.

SKI: Masuknya Islam di Jawa

Perkembangan Islam di Indonesia (Masuknya Islam di Jawa) - Pada tahun 674 M utusan Raja Ta-cheh (yang dimaksud adalah Mua’wiyah) mengirimkan utusan ke Kerajaan Kalingga pada masa pemerintahan Ratu Simo untuk mengetahui keadaan negeri yang sebenarnya, baik dari segi kemakmuran, keadilan maupun keamanan. Dengan kehadiran utusan tersebut dapat diketahui, bahwa sebelumnya telah ada penduduk setempat yang beragama Islam. Ini cukup beralasan karena menurut kebiasaan bahwa apabila ada utusan dari suatu negara berkunjung ke negara lain, maka dapat dipastikan sangat terkait dengan kepentingan penduduk di negara yang dikunjunginya.


Di Desa Leran, Manyar, Gresik ditemukan makam Fatimah binti Maimun bin Haibatallah berangka tahun 475/495 H (1082 - 1101 M). Dari bukti ini dapat diketahui bahwa di daerah tersebut sudah ada orang Islam. Tidak mungkin ditemukan tatacara pemakaman dengan menulis angka tahun dengan lengkap jika tidak terdapat penduduk seagama antara yang memakamkan dengan yang dimakamkan.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa jauh sebelum kedatangan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, sudah terdapat pemeluk agama Islam di Pulau Jawa. Namun dakwah Islamiyah berjalan semakin intensif setelah periode Maulana Malik Ibrahim dan para Wali Songo, yaitu sekitar abad ke -14 dan ke-15 M.

Berdasarkan cerita tradisional dan babad-babad, para pembawa dan penyebar Islam di daerah-daerah pesisir utara Pulau Jawa diberi gelar wali. Jumlah wali di Jawa cukup banyak. Namun yang populer ada sembilan, sehingga dikenal sebutan “Wali Songo”. Para wali itu disamping berasal dari luar negeri, juga terdapat para wali yang asli Jawa. Sunan Bonang dan Sunan Derajat adalah putera Sunan Ampel yang sebelumnya telah bertempat tinggal di Ampel Denta, Surabaya. Sunan Kalijaga adalah putera seorang Tumenggung Majapahit. Sedang Sunan Giri lahir dari hasil perkawinan antara Maulana Ishak dengan puteri Blambangan. Raden Rahmat sendiri sebenarnya ialah saudara sepupu permaisuri Raden Brawijaya, Raja Majapahit.

Dari cerita dalam babad tersebut diketahui bahwa para Wali Songo  itu pada mulanya adalah para santri dari para muballigh yang datang ke Jawa  dari luar negeri, seperti Maulana  Malik Ibrahim, kemudian menjadi muballigh yang banyak berjasa dalam menyebarkan agama Islam di pesisir utara Pulau Jawa. Peranannya bukan hanya terbatas pada menyebarkan dan mengajarkan agama, tetapi jugaa sebagai dewan penasehat, dan pendukung dari para raja yang memerintah. Bahkan di antara mereka ada yang menjadi raja dengan gelar “Pandito Ratu”, seperti Raden Paku (Sunan Giri) dan Sunan Gunung Jati.

