Copas: Epistimologi BAYANI, IRFANI dan BURHANI
Sebelumnya | Cara beriklan di Internet
Berikut ini adalah pembahasan ringkas tentang Epistimologi BAYANI, IRFANI dan BURHANI menurut Muhammad ‘Abid al-Jabiri yang terdapat dalam kitabnya (Takwin al-’Aql al-’Arabi[1] dan Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi: Dirasah Tahliliyah Naqdiyyah li Nuzhum al-Ma’rifah fi al-Tsaqafah al-Arabiyah[2]).
Epistimologi Bayani
Secara etimologi, bayani mempunyai arti menyambung, memisah-misahkan, terang dan jelas, kefasihan dan kemampuan dalam menyampaikan, serta kekuatan untuk menerima dan menyampaikan kejelasan. Sedangkan secara terminologi, dengan mengutip pendapat al-Jahiz dalam kitabnya al-Bayan wa al-Tabyin, al-Jabiri mengartikannya sebagai nama universal (ism jami’) bagi setiap pemahaman makna, sedangkan apabila merujuk kepada pendapat al-Syafi’i, bayani merupakan nama universal bagi makna-makna yang terdapat dalam kumpulan landasan pokok (al-ashl) dan mengurai cabang (al-furu’)[3].
Munculnya tradisi bayani ini menurut al-Jabiri bukan suatu hal yang asal jadi. Akan tetapi memiliki akar historisnya dalam sejarah budaya dan tradisi pemikiran Arab. Aktivitas dan kelahiran bayani dimulai dengan apa yang disebut masa kodifikasi (‘asr tadwin), yaitu masa berlangsungnya proyek konstruksi budaya secara massif dalam pengalaman sejarah peradaban Islam, yakni antara pertengahan abad ke-2 H sampai pertengahan abad ke-3 H. Pada perkembangannya, peradaban ini telah membentuk kerangka rujukan bagi pemikiran Arab dengan segenap disiplin keilmuan yang beragam.[4]
Menurut al-Jabiri, aktivitas nalar bayani terjadi dalam tiga hal;
(1) aktivitas intelektual yang bertitik tolak dari ashl yang disebut dengan istinbat (penggalian pengetahuan dari teks), (2) aktivitas intelektual (al-tafkir) yang bermuara pada ashl yang disebut dengan qiyas, (3) aktivitas pemikiran dengan arahan dari ashl, yaitu dengan menggunakan metode al-istidlal al-bayani[5]. Dengan demikian, epistemologi bayani mempunyai ciri spesifik yaitu selalu berpijak pada ashl (pokok) yang berupa nas (teks).
Epistemologi ‘Irfani
Kata ‘irfan adalah bentuk masdar dari kata ‘arafa yang berarti ma’rifah (ilmu pengetahuan)[6]. Kemudian ‘irfan lebih dikenal sebagai terminologi mistik yang secara khusus berarti “ma’rifah” dalam pengertian “pengetahuan tentang Tuhan[7]”. Kalau ilmu (pengetahuan eksoterik) yakni pengetahuan yang diperoleh indera dan intelek melalui istidlal, nazhar, dan burhan, maka ‘irfan (pengetahuan esoterik) yaitu pengetahuan yang diperoleh qalb melalui kasyf, ilham, i’iyan (persepsi langsung), dan isyraq[8].
Epistemologi Burhani
Al-Burhan dalam bahasa Arab berarti argument yang clear dan distinc. Dalam pengertian logika, al-burhan adalah aktivitas fikir yang menetapkan kebenaran sesuatu melalui penalaran dengan mengkaitkan pada pengetahuan yang bukti-buktinya mendahului kebenaran. Sedangkan dalam pengertian umum, al-burhan berarti aktivitas fikir untuk menetapkan kebenaran sesuatu.[9]
Al-Jabiri menggunakan burhani sebagai sebutan terhadap sistem pengetahuan yang berbeda dengan metode pemikiran tertentu dan memiliki world view tersendiri, yang tidak bergantung pada hegemoni sistem pengetahuan lain. Burhani mengandalkan kekuatan indera, pengalaman, dan akal dalam mencapai kebenaran.
