.

CONTOH MAKALAH : Belajar Tentang Nilai-Nilai Pluralisme Islam Jenderal Cheng Ho Melalui Sinkretismed Abangan, Islam, Taoisme, Dan Budha Di Klenteng San Po Kong 2

sebelumnya | CONTOH MAKALAH : Belajar Tentang Nilai-Nilai Pluralisme Islam Jenderal Cheng Ho Melalui Sinkretismed Abangan, Islam, Taoisme, Dan Budha Di Klenteng San Po Kong 1
 

Konsep Durkheim’s and Geertz tentang Agama

Emile Durkheim, seorang antropolog terkenal, mendefinisikan agama sebagai sesuatu yang fungsional, maksudnya sebagai wadah yang bisa menyatukan emosi mendalam pada sekelompok orang tertentu melalui simbol dan ritual yang ia sebut sebagai “kendaraan” bagi perasaan sosial. Agama juga menjadi tempat bagi pengikutnya untuk [1].  Jika teori ini diaplikasikan dalam konteks Klenteng Sam Po Kong, maka tiga kelompok ibadat yang menyembah transenden yang berbeda di tiga kuil memiliki “kendaraan” sendiri (yang akhirnya dianggap sebagai “agama” oleh masing-masing kelompok) yang berfungsi menyatukan masing-masing komunitas. Seperti yang penulis kemukakan di awal makalah, Mehta berpandangan bahwa pada akhirnya agama menjadi identitas sosial.   
Selain Durkheim, selama observasi di lapangan, penulis akhirnya menemukan bahwa konsep Clifford Geertz tentang agama juga dapat menjadi kerangka teori yang sesuai untuk menganalisis fenomena religius yang terjadi di Klenteng Sam Po Kong. Geertz memaknai agama sebagai berikut[2] :
Religion is (1) a system of symbols which acts to (2) establish powerful, pervasive, and long-lasting moods and motivations in men by (3) formulating conceptions of a general order of existence and (4) clothing these conceptions with such an aura of factuality that (5) the moods and motivations seem uniquely realistic.    
           
Secara sederhana, Pals menyatakan bahwa agama adalah suatu sistem simbol yang mana di balik symbol tersebut terdapat ide-ide yang akan disampaikan kepada pengikutnya. Ide tersebut sangat kuat dan dapat memberikan perasaan damai dan kebahagiaan bagi orang yang melakukan ritual “agama”. Kemudian, perasaan positif tersebut akan menghasilkan “pandangan dunia yang tertinggi”. Kombinasi dari simbol, perasaan, dan pandangan dunia akan menciptakan karakter tertentu dalam setiap ritual keagamaan[3]. 
Lebih lanjut, Geertz menambahkan bahwa “agama merupakan model atas dan dari kenyataan”. Dengan kata lain, simbol dapat membentuk realitas, dan sebaliknya, realitas dapat membentuk simbol. Pada bagian selanjutnya, akan dibuktikan bagaimana simbol dapat membentuk “kenyataan” bahwa seakan-akan transenden yang disembah di tiga kuil tersebut terlihat seakan-akan nyata. Realitas bahwa Laksamana Cheng Ho adalah seseorang yang menghargai perbedaan, dan juga fakta bahwa masyarakat Semarang begitu pluralis, telah memunculkan simbol-simbol sinkretisme di Klenteng Sam Po Kong. 

