.

Contoh Makalah : Spiritualitas Abad Modern : Reposisi Islam Dalam Kancah Kebangkitan Agama


SPIRITUALITAS ABAD MODERN : REPOSISI ISLAM DALAM KANCAH KEBANGKITAN AGAMA

Oleh : Drs. Ali Maksum, M.Ag.

Pendahuluan
Abad modern di Barat, yang dimulai sejak abad XVII, merupakan awal kemenangan supremasi rasionalisme, empirisme, dan positivisme dari dogmatisme agama. Kenyataan ini dapat dipahami, karena abad modern Barat dibangun atas dasar pemisahan antara ilmu pengetahuan dan filsafat dari pengaruh agama (sekularisme). Perpaduan antara rasionalisme dan empirisme dalam satu paket epistemologi melahirkan apa yang oleh Huxley disebut dengan metode ilmiah (scientific method).

Penemuan metode ilmiah yang berwatak empiris dan rasional secara menakjubkan membawa kemajuan ilmu pengetahunan dan teknologi yang luar biasa. Industri dan berbagai macam penemuan ilmu pengetahuan membawa kemudahan-kemudahan hidup, membuka wawasan kehidupan baru, dan melahirkan pola kehidupan baru yang disebut modernisme. Modernisme ditandai dengan rasionalisme, kemajuan, dan sekularisme. 

Dengan demikian, abad modern Barat adalah zaman ketika manusia menemukan dirinya sebagai kekuatan yang dapat menyelesaikan persoalan-persoalan hidup. Manusia dipandang sebagai makhluk yang hebat, yang independen dari Tuhan dan alam. Manusia modern Barat sengaja melepaskan diri dari keterikatannya dengan Tuhan (theomosphisme), untuk selanjutnya membangun tatanan manusia yang semata-mata berpusat pada manusia (antropomorphisme). Manusia menjadi tuan atas nasibnya sendiri, yang mengakibatkan terputusnya dari nilai-nilai spiritual. Akibatnya, manusia modern Barat pada akhirnya tidak mampu menjawab persoalan-persoalan hidup sendiri.

Modernisme akhirnya dirasakan membawa kehampaan dan ketidakbermaknaan hidup. Timbul berbagai kritik dan usaha pencarian baru. Manusia membutuhkan pola pemikiran baru yang diharapkan membawa kesadaran dan pola kehidupan baru. Dalam hal kesadaran manusia, secara praktis, timbul gejala pencarian makna hidup dan upaya penemuan diri pada kepercayaan-kepercayaan yang sarat dengan spiritualitas. "Organized Religion" (agama yang terorganisasi) tidak selamanya dapat memenuhi harapan. Oleh sebab itu, bermunculan kecenderungan untuk kembali kepada orisinalitas (fundamentalis), kharisma yang dapat menentukan (cults) dan fenomena-fenomena yang luar biasa (magic).

Keberagaman manusia modern cenderung bersifat pencarian pribadi. Sudah barang tentu, ini selamanya tidak membawa hasil yang positif. Sejumlah kelompok keagamaan sempalan (kultus-kultus atau sekte-sekte) menunjukkan gejala-gejala negatif, bahkan bukan tidak mungkin dalam hal seperti ini terjadi manipulasi keadaan dengan maksud mengambil keuntungan dari kehausan manusia-manusia yang kehilangan pegangan dan orientasi hidup.

Dalam kaitannya dengan di atas, bagaimana Islam melihat krisis spiritual manusia modern? Dapatkah Islam dijadikan sebagai alternatif pencarian-pencarian manusia masa mendatang? Inilah yang melatarbelakangi pentingnya bahasan dalam paper ini.

 Krisis Spiritualitas Manusia Modern
1.     Kehilangan Visi Keilahian
Peradaban modern yang berkembang di Barat sejak zaman renaissance adalah sebuah eksperimen yang telah mengalami kegagalan sedemikian parahnya, sehingga umat manusia menjadi ragu akan pertanyaan apakah mereka dapat menemukan cara-cara lain di masa yang akan datang. Hal ini, seperti dikatakan oleh Hossein Nasr, karena manusia modern yang memberontak melawan Allah, telah menciptakan sebuah sains yang tidak berlandaskan cahaya intelek --jadi berbeda dengan yang kita saksikan di dalam sains-sains Islam Tradisional pada masa kejayaan klasik-- tetapi berdasarkan kekuatan akal (rasio) manusia semata untuk memperoleh data melalui indera, sehingga peradaban modern hanya ditegakkan di atas landasan konsep mengenai manusia yang tidak menyertakan hal yang paling esensial dari manusia itu sendiri.

