CONTOH MAKALAH PENDIDIKAN | Student Centered Learning Dan Implikasinya Terhadap Proses Pembelajaran

CONTOH MAKALAH PENDIDIKAN | Student Centered Learning Dan Implikasinya Terhadap Proses Pembelajaran
sebelumnya | Contoh Artikel Globalisasi: Dampak Globalisasi Media Terhadap Masyarakat Dan Budaya Indonesia

Oleh : Endang Nugraheni (heni@mail.ut.ac.id)

ABSTRACT

Student-centered learning is an approach to education focusing on the needs of the students. Students are required to become more active and responsible of their own learning. The concept of student centered learning thrives since the growing understanding of how students actually learn. This is a shifting paradigm of conventional learning which centered on teachers roles. This article explores the implication of student-centered learning on the aspects of curriculum development, learning strategies, roles of teachers and students, learning environment, and the measurement of student achievement. The impacts of this approach on face to face learning as well as distance learning are also discussed.

Key words: student-centered learning

Proses pembelajaran secara konvensional menempatkan guru atau dosen sebagai sumber belajar yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan kepada siswa atau mahasiswa.

Perkembangan penelitian mengenai bagaimana seseorang belajar mempengaruhi proses pembelajaran konvensional yang menempatkan guru sebagai pusat belajar. Kunci perubahan tersebut terdapat pada pemikiran bahwa siswa secara aktif membentuk pengetahuannya sendiri, yang dikenal sebagai pemikiran konstruktivisme. Pendekatan konstruktivisme tersebut dalam implementasinya melahirkan pendekatan Student Centered Learning (SCL) yaitu pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Walaupun pendekatan SCL telah muncul sejak lama, penerapannya pada kegiatan belajar mengajar yang sesungguhnya terjadi secara berangsur-angsur. Di Indonesia SCL masih menjadi topik yang populer pada saat ini terutama di kalangan pembelajaran tatap muka yang ditandai dengan muncul dan ramainya permintaan diskusi, ceramah, dan pelatihan tentang SCL. Diskusi di dalam jaringan internet dalam bentuk mailing list ataupun blog di kalangan pengajar juga banyak memuat perbincangan tersebut. Perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta banyak menggunakan istilah SCL sebagai alat promosi meningkatkan daya jual. Karena popularitasnya maka perlu adanya penelaahan yang rinci tentang apa dan bagaimana SCL dan bagaimana implikasi penerapannya dalam kegiatan belajar mengajar, baik secara tatap muka maupun jarak jauh. Pembahasan dalam artikel ini selanjutnya menggunakan istilah guru dan siswa dalam pengertian secara umum. Guru juga meliputi dosen perguruan tinggi, demikian pula siswa mencakup juga mahasiswa.

PEMBELAJARAN DENGAN SCL

Pemikir seperti John Dewey, Jean Piaget, dan Lev Vygotsky (Wikipedia, 2006) yang karyanya terfokus pada bagaimana siswa belajar, bertanggung jawab atas gerak perubahan cara pembelajaran dari yang terpusat kepada guru menjadi terpusat kepada siswa, yaitu SCL. SCL berarti menempatkan siswa sebagai pusat dari kegiatan belajar. Pergerakan konsep tersebut didukung pula oleh penelitian mengenai bagaimana kerja otak manusia yang menyebutkan bahwa siswa belajar secara lebih baik dengan cara mengalami langsung dan mengontrol proses belajar tersebut (Wikipedia, 2006).

Menurut Hall (2006) yang dikutip dalam blog Exploration on Learning, SCL adalah tentang membantu siswa menemukan gaya belajarnya sendiri, memahami motivasi dan menguasai keterampilan belajar yang paling sesuai bagi mereka. Hal tersebut akan sangat berharga dan bermanfaat sepanjang hidup mereka.

