Edit: Sikap Islam terhadap Pemikiran dan Peradaban

Sikap Islam terhadap Pemikiran dan Peradaban
Secara tekstual sejak 14 abad yang lalu, al-Qur’an telah menegaskan bahwa Islam adalah ajaran universal yang visi dan misi kebenaran ajarannya melampaui batas-batas suku, etnis, bangsa dan bahasa yaitu “rahmatan lil alamin”. Oleh karena itu, berbagai seruan dalam al-Qur’an yang banyak menggunakan ungkapan berciri “kosmopolitanisme” dan “globalisme”. Qur’an menunjukkan konsen pluaralismenya, yang ditandai dengan banyak firman Allah yang dimulai dengan ungkapan “Wahai manusia” ….., bahkan lebih dari itu, Islam sebagai agama penutup secara instrinsik jangkauan da’wahnya mendunia, bukan hanya pada suku, rasial, kelompok seperti agama-ama yang mendahuluinya[1].


Sejak awal perkembangannya, Islam tumbuh dalam pergumulan dengan pemikiran dan peradaban umat manusia yang dilewatinya dan karena terlibat dalam proses dialektika yang di dalamnya terjadi pengambilan dan pemerian. Dari kebudayaan Arab, Islam telah mengambil dan lebih tepatnya dikatakan memelihara dan mengembangkan beberapa hal seperti sistem moral, tata pergaulan dan hukum keluarga, serta sistem politikpun diambil dari kebudayaan Arab. Sebaliknya, Islam memberikan kemungkinan bagi sastra Arab untuk berkembang mengatasi perkembangannya pada masa sebelumnya Al-Qur’an dan al-Sunnah memberikan perubahan yang nyata bagi bangsa Arab dan bangsa-bangsa yang memeluk Islam pandangan dunia, tujuan hidup, peribadatan dan sebagainya yang kemudian merupakan bagian utama dari pemikiran dan peradaban Islam. Itu semua didukung oleh kreativitas umat Islam sendiri yang memang diberi ruang yang luas untuk bergerak[2].

Secara histories-sosilogis, pada abad sekarang ini umat Islam baru sadar bahwa Islam benar-benar tertantang memasuki panggung da’wah berskala global, yang antara lain disebabkan oleh revolusi teknologi transpormasi dan informasi serta komunikasi[3]. Dunia telah memasuki era global dan era informasi, karena dalam waktu yang bersamaan kita dapat memperoleh informasi dan sekaligus gambar tentang terjadinya suatu peristiwa di belahan bumi lain.

Secara teologi dan historis, kesadaran dan panggilan untuk berda’wah sudah terjadi sejak zaman dahulu. Sejak masa Rasulullah saw [masa klasik], samapai dengan abad pertengahan umat Islam telah memajukan peradaban umat manusia yang mungkin tidak dapat dilupakan sejarah. Saat itu bangsa Eropa masih jauh tertinggal di belakang. Namun, sejalan dengan sunatullah, roda sejarah berputar dan Islam jaub tertinggal dari bangsa Erpa yang pernah mengambil ilmu pengetahuan dari dunia Islam. Pertanyaannya apa penyababnya, terdapat faktor-faktor obyektif yang dapat dikaji secara ilmiah mengapa dunia Islam merosot perannya secara mengejutkan dalam peradaban dunia dan kemudian diambil alih oleh Barat.

Faktor-faktor historis-emperis inilah yang menjadi agenda umat Islam untuk dikaji dalam rangka mengangkat kembali citra dan peran Islam di dunia, karena peran sejarah ini oleh Allah telah diamanatkan kepada manusia sebagaimana terkandung dalam konsep “khalifah Allah di muka bumi”. Sekarang ini, segala macam aspek kehidupan telah memasuki era global, termasuk juga teologi, “ekonomi”, filsafat, pendidikan, dan lain-lain.
Secara garis besar, sikap Islam terhadap “pemikiran dan peradaban” selama perjalan sejarahnya ada tiga, yaitu :
  1. Mengembangkan unsur-unsur pemikiran dan peradaban yang “mendukung misinya” [Islam], misalnya “Islam mengambil dan mengembangan seni bangunan, filsafat isyraq, pemerintahan dan sebagainya. Dari kebudayaan Yunani umat Islam mengambil dan mengembangkan logika, filsafat, ilmu kedokteran dan sebagainya. Pemikiran filsafat yang diambil memberikan bentuk pemikiran Islam dalam waktu yang sangat panjang dalam perkembangan dialektis dengan pemikiran yang dikembangkan dalam tradisi arab dan tradisi bangsa-bangsa yang memeluk Islam[4].
  2. “Menolak” perdaban dan pemikiran yang bertentangan dengan misinya sebagai pemulia ras manusia. Misalnya, Islam menolak perbudakan. Pada awal turunnya wahyu, Islam membiarkan terjadi perbudakan. Namun setelah itu, sejumlah wahyu Qur’an berusaha menghapuskan “institusi perbudakan” dengan menganjurkan “berbuar kebajikan” terhadap mereka dengan “anjuran memerdekakan budah” merupakan tindakan yang amat mulia dan berpehala besar. Al-Qur’an juga menyatakan bahwa penganiayaan terhadap mereka dapat dikenai hukuman ganti rugi. Pada sisi lain, al-Qur’an juga menganjurkan agar budah diajarkan ajaran Islam, dan dinyatakan sebagai warga muslim yang bebas atau warga yang sedang dalam perlindungan[5].
  3. Mendiamkan atau menerima pemikiran dan peradaban dengan misinya. Misalnya, menyarakat Arab wilayah gurun mempunyai adapt yang bebeda dengan yang tingga secara menetap. Mereka pada umumnya menghindari persentuhan bahan kecuali berjabat tangan. Juga dianjurkan supaya seseorang terlibat dalam pengusungan jenazah dalam proses pemakaman, mengunjungi orang sakit, menolong orang lain yang sedang kesulitan [Glasse, 1996:11]. Ketika Islam sampai ke negeri inipun terjadi pergulatan dengan pemikiran dan peradaban yang sudah ada di negeri ini. Islam mengadakan kontak dengan kebudayaan local dan mengambil banyak hal dari unsure-unsur kebudayaan lokal, sebagaimana terlihat dalam seni bangunan, cara berpakaian, cara berprilaku, cara meresa dan sebagainya. Akan tetapi, Islam juag mengubah beberapa bagiannya dan memberikan unsur-unsur baru pada kebudayaan lokal tersebut [6].


[1] Aunur Rahim Faqih dan Munthoha [editor], 1997, Pemikiran dan Peradaban Islam, UII Pres, Yaogyakarta, hlm. 14.
[2] Machasin, 2003, Pemikiran dan Peradaban Islam, Makalah disampaikan pada acara diskusi “Riset dan Review Kurikulum Pendidikan Keagamaan”, Diselenggarakan Pusat Studi Islam Universitas Islam Inonesia, pada tanggal 28 Oktober 2003,Yogyakarta, hlm.1.
[3] Aunur Rahim Faqih dan Munthoha [editor], 1997
[4] Machasin, 2003,
[5] Cyril Glasse, 1996, Ensiklopedi Islam, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 315.
[6] Machasin, 2003