Akibat dari fenomena di atas, masyarakat Barat, yang sering digolongkan the post industrial society, suatu masyarakat yang telah mencapai tingkat kemakmuran materi sedemikian rupa dengan perangkat teknologi yang serba mekanis dan otomat, bukannya semakin mendekati kebahagian hidup, melainkan sebaliknya, kian dihinggapi rasa cemas justru akibat kemewahan hidup yang diraihnya. Mereka telah menjadi pemuja ilmu dan teknologi, sehingga tanpa disadari integritas kemanusiaannya tereduksi, lalu terperangkap pada jaringan sistem rasionalitas teknologi yang sangat tidak human. Terhadap fenomena semacam ini, Hossein Nasr menggunakan dua istilah pokok, yaitu axis dan rim atau centre dan periphery, untuk membedakan dua kategori orientasi hidup manusia. 

"Kehidupan di dunia ini tampaknya masih tidak memiliki horizon spriritual. Hal ini bukannya horizon spiritual itu tidak ada, tetapi karena yang menyaksikan panorama kehidupan kontemporer ini sering kali adalah manusia yang hidup di pinggir (periphery atau rim) lingkaran eksistensi, sehingga ia hanya dapat menyaksikan segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Ia senantiasa tidak peduli dengan jari-jari lingkaran eksistensi dan sama sekali lupa dengan sumbu atau pusat (axis atau centre) lingkaran eksistensi yang dapat dicapainya dengan jari-jari tersebut.

Nasr berulang kali mengatakan, walaupun dengan ungkapan yang berbeda-beda, bahwa masyarakat modern sedang berada di wilayah pinggiran eksistensinya sendiri, bergerak menjauh dari pusat, baik yang menyangkut dirinya sendiri maupun dalam lingkungan kosmisnya. Mereka merasa cukup dengan perangkat ilmu dan teknologi, sebagai buah gerakan renaissance abad 16, sementara pemikiran dan paham keagamaan yang bersumber pada ajaran wahyu kian ditinggalkan. Dengan ungkapan lebih populer, masyarakat Barat telah memasuki the post-Christian era dan berkembanglah paham sekularisme. Sekularisasi, meminjam penjelasan Peter L. Berger, dapat dibedakan menjadi dua bentuk; dalam arti sosial pemisahan institusi agama dan politik. Yang lebih penting dalam konteks keagamaan adalah "adanya proses-proses penerapan dalam pikiran manusia berupa sekularisasi kesadaran". Diperjelas oleh Harvey Cox tentang makna sekularisasi, yaitu: "terbebasnya manusia dari kontrol ataupun komitmen terhadap nilai-nilai agama". Lebih lanjut, katanya, sekularisasi terjadi ketika manusia berpaling dari "dunia sana" dan hanya memusatkan perhatiannya pada "dunia sini dan sekarang".

Proses sekularisasi kesadaran ini, menyebabkan manusia modern kehilangan self control sehingga mudah dihinggapi berbagai penyakit rohaniah; ia menjadi lupa akan siapa dirinya, dan untuk apa hidup ini serta ke mana sesudahnya. Nasr menulis:
"Masalah penghancuran lingkungan oleh teknologi, krisis ekologi, dan semacamnya, semuanya bersumber dari penyakit amnesis atau pelupa yang diidap oleh manusia modern. Manusia modern telah lupa, siapakah ia sesungguhnya. Karena manusia modern hidup di pinggir lingkaran eksistensinya; ia hanya mampu memperoleh pengetahuan tentang dunia yang secara kualitatif bersifat dangkal dan secara kuantitatif berubah-ubah. Dari pengetahuan yang hanya bersifat eksternal ini, selanjutnya ia berupaya merekonstruksi citra dirinya. Dengan begitu, manusia modern semakin jauh dari pusat eksistensi, dan semakin terperosok dalam jeratan pinggir eksistensi.

Menurut Nasr, begitulah perkembangan masyarakat Barat modern yang telah kehilangan visi keilahian, telah tumpul penglihatan intellectusnya dalam melihat realitas hidup dan kehidupan. Istilah intellectus mempunyai konotasi kapasitas "mata hati", satu-satunya elemen esensi manusia yang sanggup menatap bayang-bayang Tuhan yang diisyaratkan oleh alam semesta.

