.

Menilik Perkembangan Ilmu Sejarah

Menilik Perkembangan Ilmu Sejarah - Tradisi penulisan sejarah di Indonesia pun mengalami perkembangan sesuai dengan jiwa jamannya. Paling tidak, perkembangan historiografi di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga bagian (Kartodirdjo, 1982), yaitu historiografi tradisional, historiografi kolonial, dan historiografi modern. Kemudian pada masa sekarang ini juga berkembang berbagai visi baru dalam penulisan sejarah khususnya menyangkut masalah pendekatan dan metodologi.

Pada masa perkembangan historiografi tradisional, yaitu corak penulisan sejarah yang banyak ditulis oleh para pujangga kraton, karya-karya mereka bertujuan untuk melegitimasi kedudukan raja. Dengan demikian, historiografi pada masa ini mempunyai ciri-ciri magis, religius, bersifat sakral, menekankan kultus, dewa raja dan mitologi, bersifat anakronisme, etnosentrisme, dan berfungsi sosial psikologis untuk memberi kohesi pada suatu masyarakat tentang kebenaran-kebenaran kedudukan suatu dinasti.

Selanjutnya, pada fase kedua berupa historiografi kolonial yang sudah mendasarkan pada tradisi studi sejarah kritis. Namun demikian, perspektif yang menonjol masih menunjukkan Neerlandosentrisme sebagai penyempitan wawasan Eropasentris. Asal mulanya karya sejarawan Belanda terutama mengisahkan perjalanan pelayar-pelayar Belanda serta kemudian perkembangan VOC dilanjutkan dengan pemerintah kolonial beserta penguasa-penguasanya. pendeknya di sini kita menjumpai penulisan sejarah berdasarkan tradisi historiografi konvensional yang lebih berupa riwayat orang-orang berkuasa, antara lain Gubernur Jendral, raja-raja, panglima, dan sebagainya. Sebuah model sejenis historiografi ini adalah karya W.F. Stapel, Geschiedenis van Nerlands-Indie (Kartodirdjo, 11-12 September 1995).

Historiografi modern, merupakan suatu periode perkembangan baru dalam historiografi Indonesia. Diawali dengan munculnya karya Husein Djajadiningrat, Critische Beschouwingen van de Sejarah Banten, kemudian karyakarya sejarah sejarah selanjutnya banyak dipengaruhi oleh karya ini, yaitu dengan dipergunakannya aspek pendekatan ilmu lain untuk melengkapi atau menulis suatu karya sejarah. Selanjutnya muncul corak penulisan sejarah yang nasionalistis, yang oleh Sartono Kartodirdjo dikatakan bahwa secara umum karya-karya penulisan sejarah periode ini (post revolusi) merupakan ekspresi dari semangat nasionalistis yang berkobar-kobar dalam menentang bangsa asing. Setelah tahun 1957, maka mulailah terdapat landasan yang jelas tentang corak penulisan sejarah Indonesia yang modern dengan suatu pendekatan ilmu-ilmu sosial, bersifat Indonesia sentris, dan secara inherent mencakup segala dimensi kehidupan bangsa Indonesia secara komprehensif dengan pandangan dari dalam (the history from within). Multidimensional approach, yang dipopulerkan oleh Sartono Kartodirdjo dalam pengerjaan penulisan sejarah semakin digeluti oleh para sejarawan dewasa ini. Namun demikian, visi-visi baru pasca-multidimensional approach juga bermunculan. Sebagaimana dicontohkan oleh Taufik Abdullah, bahwa pada kenyataannya beberapa disertasi masih mengandung “perdebatan terselubung”. Djoko Suryo mencoba memperkenalkan quanto-history, Ibrahim Alfian, melakukan pendekatan dari dalam yang bertolak dari cluster of event. Kedua studi ini merupakan contoh yang ekstrem karena memperdebatkan asumsi teoritis yang berbeda. Meskipun demikian, fenomenon ini bukanlah merupakan hal yang merisaukan, tetapi justru menggembirakan karena perkembangan penulisan sejarah memang harus mengalami kemajuan dan para sejarawan harus berani menerapkan berbagai view dalam analisis historis (Indriyanto, 1994: 29)

