.

CONTOH MAKALAH : Peningkatan Kompetensi Guru Untuk Meningkatkan Minat Siswa Pada Bidang MIPA 4

sebelumnya | CONTOH MAKALAH : Peningkatan Kompetensi Guru Untuk Meningkatkan Minat Siswa Pada Bidang MIPA 3



SERTIFIKASI MENINGKATKAN KEPROFESIONALAN GURU?
            Guru menempati posisi penting dalam pendidikan dan memberikan kontribusi yang tinggi untuk peningkatan hasil belajar siswa.  Hasil studi yang dilakukan oleh Heyneman & Loxley (1983) di 29 negara menunjukkan bahwa guru memiliki peranan penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Perhatikan Tabel berikut: 

Tabel  :  Kontribusi Guru, Manajemen, Waktu Belajar dan Sarana Fisik terhadap
              Prestasi Belajar Siswa

JENIS NEGARA
GURU
MANAJEMEN
WAKTU BELAJAR
SARANA
FISIK
16 NEGARA
INDUSTRI

36%

23%

22%

19%
16 NEGARA SEDANG BERKEMBANG

34%

22%

18%

26%

            Jalal, Fasli (2007) mengungkapkan bahwa pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu,  yakni guru yang profesional, sejahtera dan bermartabat.  Karena itu sangat tepat jika Pemerintah berupaya untuk meningkatkan keprofesionalan guru, dengan tidak mengesampingkan faktor-faktor lainnya. Salah satu upaya untuk meningkatkan keprofesionalan guru adalah melalui sertifikasi guru. Adapun tujuan sertifikasi guru adalah:
a.       Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional
b.      Meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan
c.       Meningkatkann martabat guru, dan
d.      Meningkatkan profesionalitas guru
Adapun manfaat sertifikasi guru adalah:
a.        melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten yang dapat merusak citra profesi guru
b.       Melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak bermutu dan tidak profesional
c.       Meningkatkan kesejahteraan guru

            Pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan dapat dilakukan melalui dua cara yaitu (1) penilaian portofolio guru dan (2) Jalur pendidikan.  
(1)          Penilaian portofolio dilakukan terhadap kumpulan dokumen yang mencerminkan kompetensi guru yang meliputi berbagai aspek.  Hanya saja, penilaian portofolio ini mengandung sisi kelemahan dan para guru yang mengejar gaji menyiasati portofolio dengan berbagai cara yang  bertentangan dengan prinsip pendidikan. Guru yang belum lulus sertifikasi melalui jalur portofolio diwajibkan mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). 
(2)          Jalur Program Pendidikan Guru (PPG) saat ini baru akan diawali dengan pelaksanaan PPG di beberapa LPTK yang mengadakan kerjasama untuk mendidik para mahasiswa lulusan Basic Science. PPG dilaksanakan selama 2 semester (bagi lulusan LPTK) atau 3 semester (bagi lulusan non LPTK) dengan sebagian besar waktunya digunakan untuk workshop dan latihan di sekolah. Kegiatan ini masih terlalu dini untuk dinilai. Jika PPG dilaksanakan secara konsekuen seperti peraturan yang ada, maka hasilnya adalah guru-guru profesional yang siap meningkatkan kualitas pendidikan di masa yang akan datang. Jika yang ditunjuk melaksanakan PPG (entah karena alasan apapun) adalah LPTK yang “tidak bermutu”, maka hasilnya akan tetap terjerembab dalam kubangan rendahnya kualitas calon guru seperti selama ini.
Tidak semua guru yang ada di sekolah saat ini dihasilkan oleh LPTK berkualitas. Padahal populasi guru yang belum profesional ini lebih besar dibandingkan dengan guru profesional alumni LPTK berkualitas.  LPTK yang kurang berkualitas itu (tidak mumpuni untuk menghasilkan guru profesional)  begitu  mudahnya merekrut mahasiswa baru (yang gagal memasuki LPTK bermutu) walau dosen, sarana, prasarana, dan profesionalitasnya tidak dimiliki.  Ada Perguruan Tinggi yang menerima 12 kelas (12 kelas dalam satu jurusan dalam bidang MIPA) walau hanya memiliki beberapa dosen dan mempercayakan kuliahnya dibina oleh mahasiswa senior. Pada waktu kegiatan kuliah para mahasiswa sepi namun terasa ramai dan semarak ketika wisuda berlangsung. Kapan mereka kuliah? Di mana mereka praktek? Apakah mereka siap menjadi guru profesional?  

