Copas: Bisnis Dalam Islam: Larangan Terhadap Kecurangan Dalam Takaran dan Timbangan


Copas: Bisnis Dalam Islam: Larangan Terhadap Kecurangan Dalam Takaran dan Timbangan 
oleh: Akhmad Mujahidin
Sebelumnya | copas: Pedoman Bisnis Dalam Islam
Kecurangan dalam menakar dan menimbang mendapat perhatian khusus dalam al-Quran karena praktek seperti ini telah merampas hak orang lain. Selain itu, praktek seperti ini juga menimbulkan dampak yang sangat vital dalam dunia perdagangan yaitu timbulnya ketidakpercayaan pembeli terhadap para pedagang yang curang. Oleh karena itu, pedagang yang curang pada saat menakar dan menimbang mendapat ancaman siksa di akhirat. Allah berfirman:

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?[1]
Kata waylun diatas memiliki arti azab, kehancuran, atau sebuah lembah di neraka Jahannam.[2] Hal ini menunjukkan bahwa pedagang yang melakukan kecurangan dalam menakar dan menimbang akan mendapatkan azab sehingga ditempatkan di lembah neraka Jahannam. Oleh karena itu, setiap pedagang hendaknya berhati-hati dalam melakukan penakaran dan penimbangan agar ia terhindar dari azab.

A. Ilyas Ismail menyatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di Madinah.[3] Setibanya di Yathrib (Madinah), Nabi Muhammad saw banyak mendapat laporan tentang para pedagang yang curang. Abu Juhaynah salah seorang dari mereka. Ia dikabarkan memiliki dua takaran yang berbeda, satu untuk membeli dan yang satu lagi untuk menjual. Lalu, kepada Abu Juhaynah dan penduduk Madinah yang lain, Rasulullah saw membacakan ayat di atas.

Ayat ini memberi peringatan keras kepada para pedagang yang curang. Mereka dinamakan mutaffifin. Dalam bahasa Arab, mutaffifin berasal dari kata tatfif atau tafafah, yang berarti pinggir atau bibir sesuatu. Pedagang yang curang itu dinamai mutaffif, karena ia menimbang atau menakar sesuatu hanya sampai bibir timbangan, tidak sampai penuh hingga penuh ke permukaan. Dalam ayat di atas, perilaku curang dipandang sebagai pelanggaran moral yang sangat besar. Pelakunya diancam hukuman berat, yaitu masuk neraka wail. Ancaman ini pernah mengagetkan seorang Arab (Badui). Ia kemudian menemui Abdul Malik bin Marwan, khalifah dari Bani Umayyah. Kepada khalifah ia menyampaikan kegalauannya. Katanya, ''Kalau pencuri kecil-kecilan saja (korupsi timbangan) diancam hukuman berat, bagaimana dengan para penguasa yang suka mencuri dan makan uang rakyat dalam jumlah besar, bahkan tidak terhitung lagi jumlahnya alias tanpa takarannya?'' Khalifah menjawab bahwa korupsi timbangan itu dianggap sebagai kejahatan besar, karena ia menyangkut sosial ekonomi (mu’amalat) yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Korupsi semacam itu bisa terjadi sepanjang waktu.[4]

Pada masa lalu, masa Rasulullah, pedagang tradisional mencuri kecil-kecilan dengan korupsi timbangan. Pada masa sekarang, selain mengurangi takaran dan timbangan, para pedagang mencuri dengan teknik yang lebih canggih dan dalam skala yang lebih besar. Praktik-praktik seperti penggelembungan anggaran, mark up, dan proyek-proyek fiktif, semuanya tergolong perilaku tercela yang dinamakan tatfif. Kecurangan pada dasarnya tidak hanya dalam bidang ekonomi, tapi dalam semua bidang. Kecurangan adalah simbol kebohongan. Setiap pembohong berarti telah berbuat curang. Orang yang tidak suka melihat orang lain memperoleh kesuksesan, berarti ia curang. Orang yang hanya melihat aib saudaranya dan tidak pernah melihat aib dirinya, ia juga curang. Begitu pula, orang yang hanya menuntut haknya dan tidak pernah mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya, ia juga dinilai curang.

