.

Copas: Bisnis Dalam Islam: Larangan Praktek Riba


Copas: Bisnis Dalam Islam: Larangan Praktek Riba
oleh: Akhmad Mujahidin
Rasulullah mengajarkan agar para pedagang senantiasa bersikap adil, baik, kerjasama, amanah, tawakkal, qanaah, sabar, dan tabah.[1] Sebaliknya beliau juga menasehati agar pedagang meninggalkan sifat kotor perdagangan yang hanya memberikan keuntungan sesaat, tetapi merugikan diri sendiri duniawi dan ukhrawi. Akibatnya kredibilitas hilang, pelanggan lari, dan kesempatan berikutnya sempit.[2]

Rasulullah tidak saja meletakkan dasar tradisi penciptaan suatu lembaga, tetapi juga membangun sumber daya manusia dan akhlak lembaga sebagai pendukung dan prasyarat dari lembaga itu sendiri. Misalnya, pasar tidak akan berjalan dengan baik tanpa akhlak yang baik. Beberapa langkah yang dilakukan Rasulullah adalah:

Pertama, penghapusan riba. Keberadaan kaum Yahudi yang suka melakukan riba membuat penduduk Madinah resah, karena riba tersebut seringkali menyengsarakan mereka. Praktek riba Yahudi ini telah diketahui beliau sejak di Mekkah karena ayat-ayat yang turun di Mekkah ada yang menceritakan praktek kotor orang Yahudi tersebut. Allah berfirman:
dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”[3]
Opini umum menganggap bahwa dengan melakukan pinjaman uang kepada orang lain dan menetapkan riba pada pinjaman itu maka pinjaman tersebut akan tumbuh. Tetapi opini tersebut dijawab langsung oleh al-Quran bahwa opini tersebut tidak benar.

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”[4]
Namun teguran al-Quran ini tidak dihiraukan oleh beberapa sahabat yang terlanjur terlibat dalam praktek tersebut. Kemudian datang teguran berikutnya agar dalam memberikan pinjaman jangan menetapkan riba yang berlipat ganda.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.[5]
Dengan teguran yang kedua ini banyak para sahabat yang meninggalkan riba. Hanya orang Yahudi saja yang tetap melakukan praktek itu dengan alasan bahwa tidak ada bedanya antara jual-beli dengan riba, sebab keduanya sama-sama merupakan praktek mencari selisih dari modal yang diputarkan. Tetapi al-Quran juga membantah alasan tersebut.
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”[6]
Sementara para sahabat yang telah meninggalkan riba telah bertaubat sebelum sempat mengatakan agar mereka hanya mengambil modalnya saja.[7] Dengan demikian, penghapusan riba ini telah terbukti berhasil menciptakan kondisi yang memungkinkan untuk tumbuhnya ekonomi secara tepat dan cepat. Jika pada masa hijrah, Madinah merupakan kota yang miskin, tetapi ketika Nabi meninggal, Madinah merupakan kota baru yang tumbuh dan berkembang menghidupi kota-kota di sekitarnya.[8] Kedua, keadilan. Dalam setiap kebijakan ekonomi Nabi mementingkan keadilan bukan saja berlaku untuk kaum muslim tetapi juga berlaku untuk kaum lainnya di sekitar Madinah. Hal ini terbukti ketika beliau diminta untuk menetapkan harga, beliau marah dan menolaknya. Ini membuktikan bahwa beliau menyerahkan penetapan harga itu pada kekuatan pasar yang alami.[9]

Keadilan merupakan pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Misalnya, jika kita mengakui hak hidup maka kita juga berkewajiban untuk mempertahankan hak hidup itu dengan bekerja keras tanpa merugikan orang lain karena orang lain pun memiliki hak hidup yang sama dengan kita. Dengan demikian, keadilan pada dasarnya terletak pada keseimbangan atau keharmonisan antara tuntutan hak dan pelaksanaan kewajiban.

Berdasarkan kesadaran etis, manusia dituntut untuk tidak hanya menuntut hak dan melupakan kewajiban. Jika manusia hanya menuntut hak dan melupakan kewajiban, maka sikap dan tindakannya akan cenderung mengarah kepada pemerasan dan memperbudak orang lain. Sebaliknya, jika manusia hanya menjalankan kewajiban dan lupa menuntuk haknya, maka akan mudah diperas atau diperbudak orang lain. Misalnya, hubungan antara majikan dan buruh, dosen dan mahasiswa, rakyat dan pejabat pemerintahan, pedagang dan pembeli, dan sebagainya perlu memahami pengertian adil tersebut, sehingga masing-masing tahu peranannya mana hak dan mana kewajiban. Dengan begitu, mereka dapat menempatkan dirinya masing-masing pada posisi yang benar. Jika hal itu dapat dipahami bersama, maka yang dinamakan keseimbangan dan keharmonisan akan tercipta.

