Contoh Makalah : ISLAMISME, SEKULARISME ATAU KEBANGSAAN ? Menengok Kembali Pemikiran Nurcholish Madjid

sebelumnya | Contoh Makalah : Sekularisme Menurut Pandangan Islam (Pandangan)
 



Oleh:
M. Dawam Rahardjo


Permintaan Presiden SBY langsung melalui tilpun kepada mBak Omi, istri Prof.Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur), agar cendekiawan Muslim yang baru wafat itu dimakamkan di Taman Pahlawan Nasional  Kalibata menandakan, bahwa Cak Nur dihargai sebagai seorang pahlawan bangsa, atas jasanya, menurut Presiden, yang telah menjadi “Kontributor Pencerahan Bangsa”. Cak Nur memang bukan hanya sekedar cendekiawan Muslim. Akhir-akhir ini, bersama dengan Gus Dur, ia telah dijuluki sebagai seorang “Guru Bangsa”.
Di kalangan gerakan Islam Indonesia sendiri, Cak Nur sebenarnya justru dianggap sebagai seorang tokoh yang kontroversial. Banyak pengecamnya, terutama Prof. Dr. Haji Mohammad Rasyidi, mantan Menteri Agama RI yang pertama yang menulis sebuah buku khusus yang melakukan “koreksi” terhadap pemikiran Cak Nur.   Bersama  tokoh Muhammadiyah ini turut mengkritik Dr. Anwar Haryono, mantan Sekjen Partai Masyumi, Buya Ismail Hasan Metarium, mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Endang Saifuddin Anshari dan  Imaduddin Abdurrahim, untuk menyebut beberapa nama. Kritik terhadap pemikiran Cak Nur terus berlanjut. Kritik terutama diarahkan pada salah satu gagasannya tentang sekularisasi yang  menurut kritik Prof. Rasyidi, ujung-ujungnya adalah Sekularisme juga. Karena itu Cak Nur telah dituduh sebagai penganut dan penganjur paham Sekularisme. Cak Nur sebenarnya hanya mengusulkan sekularisasi, yaitu profanisasi wacana yang selama itu dianggap suci (sacred) misalnya wacana Negara Islam. Cak Nur memang tidak mau menjawab kritik Prof. Rasyidi secara langsung, namun ia terus-menerus menulis yang menjelaskan dan bahkan mengembangkan gagasan-gagasannya, misalnya mengenai gagasan Islam Liberal dan yang mutakhir tentang Pluralisme agama. Disinilah, maka Cak Nur mendapat simpati kalangan yang lebih luas terutama dari kalangan muda yang mulai mengikuti anjuran Cak Nur untuk melakukan liberalisasi pemikiran keagamaan. Harapannya agar tumbuh kelompok pemiki “Islam Liberal”, benar-benar terjadi misalnya dengan kelahiran “Jaringan Islam Liberal” atau kelompok “Islam Emansipatoris”, Pusat Studi Agama dan Peradaban  atau Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah yang dimotori oleh generasi muda.
Ketika Nurcholish Madjid muda mulai terjun ke dalam gerakan mahasiswa, ia dielu-elukan sebagai “Natsir Muda”. Dalam suatu wawancana yang saya lakukan di Solo untuk tabloit “Surakarta”,  ketika baru saja terpilih menjadi Ketua Umum PB HMI melalui kongresnya, ia memang menyebut Mohammad Natsir sebagai idolanya. Pada tahun 1964-an, ketika ia menjadi salah seorang ketua PB. HMI, ia menulis sebuah  makalah setebal 50 halamanan, yang berjudul “Islamisme’. Tulisan itu memang dimaksudkan untuk menjawab apa itu yang dimaksud dengan  “Islamisme” yang disebut oleh Bung Karno pada tahun 1926 dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. Dalam artikel itu ia menjelaskan Islam sebagai sebuah ideologi politik yang mengandung  unsur nasionalisme. Karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa pada waktu itu Cak Nur masih berfikir tentang Islam sebagai sebuah ideologi politik. Namun, tulisannya itu sebenarnya dimaksudkan untuk mengisi kerangka yang telah dibuat oleh Bung Karno dalam  menyusun paham kebangsaannya.
Haluan politik Cak Nur menjadi lebih kentara ketika ia menulis dalam tabloit mahasisa Bandung, “Mimbar Demokrasi” yang dipimpin oleh Adi Sasono, mahasiswa ITB. Ia menulis sebuah artikel yang berjudul “Modernisasi Ialah Rasionalisasi, Bukan Westernisasi”. Paham kebangsaan dan sekaligus keislaman Cak Nur diperlihatkan dalam penolakannya terhadap Westernisasi yang berkendara modernisasi. Dalam artikel itu ia menguraikan sebuah epistemologi Islam, terutama tentang rasionalitas yang berdasarkan nilai moral Pancasila yang merupakan pancaran dari keyakinan Ketuhanan Yang Maha Esa. Di situ ia telah memiliki sikap terhadap Sekuralisme, yaitu menolak. Orientasi keislaman sekaligus kebangsaannya lebih nampak lagi ketika ia menyambut artikel Rosihan Anwar, seorang wartawan senior tentang sekularisme di harian “Kompas”. Disitu ia mengajukan pilihan “Sekularisme atau Ketuhanan Yang Maha Esa ?”. Baginya Sekularisme tidak cocok untuk bangsa Indonesia yang religius. Karena itu paham yang tepat untuk Indonesia adalah negara yang berdasarkan kepercayaan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan perkataan lain, ia telah menggantikan gagasan  Sekularisme dengan paham Kebangsaan atau Nasionalisme  yang religius.