Kecurangan merupakan sebab timbulnya ketidakadilan dalam masyarakat, padahal keadilan diperlukan dalam setiap perbuatan agar tidak menimbulkan perselisihan. Pemilik timbangan senantiasa dalam keadaan terancam dengan azab yang pedih apabila ia bertindak curang dengan timbangannya itu. Pedagang beras yang mencampur beras kualitas bagus dengan beras kualitas rendah, penjual daging yang menimbang daging dengan campuran tulang yang menurut kebiasaan tidak disertakan dalam penjualan, pedagang kain yang ketika kulakan membiarkan kain dalam keadaan kendor, tetapi pada saat menjual ia menariknya cukup kuat sehingga ia memperoleh tambahan keuntungan dari cara pengukurannya itu, semua itu termasuk kecurangan yang akan mendatangkan azab bagi pelakunya.

Penghargaan ajaran Islam terhadap mekanisme pasar berangkat dari ketentuan Allah bahwa perniagaan harus dilaksanakan secara baik atas dasar suka sama suka. Dalam al-Quran dinyatakan bahwa orang beriman dilarang memakan harta sesama manusia dengan cara yang batil kecuali dengan cara perdagangan atas dasar suka sama suka.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.[5]
Hendaknya orang beriman menyempurnakan takaran dan timbangan. Allah berfirman:
Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfa`at, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.[6]
Karena menyempurnakan takaran dan timbangan dengan jujur merupakan cara terbaik dalam melakukan transaksi.
Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.[7]
Sedangkan orang yang suka mengurangi takaran dan timbangan akan mendapatkan siksa neraka.[8] Dengan demikian seluruh ayat tersebut menekankan pada pentingnya kejujuran dalam menakar dan menimbang pada saat melakukan transaksi perdagangan sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Untuk itu seorang pedagang harus berhati-hati, jangan sekali-kali dia berdusta, karena dusta itu merupakan bahaya bagi pedagang. Dusta itu sendiri dapat membawa kepada perbuatan jahat, sedang kejahatan itu dapat membawa kepada neraka. Karena setiap darah dan daging yang tumbuh dari barang haram maka neraka adalah tempat yang tepat baginya. Selain itu hindari pula banyak sumpah, khususnya sumpah dusta, sebab Nabi Muhammad saw pernah bersabda:
Tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat Allah nanti di hari kiamat dan tidak akan dibersihkan, serta baginya adalah siksaan yang pedih, yaitu orang yang sombong, orang yang suka mengungkit-ungkit kembali pemberiannya, dan orang yang menyerahkan barang dagangannya (kepada pembeli) dengan sumpah palsu.”[9]
Selain itu si pedagang harus menjauhi penipuan, sebab orang yang menipu itu dapat keluar dari lingkungan umat Islam. Hindari pula pengurangan timbangan dan takaran, sebab mengurangi timbangan dan takaran itu membawa celaka.[10] Oleh karena itu, sikap kehati-hatian dalam menakar dan menimbang ini perlu dilakukan karena kecurangan merupakan tindak kezaliman yang sulit ditebus dengan taubat. Hal ini disebabkan kesulitan mengumpulkan kembali para pembeli yang pernah dirugikan dengan mengembalikan hak-hak mereka. Oleh karena itu, Rasulullah mengingatkan kepada pedagang[11] hendaknya bermurah hati untuk memberikan tambahan kepada pembeli, bukan malah mengurangi berat timbangannya.