Akibat intellectus di atas disfungsional, maka sesungguhnya apa pun yang diraih manusia modern yang berada di pinggir (rim atau periphery) tidak lebih dari sekedar pengetahuan yang "terpecah-pecah" (fragmented knowledge), tidak utuh lagi, dan bukanlah pengetahuan yang akan mendatangkan kearifan untuk melihat hakikat alam semesta sebagai kesatuan yang tunggal, cermin keesaan dan kemahakuasaan Tuhan. Orang dapat melihat realitas lebih utuh manakala ia berada pada titik ketinggian dan titik pusat. Nasr menandaskan, "yang lebih tinggi sajalah (level eksistensi, pen.) yang dapat memahami yang lebih rendah".

Manusia untuk dapat mencapai level yang eksistensi, tentu harus mengadakan pendakian spiritual dan melatih ketajaman intellectus. Ditandaskan Nasr, bahwa pengetahuan fragmentaris tidak dapat digunakan untuk melihat realitas yang utuh kecuali padanya memiliki visi intellectus tentang yang utuh tadi. Kemudian dikatakan bahwa dalam setiap hal pengetahuan yang utuh tentang alam tidak dapat diraih melainkan harus melalui pengetahuan dari pusat (centre), atau axis,karena pengetahuan ini sekaligus mengandung pengetahuan tentang yang ada di pinggir dan juga ruji-ruji yang menghubungkannya. Juga dikatakan, manusia dapat mengetahui dirinya secara sempurna, hanya bila ia mendapat bantuan ilmu Tuhan, karena keberadaan yang relatif hanya akan berarti bila diikatkannya apa Yang Absolut, Tuhan.

Penyebab "kejatuhan" (fallen) manusia Barat modern, apabila dilacak ke belakang, akan ditemukan pada aliran filsafat dualisme Cartesian, yang mendapat tempat di Barat. Sejak rasionalisme yang tersistematisasikan ini berkembang, manusia hanya dilihat dari sudut fisiolois-lahiriah. Dualisme Cartesian membagi relitas menjadi dua: realitas material dan realitas mental, atau realitas fisik dan realitas akal (rasio), sementara dimensi spiritualnya tercampakkan. Padahal, katanya, konsepsi metafisikan pada mulanya merupakan "ilmu pengetahuan suci" (scientia sacra) atau "pengetahuan keilahian" (Divine knowledge), bukan "filsafat yang profan" (profane philosophy) seperti yang berkembang di Barat sekarang ini. 

Dalam ungkapan yang lebih tepat, metafisika Barat sekarang yang seharusnya berintikan "kecintaan kepada kebijakan" (the love of wisdom) beralih kepada "kebencian kepada kebijakan" (the hate of wisdom). Konsep metafisikan Barat berupa dari philosophia menjadi data empiris, sehingga hanya mampu melahirkan konsepsi rohaniah yang palsu (pseudo-spiritual).

Dalam paham rasionalisme Descartes, dikatakan bahwa kebenaran sesuatu boleh diyakini kalau sesuai dengan kriteria yang dirumuskan oleh rasio. Dalil Cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada), oleh Nasr juga dinilai sebagai metode kaca mata kuda yang terlalu mengagungkan rasio dan cenderung menafikan keberadaan manusia lebih utuh sebagai totalitas yang bereksistensi.

Pengetahuan yang hanya dihasilkan oleh kesadaran psikis (bukan spiritual) dan rasio hanyalah bersifat terbagi-bagi dan sementara. Pengetahuan yang akan membawa kebahagiaan dan kedamaian, hanyalah akan dapat diraih bila seseorang telah membuka mata hatinya, atau visi intellectusnya, lalu senantiasa mengadakan pendakian rohani ke arah titik pusat lewat hikmah spiritual agama. Manusia yang demikian, meskipun ia hidup dalam batasan ruang dan waktu serta berkarya dengan disiplin ilmunya yang fragmentalis, namun ia akan dapat memahami rahasia watak alam sehingga dapat mengelolanya. Sementara mata hatinya menyadarkan bahwa alam yang dikelolanya adalah sesama makhluk Tuhan yang mengisyaratkan Sang Penciptanya, Yang Rahman dan Rahim. 

Demikian kritik-kritik yang muncul yang ditujukan kepada pemikiran Barat kontemporer. Manusia modern, telah menciptakan situasi sedemikian rupa yang berjalan tanpa adanya kontrol, sehingga karenanya mereka terperosok dalam posisi terjepit yang pada gilirannya tidak hanya mengantarkan pada kehancuran lingkungan, melainkan juga kehancuran manusia.