.

CONTOH MAKALAH : Belajar Tentang Nilai-Nilai Pluralisme Islam Jenderal Cheng Ho Melalui Sinkretismed Abangan, Islam, Taoisme, Dan Budha Di Klenteng San Po Kong 1

CONTOH MAKALAH : Belajar Tentang Nilai-Nilai Pluralisme Islam Jenderal Cheng Ho Melalui Sinkretismed Abangan, Islam, Taoisme, Dan Budha Di Klenteng San Po Kong 1
sebelumnya | CONTOH MAKALAH : Peran Negara Dalam Perspektif Ekonomi Islam 2


BELAJAR TENTANG NILAI-NILAI PLURALISME ISLAM JENDERAL CHENG HO MELALUI SINKRETISMED ABANGAN, ISLAM, TAOISME, DAN BUDHA
DI KLENTENG SAN PO KONG
Oleh: Dian Maya Safitri*
ABSTRACT
This paper attempts to describe the tolerance among various religious rituals and groups in Sam Po Kong temple in Semarang. This kind of religious harmony is the reflection of General Cheng Ho’s pacifist and pluralist characteristic to non-Muslims, particularly the Chinese. This phenomenon is well-suited with Geertz’s dictum : religion is the model of and for reality. Next, through fieldwork research and anthropological approach, I figured out that there exists syncretism of Javanese abangan, Islam, Taoism, and Buddhism. By using Geertz and Durkheim’s functionalist theories, I will classify religious communities in Sam Po Kong temple into three groups that worship different transcendent. The beginning of this paper will depict the historical adventure of Cheng Ho, as the principal figure in this Sam Po Kong shrine. The next part explains the Geertz and Durkheim theories as the bases for this paper’s analysis. The third part accounts the instances of Javanese abangan, Islamic, Tao, and Buddhist influences existing in this pantheon. The remainder of this paper will argue that Indonesian muslims, who are considered as the largest Muslim community in the Islamic world, should learn the values of tolerance and pluralism through Cheng Ho’s wisdom in order to eliminate the concept of “religious Other” .
Key words: syncretism, Sam Po Kong temple, General Cheng Ho, pluralism
ABSTRAK
Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang sikap toleran di antara bermacam-macam ritual dan kelompok agama di Klenteng Sam Po Kong di Semarang. Harmoni keagamaan seperti ini merupakan cerminan dari karakter Jendral Cheng Ho yang pluralis dan cinta damai terhadap non Muslim, terutama orang Cina. Fenomena semacam ini sesuai dengan pendapat Geertz bahwa agama merupakan model dari dan untuk realitas. Melalui penelitian lapangan dan pendekatan antropologi, saya menemukan bahwa ada sinkretisme antara abangan, Islam, Tao, dan Budha. Dengan menggunakan teori Geertz dan fungsionalis Durkheim, saya akan mengklasifikasikan komunitas agama di Klenteng Sam Po Kong menjadi tiga bagian yang masing-masing menyembah transenden yang berbeda. Permulaan makalah ini akan menceritakan petualangan historis Cheng Ho sebagai sosok utama di Klenteng Sam Po Kong. Bagian selanjutnya akan menjelaskan teori Geertz dan Durkheim yang menjadi dasar analisis makalah ini. Bagian ketiga berisis tentang contoh-contoh pengaruh abangan, Islam, Tao, dan Budha di Klenteng Sam Po Kong. Bagian terakhir dari makalah ini merupakan argumen penulis yang menyatakan bahwa Muslim di Indonesia, yang dianggap sebagai komunitas Muslim terbesar di dunia, seharusnya belajar nilai-nilai toleransi dan pluralism dari sikap bijaksana Cheng Ho untuk menghilangkan konsep “komunitas beragama yang lain”.
Kata kunci:  sinkretisme, Klenteng Sam Po Kong, Jendral Cheng Ho,  pluralisme

Pendahuluan
Dalam banyak catatan sejarah di Indonesia, Islam selalu mengalami sinkretisme[1] dengan budaya lokal sehingga dapat mudah diterima oleh masyarakat setempat. Perpaduan antara agama dan budaya lokal ini kemudian memunculkan ciri khas tersendiri dalam komunitas Muslim Indonesia yang akhirnya memperkaya keberagaman di negeri ini. Tak hanya itu, banyaknya variasi “Islam” di Indonesia akibat pertemuan dengan budaya lokal telah menjadikan “Islam a la Indonesia” berbeda dengan “Islam versi Turki”, “Islam Timur Tengah”, “Islam Bosnia”, dll. Maka, tak heran kalau WC Smith mengatakan bahwa kata “Islam” itu bukanlah singular, melainkan plural (Islams)[2]. Bahkan, Kwame Anthony Appiah menyatakan bahwa dalam dunia modern kini, agama telah berfungsi menjadi suatu identitas sosial[3].
