.

Copas: Perbandingan antara Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani (Perbedaan)

Perbandingan antara Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani (Perbedaan)
Sebelumnya | Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif dalam Metematika

Filsafat Islam memiliki keunikan dalam topik dan isu yang digarap, problem yang coba dipecahkan, dan metode yang digunakan dalam memecahkan permasalahan-permasalahan itu.

Filsafat Islam selalu berusaha untuk mendamaikan wahyu dan nalar, pengetahuan dan keyakinan, serta agama dan filsafat. Filsafat Islam bertujuan untuk membuktikan bahwa pada saat agama berpelukan dengan filsafat, agama mengambil keuntungan dari filsafat sebagaimana filsafat juga mengambil manfaat dari agama. Pada intinya, filsafat Islam adalah hasil kreasi dari sebuah lingkungan di mana ia tumbuh dan berkembang, dan jelasnya, filsafat Islam adalah filsafat agama dan spiritual.

1. Topik Filsafat Islam: Meskipun filsafat Islam berorientasi religius, ia tidak mengabaikan isu-isu besar filsafat, seperti problem keberadaan dalam waktu, ruang, materi dan kehidupan. Cara pengkajian filsafat Islam terhadap epistemologi pun unik dan komprehensif. Ia membedakan antara kedirian (nafs) dan nalar, potensi bawaan sejak lahir dan al-muktasab, ketepatan dan kesalahan, pengetahuan dzanni dan qath’i. Filsafat Islam juga mengkaji tentang definisi serta klasifikasi kebaikan dan kebahagiaan.

Para pemikir Muslim membagi filsafat ke dalam dua kategori umum, spekulasi dan praktis, dan diskusi mereka mencakup berbagai macam topik semisal filsafat alam, matematika, metafisika, etika dan politik.

Dengan jelas para pemikir Muslim percaya bahwa filsafat memiliki ruang lingkup yang lebih luas daripada yang diyakini saat ini, dan karenanya, karya-karya mereka mirip dengan para filosof Yunani, khususnya Aristoteles. Secara umum, seluruh bidang ilmu pengetahuan dianggap sebagai cabang-cabang filsafat dalam  Islam.

Dengan fakta seperti itu, wajar jika akhirnya, kajian komperehensif terhadap filsafat Islam haruslah meliputi berbagai disiplin ilmu lain, khususnya tasawuf dan teologi. Karena capaian dua disiplin ilmu ini terkadang lebih filosofis dari apa yang ada di filsafat sendiri.

2.  Filsafat Islam dan Skolastikisme Kristen: Apa yang telah kita kaji barangkali memberikan gambaran akan bentuk pemikiran-pemikiran filosofis dalam Islam. Dan merupakan sebuah kesalahan untuk membatasi diri kita –sebagaimana yang telah dilakukan para sarjana Eropa abad ke-19– hanya mempelajari terjemahanterjemahan Latin dan Ibrani saja. Faktanya, jika kedalaman dan keluasan pemikiran para filosof Muslim pernah secara gamblang dan jelas dipahami, hal itu pasti melalui pengujian orisinalitas asal-usul mereka.

Walaupun tidak seluruh teks-teks asli telah dipublikasikan dan diteliti, tapi cukup kuat untuk meyakinkan kita bahwa bahan-bahan yang dikumpulkan oleh para pemikir Muslim pada abad pertengahan lebih banyak daripada yang dikumpulkan oleh para sarjana Kristen saat itu. Dan bahwa para pemikir Muslim mengeksplorasi ruang lingkup pembahasan yang lebih luas, menikmati lebih banyak kebebasan, dan membuat lebih banyak penemuan daripada rival mereka. Karenanya, seseorang yang akan membahas pemikiran Kristen skolastik, hendaknya membahas filsafat dan skolastikisme Islam dahulu, karena pemikiran skolastik Kristen banyak berhutang pada skolastikisme Islam untuk mengembangkan dan memecahkan beberapa problematika yang dihadapinya.

