.

SKI: Masuknya Islam di Sumatera

Perkembangan Islam di Indonesia (Islam di Sumatera) - Sudah kita ketahui bahwa agama Islam masuk ke Sumatera pada abad ke-7 M dan dapat berkembang dengan pesat, terutama sejak kehancuran Kerajaan Sriwijaya karena serangan Raja Rajendracoladewi dari India pada 1030 M. Agama Islam yang secara berangsur-angsur berkembang di pesisir utara Pulau Sumatera ini kemudian mendapatkan pijakan yang amat kuat dengan berdirinya Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan Kerajaan Islam pertama di Indonesia yang terletak di Kampung Samudera di tepi Sungai Pasai yang berdiri pada pertengahan abad ke-13 M.

Letaknya yang strategis di kawasan perairan Selat Malaka menyebabkan Kerajaan Samudera Pasai mencapai kemajuan dalam bidang ekonomi. Sultan Malikus Saleh membangun armada dagang yang besar, sehingga Samudera Pasai menjadi kota bandar yang ramai dikunjungi kapal-kapal dagang dari berbagai negara. Sementara Sultan Malikuz Zhahir II yang dikenal alim dan penganut madzhab Syafii berusaha menjadikan Kerajaan Samudera Pasai sebagai pusat aktifitas dan kajian ilmu agama. Ibnu Bathuthah, seorang pengembara dari Maroko, membuat catatan penting dalam bukunya Rihlah Ibnu Bathuthah tentang Sultan Malikuz Zhahir II. Dikatakannya bahwa ia seorang sultan yang perkasa, pengikut madzhab Syafii, senang menghormati ulama dan setiap hari Jumat berangkat ke masjid dengan jalan kaki.

Di antara para ulama yang hidup di Kerajaan Pasai ialah Amir Said As Syirazy seorang qadli yang berasal dari Syiraz (Iran) dan Tajuddin Al Isfahany seorang mufti dari Isfahan (Iran).

Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemajuan selama kurang lebih tiga abad. Pada masa itu Samudera Pasai menjadi mercusuar kerajaan Islam yang sangat gemilang. Akan tetapi sejak pertengahan abad ke-14 Masehi, Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemunduran karena serangan Kerajaan Majapahit. Posisinya sebagai pusat aktifitas perdagangan dan dakwah Islamiyah digantikan oleh Kerajaan Islam Malaka.

Pada abad ke-16 Masehi, di Sumatera Utara muncul Kerajaan Aceh yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh bekas wilayah kekuasaan Samudera Pasai dari Pidie sampai perbatasan Sungai Rokan. Kerajaan Aceh mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam (1607 - 1636). Ia melakukan rihlah dakwah ke beberapa daerah di sekitar wilayah kekuasaannya, seperti: Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, Perak, dan Nias.

Untuk keperluan syiar Islam, ia mendirikan masjid “Baiturrahman” yang berfungsi sebagai tempat ibadah dan pengajaran agama Islam. Ulama terkenal pada masa pemerintahannya antara lain: Hamzah Fansuri, Syamsuddin As Sumatrany, Syekh Nuruddin Ar Raniry dan Syekh Abdurrauf Al Fansury. Mereka banyak berjasa dalam mengembangkan agama Islam dan memiliki beberapa karya ilmiah, seperti: Tafsir Baidlawi karya Syekh Abdurrauf Al Fansury, Miratut Tullab berisi Ilmu Fiqih, As Sirathal Mustaqim dan Bustanus Salatin karya Syekh Nuruddin Ar Raniry.

Kerajaan Aceh berpusat di Pidie dan rajanya yang paling terkenal adalah Sultan Iskandar Muda. Sepeninggal Sultan Iskandar Muda, Aceh mengalami pasang surut dan pada akhir abad ke-19 baru dapat ditundukkan oleh penjajah Belanda.

sumber: SKI XII (PWLP Ma'arif NU Jawa Timur: 2006)