   Proses dakwah Islam di Pulau Jawa termasuk menarik karena melibatkan budaya lokal, seperti yang dilakukan oleh Wali Songo. Menurut Ayzumardi Azra, Islam di Jawa merupakan proses percampuran antara great tradition atau Islam normatif dengan little tradition atau yang disebut juga dengan local tradition[4]. “Hal ini terjadi karena Islamisasi yang terjadi di Indonesia, terutama di Jawa, lebih bersifat kontinuitas apa yang sudah ada dan bukannya perubahan dalam kepercayaan dan praktik keagmaan lokal[5].
Di Klenteng Sam Po Kong di Semarang, sinkretisme antara agama-agama besar dunia, seperti Islam, Taoisme, dan Budha, dan budaya lokal yang berupa abangan[6] juga tidak dapat dielakkan. Keunikan berbagai sinkretisme ini menciptakan tiga kelompok kuil yang memiliki transenden (suatu kekuatan luar biasa yang disembah, terj. penulis) yang berbeda-beda. Pada kuil yang pertama, transenden yang disembah adalah Laksamana Cheng Ho melalui Gua Suci Sam Po Kong. Sementara itu, pengikut kuil yang kedua menyembah makam Mbah Juru Mudi. Kuil yang terakhir dipenuhi oleh mereka yang ingin berdoa pada Dewa Bumi.
Pengunjung yang ingin melihat Klenteng Sam Po Kong pun terdiri dari kaum lintas agama dan lintas etnis, seperti orang Muslim, Cina, dan Jawa untuk bermacam tujuan yang berbeda. Orang Muslim ingin menegnal lebih dekat sosok Cheng Ho melalui peninggalannya. Orang Cina ingin menghormati Cheng Ho sebagai leluhur mereka yang telah membawa nama baik bagi bangsa Cina, meskipun ia beragama Islam. Sementara itu, orang Jawa yang abangan ingin melakukan semedi di kuil Mbah Juru Mudi. Semua keberagaman ini adalah warisan dari sifat dan sikap Cheng Ho yang sangat toleran terhadap perbedaan. Kisah tentang petualangan Cheng Ho dan karakter pluralisnya yang tersohor akan dijelaskan pada bagian berikut.

Laksamana Cheng Ho, Sang Penjelajah Berhati Mulia dari Timur      

Nora C. Buckley menyebutkan bahwa Cheng Ho adalah seorang Muslim keturunan Arab-Mongol yang memiliki nama asli Ma Ho.  Pada tahun 1381, ia dikirim ke istana milik Dinasti Ming bersama-sama dengan beberapa anak muda lainnya untuk melindungi selir-selir kaisar. Karena itulah, ia mendapatkan pelatihan di sekolah militer khusus untuk menjadi prajurit cadangan di medan tempur.  Nama “Cheng Ho” ia dapatkan untuk menghargai keberanian dan pengabdiannya[7]. Sementara itu, terdapat bermacam-macam pendapat di kalangan sejarawan mengenai  makna nama “Sam Po” (atau “San Bao” dalam bahasa Tiongkok).  “San” artinya “tiga”, sedangkan “Bao” bermakna “pelindung” dan “pusaka”. Menurut Kong Yuanzhi, yang paling memungkinkan adalah pendapat bahwa “San Bao” yang bermakna “tiga pusaka” dalam agama Budha, yaitu Budha, biksu, dan kitab suci agama Budha[8]. Pendapat ini didukung oleh Buckley yang menyatakan bahwa laksamana Cheng Ho memang memilih gelar Budha “Sam Po” sebagai penghormatan atas tiga kebajikan[9]. Nama “Kong”—yang hanya terkenal di kalangan orang Cina Semarang—bermakna “seorang leluhur yang dihormati” [10].