Kuil Pertama sebagai Penghormatan pada Laksamana Cheng Ho

   Di kuil yang pertama, transenden yang disembah adalah Laksamana Cheng Ho karena, meskipun ia seorang Muslim, ia dianggap berjasa dalam melindungi kaum Tionghoa non-Muslim di Semarang, sekaligus juga dipercaya memiliki kekuatan gaib.  Di samping itu, beberapa kaum Tionghoa yang berdoa pada laksamana Cheng Ho ada yang berpendapat bahwa ia adalah seorang leluhur yang musti disembah[4]. Menurut Joseph Gaer, masyarakat Cina memang terkanal sebagai pemuja roh-roh leluhur, roh-roh orang bijaksana, dan roh-roh para pahlawan dan raja[5].
Sebenarnya, di kuil pertama ini hanya ada gua suci Sam Po Kong di mana ia dapat menggunakan kekuatan supranaturalnya di sini[6]. Di dalam gua ini terdapat sebuah sumur yang dipercaya oleh sebagian anggota komunitas kuil pertama dapat membawa Cheng Ho ke Cina dengan hanya memasuki sumur tersebut. Versi yang lain yang penulis dapat dari guide Klenteng Sam Po Kong, menyebutkan bahwa sumur tersebut dulunya digunakan oleh Cheng Ho untuk mengambil air wudlu.
Menyembah sumur merupakan bukti dari sinkretisme antara abangan dan Islam. Bagi kaum Muslim,sumur dianggap sakral karena tak hanya berfungsi sebagai penyedia air bagi masyarakat sekitar, namun juga simbol kesucian karena dipakai untuk berwudlu. Di masa lampau, Ali, Usman, pemuka Islam, dan para wali membangun sumur untuk menunjukkan pengabdian mereka terhadap Islam. Akan tetapi, kaum abangan justru menyembah sumur, memberikan sesembahan, dan melaksanakan upacara di dekat sumur. Aktivitas semacam ini dikenal dengan nyadran[7].
Jika dianalisis dengan teori Geertz, sumur maupun gua suci Cheng Ho telah memunculkan suatu serangkaian simbol yang menyebabkan timbulnya mood dan motivasi di antara anggota kuil pertama untuk menyembah benda-benda yang dianggap keramat tersebut. Setelah itu, mereka mendapatkan ″pandangan dunia″ yang membuat mereka percaya bahwa Cheng Ho adalah orang suci yang dapat mengabulkan permintaan mereka, walaupun ia tak hadir di sana. Karena itulah, di kuil ini banyak terdapat “surat-surat doa dan harapan” yang digantungkan di langit-langit kuil.
Sementara itu, jika menggunakan pendekatan Durkheim, keyakinan yang berpusat pada klaim bahwa gua suci Cheng Ho memiliki “kekuatan supranatural” telah menjadi “kendaraan” utama yang menyatukan para pengikut kuil pertama ini.
Pengaruh Islam juga didapati pada bedug yang diletakkan di dalam kuil. Bedug semacam ini tidak didapati di dua kuil lainnya. Dalam ritual Budha dan Tao, tidak ada ritual yang menggunakan bedug. Ukuran dan bentuk bedug di kuil pertama ini sangat mirip dengan bedug yang ada di masjid. Hanya warna merah yang membuatnya berbeda dengan bedug-bedug yang lainnya.
Ada pula pengaruh Budha di kuil ini, berupa lonceng besar yang digunakan untuk memfokuskan pikiran selama meditasi. Contoh lainnya adalah  8 Pak Shien[8] yang mengelilingi patung Cheng Ho. Sedangkan pengaruh Tao dapat dilihat dari jumlah genap dari lilin besar di halaman kuil yang merupakan represntasi dari keseimbangan yin dan yang[9].

