dengan adanya perhatian pemerintah terhadap Islam dan konstitusi negara yang banyak menguntungkan kepentingan umat Islam dan dengan adanya lembaga-lembaga dan organisasi Islam, pendidikan-pendidikan Islam serta kegiatan-kegiatan dakwah Islam, maka perkembangan Islam di Malaysia memiliki prospek yang sangat cerah.

Perkembangan Islam di Brunai Darussalam

Brunai merupakan negara kesultanan yang beribu kota di Bandar Sri Begawan. Negara ini mendapat kemerdekaan pada tanggal 31 Desember 1983, setelah lama dikuasai oleh Inggris.
Negara ini menyatakan bahwa Islam sebagai agama resmi, sehingga kegiatan-kegiatan keislaman sangat aktif. Untuk melaksanakan kegitan keagamaan ada menteri khusus yang menanganinya. Dalam melaksanakan dakwah Islamiyah Brunai sering mendatangkan para muballigh dari Indonesia. Bahkan mereka juga mendatangkan tenaga-tenaga pengajar dari Indonesia, atau mengirim mahasiswanya untuk tugas belajar di Indonesia.
Sebagai negara yang memiliki pendapatan perkapita yang sangat tinggi, diharapkan Brunai nantinya menjadi negara yang dapat menjunjung tinggi harkat dan martabat umat Islam khususnya umat Islam Brunai sendiri.