.

CONTOH MAKALAH TEOLOGI PLURALISME 9 : Truth Claim Kebenaran Agama

sebelumnya | CONTOH MAKALAH TEOLOGI PLURALISME 8 : Pemahaman Teks Ayat yang Berkaitan dengan Pluralitas Agama
 

Truth Claim Kebenaran Agama.
Padangan yang sepakat adanya truth claim berpendapat bahwa sebagai penganut agama, manusia tidak dapat mengetepikan hubungan kitab suci dengan truth claim, Agama tanpa truth claim ibarat pohon tak berbuah. Tanpa adanya truth claim yang oleh Whitehead disebut dogma, atau Fazlur rahman disebut normatif (transcendent aspect), maka agama sebagai bentuk kehidupan (form of life) yang distinctive tak akan punya kekuatan simbolik yang menarik pengikutmya. Whitehead menyimpulkan bahwa baik dalam agama maupun ilmu pengetehuan, truth claim yang terbungkus dogma adalah sah. Dogma dalam agama merumuskan kebenaran pengalaman beragama, sedang dogma dalam ilmu pengetahuan mengungkap kebenaran pengamatan rasional. Klaim kebenaran (truth –claim) bagi agama adalah sesuatu yang alami atau natural. Lebih dari itu ia merupakan esensi jati diri sebuah agama. Oleh karena itu solusi apapun yang dimaksud untuk menyelesaikan problem pluralitas klaim kebenaran yang saling bertentangan (conflicting truth claim) tidak boleh menggangu gugat keunikan dan eksklusivitas ini, baik dengan cara reduksi, distorsi atau relativisasi, apalagi dengan negasi. Sebab hal ini akan membunuh karakter atau jati diri agama itu sendiri.
Islam dengan konsep Hanifisme-nya memberikan solusi teologis yang paling rasional dan humane. Sedangkan secara praktis fiqhiyyah, Islam memberikan pula, yaitu dengan konsep "plurality of laws" dimana setiap pemeluk agama menikmati pemerintahan "otonomi" sesuai dengan keyakinan masing-masing. Dengan demikian, Islam telah memberikan "yang paling maksimal" kepada agama lain yang tidak ada bandingannya dalam sejarah. 49. Perbedaan mendasar antara teori-teori Islam dan pluralisme agama dalam hal pendekatan metodologis terhadap isu dan penomena pluralitas agama. Islam memandangnya sebagai hakikat ontologism yang genuine, yang tidak mungkin dinafikan atau dinihilkan, sementara teori-teori pluralis melihatnya sebagai keagamaan yang hanya terjadi pada level manifestasi eksternal yang superfisial dan oleh karenanya tidak hakiki atau tidak genuine,.
Perbedan metodologis ini pada gilirannya akan mengiring pada perbedan dalam menentukan solusinya. Islam menawarkan solusi praktis sosiologis-oleh karenannya lebih bersifat fiqhiyah, sementara teori-teori pluralis memberikan solusi teologis efistimologis. Kelompok yang tidak setuju, berpendapat bahwa klaim kebenaran dan eksklusifisme secara sepihak, dicela oleh Al-Qur'an (Al-Baqarah [2]: 113) sebaliknya al-Qur'an mengajarkan ingklusifitas dalam beragama (QS Ali Imran [3]: 84). Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa adanya perpecahan dan perbedan agama tersebut disebabkan oleh wahyu-wahyu Allah yang disampaikan oleh para nabi, yang ini merupakan sunah dan rahasia Allah. Al Qur'an mengajarkan paham kemajemukan keagaman (religiousitas plurality). Ajaran itu tdak perlu diartikan sebagai secara langsung pengakuan akan kebenaran semua agama dalam bentuk yang nyata sehari-hari (dalam hal ini bentuk-bentuk nyata keagamaan orang-orang muslimpun banyak yang tidak benar, karena secara prinsipil bertentangan dengan ajaran dasar kitab suci Al-Qur'an seperti sikap pengkultusan kepada sesama manusia dan makhluk lain (baik yang hidup maupun yang mati). Akan tetapi ajaran kemajemukan itu menandaskan pengertian dasar bahwa semua agama diberikan kebebasan untuk hidup, dengan resiko yang akan ditanggung oleh para penganut agama itu masing-masing baik secara pribadi/kelompok.