Selama dua puluh tahun selanjutnya, Cheng Ho sukses dalam memimpin tujuh misi pelayaran kekaisaran ke 37 negara di pesisir Indocina, Samudera Hindia, Teluk Persia, Laut Merah, dan pesisir timur Afrika dengan menggunakan lebih dari 1.500 kapal yang canggih serta 28.000 kekuatan tentara dan ahli kelautan[11]. Bahkan, berdasarkan penelitian Prof. Yuanzhi, kehebatan kapal-kapal Cheng Ho selama ekspedisi maritim jauh melebihi para bahariwan barat yang termasyhur di masa lampau, seperti Columbus, Vasco da Gama, dan Ferdinand Magellan. Di samping itu, susunan armada Cheng Ho sangat termanajemen dengan baik dengan cara membagi armadanya menjadi 4 bagian, yaitu bagian komando, bagian teknik navigasi, bagian kemiliteran, dan bagian logistik[12].   
Kelebihan lain yang dimiliki Laksamana Cheng Ho jika dibandingkan dengan penjelajah barat lainnya adalah sikap bijaksana, toleransi, serta kepemimpinannya yang selalu menggunakan pendekatan damai. Sudah jamak diketahui bahwa para bahariwan Barat yang menjelajah negeri-negeri yang lain pada waktu itu melaksanakan prinsip “gold, gospel, glory”, atau menjajah negeri asing yang mereka temukan demi kejayaan kerajaan Eropa, sekaligus mengeruk semua kekayaan yang ada di negeri tersebut sembari menyebarkan agama Kristen. Pada praktiknya, pendekatan yang digunakan para penjelajah barat umumnya adalah dengan cara memerangi suku setempat. Bahkan, banyak juga anggota suku yang dipaksa untuk belajar budaya Barat, berbahasa Spanyol atau Portugis, dan masuk Kristen, seperti yang terjadi pada suku Indian di Amerika Latin.
Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan Jendral Cheng Ho. Walaupun seorang Muslim, ia tetap menghormati budaya lokal dan tidak memaksa penduduk setempat untuk memeluk agama Islam. Ia juga menghormati awak kapalnya yang sebagian besar melaksanakan ritual agama Tao dan Budha. Contohnya, ia tidak pernah melarang anak buahnya untuk menyembah Dewi Sakti yang dipercaya sebagai pelindung di laut jika ada badai[13].  Bukti lain dari sikap toleran Cheng Ho adalah diundangnya Fei Huan, seorang pendeta agama Budha untuk ikut serta dalam pelayaran ke Samudera Hindia[14]. Cheng Ho juga menanamkan sikap perdamaian sejak dini kepada seluruh anak buahnya. Menurut Buya Hamka dalam Star Weekly pada tanggal 18 Maret 1961, Cheng Ho mengatakan kepada awak kapalnya bahwa tidak banyak senjata pembunuh di dalam kapal. Yang banyak justru “senjata budi” yang akan dipakai untuk menghadapi para raja negeri asing nantinya[15].
Dalam hubungannya dengan negara yang disinggahi oleh kapalnya, Cheng Ho termasyhur sebagai mediator yang berjasa dalam menangani konflik internal dan regional. Pada tahun 1409, ia menjadi penengah dalam perjanjian damai antara  Malaka (sekarang Malaysia) dan Siam (sekarang Thailand). Di Malaysia, ia pernah membantu raja setempat untuk melindungi Putri Han Li Bao, calon istri Sultan Mansyur Syah. Selama perjalanan menuju “Pelabuhan Lama” atau Ba Lin Bang (sekarang disebut dengan Palembang), ia sukses menaklukkan Chen Zhu Yi, seorang perompak terkenal, beserta 5.000 anak buahnya. Yang terakhir, Cheng Ho menjadi tokoh utama dalam gencatan senjata untuk perang saudara antara Zainal Abidin dan Iskandar (Su Gan La).[16] Jasa-jasa Cheng Ho yang besar akhirnya bermanfaat untuk mempererat persahabatan antara Kekaisaran Cina dan raja-raja di negeri-negeri yang ia datangi. Bahkan, awak kapalnya ada yang menikahi penduduk setempat, seperti Sam Po Soei Soe yang beristrikan seorang gadis Betawi[17].  Posisi diplomatik Cheng Ho juga diperkuat dengan kehadiran Shen-Hui, seorang biksu Budha, dan Hasan, Imam Masjid Ching Chin di Siam[18]. Maka, wajar jika para penguasa negeri asing yang ia singgahi memberikan balas jasa berupa barang-barang perdagangan dan tanaman serta binatang-binatang yang eksotis, seperti Raja Hulumosi dari Iran yang memberikan Jerapah[19].
