.

Mendalami Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas

Mendalami Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas - Hal lain yang perlu dimiliki seorang guru adalah sikap profesional dalam pengelolaan kelas. Artinya bahwa walaupun guru sudah yakin atas pilihan pendekatan pengelolaan kelas yang akan digunakannya, tetapi pada kenyataannya hal itu tidak memberikan hasil yang diharapkan, maka ia hendaknya mampu mengadakan analisis ulang terhadap keadaan atau situasi yang ada sehingga dapat menetapkan alternatif pendekatan yang lainnya dan seterusnya. Hal tersebut jelas membedakan sikap seorang profesional dengan seorang tukang atau "Pekerja", dimana seorang tukang menggantungkan diri pada resep-resep atau petunjuk-petunjuk sehingga ia bingung apabila resep atau petunjuk atau teori/dalil yang digunakannya tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Dalam Pembelajaran 2 ini akan membahas berbagai pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan kelas, antara lain sebagai berikut.

1. Pendekatan dengan penerapan sejumlah "Larangan dan anjuran" .

Pendekatan ini pada pelaksanaannya hampir sama dengan pendekatan otoriter dan pendekatan permisif, karena dalam penerapannya akan muncul bentuk:

a. penghukuman atau pengancaman
b. penguasaan atau penekanan
c. pengalihan atau pemasabodohan

Ketiga bentuk tersebut akan memungkinkan muncul perilaku siswa yang tidak diharapkan seperti tingkah laku negatif, kekerasan, pura-pura patuh, menurunnya semangat siswa atau sikap mencari kambing hitam.

Coba Anda kaji contoh berikut ini, mana yang termasuk bentuk penghukuman, penekanan atau pemasabodohan.

    "Jika kamu tidak memperbaiki tingkah lakumu, maka saya akan memanggil orang tuamu".
    "Jika kalian terus begitu, sekarang terserah kalian, apakah akan meneruskan tugas atau bubar saja".
    "Karena kalian begitu, maka setiap pelajaran dari saya, maka kau Amir, Hasan dan Agus duduk di kantor dan menulis satu buku penuh, saya akan memperbaiki kelakuan saya".

Pendekatan ini dianggap kurang efektif karena pendekatan ini bagi guru bersikap reaktif. Hanya terbatas pada masalah-masalah yang muncul secara insidental saat itu, kurang mengarah pada pemecahan masalah yang bersifat jangka panjang (yang akan datang), bersikap absolut (mutlak) dan tidak membuka peluang bagi pengambilan tindakan-tindakan yang lebih luwes dan kreatif.

Semboyan dari pendekatan ini adalah "Jika terjadi masalah ini lakukanlah itu atau itu".

Apabila pendekatan ini dilakukan maka ada beberapa tindakan guru yang perlu diperhatikan antara lain:
  1. Jangan menegur siswa dihadapan kawan-kawannya
  2. Apabila memberikan peringatan pada siswa hendaknya tidak merggunakan suara tinggi
  3. Bersikap tegas dan adil terhadap semua siswa o  Jangan pilih kasih
  4. Sebelum menghukum siswa, terlebih dahulu buktikan bahwa siswa itu bersalah
  5. Patuhiah pada aturan-aturan yang sudah Anda terapkan.
2. Pendekatan Pengubahan Tingkah Laku (Behavior Modification)

Pendekatan ini bertolak dari psikologi Behavioristik. Yang menganggap bahwa semua tingkah laku merupakan hasil belajar. Dan juga berdasarkan prinsip psikologi bahwa setiap individu perlu diperhitungkan dalam proses pembelajaran.

Prinsip psikologi tersebut adalah, meliputi:

1. Tindakan penguatan positif, yaitu memberikan stimulus positif, berupa ganjaran atau pujian terhadap perilaku atau hasil yang memang diharapkan, misalnya berupa ungkapan seperti "Nah seperti ini kalau mengerjakan tugas, tulisannya rapi mudah dibaca".

Jenis-jenis penguatan positif itu ada yang:

a. Penguatan primer (dasar) yaitu penguatan-penguatan yang tidak dipelajari dan selalu diperlukan untuk berlangsungnya hidup, seperti, makanan, air, udara yang segar dan sebagainya.

Suasana seperti ini dapat membentuk perilaku siswa yang baik dan betah di dalam kelas.

b. Penguatan sekunder bersyarat yang menjadi penguat sebagai hasil proses belajar atau dipelajari, seperti diperhatikan, pujian (penguat sosial), nilai angka, rangking (penguatan simbolik), kegiatan atau permainan yang disenangi siswa (penguatan bentuk kegiatan).