3. Filsafat Islam dan Filsafat Yunani: Kita tidak mengingkari kenyataan bahwa filsafat Islam dipengaruhi oleh filsafat Yunani. Aristoteles khususnya. Kita juga tidak menyangkal bahwa para pemikir Muslim takjub pada Plotinus dan mengikutinya dalam beberapa hal. Sebuah kata yang tidak diulang pengucapannya akan dilupakan dan mati, dan siapa yang tidak merupakan murid di sekolah para pendahulunya? Kita, anak-anak abad ke-20, masih mengandalkan beberapa karya ilmiah Yunani kuno dan Romawi. Jika kita nekat menggunakan dan mengikuti lagu ganjil yang dimainkan oleh Renan, yang mengklaim bahwa filsafat Islam tidak lain dari sekadar replika dari filsafat Aristoteles, kita akan salah kaprah. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa filsafat Islam terpengaruh oleh beberapa faktor, kemudian menghasilkan banyak ide dan pandangan baru. Sebagaimana filsafat Islam terpengaruh oleh Yunani, ia juga terpengaruh oleh tradisi pemikiran India dan Persia.

Pengambilan dan pengadopsian sebuah ide tidak selalu menghasilkan taklid buta. Beberapa orang mungkin menguji beberapa topik tertentu, dan hasilnya berbeda satu sama lain. Seorang filosof mungkin menggunakan ide filosof lain, tapi hal ini tidak mencegahnya untuk melahirkan ide baru atau bahkan sistem filsafat baru. Spinoza, misalnya, walau dengan jelas mengikuti jejak Descartes, menciptakan sistem filsafatnya sendiri yang mandiri. Ibn Sina, walau merupakan murid setia Aristoteles, memiliki pandangan-pandangan yang tidak pernah dinyatakan oleh gurunya. Setiap filosof Muslim hidup dalam lingkungan yang berbeda-beda, dan merupakan sebuah kesalahan kalau kita mengingkari pengaruh dari hal tersebut terhadap ide filsafat dan pandangan-pandangan mereka. Dan akhirnya, walaupun Islam terpengaruh oleh Yunani dan lainnya, Islam tetap memiliki tradisi filsafat orisinil yang sesuai dengan kondisi sosial dan prinsip-prinsip agama.

4. Filsafat Islam dan Filsafat Modern: Kita menyadari adanya kait kelindan antara filsafat modern dan filsafat abad pertengahan, di satu sisi, dan pengaruh filsafat Islam terhadap pemikiran Eropa abad pertengahan di sisi lain. Lalu bagaimana mungkin kita mengingkari pengaruh pemikiran Islam terhadap filsafat modern?

Umum diketahui bahwa sejarah filsafat modern bermula dengan pembahasan dua topik penting: pertama, aspek eksperimen, yang berhubungan dengan materi realitas eksternal. Dan kedua, spekulasi, yang berkonsentrasi pada ilmu pengetahuan rasional. Dengan kata lain, ekperimen Bacon di satu sisi dan keraguan Descartes di sisi lain, merupakan materi diskusi dan kontroversi di era modern. Para pemikir skolastik Kristen dan filosof renaissance melakukan eksperimen dan meneliti alam jauh sebelum Bacon. Roger Bacon, yang disebut Renan sebagai “pangeran pemikiran abad pertengahan”, tidak membatasi dirinya sendiri pada eksperimen kimia saja tapi meliputi seluruh segi alam. Jika sudah jelas bahwa Bacon memiliki kontak dengan karya-karya ilmuwan Muslim, kita bisa menyimpulkan bahwa pendekatan eksperimennya, atau (bahkan) permulaan eksperimen selama renaissance secara umum, merupakan produk dari pemikiran Islam dan para pemikir Muslim, karena merekalah yang menggunakan observatorium dan laboratorium untuk mengungkap kebenaran-kebenaran ilmiah.

