.

CONTOH MAKALAH TEOLOGI PLURALISME 6 : Kekhawatiran Terhadap Paham Pluralisme Agama

sebelumnya | CONTOH MAKALAH TEOLOGI PLURALISME 5 : Islam dan Pluralitas Agama-Budaya


Kekhawatiran Terhadap Paham Pluralisme Agama
Paham pluralisme sekurang-kurangnya memiliki dua aliran yang berbeda tapi ujungnya sama : aliran kesatuan trasenden agama-agama (transcendent unity of religion) dan teologi global (global theology). Yang pertama lebih merupakan protes terhadap arus globalisasi, sedangkan yang kedua adalah kepanjangan tangan dan bahkan pendukung gerakan globalisasi, dan paham yang kedua inilah yang kini ujung tomba gerakan weternisasi. Karena pluralisme ini sejalan dengan agenda globalisasi, iapun masuk kedalam wacana keagamaan agama-agama termasuk Islam. Ketika paham ini masuk kedalam pemikiran keagamaan Islam, respon yang muncul hanyalah adopsi ataupun modifikasi dalam takaran yang minimal dan lebih cendrung menjustifkasi. Akhirnya yang terjadi justru peleburan nilai-nilai dan doktrindoktrin keagamaan Islam kedalam arus pemikiran moderenisasi dan globalisasi. Caranya adalah dengan memaknai kembali konsep Ahlul Kitab dengan pendekatan Barat. Jika perlu makna itu di dekonstruksikan dengan menggunakan ilmu-ilmu Barat modern. Inilah sebenarnya yang dilakukan oleh Muhammad Arkoun. Ia mengusulkan misalnya agar pemahaman Islam yang dianggap ortodoks ditinjau kembali dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial historis Barat. Dan dalam kaitannya dengan pluralisme agama ia mencanangkan agar makna Ahlul Kitab itu didekonstruksikan agar lebih kontekstual. Disitu ayat-ayat tentang Ahlul Kitab dijadikan alat justifikasi, meskipun terkadang dieksploitir tanpa memperhatikan konteks histories dan metodologi tafsir standar. Mindset seperti ini jelas sekali telah terhegemoni oleh pemikiran Barat. Inti doktrinnya adalah untuk menghilangkan sifat ekslusif umat beragama, khususnya Islam. Artinya dengan paham ini umat Islam diharapkan tidak lagi bersifat panatik, mempunyai sikap militansi, merasa benar sendiri dan menganggap agama lain salah. John Hick, tokoh pluralisme agama, diantara prinsip pluralisme agama menyatakan bahwa agama lain adalah sama-sama jalan yang benar menuju kebenaran yang sama (Other religions are equally valid ways to them same truth).
Di Indonensia paham ini disebar luaskan oleh Sekolah Tinggi Teologi Kristen, dan diikuti oleh para cendikiawan muslim. Jadi pengembangan teologi pluralis itu sendiri sebenarnya merupakan pelaksanaan dari teori Samuel Zwemmer untuk melemahkan umat Islam, Dengan teologi semacam ini , umat Islam sudah terjebak untuk tidak meyakini kebenaran agamanya. Dampak yang lebih kongkrit dan berbahaya dari paham pluralisme adalah diplokramirkannya praktek kawin beda agama. Untuk itu para cendikiawan muslim mencoba merobah konsep Ahlul Kitab dalam al-Qur'an dan al-Hadits, dengan memasukan semua agama adalah sama benarnya. Karena semua agama sama, maka muncullah hukum baru yang membolehkan wanita muslim kawin dengan laki-laki Kristen. Masalah kawin beda agama ini tercantum dalam "Universal Declaration of Human Right" pasal 16 ayat 1, yang berbunyi : "Pria dan wanita dewasa, tanpa dibatasi oleh ras, kebangsaan, atau agama, memiliki hak untuk kawin dan membangun suatu keluarga. Mereka memiliki hak-hak sama perihal perkawinan, selama dalam perkawinan dan sesudah dibatalkannya perkawinan." Pasal ini sebenarnya telah ditolak oleh umat Islam melalui Memorandum Organisasi Konprensi Islam (OKI). Dalam memorandaum tersebut ditekankan perlunya "kesamaan agama" dalam perkawinan bagi muslimah, "Perkawinan tidak sah kecuali atas persetujuan kedua belah pihak, dengan tetap memegang teguh keimanannya kepada Allah bagi setiap muslim, dan kesamaan agama bagi setiap muslimat". Oleh karena itu penerimaan paham pluralisme agama berarti penerimaan agama lain sebagai sama benarnya dengan Islam. Ironisnya gagasan ini mendapat sambutan yang positif dari sekelompok cendikiawan Muslim yang didukung oleh Universitas Paramadina. Buku yang berjudul Fiqih Lintas Agama yang diterbitkan oleh yayasan Paramadina adalah hasil dari pemikiran pluralisme agama yang disebarkan Barat. Islam mengakui adanya pluralitas agama (keberagamaan agama) tapi menolak ide pluralisme agama (kesatuan agama-agama). Ada beberapa kelemahan mendasar dari paham Pluralisme Agama. Pertama, Kaum pluralis mengklaim bahwa pluralisme menjunjung tinggi dan mengajarkan toleransi, tetapi justru mereka sendiri tidak toleran karena menafikan "kebenaran ekslusif" sebuah agama. Mereka menafikan klaim "paling benar sendiri" dalam suatu agama, akan tetapi justru faktanya "kaum pluralis"lah yang mengklaim dirinya paling benar sendiri dalam membuat dan memahami statemen keagamaan (religion statement).