1. Ditinjau dari segi waktu, penguatan positif bisa diberikan secara:
  • Terus menerus pada setiap kali terjadi perbuatan baik atau yang diharapkan
  • Tenggang waktu atau berkala, yaitu setelah jangka jam pelajaran dimulai, atau setiap "sekian" kali perbuatan.
Ada dua macam penjadwalan dalam panguatan berkala yaitu:

Penjadwalan interval yaitu pemberian penguatan siswa setiap jangka waktu tertentu.

Misalnya setiap satu jam, seperti gambar berikut:


ket:
O = pemberian penguatan
+ = tingkah laku yang dimaksud
d. Penjadwalan Rasio


Pada umumnya, penjadwalaninterval lebih efektif untuk "Mempertahankan" tingkah laku yang dimaksud terus menerus terjadi. Dan penjadwalan rasio lebih efektif untuk "Meningkatkan frekuensi penampilan tingkah laku yang dimaksud" .

Yang perlu diperhatikan guru juga adalah bahwa makna suatu penguat bersifat "Unik" artinya sangat tergantung pada si pemberi dan si penerima penguat tersebut. Apa yang oleh seorang siswa dianggap sebagai penguat, bagi siswa lain belum tentu diterima demikian. Dalam hal ini, pemahaman guru terhadap kondisi psikologis siswa akan sangat membantu.

Ada tiga cara yang dikenal dalam upaya pemilihan dan penerapan tindakan penguat, yaitu:
  1. Memperhatikan gelagat/tanda-tanda atau petunjuk khusus dengan cara mengamati hal-hal apa yang ingin dilakukan oleh siswa.
  2. Memperhatikan petunjuk-petunjuk tambahan dengan mengamati apa yang terjadi setelah siswa menampilkan perilaku tertentu. Dalam hal ini guru mencoba menetapkan tindakan dan perilaku apa yang dilakukan guru dan temanteman siswa itu yang tampaknya menguatkan perilaku siswa yang bersangkutan.
  3. Memperoleh petunjuk-petunjuk tambahan dengan cara langsung bertanya kepada siswa yang bersangkutan apa yang ingin dimilikinya, dan untuk apa untuk siapa biasanya siswa itu melakukan sesuatu yang berarti.
2. Tindakan penghukuman, yaitu suatu penampilan perangsang yang tidak diinginkan atau tidak disukai, dengan harapan menurunkan frekuensi pemunculan tingkah laku yang tidak dikehendaki. Tindakan hukuman dalam pengelolaan kelas masih bersifat kontroversial (dipertentangkan). Sebagian menganggap bahwa hukuman merupakan alat yang efektif untuk dengan segera menghentikan tingkah laku yang tidak dikehendaki, sekaligus merupakan contoh "yang tidak dikehendaki" bagi siswa lain. Sebagian lain melihat bahwa akibat sampingan dari hubungan pribadi antara guru (yang menghukum) dan siswa (terhukum) menjadi terganggu, atau siswa yang dihukum menjadi "Pahlawan" di mats teman-temannya.

3. Tindakan penghilangan, yaitu tidak memberikan ganjaran yang diharapkan seperti yang lalu (menahan pemberian penguatan positif), atau pembatalan pemberian ganjaran yang sebenarnya diharapkan siswa.

Contoh: Didi yang waktu sebelumnva mendapat pujian alas hasil pekerjaannya baik dan rapi yang diserahkan kepada Pak Umar, pada waktu penyerahan pekerjaan berikutnya dengan hasil yang sama, Pak Umar menerima dan memeriksa tanpa memberi pujian.

4. Tindakan penguatan negatif, yaitu meniadakan perangsang yang tidak menyenangkan atau tidak disukai. Atau dengan kala lain menghilangkan hukuman. Contoh : Wawan yang waktu sebelumnya dimarahi Pak guru karena pekerjaannya tidak benar dan tidak rapi, pada pengumpulan tugas berikutnya Pak guru tidak memarahinya lagi.

Harapan dari tindakan-tindakan tersebut dapat menghentikan atau mengurangi perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki serta dapat meneruskan atau meningkatkan perilaku-perilaku yang dikehendaki. Seperti digambarkan pada contoh-contoh di atas, guru dapat menumbuhkan perilaku-perilaku yang dikehendaki pada diri siswa melalui penerapan penguatan positif dan penguatan negatif. Dan guru mengurangi perilaku siswa yang tidak dikehendaki melalui penerapan penghukuman dan penghilangan.

Berdasarkan uraian di alas dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan perubahan tingkah laku (behavior modivication) mengandung prinsip.

Mengabaikan persetujuan atas tingkah laku yang tidak diinginkan, menunjukan persetujuan atas tingkah laku yang diinginkan, itu sangat efektif menumbuhkan tingkah laku yang baik pada siswa.

Menunjukan persetujuan atas tingkah laku yang baik merupakan kunci pengelolaan kelas yang efektif. Untuk lebih jelasnya, coba Anda perhatikan diagram prinsip penguatan tingkah laku berikut ini:


to be continue...