.

Manusia, Peradaban dan Kebudayaan

Makalah Manusia, Peradaban dan Kebudayaan
Dalam al-Qur’an, manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardi dan dilengkapi Allah dengan “akal budi” dan memiliki kemampuan “cipta, karsa, dan rasa”. Dengan akal budi, manusia mampu memikirkan kosep-konsep maupun menyusun prinsip-prinsip yang diusahakan dari berbagai pengamatan dan percobaan. Dengan kemampuan cipta, karsa, dan rasa, manusia mampu menjadikan keindahan penciptaan alam semesta seluruhnya dan ciptaan kekuasaan-Nya. “Dan dialah yang telah menciptakan bagi  kamu sekalian pendengaran, penglihatan, dan hati. (Tetapi) sangat sedikit kamuu yang bersyukur”. (Q.S. al-Mu’minun, 23:78).

Allah telah mendorong manusia untuk memikirkan alam semesta, mengamati berbagai gejala alam, merenungkan berbagai ciptaan-Nya dan mengungkapkan hukum-hukum Allah di alam semesta ini. “Manusia mampu menggunakan akalnya, yaitu menyatukan spritual (tauhid) antara rasio yang memikirkan penciptaan alam dengan al-qalb yang mengingat Tuhan dalam segala tanda-tanda kekuasaan-Nya. Akal yang bekerja melalui kesatuan pikir dan zikir mampu mentransendir realitas. Aqal, tidak sepenuhnya hanya diartikan dengan rasio semata-mata, karena rasio (pikiran) dapat dikembangkan oleh kajian ilmu-ilmu, sedangkan zikir (al-qalb) dikembangkan oleh spritualisme agama. Maka, keduanya merupakan kesatuan pembentuk kebudayaan.

Manusia sebagai khalifah Allah dituntut untuk mampu menciptakan piranti kehidupannya, yaitu kebutuhan rohani (ilmu, seni, budaya, sastra), kebutuhan jasmani atau fisik (sandang, pangan, perumahan, peralatan teknologi, dan kebutuhan sosial (sarana ibadah, sarana pendidikan, sarana pembangunan, angkutan umum). Maka dengan karunia Allah, berupa akal budi,  cipta,  rasa,  dan  karsa  manusia mampu menciptakan kebudayaan. Manusia dengan akal budinya mampu mengubah nature menjadi kultur, mampu mengubah alam menjadi kebudayaan.[1] Manusia tidak  hanya semata-mata terbenam di tengah-tengah alam, justru manusia mampu mengutik-utik  alam dan mengubahnya menurut kemauannya sehingga tercipta  apa  yang dinamakan kebudayaan. Seperti dikatakan C.A. Van Peursen, “manusia berlainan dengan hewan-hewan, maka manusia tidak hidup begitu saja di tengah-tengah alam, melainkan selalu mengubah alam itu. Entah manusia menggarap ladangnya atau membuat sebuah laboratorium untuk penyelidikan ruang angkasa, entah manusia mencuci tangannya atau memikirkan suatu sistem filsafat, pokoknya hidup manusia lain dari hidup seekor hewan, ia selalu mengutik-utik lingkungan hidup alamiyahnya, dan justru itulah kita namakan kebudayaan.[2]

Dengan demikian, segala sesuatu dapat dimungkinkan untuk diciptakan oleh manusia, maka ciptaan manusia yang dinamakan kebudayaan itu mempunyai sifat, corak dan ragam yang luas dan kompleks. Ada kebudayaan yang material, yang  dapat  dilihat  dan diraba karena wujudnya kongkrit, seperti pakaian, kancing, mesin ketik, komputer dan sebagainya. Ada pula kebudayaan immaterial, yang tidak dapat dilihat dan diraba karena wujudnya abstrak, seperti ilmu pengetahuan, kesenian, dan lain sebagainya.[3] Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan yang beraneka ragam sifat, jenis dan coraknya itu, paling sedikit mempunyai tiga wujud, yaitu:
  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma, peraturan dan sebagainya.
  2.  Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas, kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.[4]

Dari uraian ini, tampak jelas bahwa hubungan antara manusia dan kebudayaan, manusia sebagai penciptanya, juga manusia sebagai pemakai kebudayaan maupun sebagai pemelihara atau sebagai perusak kebudayaan.


Kebudayaan
Kata kebudayaan berasal dari kata Sangsekerta budhayah, bentuk jamak dari “buddi” yang berarti budi atau akal. Jadi, kebudayaan biasa diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Ada seorang sarjana yang mengupas kata “budaya”  sebagai perkembangan kata “budidaya” yang berarti  daya dari budi (P.J. Zoetmulder, seperti dikutip Koentjaraningrat, 1982: 80). Karena itu, kata budaya dan kebudayaan dibedakan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangkan kebudayaan berarti segala hasil dari cipta, karsa, dan rasa itu (MM. Djoyodiguno, 1958:24).  Dalam  antropologi  budaya  tidak  ada perbedaan arti antara budaya dan kebudayaan. Dalam hal ini kata budaya hanya dipakai sebagai penyingkat saja.