Melaksanakan pendekatan SCL berarti guru perlu membantu siswa untuk menentukan tujuan yang dapat dicapai, mendorong siswa untuk dapat menilai hasil belajarnya sendiri, membantu mereka untuk bekerja sama dalam kelompok, dan memastikan agar mereka mengetahui bagaimana memanfaatkan semua sumber belajar yang tersedia. Pembelajaran lebih merupakan bentuk pengembangan diri secara keseluruhan dibandingkan kemajuan linier yang dicapai guru dengan cara pujian dan sanksi. Kesalahan dilihat sebagai bagian konstruktif dari proses belajar dan tidak perlu dilihat sebagai hal yang memalukan. Pendapat tersebut merupakan inti sari dari prinsip SCL yang muncul dalam berbagai definisi SCL yang beberapa di antaranya dikemukakan sebagai berikut.

“Student-centred learning or student-centered learning is an approach to education focusing on the needs of the students, rather than those of others involved in the educational process, such as teachers and administrators” (Wikipedia, 2006).

Lea, Stephenson, dan Troy (2003 dalam O’Neill & McMahon, 2005) mendefinisikan SCL secara lebih luas yaitu bahwa SCL mencakup : ketergantungan terhadap belajar aktif, penekanan terhadap belajar secara mendalam, pemahaman, meningkatnya tanggungjawab di pihak siswa, meningkatnya perasaan otonomi pada pembelajar, saling ketergantungan antara guru dan siswa. SCL lebih merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang refleksif baik bagi pihak siswa maupun guru.

Dalam pendekatan SCL, pembelajar memiliki tanggung jawab penuh atas kegiatan belajarnya, terutama dalam bentuk keterlibatan aktif dan partisipasi siswa. Hubungan antara siswa yang satu dengan yang lainnya adalah setara, yang tercermin dalam bentuk kerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan suatu tugas belajar. Guru lebih berperan sebagai fasilitator yang mendorong perkembangan siswa, dan bukan merupakan satu-satunya sumber belajar. Keaktifan siswa telah dilibatkan sejak awal dalam bentuk disain belajar yang memperhitungkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman belajar siswa yang telah didapatkan sebelumnya. Dari pengalaman praktek yang ada, diharapkan setelah mengalami pembelajaran dengan pendekatan SCL pembelajar akan melihat dirinya secara berbeda, dalam arti lebih memahami manfaat belajar, lebih dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari, dan lebih percaya diri (O’Neill & McMahon, 2005).

Implikasi SCL dalam Pengembangan Kurikulum

Berkaitan dengan implikasi terhadap pengembangan kurikulum, pembelajaran yang berfokus pada siswa mencakup pengertian bahwa siswa memiliki pilihan tentang apa yang akan dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Namun sejauh mana hal itu dapat dilaksanakan di ruang kuliah univeritas tatap muka perlu dicermati lebih lanjut. Upaya yang dapat dilakukan adalah penstrukturan mata kuliah menjadi bentuk modul-modul yang dapat memberikan kesempatan memilih kepada siswa tentang pokok bahasan yang ingin mereka pelajari pada suatu waktu (O’Neill & McMahon, 2005).

Selanjutnya, Donnelly dan Fitzmaurice (2005) menekankan pentingnya siswa terlibat seawal mungkin dalam disain kurikulum. Kelemahan yang perlu dicermati adalah kecenderungan berlebih atas konsep individualitas yang memiliki kemungkinan menjauhkan siswa dari kemampuan kerjasama dan keterampilan sosial lainnya.

Salah satu pendekatan disain kurikulum berbasis SCL adalah Problem-Based Learning (PBL), yang memungkinkan siswa memiliki pilihan dalam area program apa yang hendak dipelajari (Lonka, 2000). Pendekatan tersebut memperbolehkan siswa menentukan seperangkat tujuan pembelajaran dan hasil yang ingin dicapai berbasis pada pengetahuan awal yang telah mereka miliki.