F.  LESSON STUDY MENINGKATKAN KEPROFESIONALAN GURU
            Berbagai uraian di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa:
1.      Dalam segi UU, Peraturan, serta hal-hal yang bersifat normatif kita telah mampu menyusunnya dengan baik. Kita memang ahli dalam mendeskripsikan hal-hal yang bersifat filosofis  dan normatif, namun jauh dari realita yang sesungguhnya terjadi.
2.      Upaya untuk melakukan sosialisasi kebijakan telah cukup, namun biasanya tidak diikuti bagaimana memantau dan mengevaluasi suatu kebijakan, serta bagaiamana upaya pemecahan masalah yang muncul dapat dirumuskan;
3.      Semua pihak menyadari bahwa mutu pendidikan kita rendah, akan tetapi solusi untuk mengatasinya belum diikuti oleh kebijakan yang mengacu kepada aspek pendidikan. Aspek lain misalnya politik, ekonomi, ikut berperan serta
4.      Salah satu contoh mengenai peningkatan keprofesionalan guru seringkali dijawab dengan kebijakan pelatihan dan penataran, tanpa diikuti upaya monitoring dan evaluasi. Para guru hanya diberi prinsip-prinsip atau teori, tetapi tidak dibimbing bagaimana menerapkan teori dan prinsip tersebut ke dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Para pejabat asyik berkelakar tentang peraturan dan undang-undang, sementara para pakar kekurangan waktu untuk menyajikan materi yang diperlukan guru.
5.      Para guru yang ditatar dan dilatih tidak menerapkan pengetahuannya setelah mereka kembali ke sekolah. Mereka terjebak ke dalam pola pembelajaran lama yang berpusat kepada guru, bukan berpusat kepada siswa.  Hal-hal pokok seperti teori pembelajaran, model-model pembelajaran, pendekatan pembelajaran, penggunaan media, sumber belajar serta asesmen dan evaluasi pembelajaran hanya merupakan pengetahuan yang berhenti sebagai sesuatu yang diketahui, tetapi sulit untuk diterapkan di kelas.
6.      Para guru mengalami kesulitan dalam menyusun silabus, RPP, LKS,  dan bagaimana menerapkannya dalam proses pembelajaran.
             Sejak tahun 2004, FMIPA UM telah melaksanakan program Lesson Study bekerjasama dengan JICA, atas kerjasama antara Pemerintah dengan Jepang.  Sejak tahun 2006, Program Lesson Study dilaksanakan di Pasuruan (Jatim), Bantul DIY dan Sumedang (Jabar) atas bimbingan teknis dari JICA. Melalui Lesson Study, guru berkolaborasi dengan guru, dibimbing oleh dosen pendamping bagaimana menyusun RPP, LKS yang efektif dan membelajarkan siswa. Hasilnya, yakni RPP dan LKS tersebut, diimplementasikan ke dalam proses pembelajaran di kelas dengan menunjuk salah seorang sebagai guru model dan guru lain bertindak selaku observer.  Guru membelajarkan siswa berpedoman kepada RPP yang telah disusun bersama. Observer tidak mengamati guru, melainkan mengamati siswa. Apakah siswa benar-benar belajar. Apakah semua siswa bisa (bukan sebagaian besar siswa).  Observer akan mencatat temuannya. Setelah proses pembelajaran berlangsung, para guru segera melakukan diskusi refleksi. Mereka mengungkapkan temuannya secara obyektif. Siswa mana yang belajar dan mana yang tidak. Mengapa hal itu terjadi, mengapa siswa tidak mampu memahami, dan bagaimana cara mengatasinya. Semua observer mengungkapkan temuannya dan jalan keluar yang disarankan akan dipergunakan untuk merevisi RPP. RPP hasil revisi dapat diterapkan untuk proses pembelajaran di kelas lain. Demikian seterusnya