Kuil Kedua sebagai Tempat untuk Menyembah Kuburan Mbah Juru Mudi

Kuil yang kedua berikut ini ditujukan untuk menyembah makam mbah juru mudi. Tidak hanya arwahnya yang dipercaya menjaga tempat ini, namun jasadnya juga dikebumikan di tempat ini. Fenomena ritual keagamaan semacam ini berakar dari tradisi Islam dan abangan di Indonesia. Bedanya, kaum Muslim non-abangan mengunjungi makam di hari besar Islam (seperti Idul Fitri) untuk mendoakan yang sudah meninggal, sedangkan pengikut abangan berziarah kubur di hari spesial menurut penanggalan Jawa (seperti Jumat Kliwon, Muharram, dll.) dengan tujuan untuk meminta berkah sang arwah. Nur Syam berargumen bahwa masyarakat umumnya lebih memilih makam orang-orang yang dianggap memiliki kekuatan supranatural, seperti makam Mbah Modin Asyari di Tuban. Di makam tokoh yang dikeramatkan itu pula, biasanay terdapat juru kunci yang bertugas menjaga makam dan menjadi guide bagi para pengunjung[10].  Juru kunci semacam ini juga terdapat di kuil kedua.
Selain makam mbah juru mudi, ada tempat lain yang biasanya dipakai para peziarah untuk berdoa dan bermeditasi, yaitu pohon besar yang letaknya persis di samping makam. Gelar “mbah” per se berasal dari bahasa Jawa yang diberikan kepada orang-orang yang memiliki “keahlian khusus”[11]. Tak hanya Tionghoa non-Muslim yang meminta berkah dari makam ini, namun orang Jawa pengikut abangan juga rutin mengunjunginya.
Nisan mbah juru mudi itu sendiri sangat Islami, dengan tulisan Arab yang berupa syahadat di kain penutup peti jenazah. Pada kedua sisi makam, terdapat arca yang persis dengan arca yang pernah penulis lihat di gerbang sebuah kuil Hindu di Yogyakarta. Patung-patung ini dianggap sebagai “penjaga” makam. Budaya Jawa sangat mempengaruhi munculnya arca-arca penjaga seperti ini. Pengaruh dari budaya Jawa yang lain adalah ukiran dan tulisan dengan alphabet Jawa yang berdampingan dengan tulisan Cina.
Ritual penyembahan semacam ini dapat dianalisis menggunakan pemikiran Geertz dan Durkheim. Bagi Geertz, keyakinan akan kekuatan gaib mbah juru mudi telah memotivasi dan menggerakkan orang untuk berdoa di makam ini. Sementara itu, teori Durkheim tentang “ suatu perkumpulan sebagai hal yang sakral” dibuktikan dengan bersatunya kaum abangan dan Cina melalui perasaan komunal yang mempercayai bahwa mbah juru mudi dapat mengabulkan permintaan mereka.  
The Combination Between Taoism and Javanese Abangan Belief in the Third Temple

Kuil ketiga ini merupakan kuil yang paling unik jika dibandingkan dengan kedua kuil sebelumnya karena transenden yang disembah adalah Dewa Bumi, bukan sosok tokoh terkenal seperti Cheng Ho dan mbah juru mudi. Dengan kata lain, para anggota kuil ketiga ini menyembah sesuatu yang abstrak dan sulit untuk diimajinasikan seperti apa rupanya.
Menurut keterangan Sudiyono, salah satu juru kunci di Klenteng Sam Po Kong, konsep Dewa Bumi merupakan pengaruh dari kepercayaan Jawa yang menyembah danjang. Namun, meskipun sangat mirip, Dewa Bumi berbeda dengan  danjang untuk beberapa hal. Pertama, danjang biasanya diyakini sebagai arwah dari figur sejarah yang telah tiada[12], sedangkan Dewa Bumi tidak menjadi representasi bagi orang yang meninggal. Dewa Bumi lebih dianggap sebagai salah satu karakter dewa Cina yang memiliki nama Hok Tek Ching Shin, Fu Te Cheng Sen, or Ta Pe Kong[13]. Kedua, para penyembah danjang diharuskan untuk melaksanakan slametan, sedangkan para pemuja Dewa Bumi hanya cukup berdoa padanya. Yang terakhir, danjang tidak membutuhkan “partner” dalam melaksanakan tugasnya, sementara Dewa Bumi “ditemani” oleh dua dewa lain yang melindungi kuil tersebut, yaitu Dewa Bulan dan Dewa Matahari. Pasangan dewa langit seperti ini terinspirasi dari ajaran Tao akan keseimbangan yin dan yang. Kesimpulannya, di kuil ketiga ini penulis dapat menemukan sinkretisme antara tradisi abangan dan Tao.
Kemudian, jika kita masuk pada kerangka teori Geertz, seperangkat sistem simbol di kuil ketiga ini telah menciptakan motivasi pada siapapun yang percaya akan kekuatan Dewa Bumi  untuk menyembahnya dan menganggap bahwa Dewa Bumi, sebuah wujud yang abstrak, seakan-akan benar-benar nyata. Sementara itu, dalam kacamata konsep Durkheim, keyakinan yang sama akan suatu transenden yang bernama Dewa Bumi telah mengikat para penyembahnya menjadi satu kesatuan komunitas keagamaan.