Proses PBL yang melatih siswa untuk menyelesaikan permasalahan nyata akan mendorong siswa untuk mengetahui kesenjangan pengetahuan dan pemahamannya. Pada akhirnya, siswa akan terlatih dan mampu menentukan tujuan belajarnya sendiri (Boud & Feletti, 1997).

Praktek yang dilakukan secara meluas berkaitan dengan disain pembelajaran adalah dengan cara menuliskan tujuan belajar yang berfokus pada apa yang akan mampu dilakukan oleh siswa setelah proses belajar, dan bukan pada materi apa yang akan dicakup dalam perkuliahan. Praktek tersebut adalah contoh dari pergeseran pengembangan kurikulum yang menuju SCL, yang cenderung menekankan pada peran siswa dibandingkan guru (Donnelly & Fitzmaurice, 2005).

Implementasi SCL dalam Strategi Pembelajaran

Untuk dapat mengimplementasikan SCL dengan baik maka strategi belajar mengajar harus diadaptasikan atau dipilih dari berbagai alternatif yang ada. Strategi yang dipilih tentunya yang menekankan dan mendorong siswa lebih aktif dalam mendapatkan dan menguasai pengetahuan dan keterampilan. Hal tersebut antara lain dapat dilakukan melalui latihan di kelas, studi lapangan, penggunaan paket computer assisted learning (CAL), dan belajar mandiri sebagaimana praktek yang dilakukan dalam pendidikan jarak jauh (PJJ). Selain itu strategi tersebut akan membuat siswa lebih sadar tentang apa yang mereka lakukan dan mengapa mereka melakukan kegiatan belajar tersebut.

Sebagai tambahan perlu dipertimbangkan pula kegiatan yang mendorong interaksi siswa dalam kerjasama kelompok (O’Neill & McMahon, 2005).

O’Neill dan McMahon (2005) memberikan beberapa contoh metode pembelajaran yang dapat dipilih guru. Metode tersebut terbagi menjadi kegiatan di dalam kelas dan kegiatan di luar kelas. Metode belajar tersebut, yang tentunya dapat dikombinasikan dan diadaptasikan, dimaksudkan untuk memberi contoh ide yang dapat dilakukan oleh guru dalam pendekatan SCL.

Peran Guru dalam Pendekatan SCL

Dalam SCL titik berat peranan beralih pada siswa sehingga guru harus menyadari bahwa peran mereka adalah sebagai kolaborator dari proses belajar. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengakses semua sumber belajar yang ada. Guru bukan satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Ini merupakan peran baru yang harus dipegang oleh guru apabila mereka ingin menerapkan SCL dengan baik.

Guru yang cenderung menggunakan pendekatan SCL memiliki karakteristik umum yang membuat mereka menjadi guru yang efektif. Afiatin (2004) secara umum menyebutkan bahwa karakteristik guru tersebut antara lain mengakui dan menghargai keunikan masing-masing siswa dengan cara mengakomodasi pemikiran siswa, gaya belajar, tingkat perkembangan, kemampuan, bakat, persepsi diri, serta kebutuhan akademis dan non akademis siswa. Selanjutnya guru yang efektif akan memulai pembelajaran dengan asumsi dasar bahwa semua siswa bersedia untuk belajar dengan sebaik-baiknya.

Perubahan peran guru dari fokus utama menjadi fasilitator atau pendamping dalam SCL tidaklah mudah. Menurut Doyle (2006) ada berbagai penyebab resistensi guru, antara lain: mereka lebih senang menjadi pusat perhatian; ada perasaan kurang berarti karena hanya sebagai pendamping siswa sedangkan siswa yang mengontrol seluruh kegiatan belajar; dan guru menganggap bahwa siswa tidak dapat menangani tanggung jawab atas belajarnya sendiri. Pada kenyataannya banyak guru yang tidak mengetahui bagaimana memegang peran yang baru tersebut.

