.

Copas: Model-Model Pengembangan E-Learning

Model-Model Pengembangan E-Learning
sebelumnya | copas: Perkembangan E-learning

Desain model pengembangan e-learning setidaknya dapat dikembang-kan dari dua model berikut ini:

Model Mental (Mental Model)

Model mental merupakan penyajian-penyajian konseptual dan operational yang dikembangkan ketika orang berhubungan dengan sistem kompleks. Model-model mental merupakan pemikiran yang terdiri atas kesadaran terhadap berbagai komponen dari suatu sistem dan dievaluasi menggunakan berbagai metode termasuk pemecahan masalah, trouble-shooting perfomance, ingatan informasi, pengamatan dan prediksi user (pengguna) terhadap perfomance (pengetahuan capaian). Model mental nampak lebih dari sekedar peta struktural dari komponen-komponen; meskipun pengetahuan sendiri merupakan peta mental yang harus disimpulkan dari suatu perbuatan.

Komponen-komponen model mental antara lain: pertama, pengeta-huan struktural, merupakan pengetahuan tentang konsep struktur domain pengetahuan dan diukur melalui jaringan dan peta atau lingkaran-lingkaran konsep. Metode ini berasumsi bahwa pengetahuan struktural dapat dibentuk menggunakan lambang. Kedua, pengetahuan capaian (perfomance), untuk tujuan menilai pengetahuan perfomance, pembelajar diberi tugas-tugas pemecahan masalah untuk menguji kesan visual mereka. Ketiga, pengetahuan reflektif, di sini pembelajar bisa menunjuk-kan kepada yang lain bagaimana cara melaksanakan suatu tugas tertentu. Dengan cara ini pembelajar pertama harus membuat daftar perintah, deskripsi tugas dan diagram alur untuk menguji gambaran mental nya.

Keempat, gambaran dari sistem, merupakan kenyataan model pembelajar yang secara khas dinilai dengan meminta pembelajar untuk mengartikulasikan dan memvisualisasikan bentuk - bentuk fisik. Kelima, kiasan-kiasan (metaphor), seperti juga gambar-gambar, pembelajar akan sering menghubungkan sistem baru dengan pengetahuan ada sehingga dapat dilihat orang lain. Keenam, pengetahuan eksekutif, untuk tujuan memecahkan permasalahan, pembelajar harus mengetahui kapan mengaktifkan dan menerapkan sumber daya kognitif yang diperlukan.

Model Belajar Magang Kognitif (cognitive apprenticeship model)

Model ini berdasarkan pada berbagai kondisi-kondisi belajar misalnya belajar berlangsung dalam konteks aktivitas yang berkelanjutan, penuh arti dimana pembelajar perlu menerima umpan balik segera. Orang lain dapat bertindak sebagai model-model yang menyediakan bentuk yang dihubungkan dengan pengalaman pembelajar; konsep belajar fungsional dengan tujuan belajar yang tegas.

Model belajar magang tradisional biasanya memberi peluang untuk latihan. Karakteristik model belajar ini antara lain: gagasan bahwa peker-jaan adalah daya penggerak, dan penguasaan progresif terhadap tugas-tugas dihargai sebagai nilai penyelesaian pekerjaan; ketrampilan-ketrampilan tertentu diawali dengan belajar tugas; belajar dipusatkan pada capaian (perfomance) dan kemampuan untuk melakukan sesuatu; dan standar pencapaian diaktualisasikan dalam pekerjaan nyata.

Sesuatu yang dapat dijadikan teladan dalam metodologi belajar tradisional yakni menyediakan satu dasar pijakan untuk penggunaan model belajar magang kognitif dalam pengembangan materi print dan Web-based. Model ini mengabaikan perbedaan-perbedaan antara pendidikan dan pelatihan dan membantu pembelajar untuk menjadi seorang ahli.