Kepopuleran dan kebaikan hati Cheng Ho ternyata memberikan kesan yang mendalam bagi para penduduk di negeri-negeri yang ia singgahi. Untuk mengenang Laksamana Cheng Ho, maka didirikanlah Klenteng Sam Po Kong, tak hanya di Semarang, tapi juga di negara lain, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura.  Uniknya, kesemua Klenteng Sam Po Kong ini menjadi perekat hubungan antar etnis, khususnya Melayu-Muslim dan Cina-Budha. Contohnya, Klenteng Sam Po Kong di Malaysia dijaga oleh seorang Muslim Melayu yang bernama Abdulah Bakar atas perintah suatu partai Islam di Malaysia, meskipun yang berkunjung ke klenteng tersebut semuanya adalah keturunan Tionghoa yang beragama Budha ataupun yang menyembah nenek moyang. Di Indonesia pun, seperti yang telah penulis sebutkan sebelumnya, pengunjung klenteng Sam Po Kong terdiri dari berbagai macam agama dengan berbagai macam tujuan, seperti Jawa-Muslim yang ingin melihat peninggalan Cheng Ho, Tionghoa-non Muslim yang ingin berdoa pada Cheng Ho, serta kaum abangan yang ingin mencari wangsit. Selain itu, kesamaan yang lain di semua Klenteng Cheng Ho adalah disembahnya Cheng Ho karena ia dianggap sebagai dewa[20]. 
Di bagian selanjutnya, penulis akan mendeskripsikan tentang Klenteng Cheng Ho di Semarang yang menjadi salah satu objek wisata favorit di Indonesia.

Klenteng Sam Po Kong di Semarang: Miniatur Bhinneka Tunggal Ika Melalui Sosok Sang Laksamana

Klenteng Sam Po Kong terletak di kawasan Gedung Batu, Semarang. Istilah “klenteng” diambil dari bahasa Indonesia dan tidak dikenal di dataran Cina. Kata “klenteng” terinspirasi dari bunyi “klenteng-klenteng” atau “klinting-klinting” yang berasal dari genta-genta kecil[21].
Dahulu, klenteng ini merupakan sebuah masjid yang didirikan oleh para keturunan Tionghoa Muslim di Semarang. Cheng Ho sempat mengunjungi masjid ini di tahun 1413. Kemudian, ketika Jin Bun datang ke Semarang pada tahun 1474, masjid ini telah diubah menjadi sebuah klenteng. Sejak saat itu, klenteng tersebut tetap menjadi tempat ibadah bagi keturunan Tionghoa non-Muslim, walaupun Jin Bun yang seorang Muslim akhirnya menjadi Sultan Demak. Sifat Jin Bun yang simpatik diapresiasi dengan baik oleh para keturunan Tionghoa non-Muslim di Semarang[22].   
Sementara itu, versi cerita tentang sejarah pendirian Klenteng Sam Po Kong yang lain diungkapkan oleh Prof. Kong Yuanzhi. Ia menceritakan bahwa Klenteng Sam Po Kong mulanya hanyalah gua yang dikeramatkan dan hanya terdiri dari sebuah patung Laksamana Cheng Ho untuk menghormati kebaikannya. Wang Jinghonglah yang menbangun patung tersebut, sedangkan gua yang menjadi tempat ibadah tadinya adalah tempat peristirahatan sementara untuk mengobati Wang Jinghong yang kala itu sedang sakit keras.  Wang Jinghong dan anak buahnya kemudian menetap di Semarang hingga akhir hayatnya.  Ia dikebumikan secara Islam dan makamnya termasuk sebagai salah satu objek yang disembah di kuil Sam Po Kong. Oleh masyarakat Cina Semarang, ia dijuluki Mbah Kiai Juru Mudi Dampo Awang atau Mbah Juru Mudi. Sayangnya, pada abad ke-19, area Gedung Batu dikuasai oleh seorang Yahudi bernama Johannes yang tamak dan meminta bayaran bagi orang Cina yang ingin beribadah di Klenteng tersebut. Seorang pengusaha Tionghoa bernama Oei Tjie Sien atau “Raja Gula” akhirnya berhasil membeli tanah di Gedung Batu milik Johannes dan membebaskan kaum Tionghoa untuk beribadah kembali[23].