Setiap hari manusia selalu dihadapkan dengan masalah keadilan dan ketidakadilan. Oleh karena itu, masalah keadilan dan ketidakadilan tidak pernah surut mengilhami manusia untuk membela dan menegakkannya sampai saat ini. Islam telah memerintahkan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dengan berdasarkan al-Quran dan dilarang untuk membela orang yang berkhianat dengan mengalahkan orang yang berbuat kebenaran.
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.[10]
Keadilan merupakan hal yang universal, namun tidak menarik untuk diperbincangkan jika dibanding dengan masalah ketidakadilan. Karena dalam kenyataannya, keadilan menunjukkan keragaman dalam persepsi, implementasi, atau pun upaya pemenuhannya. Keragaman semacam itu bisa jadi tidak akan ditemukan dalam hal ketidakadilan. Ketidakadilan dalam suatu masyarakat seringkali dibiarkan begitu saja oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. Walaupun banyak teori yang menyatakan bahwa ketidakadilan merupakan akibat logis dari suatu sistem yang berlaku baik ekonomi, sosial, ataupun politik dalam suatu masyarakat. Tetapi berbagai praktek ketidakadilan ini sering ditolak oleh anggota masyarakat yang merasakannya. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa penolakan terhadap praktik-praktik ketidakadilan telah menjadi suatu nilai universal, yang berarti diikuti oleh hampir semua masyarakat yang ada di dunia ini.

Selain keadilan, kejujuran juga merupakan tonggak dalam kehidupan masyarakat yang beradab. Kejujuran berarti apa yang dikatakan seseorang itu sesuai dengan hati nuraninya. Jujur dapat pula diartikan seseorang yang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Orang yang menepati janji atau menepati kesanggupan, baik yang telah terlahir dalam kata-kata maupun yang masih dalam hati dapat dikatakan jujur. Sedangkan bagi orang yang tidak menepati janji maka orang tersebut dikatakan tidak jujur.

Setiap orang hendaknya dapat bersikap jujur karena kejujuran dapat mendatangkan ketenteraman hati, menghilangkan rasa takut, dan mendatangkan keadilan. Islam menyatakan bahwa orang-orang yang beriman diperintahkan untuk menegakkan keadilan, menjadi saksi yang adil, dan tidak boleh menyuburkan kebencian sehingga berlaku diskriminatif.[11] Hal ini menunjukkan bahwa orang yang dapat berkata jujur dan bertindak sesuai dengan kenyataan berarti dapat berbuat adil dan benar. Sedangkan orang yang tidak dapat dipercaya tutur katanya dan tidak menepati janji dapat dikategorikan sebagai pendusta. Dengan demikian, kejujuran harus dilandasi dengan kesadaran moral yang tinggi, pengakuan terhadap persamaan hak dan kewajiban, perasaan takut berbuat kesalahan dan dosa.

Berbagai faktor yang menyebabkan manusia tidak dapat berlaku jujur seperti faktor iri hati, lingkungan, sosial ekonomi, ingin populer, maupun faktor-faktor lainnya. Perilaku jujur dan tidak jujur tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari. Terjadinya korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, plagiat, perselingkuhan, dan pembajakan hak cipta merupakan implementasi dari ketidakjujuran.

Sifat-sifat kotor merupakan sifat umum yang dimiliki manusia ketika memasuki dunia bisnis. Mereka ini tidak terkait ruang dan waktu karena merupakan karakter mendasar manusia. Karena itu Islam memberikan jalan yang terbaik untuk menyelesaikannya yaitu dengan mengikuti pesan-pesan Nabi saw yakni sifat-sifat yang terpuji. Jika para pedagang menerapkan sifat terpuji maka hal ini menunjukkan bahwa masyarakat pedagang khususnya dan masyarakat pada umumnya telah siap membangun dirinya sendiri dalam segala bidang kehidupan seperti politik, ekonomi, hukum, kebudayaan, dan sebagainya.

Dalam praktek riba seseorang berusaha memenuhi kebutuhan orang yang ingin meminjam harta, tetapi di saat yang sama ia mengharuskan kepada orang yang meminjam itu untuk memberi tambahan yang nanti akan diambilnya, tanpa ada imbalan darinya berupa kerja dan tidak pula saling memikirkan. Sehingga di sini yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Pelaku riba bagaikan segumpal darah yang menyerap darah orang-orang yang bekerja keras, sedangkan ia tidak bekerja apa-apa, tetapi ia tetap memperoleh keuntungan yang melimpah ruah. Dengan demikian semakin lebar jurang pemisah di bidang sosial ekonomi antara kelompok-kelompok yang ada. Oleh karena itu Islam sangat keras dalam mengharamkan riba dan memasukkannya di antara dosa besar yang merusak, serta mengancam orang yang berbuat demikian dengan ancaman yang sangat berat. Allah swt berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.[12]


[1] Muhammad Akram Khan, Economic Teaching of Prophet Muhammad (Islamabad: IIIE & IPS, 1989), 133.
[2] Ibid., 136.
[3] al-Qur’an, 4: 161.
[4] al-Qur’an, 30: 39
[5] al-Qur’an, 3: 130
[6] al-Qur’an, 2: 275
[7] Afzalurrahman, Islamic Economic Doctrines, IV(Lahore: Yusuf Publication, tt), 5.
[8] Ibid
[9] Muhammad Akram Khan, Economic Teaching of Prophet Muhammad (Islamabad: IIIE & IPS, 1989), 126.5
[10] al-Qur’an, 4: 105
[11] al-Qur’an, 5: 8
[12] al-Qur’an, 2: 278-279