.

Mendalami Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas 2


3. Pendekatan Iklim Sosio-emosional (Sosio-Emotional Climate)
Pendekatan ini bertolak dari asumsi bahwa:
1.  Proses pembelajaran yang efektif mempersyaratkan adanya iklim sosio-emosional yang baik artinya suasana hubungan interpesonal yang baik antara guru dan siswa serta antara siswa dengan siswa.
2. Guru menduduki posisi terpenting bagi terbentuknya iklim sosioemosional yang baik itu. Oleh karena itu, pendekatan ini berkeyakinan bahwa suasana atau iklim kelas yang baik berpengaruh terhadap kegiatan belajar mengajar. Hubungan guru dengan siswa yang penuh simpati dan saling menerima merupakan kunci pelaksanaan dari pendekatan ini. Dengan demikian, pendekatan ini menekankan pentingnya tingkah laku atau tindakan guru yang menyebabkan siswa memandang guru itu benar-benar terlibat dalam pembinaan siswa dan memperhatikan apa yang dialami siswa balk suka maupun duka. Implikasi dari pendekatan ini adalah bahwa siswa bukan semata-mata sebagai individu yang sedang mempelajari pelajaran tertentu, tetapi dipandang sebagai keseluruhan pribadi yang sedang berkembang.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan guru dalam penerapkan pendekatan ini antara lain:
  • Membantu setiap anak untuk menyadari dan menerima dirinya masing-masing (Ke "diri" annya).
  • Menyiapkan masing-masing anak untuk memberi kontribusi (sumbangan) kepada bermacam-macam antivitas di kelas.
  • Menyadari siswa untuk menerima dan mengerti perbedaan-perbedaan individual (masing-masing siswa)
  • Membuat rencana kerja sehingga kemampuannya masing-masing anak dalam kelas bermanfaat.
Susunan yang tercipta, hubungan interpersonal dan iklim sosioemosonal dapat dilihat diagram berikut ini:

Tiga jenis sikap guru sebagaimana tercantum pada diagram merupakan dasar yang dapat menumbuh kembangkan hubungan interpersonal antara guru dengan guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa. Sikap-sikap tersebut dapat dijabarkan menjadi tindakan-tindakan guru, sebagai berikut:
  • Guru berusaha menyusun program kelas dan pelaksanaannya yang didasari oleh hubungan manusiawi yang diwarnai oleh sikap saling menghargai dan saling menghormati antar personal di kelas.
  • Setiap siswa diberi kesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan kelas sesuai dengan kemampuan masing-masing, sehingga timbul suasana sosial dan emosional yang menyenangkan pada setiap siswa dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing.
  • Bersikap terbuka untuk bersedia mendengar pendapat, saran, gagasan dan lain-lain dari siswa sehingga pengelolaan kelas berlangsung dinamis.
  • Menjalin hubungan yang harmonis dan manusiawi yang penuh saling pengertian, saling menghormati dan saling menghargai antara sesama guru.

4. Pendekatan Proses Kelompok (Group Proses)

Pendekatan ini bertolak dari asumsi bahwa:
  • Pengalaman belajar di sekolah berlangsung dalam suasana kelompok, yaitu kelompok kelas.
  • Tugas guru yang terutama dalam pengelolaan kelas adalah membina dan memelihara kelompok yang efektif dan produktif.
Berdasarkan asumsi tersebut, maka susunan atau pengelolaan kelas dengan pendekatan ini memiliki ciri sistem sosial sebagaimana dijumpai di luar sekolah, tentu saja dengan aktivitas mengarah pada perilaku atau tujuan yang dikehendaki.

Lois V. Johnson dan Mary A. Bany (1970) dalam (Noorhadi 1985:27) mengemukakan bahwa kelompok sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
  1. multi personal dengan tingkat keakraban tertentu;
  2. suatu sistem interaksi;
  3. suatu organisasi atau struktur;
  4. suatu motif tertentu atau mempunyai tujuan bersama;
  5. suatu kekuatan atau standar tingkah laku tertentu; dan
  6. mempunyai pola tingkah laku yang dapat diobservasi yang merupakan kepribadian suatu kelompok.