Untuk mengatasi hambatan peralihan peran tersebut, langkah yang harus dilakukan guru adalah mengurangi hal-hal yang biasa dilakukan seperti: ceramah, mengorganisasikan materi pelajaran, membuat contoh, menjawab pertanyaan, merangkum diskusi, dan memecahkan permasalahan. Disamping itu, yang harus lebih banyak dilakukan adalah mendisain aktivitas dan tugas, memperbolehkan siswa menemukan sendiri dan belajar di antara sesamanya, dan menciptakan suasana belajar aktif dalam kelas. Dengan kata lain guru perlu mengulangi pengalaman proses belajarnya sendiri dan menempatkan diri sebagai siswa, sehingga siswa dapat mengalami proses belajar yang menarik dan menyenangkan (Doyle, 2006).

Peran Siswa dalam Pendekatan SCL

Ciri utama SCL adalah siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajarnya. Siswa memutuskan sendiri apa yang akan dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya. Dalam kegiatan belajar, guru mengajak siswa agar memahami bahwa pembelajaran adalah suatu proses konstruktif, oleh karena itu, siswa harus mempelajari sesuatu yang relevan dan bermakna bagi diri mereka.

Selain itu siswa juga mencoba mengembangkan pengalaman belajar secara aktif, menciptakan, dan membangun pengetahuannya sendiri, serta mengaitkan apa yang sudah diketahuinya dengan pengalaman yang diperoleh sebelumnya (Afiatin, 2004).

Berkaitan dengan kerjasama antarsiswa maka dalam SCL sikap dan upaya tersebut sangat penting. Dalam SCL pengalaman dan latar belakang siswa diperhitungkan sehingga keanekaragaman pengalaman dari berbagai siswa akan memperkaya interaktivitas di dalam kelas. Namun demikian, siswa memutuskan sendiri bagaimana bentuk kelompok belajar, siapa saja anggotanya, dan bagaimana mereka akan berinteraksi. Siswa diharapkan memahami tanggung jawab atas kegiatan belajarnya yang dibangun atas pengetahuan dan keterampilan yang sebelumnya telah dimiliki. Selain itu, siswa memonitor kemajuan belajarnya secara teratur. Siswa bahkan dapat dilibatkan dalam penilaian hasil belajar. Hal tersebut dapat dilakukan dalam penyelesaian tugas dan ujian yang lebih bersifat evaluasi formatif. Dalam SCL siswa secara intrinsik lebih memiliki motivasi diri untuk mencapai tujuan belajar yang mereka tetapkan sendiri (O’Neill & McMahon, 2005).

Implikasi Pendekatan SCL dalam Pengukuran Hasil Belajar

Berkaitan dengan pengukuran dan penilaian hasil belajar, maka praktek yang sudah terjadi pada umumnya mengandung beberapa kelemahan, antara lain yang disebutkan oleh Black (1999) yaitu: a) penekanan yang berlebih pada pemberian nilai akhir, sedangkan pemberian masukan dan bimbingan yang merupakan salah satu fungsi belajar kurang ditekankan; b) siswa dibandingkan satu dengan lainnya yang akan lebih mendorong kompetisi dibandingkan perkembangan individu. Dalam  SCL yang menekankan agar siswa bertanggung jawab atas proses belajarnya, bentuk pengukuran dan penilaian lebih mendekati konsep penilaian diri sendiri atau self-assessment (Black, 1999).