Sedangkan kaitannya dengan keraguan Kartesian, ada bukti bahwa hal itu telah ada selama abad pertengahan Kristen. Kita percaya bahwa studi tentang muasal keraguan Kartesian akan cacat jika tidak diiringi dengan penelusurannya di dalam filsafat Islam. Siapa yang bisa menyatakan bahwa keraguan Descartes tidak –baik secara utuh maupun sebagian– terpengaruh oleh keraguan al-Ghazali? Bahkan jika kita membuang pertanyaan tentang keterpengaruhan, kedua filosof tersebut tetap memiliki kesamaan dan kemiripan terma dalam berpikir. S. Van den Bergh dalam karyanya bertajuk Die Epitome der Metaphysik des Averroes menunjukkan bahwa “cogito”-nya Descartes tidak secara penuh terinspirasi oleh St. Augustina dan bahwa ada banyak kemiripan antara cogito tersebut dengan ide Ibn Sina tentang “manusia yang melayang di awangawang.”

Terbukti bahwa pengaruh dunia kuno benar-benar ada dan diperbarui selama abad pertengahan. Mengapa kita harus mengingkarinya? Ide-ide dan opini tidak bisa dibatasi oleh garis batas geografi, pergerakannya tidak bisa dihalau. Apa yang pada suatu saat dulu dianggap sebagai rahasia atom, kini dianggap sebagai pengetahuan ilmiah biasa yang diketahui semua orang di dunia.

Berikut beberapa tambahan contoh yang menjadi bukti bahwa filsafat Islam tidak sama dengan filsafat Yunani dari segi ilmu Tuhan dan Iradah (kehendak):

1-masalah ilmu Tuhan: menurut Aristo, Tuhan tidak mengetahui sesuatu di alam raya ini, karena ma’lumat berubah-ubah. Jika ilmu Tuhan bergantung pada ma’lumat yang berubah-ubah ini, maka ilmu Tuhan juga akan berubah-ubah, sedangkan sifat berubah-ubah itu sendiri merupakan kekurangan yang tidak pantas di sandarkan kepada Dzat Tuhan. Aristo ingin memberikan solusi dari sebuah masalah dengan cara menafikan ilmu Tuhan.

Apakah pandangan Aristo ini sama persis dengan pandangan Ibnu Sina?Sehingga kita katakan bahwa Ibnu Sina Hanya menukil pemikiran Aristo, tidak mendatangkan sesuatu yang berbeda, ia hanya memindahkan pandangan Aristo ini kedalam bahasa Arab.

Sesungguhnya tidak demikian, Ibnu Sina justru menambahkan point penting dalam pandangan Aristo terkait dengan ilmu Tuhan ini, point penting tersebut adalah “al ilmu al kulli” (ilmu universal/universal science) yang tidak berubah seiring dengan perubahan waktu. Dengan demikian menurut Ibnu Sina Tuhan mengetahui segala sesuatu - tidak seperti Aristo – dan ilmu Tuhan terbebas dari perubahan.

2-Masalah iradah (kehendak) Tuhan: menurut Aristo alam raya bergerak menuju Tuhan karena syauqan (rindu) bukan karena kehendak Tuhan. Dalam hal ini Ibnu Sina berpendapat berbeda, meskipun ia berpendapat bahwa alam muncul dari Tuhan secara akal akan tetapi Ibnu Sina menegaskan bahwa Tuhan adalah ‘illat al ‘ilal (ilat dari segala ilat) artinya, Tuhan merupakan Dzat yang mempengaruhi meskipun perantaranya beraneka ragam.

Daftar Bacaan
  1. Wikipedia
  2. Drs. H. A. Mustofa. 2007. FILSAFAT ISLAM. Bandung: Pustaka Setia Internet.
  3. DR.Mu’thi Bayumi, Madkhol ilaa dirasah al falsafah al islamiyah, (al Azhar, Cairo, Mesir) cet II, 1998.
  4. Ibnu Khaldun, Mukaddimah, Daar al Kutub al ‘Ilmiyah, Bairut, cet: I 1993
  5. Abi al Fathi Muhammad bin abdu al karim as Syahrastani, al milal wa annihal, maktabah ‘Ashriah, Bairut, cet: I, 2000 M/1420 H .
  6. DR. Muhammad Hamdi Zaqauq, Dirasaaat fi al Falsafah al haditsah