Faktor Pendukung dan Penghambat Keberhasilan Pembelajaran Tematik


Keberhasilan proses pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya  adalah  guru,  siswa,  sarana  dan  prasarana serta  lingkungan.
 
Berdasarkan hasil temuan penelitian yang diperoleh pada tahap ujicoba maupun pelaksanaan ujicoba dapat diketahui bahwa faktor-faktor ini juga dapat menghambat dan  mendukung  keberhasilan  penerapan model pembelajaran tematik.
a.  Guru
Guru merupakan komponen yang sangat menentukan dalam implementasi model pembelajaran  tematik.    Keberhasilan  penerapan  model  pembelajaran tematik ini terutama berhubungan dengan kualitas atau kemampuan yang dimiliki oleh guru. Berikut ini beberapa aspek yang mempengaruhi kemampuan guru dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik.

1) Pandangan dan pemahaman guru terhadap pembelajaran tematik
Pandangan dan pemahaman guru terhadap pembelajaran tematik akan sangat mempengaruhi guru dalam penerapan pembelajaran tematik. Guru yang menganggap mengajar  hanya  sebatas  menyampaikan  materi  pelajaran  akan berbeda dengan guru yang menganggap mengajar adalah suatu proses pemberian bantuan kepada peserta didik.

Kondisi  ini  pula  yang  terlihat  pada  penelitian  tentang  implementasi pembelajaran tematik.   Terdapat perbedaan keberhasilan pembelajaran baik dari sisi proses maupun produk pembelajaran di sekolah baik, sedang maupun kurang. Kondisi ini terjadi dapat dipahami karena guru di sekolah baik, sedang, maupun kurang memiliki pandangan yang berbeda terhadap mengajar. Sebagaimana terungkap pada waktu studi awal, guru sekolah sedang memiliki pendapat bahwa tujuan memberikan pengajaran kepada siswa SD adalah untuk mengubah perilaku murid ke arah yang lebih baik. Sedangkan guru di sekolah baik dan kurang memiliki pandangan bahwa tujuan mengajar adalah untuk memberikan materi pelajaran sesuai dengan kurikulum. Perbedaan ini akhirnya mempengaruhi kemampuan guru dalam menerapkan strategi pembelajaran. Guru yang memiliki pandangan berorientasi pada materi cenderung menerapkan pembelajaran dengan pola satu arah. Kurang memberikan kebebasan kepada siswa untuk berkreasi dalam pembelajaran. Kondisi ini tentunya pula akan mempengaruhi kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

Berdasarkan hasil studi awal yang terungkap melalui kuisioner dan wawancara terhadap guru, dapat diketahui pula bahwa pemahaman guru terhadap pembelajaran tematik baik dalam perancangan maupun penerapannya masih sangat kurang. Kurangnya pemahaman guru terhadap pembelajaran tematik ini terjadi pada semua guru, baik guru di sekolah, sedang, maupun kurang.

Kondisi ini sangat mempengaruhi proses penerapan selama ujicoba dilakukan. Hal ini terlihat pada waktu observasi penerapan pembelajaran tematik pada saat ujicoba awal. Semua guru terlihat kaku dan bingung dalam memadukan materi pelajaran yang terkait dengan tema, akan tetapi setelah dilakukan beberapa kali ujicoba baru terlihat guru tidak lagi kaku.

2)  Latar belakang pendidikan guru
Berdasarkan  hasil  stui  awal  dapat  diketahui  bahwa  latar  belakang pendidikan terakhir  yang  dimiliki  oleh  guru  seluruhnya  adalah  dari  Sekolah Pendidikan Guru (SPG) atau setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dua orang guru diantaranya sedang  mengikuti  kuliah  penyetaran  untuk  jenjang pendidikan D2 PGSD. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara akademik, ketiga responden penelitian belum memenuhi kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana  (S-1) seperti disyaratkan dalam Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 bab VI pasal 28 tentang standar pendidik dan tenaga kependidikan.

Latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh guru saat ini tentunya sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan model pembelajaran tematik. Apalagi mengingat kesempatan yang diberikan kepada guru untuk menambah pengetahuan dan keterampilan tentang penerapan model pembelajaran tematik masih sangat kurang. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Wachidi (2000:183) bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seorang guru akan semakin mudah menangkap dan memahami esensi dan isi inovasi yang sedang berjalan di sekolah.

3)  Pengalamam mengajar
Pengalaman mengajar guru yang menjadi subjek penelitian berbeda-beda. Dua orang responden guru yaitu guru sekolah sedang dan kurang memiliki pengalaman mengajar kurang dari  10 tahun.  Sedangkan guru sekolah baik memiliki pengalaman mengajar lebih dari 10 tahun. Kondisi ini tentunya sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan model pembelajaran tematik. Hal ini terutama berhubungan dengan tingkat kepahaman guru akan karakteristik siswa SD terutama di kelas rendah dan  penguasaan guru terhadap keterampilan mengajar. Diasumsikan guru yang memiliki pengalaman mengajar lama akan memiliki tingkat kepahaman akan karakteristik siswa dan penguasaan terhadap keterampilan mengajar yang lebih jika dibandingkan dengan guru yang baru memiliki pengalaman mengajar yang sedikit.

b.  Faktor siswa
Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Perbedaan perkembangan ini pula yang terlihat  pada  siswa  yang  menjadi subjek penelitian di sekolah kategori baik, sedang maupun kurang.

