SKI: Masuknya Islam di Sulawesi, Kalimantan dan Maluku


1. Perkembangan Islam di Sulawesi
Hubungan dagang antar pulau di Indonesia menjadi salah satu media dakwah Islamiyah pada masa awal pertumbuhan dan perkembangan Islam. Pada abad ke-16 pelabuhan Gresik mempunyai arti sangat penting dalam perdagangan dan penyebaran agama Islam. Banyak pedagang dari luar Jawa, seperti dari Maluku (ternate, Hitu), Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain datang ke Gresik untuk berdagang dan belajar agama Islam di pesantren Sunan Giri. Setelah kembali ke daerahnya, mereka berusaha menyebarkan agama Islam disertai para santri yang sengaja dikirim secara khusus oleh Sunan Giri. Di antara mereka adalah para pedagang dari Makasar dan Bugis. Maka masuklah agama Islam ke Sulawesi yang diterima oleh penduduk pantai tempat aktivitas perdagangan berlangsung.


Agama Islam masuk ke Sulawesi sejak abad ke-16, tetapi baru mengalami perkembangan pesat pada abad ke-17 setelah raja-raja Gowa dan Tallo menyatakan diri masuk Islam. Raja Gowa yang pertama masuk Islam ialah Daeng Manrabia yang berganti nama Sultan Alauddin Awwalul Islam, sedang Raja Tallo bergelar Sultan Abdullah. Di antara para muballigh yang banyak berjasa dalam menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di Sulawesi, antara lain: Katib Tunggal, Datuk Ri Bandang, Datuk Patimang, Datuk Ri Tiro, dan Syekh Yusuf Tajul Khalwati.

Dakwah Islamiyah ke Sulawesi berkembang terus sampai ke daerah kerajaan Bugis, Wajo, Sopeng, Sindenreng, dan lain-lain. Suku Bugis yang terkenal berani, jujur dan suka berterus terang, semula sulit menerima agama Islam. Namun berkat kesungguhan dan keuletan para mubaligh, secara berangsur-angsur mereka menjadi penganut Islam yang setia.

Pelaut-pelaut Bugis berlayar menjelajah seluruh Indonesia sampai ke Aceh. Di antara mereka adalah pembesar Bugis bernama Daeng mansur yang di Aceh lebih dikenal dengan panggilan Tengku di Bugis. Salah seorang puterinya bernama puteri Sendi. Ia dikawinkan dengan Sultan Iskandar Muda, raja besar Aceh. Sejak itu hubungan antara Aceh - Bugis sangat erat, sehingga banyak pengaruh budaya Aceh di Bugis. Bentuk rumah dan cara hidup orang Bugis banyak kesamaannya dengan Aceh. Tampaknya hubungan perdagangan yang diperkuat dengan hubungan kekerabatan yang berdasarkan agama Islam itu telah memperkokoh hubungan persatuan antara penduduk di seluruh wilayah Indonesia.

3. Islam Di Kalimantan
Dakwah Islamiyah ke Pulau Kalimantan untuk pertama kalinya dilakukan oleh para pedagang dari Malaka, Palembang, dan Jawa. Mereka bertempat tinggal di pesisir barat Pulau Kalimantan, yaitu daerah kekuasaan Kerajaan Sukadana. Pada 1590 Raja Sukadana memeluk Islam dan berganti nama menjadi Sultan Giri Kusuma. Nama ini memberi kesan adanya pengaruh dakwah Islamiyah yang dilakukan oleh pesantren Giri yang mengirimkan para santrinya untuk berdakwah ke luar Jawa, termasuk ke Kalimantan. Ia digantikan oleh puteranya, Sultan Muhammad Syarifuddin yang banyak berjasa dalam mengembangkan ajaran Islam bersama seorang muballigh terkenal, Syekh Syamsuddin.

Perkembangan dakwah Islamiyah selanjutnya dilakukan oleh para muballigh yang dikirim oleh Kerajaan Demak (Jawa Tengah). Mereka berdakwah di bagian selatan Pulau Kalimantan, yaitu di Banjarmasin dan sekitarnya. Raja Banjar Raden Samudera masuk Islam dan berganti nama Sultan Suryanullah. Dengan bantuan Demak, ia berhasil mengalahkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, seperti Kerajaan Nagaradipa. Sejak itu, agama Islam semakin berkembang di Pulau Kalimantan.

Pada abad ke-18 lahir seorang ulama besar di Banjar bernama Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Ia pernah belajar di Makkah dan Madinah bersama tiga orang kawan dekatnya, yaitu: Syekh Abdus Shamad dari Palembang, Syekh Abdurrahman Masri dari Jakarta, dan Syekh Abdul Wahab dari Bugis. Sepulangnya dari Tanah Suci, ia menetap di Martapura. Disamping mengajar, ia banyak menulis buku, seperti: Sabilul Muhtadin, Al Qaulul Muhtar, dan lain-lain.