Pertentangan antara riset kualitatif versus kuantitatif pun masih berkembang hingga sekarang ini. Bukanlah salah satu kebutuhan urgen saat ini adalah terdapatnya visi baru pada sejarah modern, seperti yang dikemukakan oleh Alfred Weber? Dengan demikian, apabila produk sejarawan dengan kemajemukan konsep dan “perdebatan” konsep ilmiah masih dalam kerangka akademis itu wajar terjadi, bahkan harus, karena sesuai dengan “kodrat” perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan zaman itu sendiri. Yang jelas, mereka telah berjasa dengan sumbangan pemikiran konsep dalam perkembangan penulisan sejarah.

Nonsense jika kemajuan dalam penulisan sejarah hanya didasarkan pada satu view of approach saja (Indriyanto, 1994: 30)

Lalu, bagaimana dengan perkembangan ilmu sejarah dalam era globalisasi dan informasi khususnya pada abad XXI mendatang? Sebagaimana dengan “kodrat” sebuah ilmu, maka perkembangan menuju hal yang lebih benar, rasional, objektif, dan berbagai perangkat ilmiah lain, merupakan hal yang wajar dan harus terjadi. Bukankah sejarah adalah anak zaman dan setiap generasi menulis sejarahnya sendiri? Akan tetapi toh, persoalannya bukan hanya itu. Sampai sejauh manakah ilmu sejarah mampu berperan dalam menghadapai tantangan zaman? Oleh karena zaman begitu cepat berubah dan konsekuensinya banyak kebijakan yang juga senantiasa perlu diubah, maka peran ilmu pengetahuan dalam proses pengambilan keputusan bagi kelangsungan hidup, juga mengalamai transformasi “perlu diubah”. Tentunya, perlu diubah, di sini dimaksudkan bukan berarti hasil pemikiran para sejarawan pada masa lalu tidak ada gunanya lagi, tetapi ilmu sejarah dituntut oleh zaman untuk bisa memainkan peran. Dengan demikian, ilmu sejarah bukanlah menjadi ilmu yang tidak “berwibawa” dalam percaturan ilmu pengetahuan yang saling berlomba menjadi bahan bakar dalam proses akselerasi kemajuan zaman. Dunia kontemporer pada saat itu menuntut setiap disiplin menjadi alat, dan bukan tujuan. Semboyan ilmu demi ilmu dianggap usang karena menciptakan jarak antara ilmuwan dengan realitas. Bagi ilmu sejarah, pencarian cara, prosedur, metodologi, dan penerapan kurikulum yang cocok untuk mendukung keterkaitan dan kesepadanan sejarah dengan ilmu pengetahuan dan perkembangan zaman, mutlak harus dilakukan. Ilmu sebagai ilmu atau ilmu yang terisolasi di “menara gading” dianggap sebagai kemewahan dan “kontra-produktif”. Sebagaimana kata B. Croce, kekinian atau contemporary mendominasi seleksi dan analisis. Terutama dari sudut pandang para present minded, disiplin sejarah semestinya mampu meningkatkan pemahaman kita secara kuantitatif dan kualitatif tentang permasalahan sekitar, dan membantu mencari solusi demi masa depan yang lebih ideal. Dengan demikian, sejarah tidak menjadi kering, menjemukan, dan tidak relevan dengan masa kini, apalagi pada abad XXI. Jadi, sejarah dengan fungsi sosialnya haruslah juga memberi keterangan tentang sebab-sebab terjadinya suatu pola perilaku tertentu (Ibrahim Alfian, 29-11-1994). Demikian halnya, peran ini mesti berlaku dan berlangsung pada masa abad XXI, sudah barang tentu dengan perkembangan yang akan terjadi nanti.