Pada saat ini praktek tes tertulis masih mendominasi dunia pendidikan yang terutama berupa penilaian sumatif. Penambahan bentuk tes formatif yang lebih menekankan pada umpan balik atas proses belajar yang telah dilakukan akan dapat mendorong proses belajar aktif sebagaimana yang menjadi prinsip dasar SCL. Dengan mengembangkan lebih banyak tes formatif, guru dapat memberikan fokus kepada siswa dengan cara memperjelas kesenjangan pengetahuan dan keterampilan, serta mengidentifikasi aspek belajar yang dapat dikembangkan. Contoh tes formatif dapat berupa umpan balik terhadap makalah, catatan tertulis atas tugas, atau nilai sepanjang tahun yang tidak diakumulasikan menjadi nilai akhir, sebagaimana dikemukakan oleh Gibbs (dalam O’Neill & McMahon, 2005). Metode pengukuran berbasis SCL lain yang dapat dipilih oleh guru adalah: buku harian, jurnal, portofolio , tes mandiri, penilaian oleh sejawat, kerja kelompok, demonstrasi, dan lain sebagainya.

Selain berbagai bentuk pengukuran tersebut, penerapan SCL dapat dilakukan pula melalui kontrak belajar yang dinegosiasikan antara siswa dan guru yang berbasiskan kesenjangan belajar yang dimiliki siswa. Melalui cara tersebut dapat direncanakan dan disepakati pula bentuk penilaian dan pengukuran hasil belajar yang akan dilakukan, yaitu dengan cara apa siswa akan memperlihatkan keberhasilan belajarnya. Hal tersebut akan memberikan siswa lebih banyak pilihan atas bentuk pengukuran hasil belajarnya. Pilihan merupakan kata kunci utama dalam SCL (O’Neill & McMahon, 2005).

Implikasi Pendekatan SCL pada Lingkungan Belajar

Lingkungan belajar SCL yang baik akan merupakan lingkungan belajar yang terbuka, dinamis, saling mempercayai, dan saling menghormati. Hal tersebut akan mendorong keingintahuan siswa untuk belajar secara alamiah. Selain itu, siswa juga akan bekerja sama dalam memecahkan permasalahan bermakna dan sesungguhnya yang akan merupakan pendalaman lebih lanjut terhadap pelajaran terkait. Proses belajar tersebut diharapkan dapat melibatkan pribadi secara keseluruhan, perasaan, pemikiran, tujuan, keterampilan sosial, dan intuisi. Hasilnya adalah seseorang yang termotivasi untuk menjadi pelajar seumur hidup, siswa yang memahami dan menerima kemampuannya sendiri dan menghargai kemampuan orang lain (Doyle, 2006).

Menurut Afiatin (2004), guru yang menerapkan SCL cenderung menciptakan lingkungan pembelajaran dengan ciri antara lain: suasana kelas yang hangat dan mendukung; siswa hanya akan diminta untuk mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat bagi mereka; guru menjelaskan manfaat dari tugas yang diberikan pada siswa; dan siswa dengan senang hati mengerjakan pekerjaannya dengan sebaik mungkin.

PRAKTEK SCL DALAM PENDIDIKAN TATAP MUKA

Pada awalnya, pembelajaran tatap muka secara konvensional lebih bersifat TCL dibanding SCL. Perkembangan konsep pendidikan telah mendorong pergerakan TCL ke arah SCL. Agar perubahan dapat berjalan mulus dan memperhalus kejutan yang terjadi, Hall (2006) dalam diskusinya menyarankan kepada para guru untuk memperkenalkan kegiatan khusus berbasis SCL secara gradual, bukan merombak total keseluruhan mata kuliah. Dengan cara tersebut dimungkinkan dilakukannya evaluasi dan perbaikan sejalan dengan proses pengembangan yang terjadi. Hal tersebut juga memungkinkan setiap guru mengadopsi ide yang disukai dengan kecepatan mereka sendiri sehingga memiliki waktu yang realistik dalam menuliskan kembali bahan ajar/mengembang-kan bahan ajar berbasis SCL.