Metode burhani tersebut dapat diterapkan jika memenuhi beberapa tahap: pertama, tahap pembuatan pengertian yang mencakup jenis, nau’, dan fashl. Kedua, tahap pembuatan kalimat. Ketiga, tahap pembuatan silogisme. Silogisme adalah cara berargumen dengan dua premis dan satu kesimpulan.[10]
Karena itu, silogisme harus terdiri dari tiga hal, yaitu: (1) dua premis yang saling berhubungan, (2) premis pertama disebut premis mayor dan premis yang kedua disebut premis 14 minor, dan (3) premis penengah yang merupakan kesimpulan. Ketiga kecenderungan epistemologis Islam ini, secara teologis mendapatkan justifikasi dari al-Qur’an. Dalam al-Qur’an banyak ditemukan ayat-ayat yang berbicara tentang pengetahuan yang bersumber pada rasionalitas. Perintah untuk menggunakan akal dengan berbagai macam bentuk kalimat dan ungkapan merupakan suatu indikasi yang jelas untuk hal ini. Akan tetapi, meskipun demikian, tidak sedikit pula paparan ayat-ayat yang mengungkapkan tentang pengetahuan yang bersumber pada intuisi (hati atau perasaan) terdalam.
Berangkat dari Hellenisme Yunani yang spekulatif-kontemplatif, para sarjana muslim pada masa kejayaannya leluasa menyerap, kemudian memodifikasi menjadi tradisi filsafat sains yang berangkat dari postulat-postulat al-Qur’an dengan mengetengahkan tradisi berfikir empirikal-eksperimental. Usaha tersebut dilakukan dengan mendayagunakan perangkat-perangkat intelektual sebagai jalan mencari jawaban tentang hakikat realitas, baik yang nyata (fisis) maupun yang gaib (metafisis). Dari revolusi filsafat di tangan kaum muslimin ini, lahirlah konsep ilmu atau sains yang tegak di atas 15 postulat-postulat Qur’ani.[11]
[1] Muhammad ‘Abid al-Jabiri, Takwin al-’Aql al-’Arabi (Casablanca: Al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, 1991).
[2] Muhammad ‘Abid al-Jabiri, Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi: Dirasah Tahliliyah Naqdiyyah li Nuzhum al-Ma’rifah fi al-Tsaqafah al-Arabiyah (Casablanca: Al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, 1993)
[3] Ibid
[4] Muhammad ‘Abid al-Jabiri, Post Tradisionalisme Islam, Terj. Ahmad Baso (Yogyakarta: LKiS, 2000), h. 60
[5] Muhammad ‘Abid al-Jabiri, Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi, h. 113
[6] ibid
[7] Nalar ‘irfani yang dikehendaki oleh al-Jabiri adalah nalar ‘irfani dalam pengertian gnostik. Sehingga dari perspektif epistemologis, gnostik merupakan prinsip dasar, konsep, dan prosedur yang membangun dunia berfikir dalam peradaban Arab dengan dua porosnya; pertama, penggalian bahasa dengan menggunakan pasangan epistemologis makna eksoteris/esoteris yang sejajar dengan pasangan kata/makna dalam ternd akal retoris, dan kedua, mengabdi dan menggali manfaat dari politik secara bersamaan dengan menggunakan pasangan epistemologis kewalian/kenabian yang sejajar dengan pasangan epistemologis principium/cabang dan pasangan substansial/accidens dalam terend akal retoris. Lihat dalam Abied Shah, M. Aunul dan Sulaiman Mappiase, “Kritik Akal Arab: Pendekatan Epistemologis terhadap Trilogi Kritik al-Jabiri” dalam Islam Garda Depan, Ed. M. Aunul, Abied Shah (Bandung : Mizan, 2001), h. 317.
[8] Sutrisno, “Peta Epistemologi Islam menurut Muhammad ‘Abid al-Jabiri”, Mukaddiamah, Nomor 9 tahun VI, 2000, h. 39.
[9] Muhammad ‘Abid al-Jabiri, Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi, h. 383.
[10] Ibid., h. 392-393.
[11] Syamsul Arifin dkk, Spritualisasi Islam dan Peradaban Masa Depan (Yogyakarta: SIPRESS, 1996), h. 108.
Title: Copas: Epistimologi BAYANI, IRFANI dan BURHANI
Url : http://mbegedut.blogspot.com/2011/01/copas-epitimologi-bayani-irfani-dan.html
Diulas oleh : Kumpulan Ilmu












0 comment
Post a Comment