Selain kecurangan dalam penakaran dan penimbangan, pengawasan muhtasib juga diarahkan kepada praktek penipuan kualitas barang. Pedagang seharusnya menunjukkan cacat barang yang dijualnya. Jika ia menyembunyikan cacat barang yang dijualnya maka ia dapat dikategorikan sebagai penipu, sedangkan penipuan itu diharamkan. Kondisi seperti inilah yang disaksikan oleh Rasulullah saw ketika suatu hari menginspeksi pasar Madinah. Abu Hurairah menceritakan[12]: suatu hari Rasulullah berjalan ke pasar, kemudian beliau melihat pedagang menjual setumpuk kurma yang bagus, Rasulullah tertarik dengan kurma tersebut, tetapi ketika beliau memasukkan tangan ke dalam tumpukan kurma itu ternyata di bagian bawahnya busuk, kemudian Rasulullah menanyakan kepada pedagangnya mengapa kurma yang dibawahnya basah. Pedagang menjawab bahwa kurma yang basah tersebut karena hujan. Kemudian Rasulullah bertanya lagi mengapa kurma yang basah tersebut tidak diletakkan di atas supaya orang bisa melihatnya. Rasulullah menyatakan bahwa orang yang menipu dalam berdagang bukan umatnya. Inspeksi yang dilakukan Rasulullah menunjukkan bahwa dalam transaksi itu diperlukan kerelaan antara pedagang dan pembeli, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Perbuatan menyembunyikan cacat pada barang dagangan sebenarnya tidak akan menambah rizki, bahkan bias menghilangkan keberkahan sebab harta yang dikumpulkan dengan penipuan sangat dimurkai oleh Allah.[13]

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa harta tidak akan bertambah karena tindak kecurangan, sebagaimana harta tidak akan berkurang karena disedekahkan. Bagi orang yang yang tidak mengenal pertambahan dan pengurangan harta kecuali melalui ukuran material niscaya sulit menerima paham tentang keberkahan rizki. Sedangkan orang yang meyakini adanya keberkahan rizki niscaya akan dengan mudah meninggalkan tindak kecurangan karena bisa menghilangkan keberkahan rizkinya.

Penipuan dalam perdagangan merupakan perbuatan yang dilarang. Oleh karena itu tidak sepatutnya seorang pedagang bersikap kurang peduli dengan kualitas barang yang diperdagangkannya. Hal ini tentu saja dapat dikiaskan kepada pedagang sendiri, bagaimana apabila ditipu oleh pedagang lain, tentu saja ia tidak mau menerimanya. Pemberitahuan cacat suatu barang, dengan demikian, menjadi suatu keharusan bagi pedagang untuk menjaga kepercayaan pembeli demi kelangsungan usaha mereka sendiri.

Hal ini bisa dilakukan pedagang, apabila pada saat kulakan ia selalu memilih barang yang berkualitas baik yang ia sendiri menyukai barang itu dan tidak berlebihan dalam mengambil keuntungan. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan Allah akan menurunkan keberkahan dalam perdagangan, tanpa harus melakukan penipuan. Penipuan sulit dihindari oleh para pedagang karena mereka tidak mau mengambil sedikit keuntungan, sementara keuntungan yang besar jarang terhindar dari penipuan.


[1] al-Qur'an, 83: 1-6.
[2] Al-Shaykh Hasanayn Muhammad Makhluf, Tafsir wa Bayan Kalimat al-Qur’an al-Karim (Damaskus: Dar Ibn Kathir, 2001), 587.
[3] A Ilyas Ismail, Perilaku Curang, Naver Indonesia (Kamis, 15 Juli 2004).
[4] Ibid
[5] al-Qur’an, 4: 29.
[6] al-Qur’an, 6: 152
[7] al-Qur’an, 17: 35
[8] al-Qur’an 83: 1-6; 11: 84-85
[9] Muslim bin Hajjaj al-Qushayri, Sahih Muslim, tahqiq Muhammad Fuad „Abd al-Baqi (Riyad: Riasat Idarat al-Buhuth al-„Ilmiyyah wa al-Ifta wa al-Dawah wa al-Irshad, 1400 H). 103
[10] Yusuf al-Qardhawi, Halal dan Haram Dalam Islam, terj. Muammal Hamidy (Surabaya: Bina Ilmu, 1993),37.
[11] Lihat Sahih Muslim, nomor hadith 2556.
[12] Al-Nawawi, Sahih Muslim bi Sharh} al-Nawawi, Juz II (Mesir: Maktabat „Ali Shubayh, t.t), 109.
[13] Lihat Sahih Muslim nomor hadith 2825