CONTOH MAKALAH TEOLOGI PLURALISME 7 : Pro dan Kontra tentang Pluralisme Agama

sebelumnya | CONTOH MAKALAH TEOLOGI PLURALISME 6 : Kekhawatiran Terhadap Paham Pluralisme Agama
 

Pro dan Kontra tentang Pluralisme Agama
Dari hasil bacaan beberapa literutur, penulis menemukan minimal para cendikiawan dan pemikir Islam terdapat perbedaan didalam menyikapi nilai-nilai Pluralisme. Perbedaan itu terletak pada definisi tentang Pluralisme Agama, kedua pada pemahaman teks ayat yang berkaitan dengan pluralitas agama dan pada truth klaim kebenaran agama.
1. Definisi pluralisme agama
Sebagaimana di paparkan pada bagian terdahulu, Nurchalis Madjid dikutip Adian Husaini, dalam majalah Media Dakwah Edisi No. 358 2005 menyatakan bahwa Pluralisme agama adalah istilah khas dalam teologi. Dia mengelompokan ada tiga sikap dialog agama yang dapat diambil, yaitu: Pertama, sikap ekslusif dalam melihat agama lain (agama-agama yang lain adalah jalan yang salah, yang menyesatkan bagi pengikutnya. Kedua, sikap inklusif (Agama-agama lain adalah bentuk inplisit agama kita). Ketiga Sikap Pluralis yang bisa terekspresi dalam macam-macam rumusan, misalnya " Agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama", "Agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan kebenaran-kebenaran yang sama sah". Atau ' setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah kebenaran".
Sementara Komarudin Hidayat dalam Andito (ed.) yang dikutif Jaih Mobarak mengatakan bahwa Sikap Pluralisme Agama, yakni secara teologis pluralitas agama dipandang sebagai suatu realitas, masing-masing berdiri sejajar sehingga semangat missionaris atau dakwah dianggap tidak relevan; sedangkan Universalisme, yakni pandangan bahwa pada dasarnya semua agama satu dan sama. Hanya karena faktor historis-antropologis agama kemudian tampil dalam format plural. Di Indonensia nampaknya umat Islam masih didominasi pandangan ekslusivisme. Disisi yang lain Fatwa MUI mendefinisikan Pluralisme Agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga". Sehingga MUI secara tegas menyatakan bahwa paham pluralisme agama bertentangan dengan ajaran Islam.
Menurut Azumardi Azra dalam penyusunan fatwa, MUI terutama dalam mendefinisikan istilah Liberalisme dan Pluralisme seharusnya tidak hanya sekedar mencari pertimbangan kajian Fiqh, tetapi pertimbangan lain seperti pertimbangan sisi budaya, agama, dan lain-lain dalam konteks kebangsaan. Tetapi hemat penulis terlepas tepat atau tidaknya definisi MUI tentang Pluralisme agama sebagaimana diatas, justru pertimbangan tersebut telah memperhatikan aspek teologis, realitas, empiris dan sebagai tindakan prefentif agar tidak terjadi pengikisan akidah umat terutama mereka yang memiliki tarap pemahaman agama yang masih rendah.