Johnson dan Bany (1970) dalam (Noorhadi, 1985:28) mengemukakan hal-hal yang berkaitan dengan proses kelompok.
  • Keakraban, yaitu sifat saling tertarik atau saling membutuhkan antara sesama siswa/anggota sehingga mereka menjadi suatu ikatan.
  • Solidaritas, yaitu kesatuan dan persetujuan yang komplit dalam segi-segi tujuan,  pendapat, minat, dan perasaan kelompok yang memiliki solidaritas mampu mencegah timbulnya ancaman dari luar yang dapat memecah belah kelompoknya.
  • Loyalitas, yaitu keinginan para anggotanya terhadap kelompok itu sendiri. Nampak dalam bentuk-bentuk norma atau nilai sosial yang diidentifikasi oleh kelompok. Norma dan nilai sosial ini diwujudkan bila anggotanya mendapat suatu ancaman dan bencana dan berusaha untuk mempertahankan dirinya.
  • Moral yang dianut untuk menciptakan keakraban tidak hanya perasaan bersatu tetapi merupakan kualitas yang tersembunyi yang membuat kelompok gigih mempertahankan diri dalam menghadapi kesulitan.
  • Kepuasaan, yaitu kondisi yang memberi pengaruh kepada anggota-anggotanya menyebabkan mereka bekerja secara harmonis bersama-sama terutama dalam menghadapi kesulitan.
  • Iklim, yaitu kondisi yang dirasakan dalam kelompok, iklim ini berkaitan dengan kondisi tegang, sepi, tenang, balk. hangat, persahabatan, dan sebagainya.

Dari pendapat Johnson & Bany di atas dapat disimpulkan bahwa kesatuan kelompok yaitu:
  • keakraban kelompok, bergantung kepada tingkat saling menerima dan menyenangi antara anggota dalam kelompok.
  • kesatuan bersumber dari rasa memiliki. Karena itu guru harus berupaya agar anggota/siswa diterima dan disukai oleh teman-temannya dalam kelas.
  • kesatuan dan kerjasama kelompok dipengaruhi oleh adanya kepuasan kebutuhan yang dimanifestasikan dalam bentuk pengakuan kelompok dan antar hubungan siswa yang harmonis.
Schmuck dalam (Noorhadi, 1985 : 28) mengemukakan enam unsur yang berkenaan dengan pengelolaan kelas melalui pendekatan proses kelompok, yaitu:

a. Harapan, adalah prestasi yang ada pada guru dan siswa berkenaan dengan hubungan mereka. Harapan merupakan ramalan tentang apa yang diperbuat oleh diri sendiri dan orang lain dalam sating berhubungan itu. Dengan demikian harapan yang menyangkut bagaimana anggota-anggota kelompok akan berperilaku akan amat berpengaruh terhadap bagaimana guru dan siswa akan berperilaku dalam sating berhubungan. Satu kelompok kelas yang efektif akan terjadi apabiia harapan yang berkembang pada diri guru dan siswa adalah tepat, realistik, dan jelas dimengerti oleh guru dan siswa. Perilaku guru menampakkan harapan-harapan yang berkenaan dengan perilaku siswa, dan dengan demikian siswa akan berperilaku sesuai dengan harapan guru itu.

b. Kepemimpinan dalam hal ini diartikan sebagai perilaku yang mendorong kelompok bergerak ke arah pencapaian tujuan. Dengan demikian perilaku kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh anggota dalam:
  • membantu menumbuhkan norma kelompok;
  • menggerakan kelompok mendekati pencapaian tujuan;
  • meningkatkan mutu interaksi antar anggota ketompok; dan
  • mengembangkan kerataan hubungan dalam kelompok.
Guru yang efektif adalah guru yang mampu menciptakan iklim dimana siswa mewujudkan fungsi-fungsi kepemimpinan sehingga semua anggota kelompok merasakan bahwa mereka memliki kekuatan dan harga diri untuk melaksanakan tugas-tugas akademik dan tugastugas lain yang dibebankan kepada mereka.