Pada tahap perencanaan, bahan ajar dapat dipecah dan distrukturkan dalam bentuk moduler, sehingga siswa memiliki kesempatan untuk memilih bahan ajar yang akan dipelajari sesuai dengan pengetahuan awal. Untuk pengayaan, berbagai sumber belajar selain perkuliahan harus disediakan, misalnya buku teks, artikel jurnal, situs WEB yang dapat diakses, dan multimedia interaktif. Dengan demikian, sumber belajar yang disediakan akan menjadi lebih beragam dibandingkan dengan yang terdapat pada kelas konvensional.

Strategi belajar yang ditempuh adalah mengurangi peran guru sebagai sumber belajar utama secara bertahap dan lebih mendorong siswa untuk berperan aktif. Guru bergeser perannya menjadi fasilitator yang membantu siswa ketika diperlukan, dan siswa dituntut untuk lebih mampu belajar secara mandiri. Perkuliahan tatap muka dikurangi dan ditambahkan tugas yang harus dikerjakan secara mandiri dan berkelompok. Berbagai metode pembelajaran yang lebih berpendekatan SCL dapat diterapkan dengan kreatif dan adaptif sesuai kondisi siswa. Sebagai fasilitator yang efektif, tugas guru tidak menjadi lebih mudah, bahkan dituntut kompetensi yang lebih tinggi karena guru harus mampu fleksibel dalam menerapkan berbagai metode pembelajaran. Lingkungan belajarpun secara bertahap dibawa ke dalam suasana yang lebih mendorong SCL.

Dalam hal metode penilaian hasil belajar, penilaian yang lebih bersifat formatif dapat lebih banyak dilakukan. Selain itu dapat pula disepakati pada awal pembelajaran tentang bagaimana pada akhirnya siswa akan menunjukkan keberhasilan belajarnya. Jenis penilaian tidak terbatas pada ujian tertulis sebagaimana yang berlaku pada kelas konvensional, dan hal tersebut dinegosiasikan antara   guru dan siswa pada awal pembelajaran menjadi kontrak tertulis. Dengan demikian, nilai yang akan diberikan harus memiliki kriteria terukur yang dapat pula dibicarakan sebelum kegiatan belajar. Misalnya dapat disepakati bahwa untuk mendapatkan nilai A maka siswa harus menyelesaikan tugas a, b, c, dan makalah x, w, z, dan tes tertulis d, e. Jika tugas yang diselesaikan hanya a dan b, dan makalah yang dikumpulkan hanya x dan z, dan lulus tes d dan e, maka siswa akan mendapat nilai B, dan seterusnya.

PRAKTEK SCL DALAM PJJ

Dalam PJJ, terutama pada generasi akhir PJJ, implementasi SCL dapat dilakukan sejak awal, yaitu sejak perencanaan kurikulum yang diikuti dengan perancangan pembelajaran dan pengembangan bahan ajar. Disain PJJ yang terutama difokuskan pada belajar mandiri merupakan implementasi nyata dari SCL. Bahan ajar yang dikembangkan secara terpusat, dapat didisain secara moduler dan mengakomodasi kegiatan belajar mandiri. Bahan ajar, selain yang berupa uraian tercetak, dapat pula dilengkapi dengan berbagai bentuk multimedia, baik yang terintegrasi dengan bahan ajar tercetak maupun sebagai bahan ajar tambahan.

Strategi belajar yang dipilih pada PJJ lebih banyak berbasis pada siswa, sehingga siswa dituntut untuk aktif belajar mandiri. Inisiatif kerja kelompok hampir sepenuhnya diserahkan kepada siswa. Dalam hal strategi belajar maka sistem PJJ lebih bersifat SCL dibandingkan sistem tatap muka. Dalam PJJ dikenal upaya bantuan belajar dalam bentuk tutorial, baik secara tatap muka maupun berjarak seperti tutorial online dan tutorial tertulis. Pada kegiatan tutorial tersebut guru sepenuhnya bertindak sebagai fasilitator mengingat bahan ajar utama adalah modul tercetak dan multimedia. Dengan demikian, sejak awal peran guru telah didisain sebagai fasilitator.

