.

CONTOH MAKALAH TEOLOGI PLURALISME 3 : Sejarah Gagasan Pluralisme Agama

sebelumnya | CONTOH MAKALAH TEOLOGI PLURALISME 2 : Istilah Tentang Paham Pluralisme Agama
 

Sejarah Gagasan Pluralisme Agama
Untuk memahami pluralisme agama, perlu ditelusuri sejarahnya, paling kurang sejak awal abad ke-20 . Ketika itu seorang teolog Kristen Jerman bernama Ernst Troeltsch mengungkapkan perlunya bersikap pluralis ditengah berkembangnya konplik internal agama Kristen maupun antar agama. Dalam artikelnya berjudul " The Place of Chritianity among the Word Relegions", ia menyatakan, umat Kristiani tidak berhak mengklaim paling benar sendiri. Pendapat senanda banyak dilontarkan sejumlah pemikir dan teolog Kristen antara lain, seperti William E. Hocking dan sejarawan terkenal Arnpld Toynbee. Oleh karena itu gerakan ini dapat dikatakan sebagai "liberalisasi agama Kristen" yang telah dirintis dan diasaskan oleh tokoh Protestan liberal Friedrich Schleiremacher pada sekitar abad pertengahan ke-19 lewat pergerakannya yang dikenal dengan "Liberal Protestantism". Konplik internal Kristen yang hebat ketika itu sampai mendorong Presiden AS, Grover Cleveland, turun tangan untuk mengakhiri perang antar aliran tersebut. Pada awal-awal abad ke-20 juga mulai bermunculan bermacam-macam aliran fundamentalis Kristen di Amerika Serikat. Jadi selain konplik antar aliran Kristen, ternyata faktor politik juga sangat erat dengan latar belakang gagasan ini.
Sebagai sebuah bentuk liberalisasi agama, Pluralisme Agama adalah respon teologis terhadap political pluralism (baca : liberalisasi politik) yang telah cukup lama digulirkan (sebagai wacana) oleh para peletak dasar-dasar demokrasi pada awal dan yang secara nyata dipraktikan oleh Amerika Serikat. Kecendrungan umum dunia Barat pada waktu itu telah berusaha menuju modernisasi di segala bidang. Dan salah satu ciri dari modern adalah demokrasi, globalisasi dan HAM. Maka, dari sinilah lahir political pluralism. Jika dilihat dari konteks itu, maka Relegious Pluralism pada hakikatnya adalah gerakan politik par excellen dan bukan gerakan agama. Setiap manusia dipandang sama " by virtue of being human", tidak ada ras, suku, angsa atau agama yang berhak mengklaim bahwa dirinya paling unggul.
Menurut Anis Malik Thoha, wacana pluralisme lahir dari rahim paham "liberalisme". Maka tidaklah aneh jika kemudian gagasan pluralisme agama itu sendiri muncul dan hadir dalam kemasan "pluralisme politik "political liberalism". Jelas, faham "liberalisme" tidak lebih merupakan respon politis terhadap kondisi sosial masyarakat Kristen Eropa yang plural dengan keragaman sekte, kelompok dan mazhab. Namun kondisi pluralistik semacam ini masih senantiasa terbatas dalam masyarakat Kristen Eropa untuk sekian lama, baru kemudian pada abad ke -20 berkembang hingga mencakup komunitas-komunitas lain di dunia.
Dengan demikian menurut Anis Malik Thoha dapat disimpulkan bahwa gagasan pluralisme agama sebenarnya merupakan upaya peletakan landasan teoritis dalam teologi Kristen untuk berinteraksi secara toleran dengan agama lain. Pada dataran ini, gagasan plualisme agama bisa dilihat sebagai salah satu elemen gerakan reformasi pemikiran atau liberalisasi agama yang dilancarkan oleh Gereja Kristen pada abad kesembilan belas, dalam gerakan yang kemudian dikenal dengan "Liberal Protestantism" yang dipelopori Friedrich Schleiremacher.
Lebih lanjut menurut Adian Husaini, bahwa paham pluralisme merupakan bagian dari ajaran pokok Islam Liberal. Dalam Disertasi di Monash University Australia, Greg Barton menjelaskan beberapa prinsif gagasan Islam liberal yang dikembangkan di Indonesia : (1) pentingnya kontekstual ijtihad, (b) komitmen terhadap rasionalitas dan pembaharuan, (c) penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama, (d) pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non sektarian negara. Menurutnya ada 4 tokoh Liberal di Indonesia, yaitu Abdurrahman Wahid, Nuchalis Madjid (alm), Ahmad Wahib, dan Johan Efendi.
Lebih lanjut ia mengatakan ada beberapa pokok ajaran liberal, yaitu : (1) menghancurkan ajaran Islam dengan menyebarkan paham pluralisme Agama, (2) meruntuhkan bangunan syariat Islam dengan program "kontektualisasi ijtihad" dan penggunaan metodologi interpretasi hermeunetika terhadap al-qur'an, (3) membongkar konsep al-Qur'an sebagai wahyu Allah, lafdzon wa ma'nan minallah yang suci dari kesalahan, (4) membongkar konsep-konsep dasar Islam seperti makna iman, kufur, murtad, islam dan sebagainya, (5) meruntuhkan otoritas ulama dalam pemahaman Islam dan (6) mendukung kerusakan akhlak, dengan berpegang kepada paham liberalisme dan relativisme moral.