.

Contoh Makalah : Spiritualitas Abad Modern : Reposisi Islam Dalam Kancah Kebangkitan Agama 2

Contoh Makalah : Spiritualitas Abad Modern : Reposisi Islam Dalam Kancah Kebangkitan Agama 2

sebelumnya | Contoh Makalah : Spiritualitas Abad Modern : Reposisi Islam Dalam Kancah Kebangkitan Agama

2.     Kehampaan Spiritual

Akibat dari terlalu mengagungkan rasio, manusia modern mudah dihinggapi penyakit kehampaan spiritual. Kemajuan yang pesat dalam lapangan ilmu pengetahuan dan filsafat rasionalisme abad 18 dirasakan tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok manusia dalam aspek nilai-nilai transenden, satu kebutuhan vital yang hanya bisa digali dari sumber wahyu ilahi.

Itulah sinyalemen atau, katakanlah, vonis terhadap gambaran manusia modern yang sudah terjatuh (fallen). Dalam perspektif ini, Berger mengatakan: "Nilai-nilai supra-natural telah lenyap dalam dunia modern. Lenyapnya niali-nilai tersebut dapat diungkapkan dalam suatu rumusan kalimat agak dramatis sebagai 'Tuhan telah mati' atau 'Berakhirnya Zaman Kristus'."

Dengan hilangnya batasan-batasan yang dianggap dan diyakini sebagai sakral dan absolut, manusia modern lalu melingkar-lingkar dalam dunia yang serba relatif, terutama sistem nilai dan moralitas yang dibangunnya. Marcel A. Boisard berkata, "Barat telah kehilangan rasa supernatural (alam gaib) secara besar-besaran".

Kondisi manusia modern sekarang ini, karena mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar, yang bersifat spiritual, maka mereka tidak bisa menemukan ketentraman batin, yang berarti tidak adanya keseimbangan dalam diri. Keadaan ini akan semakin akut, terlebih lagi apabila tekanannya pada kebutuhan materi kian meningkat sehingga keseimbangan akan semakin rusak.

Menyadari bahwa modernisasi ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan manusia yang bersifat spiritual, maka tidak heran kalau sekarang manusia beramai-ramai untuk kembali kepada agama yang memang berfungsi, antara lain, untuk memberikan makna kepada kehidupan. Dalam konteks ini, Naisbitt dalam Megatrends 2000, mengatakan bahwa: "Fenomena kebangkitan agama merupakan gejala yang tidak bisa dihindarkan lagi pada masyarakat yang sudah mengalami proses modernisasi, sebagai counter terhadap kehidupan yang semakin sekuler".

Di dunia Barat, kecenderungan untuk kembali kepada dunia spiritual ditandai dengan semakin merebaknya gerakan fundamentalisme agama dan kerohanian. Munculnya fenomena ini cukup menarik dicermati karena polanya jauh berbeda dengan agama-agama mainstream (agama formal), kalau tidak dikatakan malah bertentangan. Sehingga seperti dikatakan oleh Naisbitt dan Aburdene adalah semata-mata persoalan "spiritualitas" bukan "organized religion". Corak keberagamaannya cenderung bersifat pencarian pribadi, lepas dari agama-agama di sana, seperti Kristen, Budha, dan lainnya.

Akibat dari kecenderungan ini, muncul kultus-kultus dan sekte-sekte spiritual ekstrim yang sangat fundamentalis. Sebagai contoh, misalnya kasus David Koresh dengan Clan Davidian-nya, yang membakar diri setelah dikepung tentara Amerika, atau Pendeta Jim Jones yang mengajak jama'ahnya bunuh diri secara massal di hutan, atau kasus sekte sesat Ashahara di Jepang yang membunuh massa di jembatan kereta api bawah tanah.

Semua itu pada dasarnya, akibat kebingunan mereka dalam menentukan hidupnya. Mereka kalut dan kehilangan kendali dalam menghadapi kehidupan yang semakin sulit. Jiwa-jiwa dan batin-batin mereka sibuk mencari, tapi mereka tidak tahu apa yang mereka cari. Dalam pandangan Hossein Nasr, spiritual dalam pengertian Barat cenderung dipahami sekedar sebagai fenomena psikologi. Perkembangan ini tidak dapat dilepaskan dari akibat-akibat kemanusiaan yang muncul dalam proses modernisasi, yang kemudian mendorongnya mencari tempat pelarian yang memberikan perlindungan dan kepuasan yang cepat. Hal ini diperoleh dengan memasuki kelompok fundamentalisme dan kerohanian.

Perkembangan spiritualitas dalam bentuk gerakan fundamentalisme, dalam banyak kasus, sering menimbulkan persoalan psikologis. Spritualisme dalam bingkai fundamentalis hanya menawarkan jani-janji keselamatan absurd atau palsu dan ketenangan batin yang bersifat sementara (palliative). Lebih dari itu, fundamentalisme agama melahirkan sikap-sikap eksklusif, ekstrim, dan doktrinal, dan tidak toleran dengan pemahaman lain.

Dalam situasi demikian, dapatkah Islam sebagai alternatif pencarian spiritual manusia Modern? Bagaimana mengemas agar Islam lebih menarik dan diminati oleh masyarakat Barat yang sedang haus kerohanian itu?