Pada abad XXI, orang yang menguasai informasi adalah paling menentukan. Dengan orientasi ke depan, ilmu pengetahuan menjadi “terbuka” untuk bisa dipelajari oleh setiap orang. Pendeknya, ilmu pengetahuan bukan menjadi monopoli segelintir orang saja, sebagaimana masa lampau bahwa ilmu hanya dipelajari oleh orang di biarabiara saja. Dalam revolusi informasi, maka setiap ilmu berlomba-lomba untuk bisa digunakan dan diterapkan. Dan, konsekuensinya, hanya ilmu yang applicable sajalah yang bisa menjawab tantangan zaman. Trends seperti ini harus pula dapat diraih oleh disiplin sejarah. Dengan demikian, perkembangan penulisan sejarah type developmentalis menjadi sangat diperhatikan banyak pihak. Bahkan tidak hanya itu, sifat prediktif dari ilmu sejarah pun juga dituntut oleh zaman untuk kepentingan orientasi ke masa depan. Oleh karena itu, tidak heran bila madzab nomothetis, (selanjutnya lihat: Notosusanto, 1979: 7) dalam abad XXI nanti akan semakin berperan sangat menentukan, karena tuntutan zaman.

Apabila kita setuju, kita asumsikan bahwa pada abad XXI mendatang, di samping arus globalisasi semakin meluas, tetapi di sisi lain, kerinduan masyarakat terhadap budaya akan semakin tebal. Seperti dilakukan seorang futuris, Samuel P. Huntington, bahwa pada masa depan, orang akan kembali mempelajari dan ingin mengetahui budaya masa lampau, karena orang sudah mulai bosan dengan kemajuan teknologi yang serba cepat dan orang hanya diatur oleh detak jam dalam kehidupannya. Apalagi asumsi ini benar, maka kedudukan ilmu sejarah menjadi semakin penting pada masa itu. Sejarah yang merupakan memory masa lampau, yang menyangkut perjalanan budaya suatu masyarakat akan menjadi cermin dan palingan orang pada abad XXI, meskipun pada masa lalu dan masa kini pun juga demikian. Hal ini disebabkan, karena sejarah telah menjadi “pengawal” budaya suatu bangsa dan sejarawan juga menjdai penyampai atau transmitter budaya. Maka tak perlu dirisaukan pula kegunaan dan fungsi ilmu sejarah, kalau memang asumsi ini memang terjadi. Teachability dan impact sejarah baik sebagai educator dan inspirer akan tetap mempunyai fungsi.

Makalah oleh: Indriyanto

Daftar Pustaka
  1. Barnes, Herry Elmer, 1962. A History of Historical Writing. New Tork: Dover Publication INC.
  2. Gay, Peter & Gerald J. Cavanaugh, 1972. Historians at Work Vol. I & II. New York: Harper & Row.
  3. Ibrahim Alfian, 1994. “Keterkaitan dan Kesepadanan Disiplin Sejarah”, makalah Forum Komunikasi Hasil Penelitian Bidang Sastra dan Seni Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, tanggal 29-11-1994.
  4. Indriyanto, “Gagasan Metodologi Sejarah Masih Mencari Sosoknya”, dalam Prasasti No. 1/VI, Desember 1994.
  5. Indriyanto, “Sejarah: ilmu atau Seni?”, dalam Wawasan, Rabu, 29 Desember 1989.
  6. Lichtman, J. allan & Valerie Franch, 1978. Historians in The Living Past. Arlington Height: Harlan Davidson INC.
  7. Nugroho Notosusanto, 1979. Sejarah Demi Masa Kini. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
  8. Popper, Karl R., 1985. Gagalnya Historisisme. Jakarta: LP3ES.
  9. Sartono Kartodirdjo, “Perkembangan Penulisan Sejarah di Indonesia Selama Setengah Abad Teori dan Praktek”,dalam makalah Seminar Nasional Setengah Abad Budaya Indonesia, Fak. Sastra UNDIP, 11-12 September 1995.
  10. Sartono Kartodirdjo, 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: suatu Alternatif. Jakarta: Gramedia.
  11. Toffler, Alfin, 1989, Kejutan Masa Depan (terjemahan Sri Kusdiyatinah). Jakarta: Pantja Simpati.