Adapun kata culture yang artinya sama dengan kebudayaan, berasal dari  kata  Latin  colere yang berarti mengolah, mengerjakan, terutama mengolah tanah, atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culture sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

Mengenai definisi kebudayaan telah banyak dikemukakan oleh para ahli ilmu sosial.   Para sarjana dan ahli antropologi yang memberikan definisi tentang kebudayaan, yaitu:
  1. E.B. Taylor (Inggris), dalam bukunya Primitive Culture, mendefinisikan  kebudayaan sebagai keseluruhan kompleks yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan yang lain, serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
  2. R. Lintonn, dalam bukunya The Cultural Background of Personality, mendefinisikan kebudayaan sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil  tingkah  laku yang unsure-unsur pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota dari masyarakat tertentu.
  3. A.L. Kroeber dan Clyde Kluckhon, kebudaayaan adalah keseluruhan hasil perbuatan manausia yang bersumber dari kemauan, pemikiran, dan perasaannya. Karena jangkauannya begitu luas, maka Ernest Cassire, membaginya ke dalam lima aspek yang meliputi: kehidupan spiritual, bahasa dan kesusasteraan, keseniaan, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, studi  tentang  kebudayaan berarti studi mengenai tingkah laku manusia. Tingkah laku manusia dalam cahaya studi budaya dapat dilukiskan sebagai kerja, dan bicara. Tiga aktivitas tersebut disebut gerakan  dasar  karena sesuai dengan tiga syarat yang menguasai eksistensi manusia di dunia.
  4. S.T. Alisahbana, kebudayaan adalah menifestasi suatu bangsa.
  5. M. Hatta, kebudayaan adalah ciptaan hidup suatu bangsa.
  6. Dauson, dalam bukunya, Age of the Gods, mengartikan kebudayaan sebagai cara hidup bersama (culture is common way of life).
  7. J.P.H. Duyvendak, kebudayaan adalah kumpulan dari cetusan jiwa manusia sebagai yang beraneka ragam, dan berlaku dalam suatu masyarakat tertentu.
  8.  Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.
  9.  M.M. Djojodigoeno,  dalam bukunya  Asas-asas  Sosiologi (1958), menyatakan bahwa kebudayaan atau budaya adalah dari budi, yang berupa cipta, karsa, dan rasa. Cipta, adalah kerinduan manausia untuk mengetahui rahasia segala hal yang ada dalam pengalamannya, yang meliputi pengalaman lahir dan batin. Hasil cipta berupa berbagai ilmu pengetahuan. Karsa, adalah kerinduan manusia untuk menginsafi tentang hal sangka paran. Dari mana maanusia sebelum lahir (sangkan) dan kemana manusia mati (paran). Hasilnya berupa norma-norma keagamaan, kepercayaan.  Timbulah bermacam-macam agama karena kesimpulan manusia juga bermacam-macam pula. Rasa, adalah kerinduan manusiaa akan keindahan sehingga menimbulkan dorongan untuk menikmati keindahan. Manusia merindukan keindahan dan menolak keburukan atau kejelekan. Buah perkembangan rasa ini terjelma dalam bentuk berbagai norma keindahan yang kemudian menghasilkan berbagai macam kesenian.

Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil cipta, rasa, karsa dan rasa manusia untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.

a.  Hasil-hasil budaya manusia itu dapat dibagi menjadi dua macam:
  1. Kebudayaan jasmaniah (kebudayaan fisik) yang meliputi benda-benda ciptaan maanusia, missal alat-alat perlengkapan hidup.
  2. Kebudayaan  rohaniah (nonmaterial) yaitu semua hasil ciptaan manusia yang tidak dapat dilihat dan diraba seperti: agama, ilmu pengetahuan, bahasa, dan seni.
  • Kebudayaan itu tidak diwariskan secara generatif (biologis) melainkan hanya mungkin diperoleh dengan cara belajar.
  • Bahwa kebudayaan itu diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Tanpa masyarakat, akan sukarlah bagi manusia untuk membentuk kebudayaan. Sebaliknya tanpa kebudayaan manusia tidak dapat mempertahankan kehidupannya.
  • Jadi, kebudayaan itu adalah kebudayaan manusia. Hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan. Ada kebudayaan yang dapat digunakan untuk membedakan maanusia dari hewan.

Uraian diatas dimaksudkan untuk menekankan suatu kesimpulan bahwa:
  1. kebudayaan adalah manifestasi dan perwujudan segala kegiatan dan aktifitas manusia dalam menjawab tantangan eksistensi hidupnya.
  2. kebudayaan adalah karya dan kreasi insani, ciptaan manusia atau manmade.
  3. kebudayaan adalah khas manusia, dan
  4. kebudayaan adalah merupakan ciri yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.[5]
Dalam percakapan atau  tulisan-tulisan, istilah kebudayaan sering dikaitkan dengan istilah peradaban (berasal dari kata Arab: Adab yang berarti “kesopanan, kehalusan  dan kebaikan budipekerti”). Istilah kebudayaan sering disejajarkan dengan istilah  asing kultur dan istilah peradaban biasanya disejajarkan dengan istilah asing civilization (civilisasi).