Islam: Alternatif Spiritualitas Masa Depan

Ajaran spiritualitas Islam atau sufisme nampaknya mempunyai signifikansi yang kuat bagi masyarakat Barat modern, karena mereka mulai merasakan kekeringan batin dan kini upaya pemenuhannya kian mendesak. Mereka mencari-cari, baik terhadap ajaran Kristen maupun Budha atau sekedar berpetualang kembali kepada alam sebagai 'uzlah' dari kebosanan karena lilitan masyarakat ilmiah-teknologis. Dalam situasi kebingunan seperti itu, Islam masih belum dipandang sebagai alternatif pencarian, karena (1) Islam dipandang dari sisinya yang legalistis-formalistis dan banyak membentuk kewajiban bagi pemeluknya serta tidak memiliki kekayaan spiritual; (2) Islam di Barat bercitra negatif karena kesalahan orientalis dalam memandang Islam lewat literatur dan media massa. Akibatnya, Islam dipandang sebelah mata oleh masyarakat Barat; (3) Bagi dunia Barat, masih amat asing kalau Muhammad ditempatkan sebagai tokoh spiritual, dan Islam memiliki kekayaan rohani yang sesungguhnya amat mereka rindukan. Citra idola seorang tokok spiritual menurut mereka hanyalah berkisar pada Budha Gautama yang meninggalkan kemewahan hidup kerajaan, atau Kristus sang penebus dosa anak cucu Adam, atau pada Gandhi yang hidupnya begitu sederhana meski pribadinya amat besar. Sementara Muhammad? Dia lebih dikenal sebagai panglima perang yang terlalu sibuk dengan penakhlukkan wilayah dan membangun kekuasaan duniawi.

Kini saatnya memperkenalkan dimensi batiniah Islam kepada manusia Barat sebagai alternatif. Islam perlu disosialisasikan pada mereka, setidak-tidaknya ada tiga tujuan utama. Pertama, turut serta berbagi peran dalam menyelamatkan kemanusiaan dari kondisi kebingungan sebagai akibat dari hilangnya nila-nilai spiritual. Kedua, memperkenalkan literatur atau pemahaman tentang aspek esoteris Islam, terhadap masyarakat Barat modern. Ketiga, untuk memberikan penegasan kembali bahwa sesungguhnya aspek esoteris Islam, yakni tasawuf, adalah jantung ajaran Islam, sehingga bila wilayah ini kering dan tidak lagi berdenyut, maka keringlah aspek-aspek lain ajaran Islam.

Tapi, bagaimana ajaran Islam dapat dipraktekkan pada masyarakat Barat modern? Setidak-tidaknya ada tiga tataran Islam yang dapat mempengaruhi Barat. Pertama, ada kemungkinan mempraktekkan ajaran spiritual Islam secara aktif. Pada tahap ini orang harus membatasi kesenangan terhadap dunia materi dan kemudian mengarahkan hidupnya untuk bermeditasi, berdo'a, mensucikan batin, mengkaji hati nurani, dan melakukan praktek-praktek ibadah lain seperti wirid, misalnya.

Kedua, tasawuf mungkin sekali mempengaruhi Barat dengan cara menyajikan Islam dalam bentuk yang lebih menarik, sehingga orang dapat menemukan praktek-praktek tasawuf yang benar. Supaya Barat tertarik pada Islam, maka Muslim harus mampu menyajikan dan mendakwahkan Islam kepada Barat dengan lebih menarik, yakni keseimbangan antara aktivitas duniawi dengan ukhrawi. Cara seperti ini telah dipraktekkan secara sukses dalam penyiaran Islam di India, Indonesia, dan Afrika Barat. Sudah tentu metode dan aktivitasnya di Barat berbeda dengan negeri-negeri di atas, namun esensinya sama. Yaitu, Islam membuka peluang besar bagi pencarian spiritual Barat yang tengah dilanda krisis makna kehidupan.

Ketiga, dengan memperkenalkan ajaran tasawuf sebagai alat bantu untuk recollection (mengingatkan) dan reawakening (membangunkan) orang Barat dari tidurnya. Karena tasawuf merupakan tradisi yang hidup dan kaya dengan doktrin-doktrin metafisis, kosmologis, dan psikologis serta psiko-terapi religius, maka berarti tasawuf atau sufisme akan dapat menghidupkan kembali berbagai aspek kehidupan rohani Barat yang selama ini tercampakkan dan terlupakan.

Menurut Alister Hardi, kebutuhan manusia terhadap agama adalah suatu hal yang sifatnya alamiah. Bagaimanapun perkembangan manusia, ia akan senantiasa membutuhkan ajaran-ajaran yang bersifat transendental. Karena, kebutuhan mengenal Tuhan merupakan sifat kebutuhan fitrah manusia. Melihat kecenderungan ini, dengan tawaran-tawaran di atas, kita berharap Islam mampu memainkan peranannya kepada pencari-pencari agama di Barat.

A.   Penutup

Dari uraian di atas, dapat diketahui signifikansi Islam bagi manusia modern Barat. Manusia modern Barat membutuhkan pegangan moral dan makna hidup. Islam, dengan ajaran kekayaan spiritualnya, menawarkan kepada manusia modern sebagai alternatif pencarian diri. Dari segi kesadaran manusia modern, dan dengan paket tawaran Islam yang lebih menarik, maka Islam pada masa mendatang akan banyak diminati oleh manusia Barat. Saat sekarang, Islam mulai bangkit di negara-negara seperti Amerika, bekas Uni Sovyet, dan berbagai negara lainnya.