Kini, Klenteng Sam Po Kong di bawah Yayasan Klenteng Sam Po Kong berkembang dengan sangat baik dan termanajemen dengan rapi. Klenteng ini dipugar dan wilayahnya diperluas. Arsitektur Klenteng ini merupakan perpaduan dari budaya Jawa dan budaya Cina. Di hampir seluruh area klenteng ini, terdapat pahatan gambar kapal  Sam Po Kong dan naga sebagai makhluk suci yang dipercaya oleh orang Cina sebagai kekuatan gaib yang menguasai dunia. Kawasan ini “dijaga” oleh empat jenderal yang disimbolkan dalam bentuk patung. Sebagian dari patung ini menyerupai manusia biasa, sedangkan dua sisanya mirip dengan gambaran dewa-dewa Cina, dengan janggut panjang, wajah yang unik, dan pakaian dengan atribut khusus[24]. 
Klenteng ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu Kuil Sam Po Kong, kuil Mbah Juru Mudi, dan kuil Dewa Bumi.  Kesemua kuil ini memiliki arsitektur yang mirip dan didasarkan pada arsitektur Istana Terlarang di Cina dengan ciri khas gaya atap yang bertumpuk tiga yang melambangkan kelopak teratai.  Warna yang dominan pada setiap bangunan di Klenteng Sam Po Kong adalah merah, kuning, dan hijau. Dalam budaya Cina, warna merah melambangkan kebahagiaan dan menolak pengaruh jahat, warna hijau merepresentasikan warna alam, dan warna kuning adalah warna kekaisaran[25]. Sedangkan , sentuhan budaya Jawa terlihat dari pendopo di pintu gerbang, patung togog, dan ukir-ukiran di beberapa bagian klenteng.


*Mahasiswa Pascasarjana UGM, jurusan Lintas Agama dan Budaya
[1]Saya mendefinisikan “sinkretisme” sebagaimana yang diartikan oleh Muhammad Hanif, yaitu sebuah pola budaya baru yang terjadi dari proses menggabungkan, mengkombinasikan unsure-unsur asli dengan unsure-unsur asing. Proses penggabungan ini disebut dengan “sinkretisasi”. Hanif menambahkan bahwa oleh sebagian ahli antropologi, sinkretisme dianggap sebagai salah tiga hasil akulturasi, yakni (1) penerimaan, (2) penyesuaian, (3) reaksi. Lihat Muhammad Hanif, “Dakwah Islam Kultural : Studi atas Apresiasi Kiai Masrur Ahmad MZ (lahir 1963) terhadap Seni Jathilan di Kelurahan Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta”, 2006, Universitas Gadjah Mada, tesis tidak terbit.
[2]Wilfred Cantwell Smith, the Meaning and the End of Religion, ..........................................
[3]Lihat Kwame Anthony Appiah, “Causes of Quarrel : What’s Special about Religious Dispute?,” dalam Thomas Banchoff (ed.), Religious Pluralism, Globalization, and World Politics (New York: Oxford University Press, 2009), h. 46-47. Appiah berpendapat bahwa agama memiliki tiga fungsi dalam masyarakat modern, yaitu sebagai identitas sosial, sistem integratif dari simbol-simbol, dan standar epistemologi sosial. Identitas sosial inilah yang nantinya menjadi ciri utama dari tiga kelompok agama yang berbeda di tiga kuil utama di Klenteng Sam Po Kong. 
[4]Ayzumardi Azra, “Pluralisme Islam dalam Perspektif Historis,” dalam Sururin (ed.), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam : Bingkai Gagasan yang Berserak (Bandung: Penerbit Nuansa, 2005),  h. 150
[5]Ayzumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII, h. 35, seperti yang dikutip oleh Salehuddin. Lihat Ahmad Salehuddin, “Masjid yang terbelah di Gunungsari: Tarik-menarik antar Aliran Islam dalam Masyarakat Jawa”, 2006, Universitas Gadjah Mada, tesis tidak terbit, h. 4.
[6]Istilah abangan ini, walaupun sudah ada sejak lama, awalnya dipopulerkan oleh antropolog Clifford Geertz dalam opus magnusnya yang berjudul Religion of Java (1960, hal. 126-130)  yang membagi penganut Islam di Yogyakarta menjadi tiga bagian, yaitu abangan, priyayi, dan santri. Jika pengikut abangan dan priyayi memadukan antara filsafat Jawa, animism, dan Islam, para santri memilih untuk berpegang teguh pada “ajaran Islam dari sumbernya” serta menjalankan perintah Quran secara ketat.
[7]Nora C. Buckley, “The Extraordinary Voyages of Admiral Cheng Ho, History today Vol. 71 (1975), h. 462
[8]Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho:; Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara (Jakarta : Pustaka Populer Obor, 2000),  h. 33
[9]Op. cit., Nora C Buckley, “The Extraordinary Voyages”, h. 463
[10]Informasi ini didapatkan dari wawancara dengan Suyono, guide di Klenteng Sam Po Kong.