Peradaban
Koentjaraningrat, menyatakan masalah kebudayaan dan peradaban hanya soal istilah saja. Istilah “peradaban” biasanya dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur kebudayaan yang “harus” dan “indah”, seperti : kesenian, ilmu pengetahuan, serta sopan santun dan sistem pergaulan yang kompleks dalam suatu masyarakat dengan struktur yang kompleks. Tetapi pada sisi lain, istilah peradaban juga dipakai untuk menyebut  suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan yang maju dan kompleks.[6]

Peradaban berasal dari kata adab yang artinya  kesopanan, kehormatan, budi bahasa, etika, dan lain-lain. Lawan dari beradab adalah biadab, tak tahu adab dan sopan santun. Menurut ahli antropologi De Haan, peradaban merupakan lawan dari kebudayaan. Peradaban adalah seluruh kehidupan social, politik, ekonomi, dan teknologi. Jadi, peradaban adalah semua bidang kehidupan untuk kegunaan praktis. Sebaliknya, kebudayaan adalah semua yang berasal dari hasrat dan gairah yang lebih tinggi dan murni yang berada di atas tujuan praktis dalam hubungan masyarakat, misalnya musik, seni, agama, ilmu, filsafat, dan lain-lain. Jadi, lapisan atas adalah kebudayaan sedang lapisan bawah adalah peradaban.

Kaum Humanis (pendukung De Haan) menganggap bahwa penguasaan kehidupan praktis (peradaban) atas kehidupan rohaniah hanya mementingkan penguasaan kehidupan sehari-hari atau kehidupan netral semata-mata, sedangkan pihak lain hanya mementingkan kehidupan rohaniah atau kebudayaan. Sedangkan, Sedilot mengatakan bahwa peradaban adalah khazanah pengetahuan dan kecakapan teknis yang meningkat dari angkatan ke angkatan dan sanggup berlangsung terus. Hanya manusia yang selalu mencari, memperkaya, dan mewariskan pengetahuan atau kebudayaan.

Dari segi morfologi, peradaban berarti kebudayaan yang telah sampai pada tingkat jenuh, yang telah berlangsung secara terus menerus. Beals dan Hoiyer,  mengatakan  bahwa peradaban (civilization) sama  dengan kebudayaan (culture) apabila dipandang dari segi kualitasnya, tetapi berbeda dalam kuantitas, isi, dan kompleks  pola-polanya. Koentjaraningrat, menyatakan dalam dunia ilmiah juga ada kata “peradaban” di samping “kebudayaan”. Paham peradaban adalah bagian-bagian dari kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, system kenegaraan,  dan ilmu pengetahuan yang luas sekali. Untuk saat ini pengertian yang umum dipakai adalah peradaban merupakan bagian dari kebudayaan yang bertujuan memudahkan dan menyejahterakan hidup.

Peradaban Islam adalah kesopanan, akhlak, tata karma, dan juga sastra yang diatur sesuai syariat Islam (Glasse, 1996:11). Al-Hujwiri, menegaskan peradaban Islam adalah suatu pelajaran dan pendidikan tentang kebijakan yang merupakan bagian dari “sendi-sendi keimanan”.

Labih jauh disebutkan : Keindahan dan kelayakan suatu urusan, baik urusan agama maupun urusan dunia sangat bergantung kepada ketinggian tingkat pendidikan. Ia mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Nilai-nilai ketaqwaan seperti taat mengikuti sunnah Nabi dan cinta kebajikan. Semua itu bersandar pada pendidikan moral. Manusia yang mengabaikan pendidikan moral ini tidak akan mampu  mencapai  derajat  kesalehan, sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad saw, “Pendidikan moral (pendidikan tentang kebajikan) merupakan syarat utama bagi orang-orang yang dicintai Tuhan”.

Al Rozi, menekankan bahwa peradaban Islam adalah sejauh mana membina hubungan social, yang mana sikap yang terbaik adalah menjaga kehormatan dari dan menuruti sunnah Nabi. Persahabatan antara sesama manusia harus dibina berdasarkan kepentingan Allah, tidak berdasarkan kepentingan dan keuntungan pribadi.
Jadi, peradaban Islam adalah bagian-bagian dari kebudayaan Islam yang meliputi  berbagai aspek seperti “moral, kesenian dan ilmu pengetahuan, serta meliputi juga kebudayaan yang mempunyai  sistem teknologi,  seni  bangunan, seni  rupa,  sistem kenegaraan, dan ilmu pengetahuan yang luas”. Untuk saat ini, pengertian yang umumnya dipakai adalah peradaban Islam merupakan bagian dari kebudayaan yang bertujuan memudahkan dan mensejahterakan hidup dunia dan akhirat.


[1] Faisal Ismail, 1996, Paradigma Kebudayaan Islam, Studi Kritis dan Refleksi Historis, Tiara Ilahi Press, Yogyakarta, hlm.25.
[2] Ibid., hal. 26.
[3] Ibid., hal. 26.
[4] Koentjaraningrat, 1964, Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan, Gramedia, Jakarta, hlm. 15
[5] Faisal Ismail, 1996. hal, 27.
[6] Ibid., hal, 27-28.