Berkaitan dengan pengukuran hasil belajar, institusi PJJ yang tersentralisasi sebagian besar masih mempergunakan metode pengukuran klasik yang mengandalkan pengukuran kemampuan rata-rata siswa dalam pencapaian belajar. Untuk lebih mendekati sistem SCL, institusi PJJ dapat memanfaatkan bentuk computer adaptive testing (CAT) yaitu suatu metode tes yang mengadaptasi tingkat kemampuan siswa secara individual yang juga umum disebut sebagai tailored testing (Weiss & Kingsbury, 1984). CAT secara suksesif memberikan pertanyaan yang semakin lama semakin naik tingkat kesukarannya tergantung kepada jawaban siswa atas satu pertanyaan dasar. Apabila jawaban siswa benar atas satu pertanyaan maka pertanyaan berikutnya akan memiliki tingkat kesukaran yang lebih tinggi, apabila jawaban siswa salah maka pertanyaan berikutnya memiliki tingkat kesukaran yang lebih rendah dan seterusnya. Dengan jumlah soal total yang lebih sedikit dibanding tes hasil belajar biasa maka akan diketahui tingkat penguasaan hasil belajar siswa. Karena tes tersebut diberikan dengan bantuan komputer, maka hasil tes akan segera diketahui pula oleh siswa (Green, 2000).

Dengan jenis CAT tersebut, setiap siswa mendapatkan set soal yang berbeda sesuai tingkat pengetahuan yang dimiliki. Dengan demikian, cara pengukuran hasil belajar seperti itu sangat sesuai dengan prinsip SCL. Teknologi pengukuran yang digunakan pada jenis tes ini adalah item response theory. Adaptive test secara perhitungan statistik akan menghasilkan nilai yang tepat bagi semua tingkat kemampuan siswa. Cara pengukuran tersebut akan mengatasi kelemahan tes klasik yang hanya mengukur secara tepat kemampuan siswa pada tingkat menengah, yang secara bertahap akan semakin bias untuk tingkat kemampuan siswa pada sisi ekstrim bawah dan ekstrim atas (Thissen & Mislevy, 2000).

PENUTUP

Perubahan pendekatan dari TCL menjadi SCL menuntut kehati-hatian dalam penerapannya. Pergeseran fokus tersebut berdampak pada perubahan aspek pembelajaran, sejak dari disain kurikulum, pemilihan strategi belajar, peran guru dan siswa, lingkungan belajar, sampai dengan pengukuran hasil belajar.

Implikasi penerapan SCL bagi pendidikan tatap muka dalam bidang kurikulum adalah pada penstrukturan bahan ajar menjadi lebih moduler dan diadaptasikan pada kebutuhan siswa. Peran guru pendidikan tatap muka sebagai sumber belajar utama secara berangsur lebih digeser kepada peran fasilitator, sedangkan siswa juga dituntut untuk lebih aktif dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri. Adapun strategi belajar dan cara pengukuran hasil belajar dapat lebih disesuaikan dengan pendekatan SCL. Berbeda dengan pendidikan tatap muka, maka PJJ dapat dikatakan lebih condong pada pendekatan SCL. Hal tersebut terutama disebabkan oleh disain kurikulum dan strategi belajar yang ditempuh yaitu belajar mandiri. Bahan ajar PJJ dari awal memang didisain sedemikian rupa sehingga adaptif dengan kebutuhan, waktu, dan kemauan siswa untuk mempelajarinya. Dalam kegiatan belajar mandiri yang sebenarnya, siswa diharuskan aktif dan bertanggung jawab atas proses belajarnya, sedangkan sebagai bantuan belajar disiapkan tutor yang bertindak sebagai fasilitator. Untuk pengukuran hasil belajar institusi PJJ harus secara bertahap mengupayakan perubahan ke arah adaptive test yang lebih berorientasi kepada siswa, walaupun perubahan tersebut tidaklah mudah.