[11]Op. cit., Nora C Buckley, “The Extraordinary Voyages”, h. 464
[12]Op. cit., Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, h. 4-5. 
[13]Ibid., Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, h. 40. Bahkan, berdasarkan catatan Buckley (h. 464), Cheng Ho juga ikut memberikan penghormatan kepada Tien Fei, Dewi Laut,  yang merupakan salah satu dewi dalam agama Budha yang dipercaya dapat  menyelamatkan orang yang tenggelam di lautan lepas.
[14]Ibid., Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho,  h. 40.
[15]Seperti yang dikutip oleh Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho,           h. xix.
[16]Semua informasi ini dikutip dari pahatan-pahatan batu yang ada di Klenteng Sam Po Kong di Semarang. Referensi dari informasi ini bersumber dari The Documentary R.ecords of the Ming Dynasty, bab 71: The History of Far East, dan The History of Lou Dong Liu Jia Gan Tian Fei Palace. Masih menurut informasi di batu pahatan tersebut, pada tahun 1415, Cheng Ho dan pasukannya tiba di Aceh (Sumendala). Ketika itu, Raja Aceh dibunuh oleh Raja Nakur dari Batak. Berhubung Raja Zainal Abidin terlalu belia untuk membalaskan dendam kematian ayahnya, Ratu Aceh membuat sayembara bahwa siapa saja yang dapat membunuh Raja Nakur dapat menikahi Sang Ratu dan menjadi raja selanjutnya. Sayembara ini dimenangkan oleh seorang nelayan yang akhirnya dapat membunuh Raja Nakur dan akhirnya memimpin Aceh bersama dengan Sang Ratu. Sewaktu Zainal Abidin beranjak dewasa, ia merencanakan kudeta terhadap ayah tirinya. Iskandar, saudara tirinya, tidak terima akan hal ini dan kemudian mendeklarasikan pemberontakan. Akhirnya, Cheng Ho berhasil mengakhiri perang saudara ini.  
[17]Op. cit., Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, h. xxiv
[18]Op. cit., Nora C Buckley, “the Extraordinary Voyages,” h. 467.
[19]Informasi ini didasarkan pada keterangan yang ada di pahatan batu di Klenteng Sam Po Kong Semarang.
[20]Op. cit., Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, h. 194-212
[21]Kwa Tong Hay Setiawan, Mengenal Klenteng Sam Po Kong, Gedung Batu, Semarang, (Semarang : Yayasan Klenteng Sam Po Kong, 1982), h. 12-13, sebagaimana dikutip oleh Fahmi Prihantoro, “Klenteng, Agama, dan Identitas Budaya Masyarakat Cina : Studi Kasus pada Klenteng Tay Kak Sie, Semarang”, tesis, 2006, Universitas Gadjah Mada, tidak terbit.
[22]Hal ini adalah contoh lain dari harmonis dan tolerannya kaum Muslim di Semarang terhadap komunitas lain yang non-Muslim.  Jin Bun merupakan putra dari seorang Putri Cina yang tidak diketahui namanya. Ia adalah istri keempat dari Raja Brawijaya. Menurut babad Tanah Jawi, Putri Champa, istri ketiga Sang  Raja, merasa cemburu kepada Putri Cina tersebut. Karena itulah, Raja Brawijaya akhirnya menghadiahkan Putri Cina yang tengah mengandung kepada Arya Damar. Jadi, Arya Damar adalah ayah tiri Jin Bun. Ia memiliki seorang saudara tiri bernama Kin San. Ketika mereka dewasa, keduanya belajar tentang agama Islam dari Sunan Ampel. Di kemudian hari, Jin Bun yang bergelar Raden Patah berkuasa di Demak, yang merupakan daerah sekaligus kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa,  yang ketiga di Nusantara, dan yang keempat di Asia Tenggara. Semarang kala itu berfungsi sebagai kota pelabuhan. Untuk informasi lebih lanjut lihat Prof Dr Slamet Mulyana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2005), h. 90-97; 193-194.
[23]Op. cit., Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho,  h. 61-65.
[24]Informasi ini didapatkan dari wawancara dengan guide di Klenteng Sam Po Kong dan observasi langsung penulis di klenteng tersebut.
[25]Op. cit., Fahmi Prihantoro, “Klenteng, Agama, dan Identitas,″ h. 50-51.