Belajar dari Cheng Ho : Toleransi dan Pluralisme terhadap Komunitas Agama yang lain (Religious Others)

Sekarang, setelah kita belajar sejarah kegigihan Cheng Ho dalam menyebarkan semangat pluralisme terhadap agama lain, sudah seharusnya kita berusaha untuk meniru sikap Cheng Ho tersebut dengan cara menghargai tradisi lokal dan ritual yang beragam di sekitar kita. Dalam Al-Quran pun, berkali-kali ditekankan tentang pentingnya pluralisme, seperti dalam Surat Al-Hujurat ayat 13 :
   Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

Allah mengingatkan lagi tentang tujuan keberagaman manusia dalam Surat Hud ayat 118 :
Jikalau Tuhan menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat
           
Dan Allah mengulanginya lagi dalam Surat Al-Maidah ayat 48:
...Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukanNya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”

Kini, jika kita benar-benar berusaha untuk memahami ayat-ayat Al-Quran di atas, jelas bahwa Allah memang sengaja menciptakan masyarakat dunia yang pluralis agar kita semua belajar untuk saling menghargai perbedaan pendapat dan juga kepercayaan. Itulah sebabnya Allah menggunakan kata mukhtalifin dalam Surat Hud yang berarti perbedaan yang berkonotasi positif, bukan syiqaq yang maknanya perbedaan yang berkonotasi negatif[14].
Setelah mengenal lebih jauh tentang sikap mulia Laksamana Cheng Ho terhadap non-Muslim, yang bahkan hingga kini semangat toleransinya masih dapat dirasakan di Klenteng Sam Po Kong Semarang, kita harus mulai sadar bahwa konflik dan kekerasan dalam menghadapi religious others bukanlah cerminan Islam yang rahmatal lil alamin. Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang menyejukkan dan menimbulkan kedamaian serta kebahagiaan bagi Muslim dan non-Muslim. Islam yang sejati adalah Islam yang banyak berdialog, berbagi, dan mendengarkan dan tidak egois.
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, ” itulah salah satu petuah Rasulullah. Kini kita jauh lebih mengerti mengapa Nabi Muhammad memilih Cina. Selain karena keeksotisan budaya, kehebatan angkatan militernya, dan ilmunya, mugnkin jauh-jauh hari Rasulullah sudah memperkirakan bahwa akan hadir seorang hebat dari Negeri Tirai Bambu yang akan menjadi tauladan di dunia timur dan membawa nilai-nilai pluralisme, termasuk Indonesia. Dialah Jenderal Besar Cheng Ho. Maka, mari menuntut ilmu kemasyarakatan pada Jendral Cheng Ho.       


Kesimpulan
Kemunculan ritual-ritual keagamaan yang berbeda di Klenteng Sam Po Kong terinspirasi oleh sikap Laksamana Cheng Ho yang menghargai keberagaman agama dan kepercayaan. Berdasarkan observasi lapangan yang dilakukan oleh penulis di Klenteng Sam Po Kong Semarang, terdapat sinkretisme agama Islam, Budha, dan Tao dengan abangan. Kerangka teori yang digunakan dalam makalah ini teori tentang “agama” yang dicetuskan oleh Geertz dan Durkheim.  Terakhir, penulis menyarankan agar kaum Muslim di Indonesia mengedepankan perdamaian dan toleransi jika berhubungan dengan penganut agama lain karena memang hal inilah yang diperintahkan dalam Al-Quran.