Dilihat dari usia biologis siswa di sekolah baik, sedang maupun kurang rata-rata  diantara  tujuh  sampai  dengan  delapan  tahun, akan tetapi setiap siswa memiliki  kemampuan  belajar  yang  berbeda. Menurut  Sanjaya (2006:52) kemampuan belajar siswa dapat dikelompokkan pada siswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah.    Siswa  yang  termasuk  berkemampuan  tinggi  biasanya ditunjukkan oleh motivasi yang tinggi dalam belajar, perhatian dan keseriusan dalam mengikuti pelajaran, dan lain-lain. Sebaliknya siswa yang tergolong pada kemampuan rendah ditandai  dengan  kurang motivasi belajar, tidak adanya keseriusan dalam mengikuti pelajaran,  termasuk menyelesaikan tugas dan sebagainya.

Berdasarkan  kriteria  pengelompokkan  tersebut, dari hasil obeservasi diketahui bahwa siswa yang termasuk dalam kelompok berkemampuan rendah di sekolah kategori baik ada lima orang (13%), sekolah sedang satu orang (10%) dan di  sekolah kurang ada tiga orang  (20%). Perbedaan-perbedaan semacam ini tentunya membutuhkan perlakuan yang berbeda pula baik dalam penempatan atau pengelompokan siswa maupun dalam perlakuan guru dalam menyesuaikan gaya belajar.

c.   Sarana dan prasarana
Berdasarkan hasil observasi dan studi dokumentasi yang dilakukan pada studi awal, diketahui bahwa ketiga sekolah yang menjadi lokasi penelitian pada umumnya telah memenuhi syarat minimal sebagai suatu pusat pendidikan, karena tiap sekolah telah memiliki ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, kamar kecil (WC) dan halaman tempat dilakukannya aktivitas di luar kelas. Apalagi dalam penerapan model pembelajaran tematik tidak dibutuhkan sarana yang spesifik untuk menunjang keberhasilan penerapan pembelajaran tematik. Artinya dengan sarana yang dimiliki oleh ketiga sekolah saat ini, model tersebut dapat diimplementasikan.  Selain itu juga sekolah telah dilengkapi dengan prasarana yang memadai, seperti penerangan dan jalan menuju sekolah yang cukup baik.

Dalam keadaan minimal, kondisi ini tentunya tidak menghambat penerapan pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik dapat terlaksana dengan baik pada sekolah kategori baik sedang maupun kurang, yang memiliki perbedaan secara nyata dari sisi kelengkapan sarana prasarananya. Sekolah kategori baik memiliki kelengkapan sarana prasarana yang sudah cukup memadai untuk menunjang keberhasilan penerapan pembelajaran tematik. Hal ini juga disepakati oleh guru yang menyatakan bahwa kelengkapan sarana dan prasarana yang telah dimiliki oleh guru di sekolah kategori baik saat ini dirasakan sudah cukup memadai. Pendapat ini tidak sama dengan guru di sekolah kategori sedang maupun kurang yang menyatakan bahwa sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah mereka saat ini diarasakan masih kurang.

Kondisi ini dapat dipahami karena kelengkapan sarana dan prasarana akan membantu guru dalam penyelenggaraan proses pembebelajaran. Menurut Sanjaya (2006:53) keuntungan bagi sekolah yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana  adalah pertama  dapat  menumbuhkan  gairah  dan  motivasi  guru mengajar, kedua dapat memberikan berbagai pilihan pada siswa untuk belajar.

d.  Lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi penerapan model pembelajaran tematik dan menjadi fokus dalam penelitian ini adalah dilihat dari dukungan kepemimpinan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap guru, diketahui bahwa pada umumnya respon kepala sekolah di tiap sekolah baik, sedang maupun kurang, sesungguhnya cukup baik. Ketiga responden menyatakan bahwa kepala sekolah cukup mendukung guru jika terdapat kesempatan ataupun peluang yang diterima oleh guru untuk menambah wawasan atau keterampilan mereka sebagai seorang guru. Seperti misalnya ketika peneliti mengutarakan maksud peneliti untuk melakukan ujicoba penerapan model pembelajaran tematik. Menurut guru, kepala sekolah sangat mendukung dan memberikan motivasi kepada mereka untuk menerima tawaran tersebut, akan tetapi proses bimbingan secara langsung yang diberikan oleh kepala sekolah  terhadap  guru, terutama yang berhubungan dengan penerapan pembelajaran tematik tidak pernah mereka dapatkan. Kondisi ini dapat dipahami, bahwa menurut penuturan kepala sekolah yang diperoleh dari hasil wawancara, diketahui bahwa kepala sekolah sendiri belum memiliki pemahaman yang cukup akan perancangan dan penerapan model pembelajaran tematik di kelas rendah.

Masing-masing kepala sekolah mengakui pernah mendapatkan workshop tentang pembelajaran tematik dari Dinas Pendidikan Kabupaten setempat, akan tetapi karena keterbatasan waktu dan jumlah peserta yang banyak, kepala sekolah mengatakan tidak mendapatkan pengetahuan yang memadai dari workshop tersebut. Akhirnya tindakan yang dilakukan oleh kepala sekolah untuk membantu guru adalah ada yang menggunakan cara dengan menambah buku sumber pelajaran bagi guru, mendorong guru untuk aktif dalam kegiatan KKG maupun membantu guru dalam perancangan pembelajaran tematik.