.

CONTOH MAKALAH TEOLOGI PLURALISME 8 : Pemahaman Teks Ayat yang Berkaitan dengan Pluralitas Agama

sebelumnya | CONTOH MAKALAH TEOLOGI PLURALISME 7 : Pro dan Kontra tentang Pluralisme Agama
 

Pemahaman Teks Ayat yang Berkaitan dengan Pluralitas Agama
Dalam hasil penelitian Syamsul Hidayat, disebutkan bahwa para pemikir Islam berbeda pendapat dalam melihat isyarat-isyarat al-Qur'an tentang pluralisme keagamaan, pandangan pertama, dan ini merupakan pandangan yang dominan dalam Islam dan juga dalam agama-agama lain yaitu mereka yang berangkat dari klaim kebenaran atas agamanya sendiri, sementara agama orang lain adalah agama yang salah dan sesat. Alasan yang memiliki pandangan yang pertama ini menurut hasil penelitian tersebut adalah bahwa isyarat Al Qur'an tentang pluralitas keagamaan dan adanya larangan pemaksaan dalam memasuki agama, adalah justru untuk menunjukan kebenaran Islam diatas agama-agama yang lain. Meski demikian Islam mengakui, bahkan menghormati kebenaran agama-agama tersebut. Beberapa ayat yang menjadi dasar rujukan pandangan pertama ini adalah: Al-Qur'an hanya memerintahkan mengajak mereka kepada akidah Islam dengan hikmah (Q.S. An-Nahl [16]:125) tanpa paksaan (Q.S. al-Baqarah [2]: 256). Dan sekalipun orang-orang non muslim itu tetap kepada akidah mereka, hak-hak mereka dijamin oleh hukum syari'ah yang diterapkan secara sama sehingga seluruh warga bersama kedudukannya dihadapan hukum syara.
Menurut Roem Rowi yang dikutif Hidayat, tidak dipaksanya manusia untuk kembali bersatu dalam agama yang satu yakni Islam dkarenakan dua hal : Pertama, karena agama adalah keyakinan yang akan memberikan ketenangan dan kepuasan batin dan bahkan sebaliknya akan melahirkan sifat kemunafikan yang amat dibenci oleh Allah. Kedua, karena telah nyata jalan menuju kebenaran, sebagaimana jelasnya jalan menuju kesesatan, sementara manusia telah dilengkapi dengan perangkat akal.39(QS. Ali –Imran [3]: 85), "Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama) itu darinya (fala yuqbalu minh), dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi,"
Pandangan kedua, kelompok pemikir yang melihat bahwa isyarat al- Qur'an akan pluralisme keagamaan tersebut, tidak hanya menunjukan kebenaran Islam, selama esensi keberagamaan, yakni penyerahan diri secara total kepada Tuhan menjadi pandangan hidupnya. Dalam hal ini Ulil Absar Abdalla, mengatakan "Semua agama sama, semuanya menuju jalan kebenaran. "Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu (pen: sesuai dengan yang dpahami dan telah berjalan selama ini), jalan panjang menuju yang maha besar. Semua agama dengan demikian adalah benar, dengan variasi tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan relegusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran." Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan
Islam dengan lelaki non muslim, sudah tidak relevan lagi. Amin Abdullah dalam bukunya "Al-Qur'an Pluralisme"(1997) yang dikutif Hidayat menegaskan : Secara dialektis dan hermeneutika, al-Qur'an memberikan tawaran yang bersifat terapis dari kecendrungan umat beragama yang selalu ingin menuntut truth claim, secara sepihak.
Al-qur'an memberikan jawaban yang sangat tegas terhadap pernyataan-pernyataan umat beragama yang bersifat ekslusif tersebut. (Seakan Al-Qur'an mengatakan), "Petunjuk bukanlah fungsi dari kaum-kaum tertentu, tetapi dari Allah dan manusiamanusia yang sholeh; tidak ada satu kaum pun dapat mengatakan (mengklaim) bahwa hanya merekalah yang telah diangkat Allah dan yang telah memperoleh petunjuk-petunjuk-Nya. Fazlur Rahman dalam bukunya Interpretion in the Qur'an yang dikutip oleh Alwi Shihab mengatakan bahwa ada beberapa ayat al-Qur'an yang menunjukan kepada nilai pluralisme Islam dan menjadi dasar argumentasi pandangan kedua ini antara lain adalah : Al Hujarat (49) ayat 13, " Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal." Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Swt telah menciptakan makhluknya, laki-laki dan perempuan, dan menciptakan manusia berbangsa-bangsa, untuk menjalin hubungan yang baik. Kata ta'ârafû pada ayat ini maksudnya bukan hanya berinteraksi tetapi berinteraksi positif. Karena itu setiap hal yang baik dinamakan dengan ma'rûf. Jadi dijadikannya makhluk dengan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah dengan harapan bahwa satu dengan yang lainnya dapat berinteraksi secara baik dan positif. Lalu dilanjutkan dengan ayat … inna akramakum 'indallahi atqâkum… maksudnya, bahwa interaksi positif itu sangat diharapkan menjadi prasyarat kedamaian dibumi ini., namun yang dinilai terbaik di sisi Allah adalah mereka itu yang betul-betul dekat kepada Allah. Selanjutnya dalam Surat al-Ankabut (29) ayat 46 Allah menegaskan "Dan janganlah kemu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zolim diantara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.". Kemudian dalam surat al-Mâidah [5]: 48: "…Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikannya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu". Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia dapat menciptakan suatu bangsa atau satu umat, tetapi kenapa tidak?. Alasannya sebagaimana dijelaskan dalam lanjutan ayat, yaitu liyabluwakum fii mâ âtâkum… untuk menguji dengan apa yang kalian terima dari tuntunan Allah. Apakah manusia akan konsisten atau menyimpang. Oleh karena Allah ingin melihat siapa yang konsisten dan siapa yang tidak/menyimpang, maka fastabiqul khairât, berlomba-lombalah untuk menunaikan kebaikan. Sebab semua akan kembali kepada Allah.
Jadi dengan demikian yang dikehendaki Allah adalah pluralisme interaksi positif, saling menghormati. "Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat (Q.S. Hûd [11]: 118). Dalam ayat ini dapat dipahami kalau Tuhan mau, dengan gampang sekali akan menciptakan manusia semuanya dalam satu grup, monolitik dan satu agama, tetapi Allah tidak menghendaki hal tersebut. Tetapi justru Tuhan menunjukan kepada realita bahwa pada hakikatnya manusia itu berbeda. Ini kehendak Tuhan. "Sesungguhnya orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan Orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian serta beramal sholeh, mereka semua akan mendapat pahala dari Tuhan mereka dan tidak ada kuatir, tidak pula akan berselisih (QS. Al- Baqarah: 62)
Jadi, jelas menurut pandangan kedua ini, bahwa nilai-nilai pluralisme dalam Islam dapat dijumpai dalam al-Qur'an. Hanya saja terkadang karena fanatisme manusia yang membawa dia bukan kepada khilaf , tetapi kepada syiqaq. Khilaf adalah perbedaan pendapat yang didasari atas saling hormat menghormati, sedangkan shiqâq adalah perbedaan pendapat yang membawa kepada pertikaian dan perselisihan.44 Menurut Quraish Shihab, kalaulah ayat ini dipahami oleh umat Islam sebagaimana bunyi harpiyahnya, dan diterima pula oleh para penganut agama lain, tanpa mengaitkan dengan teks-teks keagamaan yang lain niscaya absolutusme dalam keberagamaan niscaya akan berkurang dan akan pupus sama sekali. Sebagai ideologi dan gerakan politik, pluralitas pernah diteladani oleh Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah Saw berada di Madinah. Apa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW bukanlah upaya melegitimasi agama resmi saat itu dan bukan pula alat pemaksa agar orang-orang memeluk Islam seluruhnya. Dengan mengikuti prinsif universal keadilan ilahi saja, kita ketahui bersama bahwa perbedaan latar belakang pendidikan, lingkungan sosial, budaya dan kesempatan seseorang, meniscayakan diferensiasi penerimaan konsep tentang Tuhan dan Agama.
Dalam hal toleransi Nabi Muhammad pernah memberikan suri teladan yang sangat inspiring dihadapan para pengikutnya. Sejarah mencatat bahwa Nabi pernah dikucilkan dan bahkan diusir dari tanah tumpah daranya (Makkah). Beliau terpaksa hijrah ke Madinah untuk beberapa lama dan kemudian kembali ke Makkah. Peristiwa ini dikenal dalam sejarah Islam Fathul Makkah. Dalam peristiwa yang penuh kemenangan ini, Nabi tidak mengambil langkah balas dendam kepada siapapun juga yang telah mengusirnya dahulu dari tanah kelahirannya " Antum Tulaqa (kamu sekalian bebas)". Peristiwa ini sangat memberikan inspirasi dan memberikan kesan yang sangat mendalam terhadap penganut agama Islam dimanapun mereka berada dan Nabi telah memberikan contoh kongkrit dan sekaligus contoh pemahaman dan penghayatan pluralisme keagamaan yang amat riil dihadapan umatnya. Disini dimensi historisitas keteladanan Nabi menjadi sesuatu yang sangat penting dalam penghayatan beragama. Tanpa didahului polemik pergumulan filosofis-teologis, Nabi tidak menuntut "truth claim" atas nama dirinya maupun atas nama agama yang dianutnya. Dia mengambil sikap "agree in disagreement" . Dia tidak memaksakan agamanya untuk diterima oleh orang lain, tanpa kesadaran dari lubuk hatinya. Disitu nabi Muhammad SAW sangat mengakui eksistensi dan keberadaan agama-agama lain selain Islam.
Amin Abdullah berkomentar dalam perspektif Islam, dasar-dasar untuk hidup bersama dalam masyarakat yang pluralistik secara relegius, sejak semula memang telah dibangun diatas landasan normatif historis sekaligus. Jika ada hambatan atau anomala-anomali disana sini, penyebab utamanya bukan karena inti ajaran Islam itu sendri yang bersifat intoleran dan ekslusif, tetapi lebih banyak ditentukan dan dikondisikan oleh situasi historis-ekonomis-politis yang melingkari komunitas umat Islam di berbagai tempat. Kompetisi untuk menguasai sumber–sumber ekonomi, kekuasaan politik, hegemoni kekuasaan, jauh lebih mewarnai ketidak-mesraan hubungan antar pemeluk agama dan bukannya oleh kandungan ajaran etika "agama" itu sendiri.