Dalam menyiarkan agama para wali itu bukan dengan cara berpidato atau ceramah di muka umum, tetapi dalam kumpulan-kumpulan yang terbatas. Bahkan secara rahasia. Mula-mula empat mata, kemudian diteruskan dari mulut ke mulut. Bila pengikut bertambah banyak, diadakanlah tabligh-tabligh di pondok-pondok atau madrasah-madrasah. Yang disebut Wali Songo itu, umumnya adalah sebagai berikut:
  1. Maulana Malik Ibrahim, ia dianggap tokoh pendiri pondok pesantren yang pertama, penggembleng para mubaligh yang menyiarkan Islam ke seluruh Jawa. Makamnya di Kota Gresik, Jawa Timur.
  2. Raden Rahmat, atau Sunan Ampel, berasal dari Kamboja (Indo Cina). Ia membuka asrama para kesatria di Ampel (Surabaya), disamping menyebarkan agama Islam di seluruh Jawa Timur. Ia dianggap pencipta dan perencana kerajaan Islam yang pertama di Jawa. Ia mengangkat Raden Patah, sebagai khalifah, yang beribu kota di Gelagah Wangi Bintara Demak, dengan gelar Sultan Syah Sri Alam Akbar Al Fattah. Makamnya terdapat di Ampel Surabaya.
  3. Makhdum Ibrahim, atau Sunan Bonang, putera Sunan Ampel. Dialah penyebar agama Islam di pesisir sebelah utara Jawa Timur dan pencipta Gending Darma. Konon kabarnya ia mengganti nama-nama dari nahas menurut kepercayaan Hindu dan nama-nama Dewa Hindu. Digantikannya dengan nama-nama malaikat dan nama-nama nabi secara agama Islam. Makamnya terdapat di Tuban, Jawa Timur.
  4. Raden Paku atau Sunan Giri. Dia dikenal sebagai seorang ahli pendidikan yang pertama kali menggunakan metode permainan yang bersifat agama. Dia dianggap sebagai pencipta gending Asmaradana dan Pucung. Makamnya di Giri, dekat Kota Gresik.
  5. Syarif Hidayatullah, ia dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati atau Fattahillah. Nama ini lambat laun berubah ucapannya menjadi Faletehan. Dialah yang mendirikan Kota Jayakarta, yang sekarang menjadi Jakarta, ibu kota Negara Republik Indonesia.
  6. Jafar Shadiq atau Sunan Kudus, ia adalah penyiar agama Islam di Jawa Tengah di sebelah pesisir utara. Ia juga seorang pujangga, yang banyak mengarang dongeng-dongeng bernapaskan agama dan mampu menciptakan gending Maskumambang dan Mijil, makamnya di Kudus.
  7. Raden Prawoto atau Sunan Muria, yang dianggap pencipta gending Sinom dan Kinanti. Dalam berdakwah, ia lebih banyak melakukan pendekatan kepada golongan pedagang, para nelayan dan pelaut. Ia tetap mempertahankan berlangsungnya gamelan sebagai satu-satunya kesenian Jawa yang digemari rakyat dan menjadikan alat kesenian itu sebagai media untuk memasukkan rasa Islam kepada rakyat. Dengan tidak terasa, rakyat berasyik masyuq mengagungkan Tuhan, makamnya di Gunung Muria.
  8. Syarifuddin, yang terkenal dengan nama Sunan Derajat. Putera Sunan Ampel yang dianggap pencipta gending Pangkur ini adalah seorang yang berjiwa sosial. Disamping taat menjalankan perintah agama, ia selalu memberi pertolongan kepada kaum dluafa (sengsara), memperhatikan nasib anak-anak yatim dan membela fuqara masakin. Makamnya di Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
  9. R.M. Sahid, yang juga disebut Sunan Kalijaga. Konon kabarnya, dialah yang menciptakan wayang kulit dan mampu mengarang cerita-cerita wayang yang berjiwa Islam. Daerah penyiarannya adalah Jawa Tengah bagian selatan. Golongan ningrat, priyayi, dan sarjana banyak yang mengikuti tablighnya.

Selain nama wali yang sudah disebutkan di atas, umat Islam di Jawa juga mengenal nama-nama lain yang dianggap sebagai wali atau penyebar Islam, seperti: Sunan Sendang di Sendangduwur, Lamongan; Sunan Bayat di Klaten; Sayyid Sulaiman di Mojoagung, Jombang; dan masih banyak lagi. Karena itu sebutan Wali Songo mungkin merupakan julukan yang mengandung perlambang suatu dewan wali-wali, dengan mengambil angka sembilan yang sebelum ada pengaruh Islam sudah dipandang sebagai angka keramat. Angka sembilan ini juga dijadikan perlambang Nahdlatul Ulama untuk memberi kesan bahwa misi yang diperjuangkan oleh para ulama merupakan kelanjutan dari perjuangan dakwah Wali Songo.