Daftar Pustaka
Afiatin, T. (2004). Pembelajaran berbasis student-centered learning. Disampaikan dalam Seminar Implementasi nilai kearifan dalam proses pembelajaran berorientasi student-centered learning, di Balai Senat UGM, 30 November 2004”. Diambil 10 November 2006, dari http://inparametric.com/bhinablog/

Black, P. (1999). Assessment, learning theories and testing systems. In Murphy, P. (Ed.), Learners, learning, and assessment. London: Open University Press.

Boud, D. & Feletti, G. (Eds.). (1997) The challenge of problem-based learning (2nd Ed.). ERIC Abstract [ED415220]. Diambil 4 Oktober 2006, dari http://www.eric.ed.gov/ERICWebPortal/custom/portlets/recordDetails/.

Donnelly, R. & Fitzmaurice , M. (2005). Designing modules for learning. Diambil 27 November 2006, dari http://www.aishe.org/readings/2005-1/donnelly-fitzmaurice-Designing_Modules_for_ Learning.html.

Doyle, T. (2006). The role of the teacher in a learner-centered classroom. Diambil 27 Januari 2007, dari http://www.ferris.edu/htmls/academics/center/teaching_and_learning_Tips/Learner-
Centered%20Teaching/RoleofTeacher.htm..

Green, B.F. (2000). System design and operation. In Wainer, H. (Ed.) Computerized Adaptive Testing: A Primer. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates. Diambil 14 November 2006, dari http://en.wikipedia.org/wiki/Computer-adaptive_test#_ref-WeissKingsbury_0.

Hall, B. (2006). The nature of "Student-Centred Learning". Diambil 24 November 2006, dari  http://secondlanguagewriting.com/explorations/Archives/2006/Jul/StudentcenteredLearning.html.

Hirumi, A. (2005). Student-Centred Technology-Rich Learning Environments (SCenTRLE) - Operationalizing constructivist approaches to teaching and learning. Diambil 27 November 2006, dari http://www.bath.ac.uk/e-learning/student_centredness.htm.

Lea, S. J., Stephenson, D., & Troy, J. (2003). Higher education students’ attitudes to student centred learning: Beyond ‘educational bulimia’. Studies in Higher Education 28(3), 321-334. Dalam O’Neill, G. & McMahon, T. (2005). Student-centred learning: What does it mean for students and lecturers. Diambil 27 November 2006, dari http://www.aishe.org/readings/2005-1/oneillmcmahon-tues_19th_Oct_SCL.html#XLea2003.
Lonka, K.(2000). How to implement an innovative problem-based curriculum in medical education: Challenges and solutions. Diambil 1 Desember 2006, dari http://www.umich.edu/~icls/proceedings/pdf/Lonka.pdf.

O’Neill, G. & McMahon, T. (2005). Student-centred learning: What does it mean for students and lecturers? Diambil 25 November 2006, dari .http://www.aishe.org/readings/2005-1/oneillmcmahon-Tues_19th_Oct_SCL.html.

Thissen, D., & Mislevy, R.J. (2000). Testing algorithms. In Wainer, H. (Ed.) Computerized adaptive testing: A primer. Mahwah: Lawrence Erlbaum Associates. Diambil 14 November 2006, dari http://en.wikipedia.org/wiki/Computer-adaptive_test#_ref-WeissKingsbury_0.

Weiss, D. J., & Kingsbury, G. G. (1984). Application of computerized adaptive testing to educational problems. Journal of Educational Measurement, 21, 361-375. Dalam Wikipedia (2006).

Computer-adaptive testing. Diambil 14 November 2006, dari http://en.wikipedia.org/wiki/Computer-adaptive_test#_ref-WeissKingsbury_0.

Wikipedia. (2006). Student-centered learning. Diambil 11 September 2006, dari
http://en.wikipedia.org/wiki/Student-centered_learning.