.

Guru Dan Interaksi Edukatifnya Dengan Siswa Dalam Proses Belajar Mengajar

guru,
Dalam konteks pembelajaran di kelas, substansi keberadaan seorang guru bukanlah hanya sekedar mengalihkan informasi dan hafalan-hafalan yang kadang-kadang kering tanpa makna itu, tetapi bagaimana mendorong, membimbing, dan memfasilitasi peserta didik agar mereka sungguh-sungguh mau belajar. Ini penting, mengingat substansi mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga mereka sungguh-sungguh mau belajar. Atau yang mungkin sering kita sebut dengan interaksi edukatif. “Teaching is the guidance of learning activities, teaching is for purpose of aiding the pupil learn,” demikian William Burton.


Dengan demikian, bisa ditarik hipotesis, bahwa siswalah yang sesungguhnya harus berperan aktif dalam proses pembelajaran. Sedangkan Guru memfasilitasi bagaimana proses “learning by doing” itu dilaksanakan. Dengan cara ini diharapkan siswa sungguh termotivasi untuk mengaktualisasi potensi yang mereka miliki secara optimal. Permasalahannya, bagaimana caranya agar siswa sungguh aktif dalam proses pembelajaran dan termotivasi untuk melejitkan prestasi yang dimilikinya? Dalam konteks inilah, penciptaan dan penataan suatu kondisi edukatif yang nyaman, aman, tenang, dan tenteram menuju efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran mutlak diperlukan. Penciptaan dan penataan ini diantaranya menyangkut relasi dan Interaksi Edukatif antara guru dan siswa terutama dalam proses pembelajaran di kelas.

Bentuk relasi dan interaksi yang diharapkan adalah adanya suasana yang menyenangkan, akrab, penuh pengertian, dan mau memahami sehingga siswa merasakan bahwa dirinya telah dididik dengan penuh cinta dan tanggung jawab. Bentuk relasi dan interaksi sosial-edukatif yang akrab dan penuh kekeluargaan antara guru dan siswa ini sangat bermanfaat bagi siswa karena hal itu akan menjadi model dalam pergaulan sehari-hari siswa dengan teman-temannya dan lingkungannya.

Agar penciptaan dan penataan relasi dan interaksi sosial-edukatif antara guru dan siswa tersebut dapat berlangsung efektif, maka guru harus memahami prinsip-prinsip interaksi edukatif secara baik. Mengkristalisasikan Sobiyati (2005) terkait prinsip-prinsip interaksi edukatif ini, paling tidak ada 9 (sembilan) prinsip interaksi edukatif yang mesti dikuasai guru.

Pertama, prinsip motivasi. Motivasi anak didik untuk pelajaran tertentu tidak sama. Untuk itu, guru harus mampu memotivasi rasa ingin tahu, ingin mencoba, bersikap mandiri, dan ingin maju (belajar) dalam diri anak didik. Guru harus mampu memberikan motivasi dalam takaran yang tepat untuk masing-masing anak didik.

Kedua, prinsip persepsi yang dimiliki anak didik. Ketika guru melakukan apersepsi mata pelajaran yang akan disampaikan pada anak didik, guru harus memperhatikan latar belakang pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki/dialami anak didik. Dengan demikian anak didik akan dapat menanggapi dan berkonsentrasi terhadap mata pelajaran yang disampaikan dan dapat memahaminya dengan baik.

Ketiga, prinsip fokus. Titik pusat perhatian dapat tercipta melalui upaya merumuskan masalah yang hendak dibahas atau dipecahkan, merumuskan pertanyaan yang hendak dijawab, atau merumuskan konsep yang hendak ditemukan. Fokus akan membatasi keluasan dan kedalaman materi dalam proses pembelajaran serta akan memberikan arah kepada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

Keempat, prinsip keterpaduan. Guru harus dapat memberikan penjelasan yang mengaitkan materi antara satu pokok bahasan dengan pokok bahasan lainnya. Ia juga harus dapat mengaitkan antara materi pelajaran hari ini dengan materi terdahulu, atau antara mata pelajaran yang berbeda sejauh hal itu saling melengkapi.

Kelima, prinsip pemecahan masalah (problem solving). Guru perlu ‘menciptakan’ masalah berdasarkan pokok bahasan tertentu dalam mata pelajaran tertentu, untuk dipecahkan oleh anak didik. Prinsip pemecahan masalah ini penting untuk mendorong anak didik lebih bersemangat, lebih tegar, lebih sabar, lebih tekun dalam menghadapi masalah belajar.

Keenam, prinsip mencari, menemukan, dan mengembangkan sendiri. Guru hanya memberikan stimulus melalui informasi singkat yang diberikan kepada anak didik. Selebihnya, anak didik (tentu dengan difasilitasi) disuruh mencari, menemukan, dan mengembangkan temuannya sendiri. Ketujuh, prinsip belajar sambil bekerja (learning by doing). Belajar secara verbal saja tidak efektif, tanpa disertai konsep belajar realistik atau belajar sambil bekerja. Learning by doing adalah belajar sambil bekerja melakukan aktivitas yang sesuai dengan tema bahasan.  Cara ini lebih baik karena kesan yang didapat anak didik akan lebih lama tersimpan dan lebih mudah dipahami.

Kedelapan, prinsip relasi sosial. Proses belajar yang baik dan efektif tidak hanya bisa dilakukan sendiri, tetapi juga bisa dilakukan dalam bentuk kelompok belajar, kelompok diskusi, bahkan dialog hangat antara guru dan anak didik. Dengan begitu siswa dapat mengembangkan aspek afektifnya.

Kesembilan, prinsip keunikan individu. Siswa adalah individu (pribadi) yang unik. Ia berbeda dengan siswa lainnya, baik dari aspek intelektual, emosional, biologis maupun psikologis. Untuk itulah, guru harus peka dan luwes dalam melakukan interaksi edukatif dengan memahami mereka secara individual. Diharapkan dengan memahami (bahkan menguasai) prinsip-prinsip interaksi edukatif dan mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran, guru dapat mengajar dengan gaya yang efektif dan menyenangkan anak didiknya.

Sumber: Pontianak Pos