c. Kemenarikkan, adalah berkaitan dengan pola keakraban yang terdapat dalam kelompok kelas. Kemenarikkan juga dapat diartikan sebagai tingkat hubungan persahabatan diantara anggota kelompok kelas. Tingkat kemenarikkan ini tergantung kepada sampai sejauh hubungan interpersonal yang positif di antara anggota kelompok kelas, misalnya bagaimana guru berusaha untuk meningkatkan sikap menerima dari anggota kelas terhadap kehadiran siswa/anggota baru yang selama ini mereka menolak.

d. Norma merupakan suatu pedoman tentang cara berpikir, cara berperilaku, dan rasa yang diakui bersama oleh anggota kelompok. Hubungan interpersonal sangat dipengaruhi oleh norma ini, sebab norma memberikan pedoman tentang apa yang dapat diharapkan dari orang lain dan yang harus dilakukan terhadap orang lain.

Kelompok kelas yang efektif ditandai norma yang produktif. Dalam hal ini tugas guru adalah membantu kelompok untuk mengembangkan, menerima dan mempertahankan normanorma kelompok yang produktif. Metode disukai kelompok yang produktif dapat mengubah norma-norma yang tidak produktif.

e. Komunikasi, merupakan dialog antar anggota kelompok baik melalui komunikasi verbal maupun non verbal. Komunikasi memungkinkan terciptanya interaksi yang bermakna di antara anggota kelompok dan memungkinkan terciptanya proses kelompok. Komunikasi yang efektif ditandai dengan penafsiran secara benar dan tepat proses yang disampaikan, dengan demikian tugas guru adalah mempunyai arah ganda, artinya guru bertugas membuka seluruh komunikasi yang memungkinkan siswa secara bebas mengemukakan pikiran dan perasaannya, di samping itu juga menarik pikiran dan perasaan yang mereka komunikasikan kepada guru. Sebagai tambahan, guru perlu juga membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan khusus berkomunikasi, seperti membuat paraphase dan mengemukakan balikan.

f. Keeratan berkaitan dengan rasa kebersamaan yang dipunyai kelompok kelas, atau merupakan jumlah keseluruhan dari rasa yang dipunyai oleh semua anggota kelompok terhadap kelompok itu. Keeratan ini menekankan hubungan individu terhadap kelompok secara keseluruhan, bukan terhadap individu-individu lain di dalam kelompok, keeratan dipengaruhi oleh hal-hal berikut ini:
  • besar kecilnya minat terhadap tugas-tugas kelompok;
  • sejauh mana sikap sating menyukai terhadap sesama anggotanya; dan
  • sejauh mana kelompok memberikan prestasi tertentu kepada anggotanya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas dengan pendekatan proses kelompok adalah sebagai berikut.
  • Guru hendaknya mampu membentuk dan memelihara kelompok kelas maupun kelompok keciI , yang efektif dan produktif.
  • Kelompok efektif dan produktif dapat terjadi apabila dalam kelompok tersebut memiliki harapan, kepemimpinan, keterkaitan, suasanaliklim, baik fisik (tempat, udara dan sebagainya) maupun non fisik (solidaritas, loyalitas, kepuasan, keakraban), norma aturan dan komunikasi.
  • Guru tanggap dan mampu merubah kelompok yang tidak efektif dan tidak produktif.
5. Pendekatan Elektis (Electic approach)
Pendekatan ini menekankan pada potensialitas, kreativitas dan inisiatif guru dalarn memilih berbagai pendekatan dalam satu situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan elektis memungkinkan digunakannya dua atau lebih pendekatan dalam satu situasi pembelajaran.

Penggunaan pendekatan ini menuntut pula kemampuan guru untuk berimprovisasi dalam menghadapi masalah yang dihadapi siswa. Guru tidak hanya terpaku pada penerapan salah satu pendekatan dalam perbaikan tingkah laku siswa, tetapi dalam melaksanakan tugasnya hendaknya mampu menerapkan pendekatan-pendekatan tersebut secara bersamaan dua atau tiga pendekatan.