Karena itu memang sejak semula Cak Nur sudah menolak Sekularisme. Ia berpendapat, mengikuti John W. Garner, seorang negarawan AS,  bahwa suatu bangsa harus dibangun berdasarkan landasan moral yang kuat. Landasan moral dari peradaban-peradaban besar di dunia, selalu bersumber pada ajaran suatu agama. Namun Cak Nur tidak memiliki paham Negara Agama atau Teokrasi. Paham Ketuhanan Yang Maha Esa itu tak lain diambilnya dari Pancasila. Jadi Indonesia bukan negara sekuler, bukan pula teokrasi, tapi negara yang berlandaskan ajaran moral. Dalam UUD 1945 pasal 29 nayat 1 disebut   bahwa dasar negara Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Tapi Cak Nur pagi-pagi sudah memperingatkan bahwa paham Ketuhanan Yang Maha Esa itu harus dipertegas dengan pasal mengenai kebebasan beragama bagi seluruh warganegara. Artinya negara tidak mendasarkan diri pada ajaran suatu agama apapun, termasuk Islam yang merupakan agama mayoritas di Indonesia.
Penolakannya terhahap konsep Negara Islam itu dipertegasnya dalam ceramah kebudayaan TIM yang kedua pada tahun 1972 yang berjudul “Menyegarkan Paham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia”. Sebagian besar isi ceramah itu sebenarnya merupakan pemikirannya mengenai epistemologi Islam, khususnya yang menyangkut dua pendekatan, yaitu pendekatan imani yang menyangkut masalah-masalah kegamaan yang ukhrowi dan pendakatan ilmiah mengenai masalah-masalah kleduniaan, baik tentang alam materi maupun  sosial. Pendekatan iman menghasilkan ibadah kepada Tuhan yang akan berdampak dalam penyempurnaan budi luhur manusia. Sedangkan pendekatan ilmiah harus bersifat rasional-empiris yang menghasilkan konsep-konsep amal saleh.
Dalam pendekatan  ilmiah yang menghasilkan doktrin  amal saleh itu Cak Nur mengimbau agar umat Islam mengembangkan cita-cita keadilan sosial. Iapun menyebut sejumlah referensi Islam tentang paham keadilan sosial ini. Sebaliknya ia mengkritik  konsep Negara Islam yang dianggapnya sebagai sebuah apologi. Ada dua sebab mengapa umat Islam di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya melakukan apologi dalam pemikiran mereka . Pertama adalah  sikap defensifnya terhadap serbuan ideologi-ideologi Barat (modern), seperti demokrasi, sosialisme, komunisme dan sebagainya yng merupakan pemikiran-pemikiran yang bersifat totaliter. Sebagai tanggapan terhadap invasi ideologi itu umat Islam  menjawab dengan konsep al Din yang mencakup kesatuan agama dan negara.  Karenanya konsep tersebut, yang tidak didasarkan pada kajian ilmiah, hanya merupakan apologia yang ilusif saja. Kedua adalah paham legalisme yang dihasilkan oleh pendekatan fiqihisme, sehingga negara dinilai sebagai susunan hukum yang disebut syari’at.   Padahal, kajian-kajian fiqih di zaman modern ini telah kehilangan relevansinya terhadap persoalan-persoalan masyarakat yang senantiasa berubah. Negara misalnya adalah suatu gejala yang berdimensi rasional obyektif, sedangkan agama berdimensi  spiritual yang bersifat pribadi. Keduanya memang berkaitan, namun harus tetep dibedakan. Jika negara ikut mengatur kepercayaan, maka hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam sendiri yang tidak mengenal otoritas keagamaan (la rububiyati fi al Islam), tak ada otoritas kependetaan atau keulamaan dalam Islam.
Namun demikian Cak Nur juga menyadari implikasi dari sekularisasi yaitu nuansa sikap anti agama dalam paham Sekularisme. Disini Cak Nur pernah menyatakan pemahamannya atas keberatan Prof. Rasyidi tentang penggunaan istilah sekularisasi. Namun yang dimaksud Cak Nur dengan sekularisasi adalah profanisasi masalah-masalah duniawi yang sifatnya obyektif-rasional atau pemisahan antara masalah iman dan masalah rasional, sebab pendekatan keagamaan terhadap masalah-masalah seperti negara adalah menghasilkan absolutisme dan melahirkan otoritas keagamaan. Sementara itu yang dimaksud sesungguhnya dalam wacananya adalah memberikan dasar-dasar argumen keagamaan terhadap paham kebangsaan. Barangkali dalam benak Cak Nur tergambar konfrontasi antara para pemimpin Islam dengan pemimpin nasionalis sekuler. Ia ingin memberikan jalan keluar epistemologis dalam memahami masalah negara dan bangsa. Di lain pihak ia masih menginginkan adanya peran agama dalam pembentukan masyarakat modern, misalnya dalam cita-cita keadilan sosial yang merupakan gandengan dari cita-cita demokrasi. Cak Nur rupanya percaya juga terhadap pandangan Ernest Gellener, bahwa Islam lebih menyerupai sebuah cetak biru (dari Tuhan) daripada lainnya. 


                                                                               Jakarta, 26 September 2005


[1] Makalah disampaikan pada acara Seminar tentang Cak Nur “Mengenal Lebih Dekat Sosok dan Pemikiran Sang Guru Bangsa (Nurcholish Madjid)” diselenggarakan oleh ICAS-Paramadina, di Jakarta, Sabtu, 1 Oktober 2005.