Sementara itu di Kalimantan timur dakwah Islamiyah banyak dilakukan oleh para pedagang dari Makasar yang banyak melakukan aktifitas dagangnya di antara perairan Selat Makasar dan Sungai Mahakam. Daerah pertama di Kalimantan Timur yang menerima agama Islam adalah Kutai, ini terjadi abad ke-16, setelah agama Islam masuk ke Kutai selanjutnya berkembang ke seluruh Kalimantan Timur.

4. Islam di Maluku
Maluku adalah daerah penghasil rempah-rempah terbanyak di Indonesia. Karena itu daerah ini banyak dikunjungi para pedagang antar kepulauan Indonesia (lokal) maupun pedagang asing (internasional). Di antara para pedagang lokal terdapat para pedagang muslim dari Jawa. Mereka selain berdagang juga berdakwah. Melalui aktivitas perdagangan rempah-rempah inilah agama Islam masuk ke Maluku.

Di Maluku ada empat kerajaan, yaitu: Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Di antara ke empat kerajaan itu, yang memegang peranan penting dan menjadi bandar pusat perdagangan adalah Ternate. Agama Islam masuk ke Ternate pada abad ke-15, setelah rajanya memeluk Islam namanya berganti menjadi Sultan Mahrum. Penggantinya bernama Sultan Zainal Abidin yang pernah berkunjung dan belajar agama di Pesantren Giri, Gresik. Ia bersama seorang muballigh bernama Datuk Mulia Husin sangat berjasa mengembangkan agama Islam di Maluku dan Irian, bahkan sampai ke Filipina Selatan.

Dari Ternate, agama Islam berkembang ke wilayah Kerajaan Tidore. Pada abad ke-15, Tidore sudah menerima Islam atas jasa seorang muballigh bernama Syekh Mansur. Raja Tidore yang pertama masuk Islam bernama Cirali Lijitu yang berganti nama Sultan Jamaluddin. Wilayah kekuasaan Kerajaan Tidore cukup luas meliputi sebagian Halmahera, pantai barat Irian dan sebagian kepulauan Seram. Sepeninggal Sultan Jalaluddin, pemegang kekuasaan di Kerajaan Tidore adalah puteranya yang bernama Sultan Mansur.

Agama Islam juga berkembang di Kerajaan Bacan. Raja Bacan memeluk Islam pada 1521 dan berganti nama Sultan Zainul Abidin. Sejak itu wilayah Bacan yang meliputi Bacan, Obi, Waigeo, Solawati, dan Misool menjadi kerajaan Islam. Sementara itu, Kerajaan Jailolo yang meliputi sebagian Halmahera dan pesisir utara kepulauan Seram juga masuk Islam. Rajanya bernama Sultan Hasanuddin.

Di kawasan Indonesia Timur, agama Islam juga berkembang di kepulauan Sumbawa dan sekitarnya pada abad ke-16. Hubungan perdagangan antar kepulauan Indonesia membawa Islam memasuki daerah kepulauan Sumbawa. Diduga yang membawa Islam ke Sumbawa adalah para muballigh dari Makasar. Ini terbukti ditemukannya makam seorang muballigh Islam dari Makasar di pinggiran Kota Bima. Agama Islam semakin berkembang di Sumbawa setelah terjadi letusan Gunung Tambora pada tahun 1815 M. Seorang ulama bernama Haji Ali memperingatkan rakyat Sumbawa agar bertobat dari segala dosa. Seruan ini membawa banyak perubahan dan menjadikan Kerajaan Sumbawa sebagai kerajaan Islam terkenal dengan nama Sumbawa Besar.

Sementara itu, di Lombok agama Islam disebarkan oleh para muballigh Islam dari Bugis. Mereka memasuki Lombok dari Sumbawa. Penduduk Lombok yang memeluk agama Islam dikenal dengan orang Sasak.

Demikianlah dakwah Islamiyah telah memasuki seluruh wilayah Indonesia melalui aktivitas perdagangan. Dapat dikatakan bahwa sampai abad ke-17 hampir seluruh wilayah Indonesia telah memeluk agama Islam. Di beberapa kepulauan Indonesia kemudian berdiri kerajaan-kerajaan Islam yang tidak kecil peranannya dalam menanamkan dan mengembangkan pengaruh Islam baik dalam bidang agama, ekonomi, politik, sosial maupun kebudayaan.

sumber: SKI XII (PWLP Maarif NU Jawa Timur: 2006)