Kedua, adanya "pemaksaan" nilai-nilai dan budaya barat (weternisasi), terhadap negara-negara dibelahan dunia Timur, dengan berbagai bentuk dan cara, dari embargo ekonomi sampai penggunaan senjata dan pengerahan militer secara besar-besaran seperti tengah menimpak Irak saat ini. Mereka merelatifkan Tuhan-Tuhan yang dianggap absolute oleh kelompok-kelompok lain. Namun disaat yang sama "secara tanpa sadar" mereka mengklaim bahwa Tuhan mereka sendiri yang absolute. Tuhan yang absolute menurut mereka namanya seperti yang diusulkan John Hick, adalah "The Real", yang secara kebetulan ia dapatkan padanan katanya dalam tradisi Islam sebagai "al-Haq". Tapi anehnya ia menolak "al-Haq" ini sebagai "The Real" dengan alasan bahwa "al-Haq" telah mengalami akulturasi konseptual dalam kultur dan tradisi tertentu, yaitu Islam. Pluralisme tidak membenarkan penganut atau pemeluk agama lain untuk menjadi dirinya sendiri, atau mengekspresikan jati dirinya secara utuh, seperti mengenakan simbul-simbul keagamaan tradisional. Jadi wacana pluralisme sebenarnya merupakan upaya penyeragaman (uniformity) atau menyeragamkan segala perbedaan dan keberagamaan agama. Dan secara antologi ini jelas bertentangan dengan sunatullah yang pada gilirannya akan mengancam eksistensi manusia itu sendiri.
Gagasan penyamaan agama oleh sebagian kalangan kemudian dipopulerkan dengan istilah pluralisme agama yang dikembangkan sampai ke level operasional kehidupan sosial, seperti penghalalan perkawinan antar-agama dan sebagainya tidak terlalu tepat disandarkan pada ide Trancendent Unity of Relegion yang secara sistimatis dikembangkan oleh Fritchof Schuon. Dengan gagasan ini "Pluralisme Agama" itu, maka tidak boleh ada "truth claim", bahwa hanya satu agama saja yang benar. Dengan gagasan itu, maka masing-masing agama tidak boleh mengklaim memiliki kebenaran secara mutlak, karena masing-masing mempunyai metode, jalan atau bentuk untuk mencapai Tuhan. Trancendent of Unity sendiri berpendapat, bahwa semua agama esensinya semua dianggap sama saja, sebab agama-agama itu didasarkan kepada sumber yang sama, Yang Mutlak. Bentuknya bisa berbeda karena manfestasi yang berbeda ketika menanggapi yang mutlak. Tapi semua agama dapat bertemu pada level esoteris, kondisi internal atau batin, dan berbeda dalam bentuk lahirnya (eksoteris) saja. Jika dicermati, Pluralisme agama sebenarnya merupakan agama baru, dimana sebagai agama dia punya Tuhan sendiri, nabi dan kitab suci serta ritual sendiri, sebagaimana humanisme juga merupakan agama, dan Tuhannya adalah nlai-nilai kemanusiaan, seperti yang dikatakan August Comte. John Dewey mengatakan demokrasi adalah agama dan Tuhannya adalah nilai demokrasi.
Menyikapi perkembangan tren pluralisme agama akhir-akhir ini, maka Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebagai institusi berkumpulnya para ulama dan cendekiawan muslim dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-7 di Jakarta, 24- 29 Juli 2005, mengeluarkan 11 fatwa. Fatwa itu antara lain berkaitan dengan sesat dan haramnya ajaran Liberalisme, Pluralisme dan Sekularisme. Dalam kaitan dengan Liberalisme, Pluralisme dan Sekularisme Agama dalam ketentuan umumnya dinyatakan : Pertama, Pluralisme Agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga". Kedua, Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara/daerah tertentu terdapat berbagai bentuk pemeluk agama yang hidup secara berdampingan. Ketiga, Liberalisme adalah memahami nas-nas agama (al-Qur'an dan Sunnah) dengan menggunakan akal dan pikiran yang bebas semata, hanya menerima doktrin agama yang sesuai dengan akal dan pikrian semata; Keempat, Sekularisme adalah memisahkan urusan dunia dari agama. Agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sementara hubungan dengan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka MUI mengeluarkan ketentuan hukum: pertama, Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme agama sebagaimana dimaksud dalam bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran Islam; kedua, umat Islam haram mengikuti paham pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama. ketiga, dalam masalah akidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap ekslusif, dalam arti haram mencampur adukan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain; keempat, bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama) dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan agama ibadah, umat Islam bersikap inklusif dalam artian tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak merugikan.