Daftar Pustaka :
Azra, Ayzumardi, “Pluralisme Islam dalam Perspektif Historis”, dalam Sururin (ed.), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam : Bingkai Gagasan yang Berserak, Bandung : Penerbit Nuansa, 2005.
Buckley, Nora C.. “The extraordinary voyages of Admiral Cheng Ho.”  History today 71 : 462-467 (1975).
Geertz, Clifford, The Religion of Java, London: The University of Chicago Press, 1960.
------------------- The Interpretation of Cultures, New York: Basic Books, 1973.
Mulyana, Slamet, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2005.
Daniel, Pals, Seven Theories of Religion, New York: Oxford University Press, 1996.
Syam, Nur, Islam Pesisir, Yogyakarta : LkiS, 2005.
Yuanzhi, Kong. Muslim Tionghoa Cheng Ho : Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, Jakarta: Pustaka Populer Obor, 2007.
Smith, Wilfred Cantwel, .................
Shihab, Alwi, “Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, Sebuah Pengantar,″ dalam Sururin (ed.), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam : Bingkai Gagasan yang Berserak, Bandung : Penerbit Nuansa, 2005.
Prihantoro,  Fahmi, “Klenteng, Agama, dan Identitas Budaya Masyarakat Cina : Studi Kasus Pada Klenteng Tay Kak Sie, Semarang,” tesis tidak terbit, UGM, 2006.
Hanif, Muh, “Dakwah Islam Kultural: Studi Atas Apresiasi Kyai Masrur Ahmad MZ (lahir 1963) terhadap Seni Jathilan di Kelurahan Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta,” tesis tidak terbit, UGM, 2006.
Salehuddin, Ahmad, “Masjid yang terbelah di Gunungsari: Tarik-Menarik Antara Aliran Islam dalam Masyarakat Jawa,” tesis tidak terbit, UGM, 2006.


[1] Daniel Pals, Seven Theories of Religion, (New York: Oxford University Press, 1996), h. 113-114.
[2]Clifford Geertz, Interpretation of Cultures, (New York : Basic Books, 1973), h. 90
[3]Op. cit., Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion, h. 244-246. 
[4]Keterangan ini didasarkan dari juru kunci penunggu kuil pertama dan guide Klenteng Sam Po Kong.
[5]Joseph Gaer, How the Great Religions Began, (New York : American Library, 1959), h. 73.
[6]Op. cit., Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, h. 64.
[7]Nur Syam, Islam Pesisir, (Yogyakarta : LKiS, 2005), h. 132-133
[8]Adalah patung-patung yang menyimbolkan Dewi Laut.
[9]Sudiyono, sang juru kunci kuil kedua menjelaskan kepada penulis bahwa ada tiga “pasangan” lilin besar, yang bermakna filosofis bahwa segala sesuatu di alam ini harus berpasangan dengan sesuatu yang sifatnya berkebalikan untuk  menjaga harmonisasi semesta, contohnya pria dan wanita, siang dan malam, kejahatan dan kebaikan, dll.
[10]Op. cit., Nur Syam, Islam Pesisir, h. 104-105; 112.
[11]Ibid. Nur Syam, Islam Pesisir, h. 103.
[12]Clifford Geertz, The Religion of Java, (London: The University of Chicago Press, 1960), h. 26. Dalam bukunya yang emrupakan penelitian antropologis ini, Geertz beranggapan bahwa danjang adalah arwah penjaga yang melindungi dan membantu warga desa. Serupa dengan danjang, Dewa Bumi bertugas untuk melindungi orang yang tinggal di sekitar kuil tersebut dari kejahatan dan nasib buruk.
[13]Informasi ini didapat dari wawancara dengan guide Klenteng Sam Po Kong
[14]Alwi Shihab, “Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, Sebuah Pengantar,″ dalam Sururin (ed.), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam : Bingkai Gagasan yang Berserak, (Bandung : Penerbit Nuansa, 2005), h. 20.