Lesson Study dapat dibedakan menjadi 3 tahapan utama yaitu tahap perencanaan (plan), yaitu diskusi untuk merumuskan skenario pembelajaran, yang menghasilkan RPP dan LKDS; tahapan pelaksanaan (do) yakni menunjuk seorang guru untuk menjadi guru model sementara yang lainnya menjadi pengamat; tahap ketiga adalah diskusi refleksi (see), yang merupakan diskusi untuk mencari solusi dan menemukan jalan keluar pemecahan masalah pembelajaran untuk dijadikan bahan revisi.  Demikian seterusnya siklus ini berulang berkali-kali, karena setiap pembelajaran itu khas, kondisi tidak sama, dan tidak ada proses pembelajaran yang sempurna.
Melalui Lesson Study para guru dapat menggunakan metode apapun, pendekatan belajar manapun, dan boleh menggunakan media buatan sendiri, semuanya harus bermuara pada jawaban pertanyaan: Apakah siswa belajar dengan mudah?  Apakah semua siswa bisa?  Apakah antar siswa terjadi proses saling belajar?  Apakah siswa bergairah dan senang selama pembelajaran? Apakah tujuan pembelajaran tercapai?
Berdasarkan penelitian selama Lesson Study, para guru akhirnya: mampu menyusun RPP dan LKS yang kreatif dan membelajarkan,  kolegalitas antar guru terbentuk dan mereka saling membelajarkan,   guru model tidak takut diamati pihak manapun,  guru tidak sakit hati tetapi justru senang mendapatkan masukan, para guru tidak saling menjelekkan tetapi muncul solusi konstruktif,  guru lebih memperhatikan hak setiap siswa belajar,  siswa merasa senang, siswa senang mengemukakan pendapat dan kreatif, siswa saling belajar, dan prestasi siswa akhirnya meningkat.  Para siswa akhirnya menyenangi matapelajaran abstrak yang selalu dianggap sulit yakni matematika. Demikian juga halnya siswa akhirnya menyenangi fisika, kimia dan biologi karena mereka tertantang untuk kreatif dalam suasana menyenangkan.
Lesson Study bukanlah suatu metode, tetapi suatu wahana tempat guru belajar melalui media proses pembelajarannya sendiri. Obyek pengkajiannya adalah kelas nyata, dan jalan keluar yang ditawarkannya adalah jalan keluar yang praktis. Melalui Lesson Study guru dapat menggunakan pendekatan apapun, metode dan media manapun, asalkan menimbulkan minat belajar dengan maksud untuk  tercapainya tujuan belajar.
Merujuk pada judul makalah ini: Bagaimana meningkatkan kompetensi guru untuk meningkatkan minat siswa pada MIPA, jawabannya adalah dengan menyelenggarakan Lesson Study. Lesson Study dilaksakan apabila terdapat komitmen dari para guru, kepala sekolah, pengawas dan DIKNAS. Lesson Study tidak dapat hanya dilaksanakan satu dua kali, melainkan harus terus menerus sepanjang hayat. Wadah MGMP dapat dijadikan wahana untuk pelaksanaan Lesson Study. Tidak harus setiap mengajar melaksanakan Lesson Study dalam arti kegiatan pembelajaran dilaksanakan untuk diamati guru lain. Seorang guru cukup sekali dalam satu semester melaksanakan open lesson, yang diamati guru-guru lain (boleh mengundang orang tua siswa, stake holder, organisasi sosial, dst sebagai peninjau). Setelah itu mereka melaksanakan sendiri proses pembelajaran di kelas berdasar temuan-temuan dan saran-saran dalam open lesson. Jika semua guru di sekolah melaksanakannya, maka di sekolah telah terbentuk Learning Community (masyarakat belajar), yakni saling belajar membelajarkan antara guru-guru, guru-siswa, siswa-guru, sekolah-masyarakat.
Agar segala proses dapat berlangsung dengan baik dan dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan, maka perlu dibentuk Tim Monitoring dan Evaluasi yang akan melakukan pengukuran dan evaluasi sejak program belum dilaksanakan, selama program berjalan dan program mencapai akhir periode tertentu. Melalui Lesson Study, para guru diajak berfikir ilmiah,  melakukan pengkajian terhadap proses pembelajaran di kelas nyata, menyampaikan saran-saran perbaikan, dan menyusun laporan baik dalam bentuk karya ilmiah maupun hasil penelitiannya selama berLesson Study.